Politik dan Birokrasi
( 6631 )Ri-Rusia Teken Sejumlah Dokumen Kerjasama Transportasi dan Pendidikan
Evaluasi atas Membengkaknya Belanja Pajak
SBY Peringatkan Ancaman Perang Global
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyatakan keprihatinannya atas potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga sebagai dampak dari konflik memanas antara Israel dan Iran. Dalam wawancaranya di kanal YouTube Gita Wirjawan, SBY menegaskan bahwa meskipun dirinya kini hanya seorang mantan presiden, ia tetap merasa bertanggung jawab secara moral terhadap perdamaian dunia.
SBY menyerukan agar para pemimpin dunia tidak terpancing emosi dan sebaliknya segera mengambil langkah diplomatik untuk mencegah eskalasi konflik. Ia bahkan mengusulkan pembentukan forum khusus antar pemimpin dunia yang bertujuan menghindari keterlibatan negara-negara lain dan mencegah miskalkulasi politik dan militer yang bisa memicu perang global.
Dengan latar belakang sebagai prajurit selama 30 tahun, SBY menilai bahwa salah perhitungan sekecil apa pun dalam konflik seperti ini bisa menjerumuskan dunia ke jurang perang besar. Seruan SBY merupakan pengingat penting akan pentingnya diplomasi, kewaspadaan, dan tanggung jawab bersama para pemimpin dunia dalam menjaga stabilitas global.
Diplomasi Simbolik RI Dinilai Berisiko
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia dan keputusannya untuk menghadiri undangan khusus Presiden Vladimir Putin alih-alih menghadiri KTT G7 mencerminkan langkah diplomasi luar negeri yang penuh perhitungan strategis. Di tengah isolasi keuangan Rusia akibat sanksi internasional, kesepakatan investasi sebesar €2 miliar (sekitar Rp37,7 triliun) antara Badan Pengelola Investasi Danantara dan Russia Direct Investment Fund (RDIF) mengirim sinyal politik dan ekonomi yang kuat, namun juga mengundang pertanyaan publik.
Kolaborasi dengan RDIF, sebuah sovereign wealth fund yang masuk daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa, menunjukkan manuver berani, namun rentan terhadap risiko reputasi dan konsekuensi diplomatik. Di sisi lain, Danantara juga menjalin pendekatan dengan Temasek Holdings dari Singapura, lembaga investasi yang sangat selektif dan berorientasi profit, menimbulkan kontras antara profesionalisme investasi dan pertimbangan geopolitik.
Meski Danantara juga aktif memperkuat investasi dalam negeri—seperti mendanai proyek petrokimia Chandra Asri dan program perumahan nasional senilai Rp130 triliun—langkah-langkah ini membutuhkan pengawasan ketat dan transparansi tinggi. Detail implementasi, seleksi proyek, dan strategi mitigasi risiko harus dibuka ke publik demi menjaga akuntabilitas.
Kritik dari berbagai pihak menyoroti pentingnya membedakan agenda diplomasi dari keputusan investasi strategis. Sovereign wealth fund seperti Danantara harus menjadi instrumen profesional yang menciptakan imbal hasil berkelanjutan, bukan alat politik. Presiden Prabowo bersama tim ekonomi perlu memastikan bahwa kebijakan luar negeri tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian fiskal, dan bahwa investasi lintas negara tetap dijalankan berdasarkan asas rasionalitas ekonomi, bukan simbolisme politik semata.
Momentum Rombak Kebijakan Bursa Saham
115 WNI Mulai di Evakuasi
Penghambat Penyerapan Anggaran Belanja
Kemungkinan Pemerintah Membuka Opsi Impor Gas
Generasi Muda Target Pasar Rumah Subsidi Mini
Kemenlu Siapkan Evakuasi WNI di Iran
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









