Lingkungan Hidup
( 5820 )Tambang Emas Luwu
Wilayah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, diyakini menyimpan kandungan emas. Hal itu setelah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengeluarkan surat izin kepada perusahaan yang diberi rekomendasi adalah PT Bastem Indonesia.
Perusahaan itu akan melakukan eksplorasi di lima desa, Desa Dampan, Barana, Tede di Kecamatan Bastem Utara, dan Posi, Bukit Harapan di Kecamatan Bua. Lokasi dieksplorasi seluas 4.166 hektare.
“Kegiatan perusahaan tersebut adalah pertambangan mineral logam atau emas,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Luwu, Andi Pangerang membenarkan hal tersebut, Minggu (13/12/2020).
Diketahui, sudah ada satu tambang emas beroperasi di Luwu, yakni PT Masmindo Dwi Area di Kecamatan Latimojong.
Industrialisasi Pangan, Bersatu Mendorong Sagu
Berdasarkan data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indonesia memiliki areal hutan sagu terluas serta diversitas genetik terbesar di dunia. Daerah yang diyakini sebagai pusat asal sagu adalah sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Namun, dari total lahan sagu seluas 5,5 juta hektare yang berada di Papua belum tergarap dengan baik. di Papua Barat dari 510.000 hektare lahan sagu, yang digarap baru sekitar 20.000 hektare atau setara 3,93% dan selebihnya berupa hutan sagu. Luas tanaman sagu Indonesia yang berada di Papua hanya 50,33%, setengahnya lagi tersebar di Riau, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.
Berita menyedihkannya, hingga kini setidaknya baru ada tiga industri besar yang mengelola bisnis persaguan ini, ketiganya yakni PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJ), Sampoerna Agro, dan Perum Perhutani.Dari tiga pabrik sagu tersebut, milik Perum Perhutani yang tercatat memiliki kapasitas paling besar yakni 30.000 ton per tahun.
Sejak berdirinya pabrik perseroan pada 2015 hingga saat ini, kinerja perseroan masih harus disubsidi oleh lini usaha perseroan lain yakni sawit yang lebih besar. Sinergi untuk pengembangan industri sagu ini masih terbatas. ANJ tercatat membuka pabrik sejak 2015 lalu tercatat mendapatkan konsesi pengelolaan hutan sagu dari pemerintah seluas 40.000 ha di Sorong Selatan, Papua Barat.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementrian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim sepakat peluang pengembangan industri sagu saat ini memang sangat besar. Harus ada kerjasama dengan Kementrian Perdagangan, Pendidikan, hingga Pariwisata untuk bersama-sama mengembangkan industri sagu saat ini. Dari sisi industri Kemenperin tengah mengusahakan upaya subtitusi impor hingga 35% pada 3 tahun ke depan. Jika mampu mengambil 5% dari nilai impor atau sekitar Rp 2 triliun untuk sagu maka akan cukup membantu industri pengolahan sagu.
Sagu sudah ditegaskan sebagai tanaman pangan asli Indonesia. Konsumsinya pun sudah dikenal sejak Kerajaan Budha yang berkembang di Nusantara. Bagaimanapun sagu adalah masa depan pangan Indonesia. Memetakan bidang industri dan pertanian yang mendukung cita-cita di atas, tentunya harus dilakukan sejak sekarang.
Harga minyak sawit diprediksi naik tahun depan
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksi harga minyak sawit mentah atau CPO tahun 2021 akan mengalami peningkatan menjadi sekitar 668 dolar AS per ton.
“Dengan memertimbangkan faktor-faktor ini, minyak sawit diperkirakan akan mengalami sedikit peningkatan harga pada tahun 2021 menjadi sekitar 668 dolar AS per metrik ton dari 650 dolar per metrik ton pada tahun 2020,” kata Airlangga dalam pembukaan IPOC yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (2/12).
Selain itu, lanjut dia, peningkatan harga CPO juga didukung oleh berlanjutnya kebijakan biodiesel yang diterapkan pemerintah melalui mandatori Program Biodiesel 30 atau B30, serta adanya peningkatan permintaan oleh mitra dagang besar.
Airlangga mengatakan bahwa minyak sawit telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi lapangan kerja bagi lebih dari 16 juta orang dan memberikan kontribusi rata-rata sekitar 20 miliar dolar AS per tahun.
Orang Kaya Banyak Belanja Tanaman dan Ikan Hias di Saat Pandemi Covid - 19
Menyitir data penelitian Bank Mandiri, jumlah pengeluaran konsumen untuk kategori hobi meningkat drastis pada Juni hingga September. Bila pada awal tahun pengeluaran pada kelompok ini berada di bawah belanja elektronik hingga besin, mulai Maret, angkanya justru melampaui dua kategori tersebut.
Meski terjadi pengalihan belanja, secara kumulatif, pengeluaran kelompok masyarakat atas dan menengah masih di bawah kelompok low income group (pendapatan rendah). “Kelompok yang atas drop karena mereka mengurangi belanja non-esensial. Selama ini belanja non-esensial mendominasi spending middle-high income,” katanya.
Sebaliknya, kelompok masyarakat dengan ekonomi rendah tetap gencar membelanjakan uangnya untuk memberi barang-barang kebutuhan pokok. “Kelompok bawah kalau punya uang dibelanjakan untuk makanan. Orang enggak mungkin ngurangin (belanja),” katanya.
Permintaan Membaik, ICP Naik Jadi US$ 40,67 Per Barel
Rata-rata harga
minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada
November lalu tercatat naik menjadi US$ 40,67 per barel dari
bulan sebelumnya US$ 38,07 per
barel. Peningkatan harga minyak
mentah Indonesia disebabkan
membaiknya kondisi permintaan
minyak di kawasan Asia Pasifik.
Faktor lainnya adalah keyakinan pelaku pasar bahwa negara-negara OPEC akan kooperatif
memotong produksi minyaknya.
Pertemuan OPEC pada 30 November-1 Desember diyakini
bahwa pemotongan produksi akan
dilanjutkan.
“Berdasarkan data dari Baker
hughes, jumlah operasional oil
rig internasional di Oktober 656
unit, turun 46 unit dibanding bulan
sebelumnya dan jauh lebih rendah
474 unit dibanding 2019,” ujar Tim
Harga Minyak Indonesia.
Lebih lanjut Tim Harga Minyak
Indonesia menuturkan, peningkatan harga minyak juga dipengaruhi
optimisme pasar setelah informasi
perkembangan vaksin Covid-19
oleh para produser vaksin. Vaksin
yang dihasilkan diklaim dapat
mencapai efficacy rate diatas 90%.
Optimisme pasar ini juga menyusul peluncuran paket stimulus
ekonomi oleh Amerika Serikat.
Selengkapnya perkembangan
harga minyak mentah utama di
pasar internasional, yaitu Dated
Brent naik dari US$ 40,15 per
barel menjadi US$ 42,66 per barel,
WTI (Nymex) dari US$ 39,55 per
barel menjadi US$ 41,35 per barel,
Basket OPEC dari US$ 40,08 per
barel menjadi US$ 42,42 per barel,
serta Brent (ICE) dari US$ 41,52
per barel menjadi US$ 43,98 per
barel
Batu Bara Bantu Dongkrak Ekspor Kalsel
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel telah merilis nilai ekspor dan impor selama Oktober 2020, nilai ekspor Kalsel pada Oktober 2020 tercatat USD 352,63 juta. Naik 7,34 persen dibandingkan September 2020 yang hanya USD 328,52 juta. Sedangkan, nilai impor mengalami penurunan sebesar 15,59 persen. Dari USD 39,75 juta menjadi USD 33,56 juta.
Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, nilai ekspor Banua meningkat lantaran kontribusi kelompok barang utama penyumbang ekspor, yakni bahan bakar mineral mengalami kenaikan.
“Kelompok ini nilai ekspornya naik 10,47 persen. Yakni, dari USD 234,29 juta pada bulan September menjadi USD 258,66 juta di bulan Oktober, “ jelasnya di Kanal Youtube BPS Kalsel
Dia menyampaikan, kelompok bahan bakar mineral cukup mempengaruhi nilai ekspor Kalsel, karena selama ini memberikan kontribusi paling besar, 73,35 persen. “Diurutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati yang menyumbangkan ekspor USD 42,66 juta. Kontribusinya 12,10 persen, “ ucapnya.
Sementara itu, untuk perkembangan impor, Edy menuturkan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada bulan Oktober. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD 25.59 juta; mesin-mesin/pesawat mekanik, USD 7,03 juta dan kelompok bahan kimia organik sebesar USD 0,26 juta.
Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan, neraca perdagangan ekspor impor Kalsel ada Oktober 2020 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD 319,07 juta.
Gali Sumur, Malah Dapat Gas
Pertamina EP Asset 4 Cepu Field membantu upaya penanganan terhadap gas yang muncul di sumur air milik Sumiran, warga Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan telah memasang rangkaian pipa guna menyalurkan gas ke halaman belakang rumah Sumiran yang kemudian akan dilakukan pembakaran (flaring).
Afwan Daroni, Cepu Field Manager, menjelaskan bahwa langkah yang dilakukan tim Pertamina EP sudah atas seizin dinas terkait. “Sebelum melakukan penanganan tersebut, kami sudah berkoordinasi dengan pihak berwenang yakni Dinas ESDM Kendeng Selatan. Artinya, kami tidak melangkah sendiri, “ kata Afwan, Rabu (2/12).
Kejadian semburan gas bermula saat tukang sumur melakukan pengeboran di samping rumah untuk membuat sumur air, pekerjaan dihentikan pada kedalaman sumur 48 meter. Kemudian pompa submersible dipasang dan dicoba dinyalakan, tetapi tidak mengeluarkan air. Bersamaan itu, pemilik sumur mendengar suara gemuruh dari dalam sumur bor disertai keluarnya gas.
Pertamina dan Pelindo I Bangun Sarfas BBM dan Pipa Gas
PT Pertamina (Persero) membangun sarana fasilitas tangki bahan bakar minyak (BBM) dan jalur pipa gas bumi yang bersinergi dengan PT Pelindo 1 dalam pengelolaannya. Pada Jumat (4/12), Pertamina melaksanakan Groundbreaking Sarana dan Fasilitas Bunker Penunjang TBBM yang ke depan akan dikembangkan sebagai TBBM untuk membantu suplai di wilayah Sumatera Utara.
Sarana dan Fasilitas Bunker (Bunker Service) akan berdiri di lahan milik PT Pelindo 1 Pelabuhan Kuala Tanjung dan kelak akan menjadi bagian dan pengembangan tank bunker Kuala Tanjung.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Arifin menyambut positif langkah Pertamina menggandeng Pelindo 1 untuk mendukung pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi dengan membangun infrastruktur energi di Sumatera Utara.
“Pembangunan intrastruktur gas bumi merupakan komitmen untuk penguatan ketahanan energi di negeri, sehingga tidak tergantung hanya satu sumber energi yakni BBM, Kemandirian energi akan menjadi perhatian, karena merupakan unsur penting bagi pembangunan nasional, Penyediaan gas bumi diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri dan mengurangi ketergantungan energi impor, “ imbuh Arifin
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, “Dengan Kuala Tanjung sebagai kawasan industri dan pelabuhan hub internasional, maka diharapkan jumlah industri di Kuala Tanjung terus bertambah, sehingga permintaan kebutuhan gas juga meningkat,” jelas Nicke.
Direktur Utama Pelindo 1 Dani Rusli Utama menilai kehadiran sarana dan fasilitas dermaga Pelabuhan Kuala Tanjung sangat berpotensi mendukung berdirinya TBBM, mengingat dermaga ini memiliki panjang 500 meter dan lebar 60 meter serta bisa disinggahi kapal raksasa sejenis Very Large Container Carrier (VLCC) dengan bobot 50.000 DWT.
Tahun Depan BP Indonesia Buka 35 Jaringan SPBU
Presiden Direktur BP-AKR Peter Molloy mengatakan bahwa pandemi Covid-19 tidak berdampak negatif terhadap program investasi perseroan. Sejumlah program investasi untuk tahun ini pun masih akan tetap berjalan.
“Tahun depan kami berencana memiliki 35 jaringan SPBU. Selain itu kami telah merencanakan operasional SPBU mini sehingga dapat diperkenalkan tahun depan. Dengan demikian, kami berharap volume penjualan kami juga akan bertambah, “ kata dia, seperti yang dilansir Bisnis, Minggu (6/12).
Adapun, sepanjang 2020, perusahaan patungan antara BP Indonesia dengan PT AKR Corporindo Tbk, itu telah membuka sebanyak 16 SPBU dengan sebaran 12 SPBU di Jabodetabek dan 4 SPBU di Surabaya. BP-AKA telah melibatkan hampir 400 orang dalam bisnis SPBU tersebut.
“Maka dari itu, dengan memperluas jaringan kami di tahun depan, kami akan memperkerjakan hampir 1.000 orang,” ungkapnya.
Batubara : Kontraktor Mencuil Peluang Pasar China
Di tengah tekanan industri batubara saat ini, pelaku usaha jasa pertambangan berharap bisa ikut mencuil cuan dari peluang tersebut.
Adanya nota kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan CCTDA (China Coal Transportation and Distribution) untuk meningkatkan ekspor batubara termal menjadi prospek positif untuk pemulihan industri pertambangan pada tahun depan. Namun, sentimen positif itu tak otomatis berefek terhadap sektor jasa pertambangan.
Kepala Hubungan Investor PT Samindo Resources Tbk (MYOH) Ahmad Zaki Natsir juga berharap MoU Indonesia dan China bisa membawa imbas positif terhadap kontraktor jasa pertambangan. Namun mereka masih wait and see terkait peluang yang bisa diraih dari kerjasama itu.
Corporate Secretary PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Mukson Arif Rosyidi menyambut optimistis MoU APBI dan CCTDA. Menurut dia, pasar telah merespons positif kesepakatan ini. “Pelaku pertambangan batubara merespons positif setelah ada pandemi yang ditandai kontraksi ekonomi di kuartal kedua dan ketiga 2020”, ungkap dia.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









