Teknologi
( 1200 )Waspadai Valuasi Saham BSI Sebelum Masuk
Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) tengah mengalami tekanan akibat rumor rencana akuisisi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara atas saham BRIS yang saat ini dimiliki oleh Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Meskipun Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa rencana spin-off BRIS masih dalam tahap kajian awal, sumber internal menyebut bahwa Danantara sudah memulai negosiasi dengan direksi BRIS, bahkan dengan harga di bawah pasar.
Sentimen negatif ini tercermin dari penurunan harga saham BRIS dalam sepekan sebesar 14,33%. Namun, investor asing masih mencatat aksi beli bersih sebesar Rp 62,8 miliar, menunjukkan adanya minat jangka panjang.
Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, menilai bahwa kurangnya transparansi dari pihak Danantara memicu kekhawatiran terhadap masa depan BRIS, terutama jika akuisisi dilakukan di bawah harga pasar. Menurutnya, ini bisa menekan valuasi BRIS dalam jangka pendek, meskipun ada peluang positif dalam jangka panjang seiring ekspansi bisnis.
Sementara itu, Andrey Wijaya, Analis dari RHB Sekuritas Indonesia, berpandangan bahwa aksi jual BRIS lebih disebabkan oleh aksi ambil untung setelah lonjakan harga saham. Ia percaya bahwa prospek jangka panjang BRIS tetap menarik, terutama jika akuisisi dilakukan dengan valuasi yang tepat. Ia memperkirakan harga wajar BRIS berada di kisaran Rp 3.500 per saham berdasarkan PBV 2,6x.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, juga menilai bahwa meskipun terjadi aksi jual, posisi BRIS tetap strategis sebagai satu-satunya bank syariah nasional dengan kapitalisasi besar. Ia melihat bahwa akuisisi ini justru dapat memperkuat posisi BRIS dalam membangun ekosistem keuangan syariah nasional.
Rumor akuisisi BRIS oleh Danantara menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap harga saham karena kekhawatiran soal transparansi dan valuasi. Namun, tokoh-tokoh seperti Indy Naila, Andrey Wijaya, dan Nafan Aji Gusta menilai bahwa dalam jangka panjang, prospek BRIS tetap solid, apalagi jika akuisisi mendukung ekspansi dan penguatan peran BRIS dalam sektor perbankan syariah nasional.
Telkom Menjalin Kolaborasi dengan IBM Sediakan Solusi Kedaulatan AI
Pensiunan dan ASN di Minta Hati-hati Modus Penipuan
Uang Pensiunan Diincar Jaringan ”Scammer”
Penipuan
daring terus berlanjut. Korbannya adalah orang yang gagap teknologi. Edukasi
diharapkan dapat menjadi senjata untuk menangkal penipuan sejenis. Tipu
muslihat scammer internasional sangat terorganisasi. Mereka memperdaya warga terutama
kaum lanjut usia dengan berbagai kecanggihan seakan mereka benar-benar berasal
dari suatu institusi resmi. Tak ayal, korban pun merugi hingga ratusan juta
rupiah. Ini tergambar dari komplotan scammer internasional jaringan Kamboja
yang memperdaya nasabah PT Taspen (persero). Dua tersangka kasus ini ditangkap
polisi di Tanjung Priok, Jakut, yakni EC (28) seorang mahasiswa; dan IP (35),
ibu rumah tangga. Pelaku utama, yakni AM (29) masih diburu karena sedang berada
di Kamboja. Kasus ini terungkap ketika Direktorat Reserse Siber Polda Metro
Jaya menerima laporan dari pensiunan berinisial RY, yang kehilangan uang Rp 304
juta.
”Kami
menangkap dua tersangka dan satu orang masih diburu di Kamboja,” kata Kasubdit
IV Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon,
Kamis (5/6). Pelaku menelpon dan menyebut nama korban, dimana ia merupakan
petugas PT Taspen (Persero). Pelaku bilang ingin mengkroscek apakah data korban
sudah diperbarui agar pencairan tunjangan korban tidak bermasalah di kemudian
hari dan menanyakan apakah nomor korban sudah terhubung dengan Whatsapp. Pelaku
lalu mengirimkan data PDF yang isinya identitas korban dan dilampirkan link
yang akan diarahkan untuk mengunduh aplikasi Taspen palsu yang digunakan pelaku. Setelah PDF
tersebut diunduh oleh korban, pelaku meminta untuk video call dengan tujuan
melakukan verifikasi wajah, lalu mengarahkan korban untuk mengunduh aplikasi
Taspen palsu.
Pelaku
mengarahkan agar masuk pengaturan handphone untuk mengizinkan aplikasi Taspen
imitasi itu mengakses semua fitur di dalam handphone, lalu mengarahkan korban
agar membuat username dan kata sandi dari aplikasi tersebut menggunakan user name
dan kata sandi yang biasanya sering korban buat supaya tidak lupa. ”Di situlah
biasanya korban dengan spontan membuat username dan kata sandi yang biasa
digunakan karena korban mayoritas adalah pensiunan yang umurnya sudah tua,”
kata Herman. Korban juga diminta untuk menyematkan sidikjari, foto, dan video
diri. Setelah korban mengklik menu di dalam aplikasi tersebut, pelaku sudah
bisa mengakses semua fitur yang ada di dalam telepon seluler milik korban. Dengan
semua data yang pelaku miliki, mereka menguras uang yang ada di dalam rekening
milik korban. (Yoga)
Senilai 1,9 Juta KPM Bansos Menjadi Tidak Tepat Sasaran
Dukung Usaha Kuliner Naik Kelas, Gojek Luncurkan GoFood Merchant
ASSI Soroti Masuknya Pemain Satelit Internet Asing
Dana Desa Fleksibel
Komitmen Nuon Digital Indonesia Perkuat Ekosistem Kreatif Nasional
GOTO-Indosat Capaian Transformasi Digital dan Regulasi Anak
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









