Lingkungan Hidup
( 5820 )PGN Genjot Proyek Pipanisasi Gas Bumi
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), tahun 2021, bersiap untuk mengembangkan infrastruktur gas secara massif. Pertama, proyek pipaninasi gas bumi yang akan menjadi kunci penting dalam optimalisasi utilisasi gas bumi nasional.
Proyek pipanisasi yang ditargetkan selesai pada tahun 2021-2023 diantaranya pipa minyak Rokan, pipa transmisi di Sumatera Bagian Utara dan Tengah, pipa integrasi South Sumatera West Java (SSWJ) - West Java Area (WJA), pipa pemanfaatan gas untuk petrochemical, pipa transmisi di Kalimantan, pipa transmisi di Jawa Tengah dan distribusi Kendal - Semarang - Demak, serta pipa untuk pelanggan industri, komersial dan rumah tangga (jargas).
SVP Corporate Communication and Investor Relation PT Pertamina (Persero), Agus Suprijanto menjelaskan, PGN juga akan menyediakan gas bagi pemenuhan seluruh Kilang Pertamina. “Salah satu target di tahun 2021 ini adalah program Gasifikasi Kilang di Balongan, “ kata Agus, Senin (11/1).
Harga Cabai Naik 100 Persen
Harga cabai rawit di Pasar Sentral Kabupaten Bulukumba, naik 100 persen. Naiknya harga cabai tersebut diduga dipengaruhi stok yang mulai menipis. Musim penghujan yang telah melanda Sulsel, termasuk di Kabupaten Bulukumba, berdampak pada menurunnya produksi cabai.
Sementara untuk cabai rawit hijau, harganya naik dari Rp20 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogramnya. Bukan hanya cabai rawit, cabai besar juga mengalami kenaikan dari harga Rp20 ribu menjadi Rp30 ribu per kilonya.
Pasokan Batu Bara Dalam Negeri, Prospek Sulit Si Emas Hitam
Produsen batu bara mendapat angin segar setelah pemerintah membebaskan kewajiban pembayaran kompensasi kekurangan penjualan batu bara untuk kepentingan dalam negeri pada 2020. Namun, jalan terjal masih terpampang di depan mata.
Adapun, relaksasi tersebut diatur dalam dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 255 K/30/ MEM/2020 tentang Pemenuhan Kebutuhan Batubara Dalam Negeri Tahun 2021. Pembebasan kewajiban kompensasi itu didasarkan pada pertimbangan kesulitan yang dihadapi sektor pertambangan akibat terdampak pandemi Covid-19. Tak bisa dipungkiri, merebaknya pandemi Covid-19 membuat industri batu bara cukup tertekan hampir sepanjang 2020. Harga pun sempat jatuh ke titik terendah dalam 4 tahun terakhir karena permintaan yang merosot. Dari sisi produksi, tidak ada perubahan signifikan. Target produksi tetap tercapai, namun kelebihannya memang tergolong sangat rendah dan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi produksi batu bara pada 2020 tercatat mencapai 558 juta ton, sedikit melebihi target yang ditetapkan sebesar 550 juta ton. Dari jumlah tersebut, realisasi pasokan untuk kepentingan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) hanya mencapai 132 juta ton atau 85,16% dari target sebanyak 155 juta ton. Sejumlah perusahaan pun tak mampu memenuhi kewajiban DMO sebesar 25% dari total produksinya.
Pihaknya pun menyambut baik keputusan pemerintah yang meniadakan kewajiban kompensasi bagi perusahaan yang tak mampu memenuhi target DMO. Namun, hal tersebut tampaknya belum cukup. Dia berharap pemerintah juga perlu mempertimbangkan lagi penerapan sanksi denda keuangan tersebut untuk tahun ini mengingat harga komoditas batu bara masih berfluktuasi pada masa pemulihan pandemi.
Perlu diketahui, PT PLN (Persero) telah merevisi proyeksi kebutuhan batu bara untuk pembangkit. Kepala Divisi Batubara PLN Harlen menyebutkan bahwa dalam skenario moderat pascapandemi, kebutuhan batu bara PLTU tahun ini diperkirakan hanya akan mencapai 98,01 juta ton dari perkiraan semula 120,53 juta ton dan pada 2022 hanya mencapai 103,72 juta ton dari perkiraan semula 128,54 juta ton.
Senada, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) Febrianti Nadira menegaskan bahwa memenuhi DMO merupakan prioritas Adaro. Pada laporan kuartal III/2020, penjualan Adaro di Asia Tenggara sebesar 48% dengan porsi terbesar adalah ke Indonesia dan Malaysia.
Bagi sebagian produsen, DMO memang tak jadi masalah. Namun, untuk sebagiannya lagi, kewajiban DMO seperti tugas sulit begitu sukar untuk diselesaikan. Sejatinya, banyak yang perlu dipertimbangkan pemerintah dalam menetapkan kewajiban DMO, ketimbang sekadar memukul rata besaran 25% untuk semua perusahaan di tengah pasar dalam negeri yang belum semarak.
Sejak Awal Tahun Harga Bahan Pokok Bertahan Mahal
Harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional Kota Medan pada awal tahun ini masih bertahan mahal. Pantauan SIB, Minggu (10/1), harga cabai merah di tingkat pengecer Rp 50.000 per Kg, cabai rawit Rp 65.000 per Kg, bawang merah Rp 28.000, bawang putih Rp25.000 per Kg. Harga telur juga mahal biasanya Ro 1.700 per butir menjadi Rp2.000 per butir.
Sementara, data dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumut menyebutkan, Jumat (8/1) kenaikan harga cabai tersebut disebabkan penurunan produksi di beberapa sentra yang mengalami curah hujan tinggi sebagai dampak fenomena La Nina.
Begitu juga harga telur ayam ras mengalami kenaikan dipengaruhi belum pulihnya produksi peternak lokal akibat kapasitas usaha yang menurun pasca Covid-19.
Produksi Batu Bara 2020 Lampaui Target
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
mengungkapkan realisasi produksi batu bara sepanjang 2020 mencapai 558 juta
ton. Realiasi tersebut sekitar 101,4% dari target produksi yang ditetapkan
tahun lalu sebesar 550 juta ton. Sementara pada 2021 ini target produksi batu
bara dipatok sama dengan tahun lalu sebesar 550 juta ton.
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan realisasi produksi batu bara 2020 sedikit melampaui dari target yang telah ditetapkan. Arifin mengungkapkan pemanfaatan batu bara dalam negeri (domestic market obligation/DMO) terus ditingkatkan. Realisasi DMO di tahun lalu mencapai 132 juta ton. Capaian tersebut sekitar 85% dari target 2020 sebesar 155 juta ton. Namun dia menegaskan Untuk DMO tahun ini ditargetkan137,5 juta ton.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi batu bara 2020 sedikit lebih rendah dibandingkan 2019 yang tercatat mencapai 138 juta ton. Namun bila melihat realisasi dari tahun ke tahun maka penyerapan batu bara di dalam negeri mengalami peningkatan. Sebagai contoh pada 2014 realisasi batu bara untuk domestik hanya 76 juta ton. Realisasi itu naik di 2015 menjadi 86 juta ton. Kemudian bertambah lagi di 2016 menjadi 91 juta ton. Pada 2017 penyerapan DMO naik tipis menjadi 97 juta ton serta di 2018 sebesar 115 juta.
Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Sujatmiko menegaskan kebutuhan dalam negeri terpenuhi meski target DMO tidak tercapai. DME Lebih lanjut Arifin menerangkan Pemerintah terus mendorong pemanfaatan batu bara untuk kepentingan dalam negeri. Salah satunya mendukung pemanfaatan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sdi Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif energi untuk menggantikan LPG. Hanya saja Arifin belum mau membeberkan bakal ada harga khusus dan alokasi kuota batu bara untuk program hilirisasi. Insentif yang diberikan itu antara lain membebaskan pungutan royalti batu bara alias nol persen. Meski royalti nol persen, namun Arifin menegaskan penerimaan negara tidak akan terganggu. Ini adalah bagaimana bahan baku bisa kompetitif lalu investasi bisa dilaksanakan lalu bisa tenaga kerja bisa terserap dan memiliki nilai kompetitif. Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan gasifikasi batu bara mampu menghasilkan DME yang merupakan subtitusi dari LPG. Oleh sebab itu harga DME harus mampu kompetitif dengan LPG.
Karet Basah Tembus Rp 10 Ribu
Harga karet di Kalimantan Selatan (Kalsel) mengalami kenaikan, seiring dengan membaiknya permintaan ekspor sejalan dengan diberlakukannya new normal.
Januari 2021, ini berdasar data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, per tanggal 7 Januari, harga karet pabrikan dengan K3 100 persen mencapai Rp 19.000 hingga 19.500 per kilogram.
Untuk harga karet stok gudang 15 hari dengan K3 62 sampai 65 persen harganya Rp 12.000 sampai Rp 12. 500. Harga Karet kering 3-7 hari dengan K3 hingga 58 persen harganya 10.700 hingga Rp 11. 200. Adapun harga karet basah panen dari petani di pabrikan dengan kadar 53-55 persen dihargai Rp 10.000 sampai Rp 10. 600.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Kadisbunak) Provinsi Kalsel, Hj Suparmi, menjelaskan saat ini harga karet sudah normal, dimulai sejak Agustus dan September hingga Januari ini stabil.
Sampah Domestik Gantikan Batu Bara
PT Semen Indonesia Tbk (SIG) klaim semua pabrik miliknya tanpa terkecuali telah menggunakan biomassa sebagai bahan bakar alternatif. Bahkan SIG juga telah dapat mengolah sampah domestik menjadi bahan bakar.
PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) yang merupakan salah satu anak usaha perusahaan SIG telah membuat Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Refused Derived Fuel (TPSRDF) yang dibangun di daerah Tritih Lor, Jeruklegi, Kabupaten Cilacap. Fasilitas yang diresmikan pada Juli 2020 merupakan fasilitas pengolahan sampah domestik terpadu pertama di Indonesia.
TPSRDF yang dibangun di atas lahan seluas 1 hektare Itu mampu mengolah limbah sampah domestik sebesar 120 ton per hari yang dapat menghasilkan 60 ton RDF per harinya. 60 ton RDF perhari mampu menggantikan 40 ton batu bara per hari.
Terbaru, di akhir September 2020, SBI telah menjalin kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dan PT Unilever Indonesia dalam pengelolaan sampah domestik di TPST Bantargebang menjadi RDF.
Harga Emas Antam Rp 975 Ribu per Gram
Harga logam mulia atau emas batangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk alias Antam Makassar turun Rp10 ribu ke level Rp 975 ribu per gram, Kamis (7/1).
Sedangkan harga buyback atau pembelian kembali emas Antam turun Rp12 ribu ke posisi Rp 861 ribu per gram. Harga buyback ini berarti Antam akan membeli emas Anda dengan harga tersebut di Butik Emas LM Antam. Harga emas batangan tersebut sudah termasuk PPh 22 sebesar 0,9 persen.
Harga Cabai Rawit "Pedas" di Awal 2021
Dinas Perdagangan (Disdik) Kota Makassar mencatat adanya kenaikan komoditas pangan di sejumlah pasar tradisional yang ada di Makassar. Ada dua komoditas yang mengalami kenaikan harga di awal tahun 2021 ini, diantaranya Cabai Rawit, dan Bawang Putih.
Kepala Bidang Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan (Desdag) Kota Makassar Sri Rezeki, mengatakan kenaikan harga komoditas ini dipengaruhi faktor cuaca. Musim hujan yang mengguyur seluruh wilayah Sulawesi Selatan membuat panen para petani gagal, yang membuat produksinya berkurang.
Dari data Dinas Perdagangan Makassar bawang putih mengalami kenaikan harga diangka Rp30 ribu per kilogram sebelumnya Rp 26 ribu. Begitu pun harga cabai rawit Rp 50 ribu perkilogram, sebelumnya Rp 35 ribu.
Harga Daging, Telur , dan Ikan Basah Masih Tinggi di Pematangsiantar
Harga daging ayam, ikan basah dan telur ayam broiler yang diperdagangkan pada Rabu (6/1) di pasar-pasar tradisional Pematangsiantar masih tinggi, sehingga masyarakat selaku konsumen semakin menjerit.
Untuk harga daging ayam broiler Rp 33.000 per kg, telur ayam broiler Rp 44.000 per papan, ayam kampung Rp 65.000 per kg. Demikian juga, harga ikan basah seperti ikan aso-aso Rp 30.000 per kg, gembung kuring Rp 40.000 per kg, ikan lele Rp 22.000 per kg, mujahir Rp 30.000 per kg, dencis Rp 30.000 per kg.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









