Teknologi
( 1200 )Telkomsel Hadirkan Paylater Bagi Pelanggan
JAKARTA, ID – Telkomsel, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bidang telekomunikasi digital, memperkenalkan layanan solusi keuangan digital buy now pay later (BNPL) khusus telekomunikasi (telko) pertama di Indonesia, yakni Telkomsel PayLater, di Jakarta, Senin (28/11/2022). Perseroan berkolaborasi dengan Kredivo, platform kredit digital terkemuka di Tanah Air. Kini, seluruh pelanggan Telkomsel pun dapat memanfaatkan Telkomsel PayLater untuk memenuhi beragam kebutuhan konektivitasnya secara mudah. Layanan ini terintegrasi dengan seluruh produk dan layanan digital Telkomsel, sehingga dapat diakses di mana dan kapan pun melalui Aplikasi MyTelkomsel. “Telkomsel kembali menegaskan komitmennya sebagai digital ecosystem enabler yang terus menghadirkan produk dan layanan digital inovatif guna memperkuat ekosistem digital nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Direktur Planning & Transformation Telkomsel Wong Soon Nam di Jakarta. (Yetede)
Kemenkominfo: 132 Wilayah Layanan Telah Melakukan ASO
JAKARTA,ID - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah melakukan program Analog Switch Off (ASO) di Indonesia. Program ini sesuai dengan amanat UU Cipta Kerja tahun 2020, bahwa migrasi sistem TV teresterial analog ke digital (ASO) dilaksanakan 2 November 2022. Sejak 2 November 2022, hingga saat ini telah terdapat 132 wilayah layanan atau sebanyak 230 Kabupaten/Kota yang melakukan ASO, dari total 225 wilayah siaran atau sebanyak 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Sedangkan, wilayah layanan yang belum dilakukan ASO, akan dilakukan secara bertahap, sesuai dengan kesiapan wilayah masing-masing. “Sehingga, pelaksanaan ASO masih tersisa untuk 93 wilayah layanan atau 284 Kabupaten/Kota yang akan dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan wilayah masing-masing,” kata Johnny G Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika saat Rapat Kerja (Raker) antara Kemenkominfo dan Komisi I DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/1/2022). (Yetede)
Telkom Kembangkan Proyek Web 3,0
JAKARTA, ID - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) agresif mengembangkan proyek industri Web 3.0 atau internet generasi ketiga. Investasi Telkom di perusahaan-perusahaan rintisan juga menjadi bagian dari strategi perseroan untuk mempersiapkan diri dalam menangkap potensi proyek Web 3.0. Deputy EVP Digital Tecnology & Platform Business Telkom Ery Unta menyampaikan bahwa sebagai digital telco, Telkom tentu terus bersiap diri untuk turut andil dalam pengembangan Web 3.0 di Indonesia. “Kami bekerja sama dengan telco par tner. Kami juga mengembangkan sendiri dengan membangun talenta digital dan berinvestasi untuk itu. Karenanya, kami mencari talenta-talenta digital terbaik,” ungkap Ery di acara Indonesia Digital Conference bertajuk Industri Telekomunikasi di Era Web 3.0, Selasa (22/11/2022) di Jakarta. “Jadi, Pijar ini ada ijazahnya atau sertifikatnya. Sehingga untuk memastikan ijazahnya benar atau tidak, track and tracenya seperti apa, kita bisa memanfaatkan teknologi ini,” ucap Ery. (Yetede)
Perusahaan Teknologi Hadapi Krisis
Setelah booming bertahun-tahun, perusahaan teknologi terkena krisis. Terjadi penurunan pendapatan dan PHK. ”Setiap orang telah mengingatkan dalam dua dekade terakhir bahwa ini pasti berakhir. Akhirya pertumbuhan tahun demi tahun berakhir juga,” kata Marc Weil (35), Manajer Teknisi Stripe, yang juga kehilangan pekerjaan (The Washington Post, 14 September). Mendadak berubah kejayaan perusahaan teknologi yang pernah meraih kinerja akbar. Microsoft dan Google adalah dua perusahaan teknologi dengan valuasi tertinggi ke-3 dan ke-4 di dunia setelah Apple dan Saudi Aramco. Pada tahun 2020, industri teknologi menyumbang 10,2 % PDB AS. Kenaikan harga-harga saham Amazon, Google, Microsoft, Facebook, Netflix, Tesla, Salesforce, dan lainnya telah mengisi rekening dana pensiun jutaan orang AS. Perusahaan teknologi berkontribusi 30 % total kapitalisasi S&P 500 pada Maret 2022. Situasi kini berbalik. Indeks Nasdaq, berisikan perusahaan teknologi, anjlok 30 % sejak Januari 2022. Rentetan PHK melanda Meta (Facebook), Twitter, Stripe, Coinbase, Shopify, Netflix, Microsoft, Snap, Robinhood, Lyft, Chime, WATCH.
Lebih dari 35.000 karyawan di-PHK sejauh ini di AS. Hal itu juga melanda perusahaan serupa di dunia walau belum separah AS. ”Situasinya mirip krisis dotcom di era 2000,” kata Lise Buyer, seorang analis. Era perekrutan dengan gaji tinggi, minimal 200.000 USD per tahun, untuk lulusan terbaru universitas telah berakhir. Masalah bagi perusahaan teknologi tergolong bukan gambaran umum perekonomian AS. Perusahaan teknologi terpukul setelah pandemi Covid-19 mulai mereda. Saat pandemi perusahaan-perusahaan tergiur berekspansi karena mendadak warga beralih ke dunia daring. Pejabat keuangan (CFO) Zoom Video Communications Inc, Kelly Steckelberg, menuturkan, warga mengurangi pertemuan daring. Akan tetapi, perusahaan-perusahaan telanjur menghabiskan uang untuk investasi termasuk Metaverse. ”Saya salah perkiraan,” kata Mark Zuckerberg (Associated Press, 10 November). Lalu ada kenaikan suku bunga AS. Pada era suku bunga rendah, sangat mudah mendapat uang, kini berubah. Bayangan resesi membuat penerimaan iklan menurun. ”Banyak Perusahaan akan lenyap,” kata pemimpin Credit Suisse, Axel Lehmann. (Yoga)
Digitalisasi Jadi Motor Pertumbuhan
Kendati banyak perusahaan teknologi tengah mengalami rasionalisasi struktur biaya, ekonomi digital dinilai tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Meluasnya penetrasi internet dan pola konsumsi masyarakat yang makin lekat dengan digitalisasi akan mengakselerasi ekonomi digital di Tanah Air. Demikian benang merah dalam diskusi Kompas 100 CEO Forum-CEO Live Series, Selasa (22/11) di Jakarta. Hadir sebagai pembicara, Managing Partner East Ventures Roderick Purwana, Chief Executive Officer (CEO) Telkomsel Mitra Inovasi (TMI) Mia Melinda, dan Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi. Roderick mengatakan, perekonomian digital berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama pandemi Covid-19. Ke depan, terbuka peluang pertumbuhan ekonomi digital makin terakselerasi. ”Saatini baru bagian awalnya saja. Kita akan memasuki era keemasan ekonomi digital dalam 5-10 tahun ke depan,” ujar Roderick. Ia menjelaskan, laju pertumbuhan ekonomi digital ditopang oleh jumlah pengguna internet yang telah mencapai lebih dari 200 juta orang. Selain itu, pandemi yang membatasi mobilitas orang juga telah mengakselerasi digitalisasi secara lebih cepat.
Berdiri pada 2009, East Ventures telah berinvestasi ke berbagai perusahaan rintisan, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga negara lain, seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Pperusahaan yang disuntik dana oleh East Ventures, antara lain, GoTo, Traveloka, dan Fore. Roderick mengaku sangat beruntung menyaksikan kelahiran ekonomi digital sejak awal hingga saat ini. Salah satunya adalah saat East Ventures menginvestasikan dana di Tokopedia sejak 2010. ”Kami beruntung melihat pertumbuhan ekonomi digital dari awal perintisannya hingga terus berkembang sampai saat ini. Kami yakin di masa depan ekonomi digital akan makin bertumbuh,” ujar Roderick. Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, pandemi telah mengubah perilaku konsumen menjadi kian akrab dengan digitalisasi. Ketika pandemi mulai mereda dan kegiatan luring sudah menggeliat, perilaku digital konsumen tidak akan menurun. Menurut Neneng, selama pandemi, pihaknya telah membantu 2 juta UMKM masuk ke ekosistem digital. Selain itu, pihaknya juga telah membantu 5.200 pedagang pasar di tujuh kota memanfaatkan teknologi digial. (Yoga)
PERUSAHAAN RINTISAN : Startup Tempuh Jalan Efisiensi
Indonesia ICT Institute menilai perusahaan yang bergerak di sektor teknologi tengah melakukan efisiensi untuk bertahan hidup di tengah potensi perlambatan ekonomi global pada 2023. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, upaya efisiensi yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan itu bisa membantu keberlangsungan ekosistem dan mitra yang ada di dalamnya. Saat ini, situasi global berada dalam istilah winter is coming atau terjadi perlambatan pada pertumbuhan ekonomi dunia. Menurutnya, efisiensi yang dilakukan perusahaan rintisan atau startup salah satunya melalui pemangkasan karyawan adalah merupakan hal realistis. “Efisiensi dilakukan agar perusahaan bisa survive. Saat ini yang dialami sebagian startup di Indonesia adalah terjadinya pengurangan investasi dari investor di luar negeri,” jelasnya seperti dikutip Antara.
JELAJAH SINYAL 2022 : Memantik Pembayaran Digital Lewat Pemerataan Jaringan
Kehadiran akses internet ikut mendorong tumbuhnya pembayaran digital Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Flores. Kehadiran infrastruktur telekomunikasi membuat adopsi QRIS menjangkau hingga pasar tradisional. Fandi, seorang pedagang sayuran di Pasar Cancar, Kelurahan Waebelang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, misalnya. Dia mengatakan lapaknya sudah menerima pembayaran menggunakan QRIS. Berkat pembayaran digital itu, katanya, pembeli tidak perlu membawa uang tunai lagi. “Iya belum lama ini ada beberapa pedagang pasar tradisional sini yang ditawarkan memakai QRIS, ya saya mau. Jadinya pembeli bisa ba yar lewat QRIS, tetapi cash juga masih kami terima,” tutur Fandi kepada Tim Jelajah Sinyal 2022 Bisnis Indonesia, Sabtu (5/11).
Selain menggunakan QRIS, sinyal internet yang baik juga membantu para pedagang pasar untuk memantau perkembangan harga di kelurahan lain. Pedagang lain di Pasar Cancar, Wati, mengungkapkan bahwa pihaknya dapat mengikuti perkembangan isu yang mempengaruhi harga bahan pokok di pasar.
Pentingnya Regulasi dan Pengawasan Berbasis Teknologi
Pemerintah dan DPR sedang membahas RUU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau RUU P2SK. Regulasi berformat omnibus ini diharapkan bisa meredefinisikan kembali sektor keuangan agar lebih sesuai dengan kondisi saat ini. Sebagai fondasi penting untuk memperkuat sektor keuangan, UU ini akan diturunkan dalam peraturan di bawahnya agar dapat diimplementasikan dengan baik. Beberapa survei industri keuangan memperkirakan biaya pemenuhan kewajiban kepatuhan (compliance cost) mencapai 5 % total biaya. Adapun potensi biaya karena tidak memenuhi kepatuhan bisa dua hingga tiga kali lipat. Dalam hal ini, regulatory technology (RegTech) dan supervisory technology (SupTech) dapat membantu. RegTech adalah penerapan teknologi agar regulator dan pelaku industri bisa lebih efektif dan efisien. Misalnya, pada proses perizinan, pelaku industri yang mengajukan izin umumnya berurusan dengan birokrasi, sulit mengetahui sampai di mana proses perizinan berlangsung dan kapan akan keluar. Saat ini regulator, seperti OJK dan BI, mulai menyediakan mekanisme perizinan digital atau e-licensing yang diharapkan transparan, seperti halnya e-dagang memiliki mekanisme pemantauan pesanan. e-licensing akan banyak membantu pelaku industry keuangan.
Ke depannya, konsep machine-readable regulation tidak hanya dapat digunakan untuk pengaturan bersifat kuantitatif, tetapi juga pengaturan konseptual dan kualitatif. Untuk itu, regulator perlu menerbitkan peraturan dalam format yang bisa dianalisis dan dipahami secara semantik dengan kecerdasan artifisial dan machine learning di sisi pelaku industri. Selain RegTech, regulator juga perlu menerapkan SupTech atau pengawasan berbasis teknologi. SupTech bisa diterapkan untuk pelaporan yang kini masih relatif manual. Beberapa regulator memang mulai menerapkan pelaporan daring misalnya BI dengan BI Antasena dan OJK dengan OJK-BOX (OBOX). Namun, umumnya data yang disimpan oleh pelaku industri diolah dulu menjadi laporan dengan format tertentu, lalu diunggah ke sistem pelaporan daring. Pengolahan manual di sisi regulator pun tidak jarang masih harus dilakukan. Ini bisa dibuat lebih mulus dengan mewajibkan pelaku industri melaporkan dalam format digital standar, misalnya menggunakan extensible business reporting language (XBRL), di mana semua field pelaporan distandardisasi. Dengan standardisasi yang baik antar-regulator pelaku industri yang harus melapor kepada dua atau lebih regulator dapat membuat pelaporan lebih efisien karena tidak menggunakan format khusus dari regulator tertentu. (Yoga)
Akhir Siaran Analog Mengusik Omzet Iklan Stasiun TV
Pemerintah resmi menghentikan siaran TV analog atau Analog Switch-Off (ASO) mulai Rabu (2/11) pekan lalu. Namun implementasi migrasi ke TV digital yang berawal dari wilayah Jabodetabek ini, masih menyisakan problem di lapangan. Terutama, akses atas
set top box
(STB) yang belum merata. Alhasil, kondisi ini bisa mempengaruhi
audience share
dan berujung menggerus pendapatan iklan para pengelola stasiun televisi.
Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATSVI) memprediksi migrasi ke TV digital berdampak bagi penurunan pangsa pemirsa (audience share) hingga berimbas ke pemasukan iklan televisi swasta.
"Hal ini karena tingkat kepemilikan pesawat dan/atau perangkat penerima siaran digital seperti STB di masyarakat masih rendah," jelas Sekretaris Jenderal Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATSVI), Gilang Iskandar, kepada KONTAN, kemarin.
Digitalisasi Bikin BUMDes Detusoko Barat Melaju
Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bisa mendorong kemajuan desa jika bisa dioptimalkan dengan baik. Desa yang berkembang maju akan memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan masyarakatnya. Memajukan dan menggerakan perekonomian desa menjadi salah satu tujuan Ferdinandus Watu, di masa-masa akhir kuliah di Miami Dade College, Florida, Amerika Serikat, pada 2015 silam. Nando, begitu ia biasa disapa, mendapatkan beasiswa Fulbright untuk menuntut ilmu jurusan Tourism and Hospitality Management, di Negeri Paman Sam. Untuk mewujudkan cita-citanya, Nando bekerja di Kantor Desa Detusoko Barat yang ada di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama bekerja di Desa Detusoko Barat, Nando mulai mengamati potensi ekonomi lokal apa yang bisa dikembangkan di desa ini. Hasilnya, di tangan Nando, dalam setahun Desa Detusoko Barat bisa masuk ke dalam daftar 50 besar desa wisata terbaik di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Visi menjadikan Detusoko Barat sebagai desa yang berkarakter lokal, berdaya saing, berbasis pertanian terpadu, dan ekowisata dengan mengedepankan teknologi informasi, perlahan-lahan mulai terwujud. “ADWI merupakan apresiasi dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk mendukung perkembangan desa-desa kreatif di Indonesia. Jadi ada tiga kata kunci yang kami jalankan, yakni pertanian, pariwisata, dan teknologi informasi,” kata Nando kepada tim Jelajah Sinyal Bisnis Indonesia, Selasa (1/11).
Menurut Nando, pemilihan tiga kata kunci itu berangkat dari potensi dan kondisi yang ada di desanya. Pertama, jelas dia, sekitar 95% penduduk Desa Detusoko Barat mengandalkan sektor pertanian, seperti padi, kopi, kakao, lalu ada juga tanaman pangan, kemiri, dan juga hortikultura umbi-umbian. Kedua, sambung Nando, Desa Detusoko Barat berada di jalur utama jalan Trans-Flores, dan menjadi area penyangga Danau Kelimutu. Lokasinya hanya berjarak 33 km dari Kota Ende atau sekitar 45–60 menit berkendara dari Bandara Ende. Kata kunci ketiga, jelas Nando, terkait dengan era digital yang saat ini mengubah pola hidup masyarakat secara masif. Kondisi itu, jelasnya, harus dimanfaatkan untuk mengoptimalkan dua kata kunci lainnya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









