Ekonomi
( 40512 )KTF 2023 Pameran Wisata Ampuh Gaet Wisatawan
Pameran pariwisata atau travel fair perlu dioptimalkan guna turut mendukung promosi daerah tujuan wisata lokal. Jika ini konsisten dijalankan, akan membantu mendatangkan lebih banyak kunjungan wisatawan mancanegara ataupun pergerakan wisatawan Nusantara. ”Setiap kunjungan wisata mampu menciptakan enam kali lipat lapangan kerja di dalam negeri. Untuk mendorong semakin banyak pergerakan wisatawan Nusantara, kami mengoptimalkan program Kharisma Event Nusantara atau kumpulan event berkualitas dari 34 provinsi. Kami juga dorong agar semakin banyak penyelenggaraan pertemuan, perjalanan bonus, dan pameran (MICE) tercipta serta promosi destinasi yang di antaranya lewat transportasi darat,” ujar Menparekraf Sandiaga S Uno, Minggu (3/9) di acara penutupan Kompas Travel Fair (KTF) 2023 di ICE BSD, Tangerang, Banten. Sandiaga menambahkan, desa wisata juga telah berubah menjadi pandemic winner atau destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan selama pandemi Covid-19.
Kendati demikian, kesadaran orang terhadap destinasi ini harus terus ditingkatkan. Pihak swasta perlu diajak bekerja sama untuk memopulerkan desa wisata. Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Ni Made Ayu Marthini menambahkan, tahun-tahun lalu, pameran pariwisata cenderung dikenal sebagai ajang untuk mencari kebutuhan berwisata ke luar negeri. Kini, warga semakin memahami bahwa berkunjung ke pameran pariwisata juga akan menemukan kebutuhan wisata domestik. ”Sekarang, sudah banyak event yang menjual destinasi Indonesia. Sebanyak 75 desa wisata meraih Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan mereka harus makin banyak dikenal di kalangan wisatawan. Pemilik biro perjalanan pariwisata PT Rafael Todowela Tours & Travel, Rafael, yang jadi peserta KTF 2023, menceritakan, selama tiga hari pameran, dirinya banyak menerima pengunjung yang antusias bertanya cara berkunjung ke Pulau Komodo dan sekitarnya. Ini berarti warga semakin sadar dan tertarik mengenai keindahan destinasi domestik. (Yoga)
ASEAN Perkuat Rantai Pasok Regional
Untuk mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi kawasan di tengah ketidakpastian global, negara-negara Asia Tenggara bersepakat memperkuat rantai pasok regional yang lebih inklusif. Dengan demikian, keterlibatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi kawasan yang selama ini sulit menembus pasar global akan lebih terjamin. Pada 2022, total nilai PDB ASEAN tercatat 3,6 triliun USD. Di antara negara-negara anggota ASEAN, Malaysia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi (8,7 %), disusul Vietnam (8 %), Filipina (7,6 %), Indonesia (5,31 %), dan Kamboja (5,1 %). Meski demikian, perekonomian negara-negara ASEAN lainnya masih sulit bangkit selepas pandemi.
Di tengah pemulihan yang masih berlangsung itu, kondisi ekonomi global semakin tidak pasti. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Minggu (3/9) mengatakan, proyeksi perekonomian global yang tak menentu ke depan ikut mengindikasikan adanya potensi pelemahan dan ketidakpastian pertumbuhan ekonomi di kawasan. Penguatan integrasi ekonomi kawasan pun penting untuk menjamin ketahanan ekonomi ASEAN di tengah ancaman krisis dan perubahan lanskap ekonomi global. ”Kondisi ekonomi pada masa mendatang sangat dinamis dan penuh tantangan. Kita harus meningkatkan kerja sama dan integrasi ekonomi kawasan lewat penguatan arsitektur perdagangan dan rantai pasok regional,” katanya seusai pertemuan ASEAN Economi Community Council (AECC) Ke-23 di Jakarta. (Yoga)
Australia Barat Minati Program Dekarbonisasi
Perdana Menteri Australia Barat Roger Cook, Minggu (3/9/2023), di Jakarta, mengatakan, pihaknya meminati program pengembangan energi hijau dan ekosistem kendaraan listrik di kawasan ASEAN. Menurut dia, peluang dekarbonisasi di kawasan ASEAN dapat terwujud lewat kerja sama ekosistem baterai, baik dari sisi sumber energinya maupun materialnya. Dari sisi sumber energi terbarukan, Australia Barat memiliki tenaga surya dan tenaga angin yang berlimpah. (Yoga)
Hambatan Nontarif Perlu Dilonggarkan
Pelaku bisnis di kawasan ASEAN merekomendasikan penghapusan hambatan nontarif dalam perdagangan antarnegara anggota demi menunjang ketahanan pangan di kawasan tersebut. Pemerintah mencoba menyelesaikannya lewat sistem harmonisasi perizinan se-ASEAN. ASEAN-Business Advisory Council Indonesia Policy Manager for Food Security Arif P Rachmat mengemukakan, ada empat aspek rekomendasi kebijakan yang diharapkan pelaku industri dan usaha di Asia Tenggara di bidang pangan dan pertanian, yakni perdagangan eksternal ataupun intra-ASEAN, infrastruktur dan teknologi pertanian, inklusivitas akses pasar, serta pembangunan kapabilitas petani.
”Dalam perdagangan eksternal dan intra-ASEAN, kami merekomendasikan penghapusan hambatan nontarif berdasarkan prinsip-prinsip yang sudah disepakati untuk menyeimbangkan aturan yang diperlukan dan fasilitas perdagangan,” tuturnya dalam forum kebijakan bertajuk ”Safeguarding ASEAN’s Food Security in a Time of Growing Uncertainty” pada ASEAN Business & Investment Summit di Jakarta, Minggu (3/9). Dia juga merekomendasikan percepatan proses bea dan cukai untuk benih, biji, pupuk, dan peralatan pertanian melalui harmonisasi standar, regulasi, dan persetujuan. Agar dapat bernegosiasi secara optimal dengan mitra eksternal, ASEAN diimbau untuk mengelola pengadaan kolektif.
Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga menyampaikan, regulasi perizinan setiap negara berbeda-beda. ”Oleh sebab itu, tantangan (hambatan nontarif) tersebut perlu dilihat secara spesifik. Pertemuan AEM (ASEAN Economic Ministers) secara maksimal mendorong hal itu karena kami ingin menguatkan prinsip-prinsip konektivitas. Salah satunya terwujud lewat ASEAN single window yang mengharmonisasi perizinan,” ucapnya. (Yoga)
ASEAN Pacu Ekonomi yang Makin Inklusif
Ketua ASEAN Business Advisory Council atau ASEAN BAC Arsjad Rasjid mengemukakan, relevansi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global atau sentralitas ASEAN dinilai perlu terus dipacu melalui inovasi dan inklusivitas. Indonesia dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN-BAC Tahun 2023 secara signifikan telah menciptakan landasan kokoh untuk memudahkan para pelaku usaha berkontribusi positif dalam pembangunan ekonomi di kawasan. Menurut Arsjad, sentralitas ASEAN perlu dimaknai tidak hanya dari aspek geografis kawasan, tetapi juga rekonstruksi cara pandang yang telah menyebabkan negara-negara ASEAN sulit tumbuh bersama. Selain itu, perlu meninjau kembali ketahanan ekonomi setiap negara anggota ASEAN dalam berbagai sektor, serta membentuk kembali konsolidasi dengan mitra-mitra utama.
”Kompetisi itu penting, tetapi (negara-negara) Asia Tenggara membutuhkan kerja sama ekonomi untuk saling melengkapi satu sama lain,” ujar Arsjad, yang juga Ketua Umum Kadin Indonesia, dalam Pembukaan ASEAN Business & Investment Summit 2023, di Jakarta, Minggu (3/9). ASEAN BAC diikuti sekitar 3.005 peserta. Menurut Arsjad, kekuatan utama ASEAN bukan hanya pada sumber daya, tetapi juga pada ketahanan sebagai asosiasi negara-negara yang solid untuk tumbuh dengan saling melengkapi. Sebagai kontribusi dari sektor bisnis, pihaknya telah menyusun ASEAN Business Roadmap 2045. Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn mengemukakan, lanskap ekonomi global jangka menengah cepat berubah dengan Revolusi Industri 4.0 mengarah ke inklusivitas yang semakin besar. ASEAN, sebagai asosiasi negara kawasan dan komunitas bisnis, dinilai perlu mendukung pertumbuhan inklusif sebagai bagian integrasi perekonomian ASEAN. (Yoga)
RI-ANRPC Dorong Pengembangan Karet Berkelanjutan
Indonesia mengajak Asosiasi Negara-negara Produsen Karet Alam atau ANRPC mempererat kerja sama mendorong keberlanjutan karet dan pengembangan karet berkelanjutan. Upaya itu penting di tengah tren penurunan harga karet dunia, konversi tanaman karet, serta isu perubahan iklim dan kelestarian lingkungan. Hal itu mengemuka dalam pertemuan Kelompok Kerja Karet Alam Berkelanjutan ANRPC yang digelar secara hibrida di Palembang, Sumsel, 29-31 Agustus 2023. Pertemuan itu dihadiri 30 delegasi ANRPC dari Bangladesh, Indonesia, India, Malaysia, Myanmar, China, Sri Lanka, dan Thailand.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono, Sabtu (2/9) mengatakan, saat ini, industri karet alam tengah menghadapi sejumlah tantangan. Komoditas tersebut harus memiliki standardisasi yang mengedepankan kelestarian lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Uni Eropa, misalnya, mulai menerapkan UU Produk Bebas Deforestasi (EUDR) untuk sejumlah komoditas, termasuk karet. Oleh karena itu, lanjut Djatmiko, RI mengajak negara-negara produsen karet mempererat kerja sama untuk membawa perubahan positif di industry karet alam,terutama petani-petani kecil. Indonesia juga meminta ANRPC bersama-sama menghadapi dampak implementasi EUDR. Sejumlah langkah konkret dapat dilakukan, mulai dari memperkuat kelembagaan petani, hilirisasi karet, hingga pengembangan tanaman dan produk karet berbasis penelitian. (Yoga)
Laba Perbankan Masih Melaju
JAKARTA,ID-Laba bersih emiten perbankan di Bursaa Efek Indonesia (BEI) masih melaju kencang memasuki semester II-2023. Hal ini ditopang pesatnya pertumbuhan kredit, stabilnya suku bunga acuan, penurunan inflasi, serta akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Per Jui 2023, empat bank besar dari sisi market cap, yakni PT Bank Rakyat Asia Tbk (BRI/BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI), mencetak pertumbuhan laba bersih yang solid, melanjutkan tren positif semester I. Tak ketinggalan, bank dengan market cap di bawah Rp 100 triliun seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI/BRIS) dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) turut menuai pertumbuhan laba bersih yang solid, melanjutkan tren positif semester I. Berdasakan data di lama resmi BCA, per Juli 2023, perseroan mencetak pertumbuhan laba bersih 31,6% menjadi Rp 27,9 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp21,2 triliun. Ini terjadi seiring kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) menjadi Rp 40,4 triliun dari Rp32,9 triliun. (Yetede)
Asean Didorong, Jadi Tujuan Utama Investasi
JAKARTA,ID-Lima isu penting bakal menjadi pokok pembahasan terkait bidang ekonomi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke-43 yang akan dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta, pekan ini. Kelima isu tersebut adalah masalah geopolitik, fragmentasi rantai pasok, transisi hijau, inovasi digital, dan pertumbuhan inklusif. Selanjutnya, Asean akan didorong agar menjadi tujuan utama invetasi dan pusat produksi global yang berdaya saing dan terpercaya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pembahasan isu ekonomi KTT Asean akan diarahkan untuk meningkatkan kerja sama dan integrasi ekonomi kawasan dalam rangka penguatan arsitektur perdagangan dan rantai pasok regional. Selain itu, untuk membuat pilihan kebijakan guna meningkatkan daya saing, ketahanan, dan reformasi struktural yang didorong oleh keberlanjutan, digitalisasi, dan perubahan demografis. "(Selanjutnya untuk) menjadikan kawasan Asean sebagai pusat pertumbuhan regional dan mesin pertumbuhan global, tujuan utama investasi dan pusat produksi global yang berdaya saing dan terpercaya," ujar Airlangga saat memimpin rangkaian The 23rd Asean Economic Community Council Meeting di Jakarta. (Yetede)
IHSG September Tertekan, Momentum Tepat Akumulasi Saham
JAKARTA,ID-Memasuki bulan September, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Saham Indonesia (BEI) akan dibayangi aksi ambil untung (profit taking) investor yang membuat pergerakannya cenderung tertekan. Kondisi ini bisa dimnafaatkan untuk mengakumulasi saham yang harganya sudah terdiskon. Sepanjang September, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran support 6.750 dan resistance 70.30 dari penutupan tahun lalu di posisi 6.977. IHSG pada September 2023 berpotensi bergerak sideway cenderung melemah dalam kisaran 6.850-7.50. Jika IHSG mengalami koreksi, momentum tersebut bisa dijadikan peluang untuk akumulasi saham saat harga sedang terdiskon," kata financial expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih kepada Investor Daily, Minggu (3/9/2023). Ratih menyebutkan, katalis domestik dan global berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG pada September tahun ini. Dari domestik, sentimen yang dicermati pelaku pasar adalah inflasi tahunan yang tercatat pada Agustus 2023, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 3,08%. (Yetede)
BRI Hapus Buku Rp 24,13 Triliun Kredit Restrukturisasi
JAKARTA,ID-Sejak awal pandemi Covid-19, banyak pelaku usaha UMKM yang terdampak. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan akumulasi restrukturisasi kredit UMKM sebanyak Rp 263,8 triliun, dari jumlah tersebut BRI telah menghapus buku Rp24,13 triliun kredit yang tidak bisa diselamatkan dari dampak Covid-19, per Juni 2023. Lebih dari 3 juta nasabah UMKM telah diberikan relaksasi BRI dari restrukturisasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Sekarang yang restrukturisasi tinggal Rp 83,23 triliun, jadi turun Rp180 triliun lebih. Kemana saja turunnya? Alhamdulillah Rp101,59 triliun mampu membayar dan sisanya itu tidak bisa di apa-apakan Rp 24,13 triliun kami hapus buku," ujar Direktur Utama BRI Sunarso, akhir pekan lalu. Dengan demikian, lanjut Sunarso, situasi ini relevan dengan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Untuk hapus buku, perseroan sudah melakukan dan telah dicadangkan atau dikeluarkan biaya senilai Rp24,13 triliun dari kredit yang tidak bisa diselamatkan tersebut. Maka sekarang tinggal status Rp24,13 triliun hapus buku itu yang diluar neraca mau hapus tagih, karena mereka ada yang masih punya kemampuan dan bisa berusaha lagi dan itu yang dikasih kesempatan," urai Sunarso. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









