Teknologi
( 1193 )Pentingnya Regulasi dan Pengawasan Berbasis Teknologi
Pemerintah dan DPR sedang membahas RUU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau RUU P2SK. Regulasi berformat omnibus ini diharapkan bisa meredefinisikan kembali sektor keuangan agar lebih sesuai dengan kondisi saat ini. Sebagai fondasi penting untuk memperkuat sektor keuangan, UU ini akan diturunkan dalam peraturan di bawahnya agar dapat diimplementasikan dengan baik. Beberapa survei industri keuangan memperkirakan biaya pemenuhan kewajiban kepatuhan (compliance cost) mencapai 5 % total biaya. Adapun potensi biaya karena tidak memenuhi kepatuhan bisa dua hingga tiga kali lipat. Dalam hal ini, regulatory technology (RegTech) dan supervisory technology (SupTech) dapat membantu. RegTech adalah penerapan teknologi agar regulator dan pelaku industri bisa lebih efektif dan efisien. Misalnya, pada proses perizinan, pelaku industri yang mengajukan izin umumnya berurusan dengan birokrasi, sulit mengetahui sampai di mana proses perizinan berlangsung dan kapan akan keluar. Saat ini regulator, seperti OJK dan BI, mulai menyediakan mekanisme perizinan digital atau e-licensing yang diharapkan transparan, seperti halnya e-dagang memiliki mekanisme pemantauan pesanan. e-licensing akan banyak membantu pelaku industry keuangan.
Ke depannya, konsep machine-readable regulation tidak hanya dapat digunakan untuk pengaturan bersifat kuantitatif, tetapi juga pengaturan konseptual dan kualitatif. Untuk itu, regulator perlu menerbitkan peraturan dalam format yang bisa dianalisis dan dipahami secara semantik dengan kecerdasan artifisial dan machine learning di sisi pelaku industri. Selain RegTech, regulator juga perlu menerapkan SupTech atau pengawasan berbasis teknologi. SupTech bisa diterapkan untuk pelaporan yang kini masih relatif manual. Beberapa regulator memang mulai menerapkan pelaporan daring misalnya BI dengan BI Antasena dan OJK dengan OJK-BOX (OBOX). Namun, umumnya data yang disimpan oleh pelaku industri diolah dulu menjadi laporan dengan format tertentu, lalu diunggah ke sistem pelaporan daring. Pengolahan manual di sisi regulator pun tidak jarang masih harus dilakukan. Ini bisa dibuat lebih mulus dengan mewajibkan pelaku industri melaporkan dalam format digital standar, misalnya menggunakan extensible business reporting language (XBRL), di mana semua field pelaporan distandardisasi. Dengan standardisasi yang baik antar-regulator pelaku industri yang harus melapor kepada dua atau lebih regulator dapat membuat pelaporan lebih efisien karena tidak menggunakan format khusus dari regulator tertentu. (Yoga)
Akhir Siaran Analog Mengusik Omzet Iklan Stasiun TV
Pemerintah resmi menghentikan siaran TV analog atau Analog Switch-Off (ASO) mulai Rabu (2/11) pekan lalu. Namun implementasi migrasi ke TV digital yang berawal dari wilayah Jabodetabek ini, masih menyisakan problem di lapangan. Terutama, akses atas
set top box
(STB) yang belum merata. Alhasil, kondisi ini bisa mempengaruhi
audience share
dan berujung menggerus pendapatan iklan para pengelola stasiun televisi.
Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATSVI) memprediksi migrasi ke TV digital berdampak bagi penurunan pangsa pemirsa (audience share) hingga berimbas ke pemasukan iklan televisi swasta.
"Hal ini karena tingkat kepemilikan pesawat dan/atau perangkat penerima siaran digital seperti STB di masyarakat masih rendah," jelas Sekretaris Jenderal Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATSVI), Gilang Iskandar, kepada KONTAN, kemarin.
Digitalisasi Bikin BUMDes Detusoko Barat Melaju
Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bisa mendorong kemajuan desa jika bisa dioptimalkan dengan baik. Desa yang berkembang maju akan memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan masyarakatnya. Memajukan dan menggerakan perekonomian desa menjadi salah satu tujuan Ferdinandus Watu, di masa-masa akhir kuliah di Miami Dade College, Florida, Amerika Serikat, pada 2015 silam. Nando, begitu ia biasa disapa, mendapatkan beasiswa Fulbright untuk menuntut ilmu jurusan Tourism and Hospitality Management, di Negeri Paman Sam. Untuk mewujudkan cita-citanya, Nando bekerja di Kantor Desa Detusoko Barat yang ada di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama bekerja di Desa Detusoko Barat, Nando mulai mengamati potensi ekonomi lokal apa yang bisa dikembangkan di desa ini. Hasilnya, di tangan Nando, dalam setahun Desa Detusoko Barat bisa masuk ke dalam daftar 50 besar desa wisata terbaik di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Visi menjadikan Detusoko Barat sebagai desa yang berkarakter lokal, berdaya saing, berbasis pertanian terpadu, dan ekowisata dengan mengedepankan teknologi informasi, perlahan-lahan mulai terwujud. “ADWI merupakan apresiasi dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk mendukung perkembangan desa-desa kreatif di Indonesia. Jadi ada tiga kata kunci yang kami jalankan, yakni pertanian, pariwisata, dan teknologi informasi,” kata Nando kepada tim Jelajah Sinyal Bisnis Indonesia, Selasa (1/11).
Menurut Nando, pemilihan tiga kata kunci itu berangkat dari potensi dan kondisi yang ada di desanya. Pertama, jelas dia, sekitar 95% penduduk Desa Detusoko Barat mengandalkan sektor pertanian, seperti padi, kopi, kakao, lalu ada juga tanaman pangan, kemiri, dan juga hortikultura umbi-umbian. Kedua, sambung Nando, Desa Detusoko Barat berada di jalur utama jalan Trans-Flores, dan menjadi area penyangga Danau Kelimutu. Lokasinya hanya berjarak 33 km dari Kota Ende atau sekitar 45–60 menit berkendara dari Bandara Ende. Kata kunci ketiga, jelas Nando, terkait dengan era digital yang saat ini mengubah pola hidup masyarakat secara masif. Kondisi itu, jelasnya, harus dimanfaatkan untuk mengoptimalkan dua kata kunci lainnya.
Pameran Seni Bertali dengan NFT
Pameran seni kian gencar mengadopsi teknologi non fungible token atau NFT yang bertaut pada ekosistem blockchain. Adopsi itu untuk beragam tujuan, mulai dari mendigitalkan sertifikat keaslian karya seni hingga karya seni itu sendiri. NFT yang sejatinya adalah tanda kepemilikan atas benda digital dan tercatat di jejaring rantai blok belakangan memang menjadi perbincangan hangat. Sejumlah pameran seni turut menampilkan deretan karya seni digital sebagai NFT. Karya berwujud NFT itu juga kerap menarik kunjungan orang yang menggemari perkembangan teknologi. Sabtu (29/10) Manaf (30) yang menyempatkan diri datang ke Museum Nasional di Jakarta. Pegawai teknologi informasi ini datang untuk pameran bertajuk ”Rekam Masa” yang mengintegrasikan karya seni dengan blockchain. Hal yang paling menarik minatnya adalah bagaimana NFT dan blockchain itu bisa diimplementasikan untuk karya seni. Manaf menengok deretan karya seni di sana dan memindai QR code di tiap karya. QR code mengarah ke tautan di situs artopologi.com yang menjelaskan tentang karya tersebut berikut nominalnya dalam rupiah.
Selain dari artopologi.com, Manaf pun melihat-lihat laman Artopologi di lokapasar OpenSea. Dari situ, dia melihat sejumlah karya di pameran yang hadir dalam format sertifikat keaslian digital. Lukisan bertajuk ”Pesan dari Laut” karya Catur Nugroho, misalnya, Manaf temukan dalam laman OpenSea di jaringan rantai blok Polygon, bertuliskan certificate of authenticity, blockchain registered by Artopologi. ”Saya penasaran. Kebetulan, tadi pagi saya juga ikut seminar tentang rantai blok. Seharian ini. Saya pengin tahu aplikasinya lebih lanjut,” ungkap pria yang tinggal di Jaksel ini. Manaf hanyalah satu dari sebagian pengunjung yang mendatangi pameran Rekam Masa dengan rasa penasaran terhadap rantai blok dan NFT. Pameran yang berlangsung 28 Oktober hingga 6 November ini mengusung format seni yang berintegrasi dengan rantai blok. Artopologi, penyelenggara pameran Rekam Masa, berperan sebagai platform lokapasar karya seni fisik yang berintegrasi dengan rantai blok. Integrasi yang dimaksud ialah setiap karya fisik yang dijual di situs artopologi.com memiliki NFT berupa sertifikat keaslian digital di rantai blok. (Yoga)
Centang Biru di Twitter Rp 125.000 Per Bulan
Di bawah bos baru, Elon Musk, platform media sosial Twitter berencana memungut biaya 8 dollar AS atau Rp 125.000 per bulan untuk akun bercentang biru. Hal ini guna menyelesaikan persoalan bot dan troll di platform itu sekaligus menciptakan pendapatan baru bagi Twitter agar tak bergantung iklan. ”Kekuatan bagi setiap orang! Biru seharga 8 dollar per bulan,” cuit Musk, Selasa (1/11). (Yoga)
2024, 30 Juta UMKM Masuk Ekosistem Digital
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki di Jakarta, Selasa (1/11) menjelaskan, pihaknya bersama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan platform digital yang tergabung dalam Indonesian E-commerce Association (idEA) akan berkolaborasi untuk mengupayakan agar 30 juta UMKM bisa masuk dalam ekosistem digital pada tahun 2024. (Yoga)
KRISIS CIP : Industri IoT Butuh 41 Juta Semikonduktor
Industri internet of things atau IoT dalam negeri membutuhkan setidaknya 41 juta unit cip semikonduktor sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut 11% lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan tahun lalu.Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia (Asioti) Teguh Prasetya menjelaskan bahwa 41 juta unit cip semikonduktor yang dibutuhkan industri IoT akan digunakan untuk ponsel pintar sebanyak 30 juta unit, perangkat smart home 10 juta unit, serta smart building dan smart industry 1 juta unit.Peningkatan kebutuhan cip semikonduktor di industri IoT didorong oleh kenaikan permintaan pada tiap subsektor tersebut. Bahkan, permintaan konsumen terhadap perangkat ponsel pintar di Tanah Air diperkirakan tumbuh sekitar 8% pada tahun ini.Sementara itu, permintaan untuk perangkat smart home seperti CCTV masih sesuai dengan tren pertumbuhan, yakni 10 juta per tahun.
Mengutip WSTS, penjualan cip semikonduktor diperkirakan naik secara menyeluruh di pasar global. Penjualan di kawasan Asia Pasifik sendiri diperkirakan naik 10,5% secara tahunan. Sementara itu, kawasan Benua Amerika dan Jepang 14,2%, serta Eropa 14%.
Baduy di Instagram
Bagi mereka yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, masyarakat suku Baduy yang mereka kenal dan sering dijumpai adalah orang dari Desa Kanekes, Banten, yang berjalan tanpa alas kaki, berpakaian hitam atau putih, memakai telekung atau lomar (ikat kepala), membawa tas rajut coklat, berjualan madu, dan seterusnya. Pakaian dan penampilan adat Baduy ini menjadi terkenal ketika dikenakan Presiden Jokowi saat menghadiri Sidang Tahunan MPR, Agustus 2021. Gambaran tentang masyarakat suku Baduy yang sering dijumpai di jalanan menjadi berbeda begitu kita memasuki dunia media sosial, terutama Instagram. Nuansa Baduy di Instagram memang tetap menunjukkan elemen-elemen tradisi, tetapi tampil lebih anggun, cantik, bersih, elegan, dan eksotik. Tidak seperti bayangan umumnya sebagai masyarakat yang menolak atau tak kenal modernitas, mereka sangat beradaptasi dengan teknologi digital. Ini bisa dilihat dalam akun Instagram @ayudewibaduy (29K pengikut), @dewi.baduy.507 (3K), @wisatasukubaduy (13K), @souvenirbaduy (12K), @batikbaduy (7K), @jejak_baduy (49K), dan lainnya.
Penggunaan Instagram oleh anak-anak Baduy menunjukkan transformasi budaya yang terjadi di suku tersebut. Agama masyarakat Baduy memang tetap Sunda Wiwitan dan mereka yang tak lagi memegang agama tersebut akan keluar dari kampung adat. Menikah dengan non-Baduy juga menyebabkan kehilangan hak untuk tetap berada di desa adat. Bahkan, hingga sekarang ini, Baduy Dalam tetap tak menerima kunjungan orang asing. Baik di Baduy Luar maupun Dalam, tidak boleh memiliki TV, radio, jaringan listrik, dan kendaraan bermotor. Mereka juga tidak memakai rekening bank, karena itu mereka menyimpan uangnya dalam bentuk emas atau tanah. Di balik proses penjagaan terhadap tradisi itu, ternyata yang bisa masuk ke sana adalah media sosial dan peranti digital. Jaringan internet di kampung Baduy cukup bagus. Instagram menampilkan masyarakat Baduy di dua dunia secara berbeda pada saat bersamaan; dunia maya dan dunia nyata. Penampilan beberapa orang Baduy di Instagram sering jadi seperti cermin terbalik dari realitas kehidupan Baduy di Kanekes.
Transformasi kultural itu terjadi ketika orang-orang Baduy mengambil snapshot diri mereka sendiri, mengunggah di Instagram, mendapatkan komentar dan like. Apalagi, dengan follower atau pengikut yang jumlahnya hingga puluhan ribu, seperti yang dimiliki @ayudewibaduy. Ini terjadi ketika sebagian dari masyarakat di sana sebetulnya masih melarang pengunjung untuk mengambil foto orang-orang Baduy. Ringkasnya, apa yang terjadi di Instagram adalah sebuah konstruksi identitas kultural baru tentang suku Baduy. Di Instagram, mereka harus mengikuti logika-logika media sosial untuk bisa sukses serta memiliki ribuan pengikut dan gambarnya disukai oleh banyak orang. Karena audience yang berbeda, image atau foto diri yang tampil menjadi berbeda pula. Jadi, Instagram tidak hanya mengenalkan dan mempromosikan suku Baduy ke dunia luas. Namun, dengan akun-akun orang Baduy yang ada, maka budaya, tradisi, adat, dan agama Baduy ditampilkan dalam bentuk yang lebih atraktif bagi masyarakat non-Baduy. (Yoga)
Memangkas Kesenjangan Digital
Dalam percaturan global, posisi Indonesia sudah mendapatkan tempat terhormat. Salah satu buktinya adalah masuknya Indonesia dalam G20 yang merupakan gabungan negara maju dan berkembang dengan kelas pendapatan menengah hingga tinggi. Posisi Indonesia makin kuat tatkala diberikan kehormatan memegang Presidensi G20 pada 2022. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi problem layaknya “dunia ketiga” dalam hal kesenjangan digital. International Telecommunication Union (ITU) menempatkan Indonesia di posisi negara yang mengalami kesenjangan akses jaringan internet. Pada 2020, ITU mencatat 53,7% dari total 272 juta penduduk menggunakan internet dan 18,8% memiliki akses laptop. Sebalikya, Malaysia lebih baik dengan 89,6% dari 33,3 juta penduduknya menggunakan internet dan 77,6% punya komputer. Menteri Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Johnny G. Plate mengatakan bahwa kesenjangan digital di Indonesia salah satunya dipicu pandemi Covid-19. Selain itu, perang Ukraina-Rusia juga menambah berat upaya membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Menurutnya, kedua kondisi itu mempengaruhi jalannya persiapan dari penggelaran infrastruktur TIK di Indonesia. Padahal, infrastruktur TIK baik hulu maupun hilir membutuhkan pendekatan yang lebih baik.
Menkominfo mencatat area blankspot di Indonesia menyebar di 12.548 desa dan kelurahan. “Itu bukan seluruhnya ada di wilayah 3T . Ada juga di wilayah komersial atau non-3T yang jadi wilayah operasi operator seluler,” tutur Johnny. Menkominfo juga punya harapan lain yaitu perusahaan operator seluler di Indonesia berani mengalokasikan belanja modal untuk membiayai pembangunan infrastuktur TIK. Johnny sadar langkah itu bukan hal mudah bagi operator TIK. Dalam acara yang sama, Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo Anang Latif berjanji mempercepat penghilangan kesenjangan digital melalui proyek internet terestrial. Rencananya, Bakti akan membangun 2.600 unit base transceiver station (BTS) 4G terestrial. Sebelumnya, Bakti sudah membangun 7.295 unit BTS 4G di seluruh wilayah Indonesia. “4.300-nya sudah on air, sisanya 2.600 ini kita kejar selesai di tahun ini hingga di tahun depan,” katanya.
Smartfren Ajak DANA, Vidio dan Lazada Bangun Ekosistem Digital
Operator telekomunikasi milik Grup Sinar Mas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) tengah menyiapkan diri untuk berfokus pada bisnis konektivitas melalui ekosistem digital yang lengkap, tak hanya menjadi pemain di industri telekomunikasi. Perseroan berinisiatif untuk berkolaborasi dengan sejumlah lini usaha Grup Sinar Mas maupun pihak eksternal seperti DANA, Vidio, dan Lazada dalam sebuah ekosistem. Dirut Smartfren Telecom Merza Fachys mengatakan, kolaborasi tersebut perlu dilakukan, karena platform digital tidak berguna jika ekosistemnya tidak lengkap. Sehingga, Smartfren akan terus melakukan pengembangan sekaligus membangun aset secara paralel. “Kami juga harus memanfaatkan platform-platform ini dalam aplikasi yang lebih tinggi. Kami menyiapkan IoT dan banyak aplikasi berbasis arti cal intelligence (AI), blockchain, dan lain-lain. Semua ekosistem berjalan paralel,” kata Merza di acara ‘Kupas Tuntas’ yang digelar Samuel Sekuritas, baru-baru ini.
Merza meyakini bahwa FREN ke depan bakal menjadi pemain digital yang lengkap, baik platform digital terutama ekosistem konten maupun aplikasi-aplikasi, yang akan mengantarkan informasi dan konten untuk dinikmati pengguna maupun industri. “Kami akan fokus menggunakan blockchain, 5G juga segera meluncur, pusat data (data center) sedang dibangun, edge computing berjalan sesuai perkembangan, dan AI sebagai basis yang kami gunakan,” ungkap dia. Mengenai 5G, Merza menjelaskan bahwa FREN akan menggelarnya di area-area industri dan perumahan maupun area-area yang tidak dilayani serat optik. Termasuk, menggelar 5G di proyek kereta cepat dan tempat-tempat pariwisata premium seperti Labuan Bajo dan Nusa Dua, Bali. “Demikian cita-cita kami. FREN akan menjadi the most sophisticated digital infrastructure platform providing immersive digital experience and solution. Apalagi, Sinar Mas juga masih berkomitmen kuat untuk mengembangkan FREN,” ujar Merza. Dia mengungkapkan, Smartfren juga tengah membangun data center raksasa berkapasitas 1.000 megawatt (MW) di Indonesia. Perseroan telah menggandeng perusahaan asal Abu Dhabi UEA, yaitu Group 42 (G42), untuk mengerjakan proyek ini. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









