Lingkungan Hidup
( 5781 )Batu Bara Bantu Dongkrak Ekspor Kalsel
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel telah merilis nilai ekspor dan impor selama Oktober 2020, nilai ekspor Kalsel pada Oktober 2020 tercatat USD 352,63 juta. Naik 7,34 persen dibandingkan September 2020 yang hanya USD 328,52 juta. Sedangkan, nilai impor mengalami penurunan sebesar 15,59 persen. Dari USD 39,75 juta menjadi USD 33,56 juta.
Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, nilai ekspor Banua meningkat lantaran kontribusi kelompok barang utama penyumbang ekspor, yakni bahan bakar mineral mengalami kenaikan.
“Kelompok ini nilai ekspornya naik 10,47 persen. Yakni, dari USD 234,29 juta pada bulan September menjadi USD 258,66 juta di bulan Oktober, “ jelasnya di Kanal Youtube BPS Kalsel
Dia menyampaikan, kelompok bahan bakar mineral cukup mempengaruhi nilai ekspor Kalsel, karena selama ini memberikan kontribusi paling besar, 73,35 persen. “Diurutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati yang menyumbangkan ekspor USD 42,66 juta. Kontribusinya 12,10 persen, “ ucapnya.
Sementara itu, untuk perkembangan impor, Edy menuturkan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada bulan Oktober. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD 25.59 juta; mesin-mesin/pesawat mekanik, USD 7,03 juta dan kelompok bahan kimia organik sebesar USD 0,26 juta.
Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan, neraca perdagangan ekspor impor Kalsel ada Oktober 2020 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD 319,07 juta.
Gali Sumur, Malah Dapat Gas
Pertamina EP Asset 4 Cepu Field membantu upaya penanganan terhadap gas yang muncul di sumur air milik Sumiran, warga Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan telah memasang rangkaian pipa guna menyalurkan gas ke halaman belakang rumah Sumiran yang kemudian akan dilakukan pembakaran (flaring).
Afwan Daroni, Cepu Field Manager, menjelaskan bahwa langkah yang dilakukan tim Pertamina EP sudah atas seizin dinas terkait. “Sebelum melakukan penanganan tersebut, kami sudah berkoordinasi dengan pihak berwenang yakni Dinas ESDM Kendeng Selatan. Artinya, kami tidak melangkah sendiri, “ kata Afwan, Rabu (2/12).
Kejadian semburan gas bermula saat tukang sumur melakukan pengeboran di samping rumah untuk membuat sumur air, pekerjaan dihentikan pada kedalaman sumur 48 meter. Kemudian pompa submersible dipasang dan dicoba dinyalakan, tetapi tidak mengeluarkan air. Bersamaan itu, pemilik sumur mendengar suara gemuruh dari dalam sumur bor disertai keluarnya gas.
Pertamina dan Pelindo I Bangun Sarfas BBM dan Pipa Gas
PT Pertamina (Persero) membangun sarana fasilitas tangki bahan bakar minyak (BBM) dan jalur pipa gas bumi yang bersinergi dengan PT Pelindo 1 dalam pengelolaannya. Pada Jumat (4/12), Pertamina melaksanakan Groundbreaking Sarana dan Fasilitas Bunker Penunjang TBBM yang ke depan akan dikembangkan sebagai TBBM untuk membantu suplai di wilayah Sumatera Utara.
Sarana dan Fasilitas Bunker (Bunker Service) akan berdiri di lahan milik PT Pelindo 1 Pelabuhan Kuala Tanjung dan kelak akan menjadi bagian dan pengembangan tank bunker Kuala Tanjung.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Arifin menyambut positif langkah Pertamina menggandeng Pelindo 1 untuk mendukung pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi dengan membangun infrastruktur energi di Sumatera Utara.
“Pembangunan intrastruktur gas bumi merupakan komitmen untuk penguatan ketahanan energi di negeri, sehingga tidak tergantung hanya satu sumber energi yakni BBM, Kemandirian energi akan menjadi perhatian, karena merupakan unsur penting bagi pembangunan nasional, Penyediaan gas bumi diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri dan mengurangi ketergantungan energi impor, “ imbuh Arifin
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, “Dengan Kuala Tanjung sebagai kawasan industri dan pelabuhan hub internasional, maka diharapkan jumlah industri di Kuala Tanjung terus bertambah, sehingga permintaan kebutuhan gas juga meningkat,” jelas Nicke.
Direktur Utama Pelindo 1 Dani Rusli Utama menilai kehadiran sarana dan fasilitas dermaga Pelabuhan Kuala Tanjung sangat berpotensi mendukung berdirinya TBBM, mengingat dermaga ini memiliki panjang 500 meter dan lebar 60 meter serta bisa disinggahi kapal raksasa sejenis Very Large Container Carrier (VLCC) dengan bobot 50.000 DWT.
Tahun Depan BP Indonesia Buka 35 Jaringan SPBU
Presiden Direktur BP-AKR Peter Molloy mengatakan bahwa pandemi Covid-19 tidak berdampak negatif terhadap program investasi perseroan. Sejumlah program investasi untuk tahun ini pun masih akan tetap berjalan.
“Tahun depan kami berencana memiliki 35 jaringan SPBU. Selain itu kami telah merencanakan operasional SPBU mini sehingga dapat diperkenalkan tahun depan. Dengan demikian, kami berharap volume penjualan kami juga akan bertambah, “ kata dia, seperti yang dilansir Bisnis, Minggu (6/12).
Adapun, sepanjang 2020, perusahaan patungan antara BP Indonesia dengan PT AKR Corporindo Tbk, itu telah membuka sebanyak 16 SPBU dengan sebaran 12 SPBU di Jabodetabek dan 4 SPBU di Surabaya. BP-AKA telah melibatkan hampir 400 orang dalam bisnis SPBU tersebut.
“Maka dari itu, dengan memperluas jaringan kami di tahun depan, kami akan memperkerjakan hampir 1.000 orang,” ungkapnya.
Batubara : Kontraktor Mencuil Peluang Pasar China
Di tengah tekanan industri batubara saat ini, pelaku usaha jasa pertambangan berharap bisa ikut mencuil cuan dari peluang tersebut.
Adanya nota kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan CCTDA (China Coal Transportation and Distribution) untuk meningkatkan ekspor batubara termal menjadi prospek positif untuk pemulihan industri pertambangan pada tahun depan. Namun, sentimen positif itu tak otomatis berefek terhadap sektor jasa pertambangan.
Kepala Hubungan Investor PT Samindo Resources Tbk (MYOH) Ahmad Zaki Natsir juga berharap MoU Indonesia dan China bisa membawa imbas positif terhadap kontraktor jasa pertambangan. Namun mereka masih wait and see terkait peluang yang bisa diraih dari kerjasama itu.
Corporate Secretary PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Mukson Arif Rosyidi menyambut optimistis MoU APBI dan CCTDA. Menurut dia, pasar telah merespons positif kesepakatan ini. “Pelaku pertambangan batubara merespons positif setelah ada pandemi yang ditandai kontraksi ekonomi di kuartal kedua dan ketiga 2020”, ungkap dia.
Gula Pasir 1000 Ton Didatangkan dari Jateng
Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) 2020 yang umumnya ditandai peningkatan daya beli konsumen, pemerintah berupaya menjamin ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat.
Kepala Divisi Regional Bulog Kalsel, Arif Mandu mengungkapkan, untuk ketersediaan bahan pokok saat ini aman dan memadai.
“Stok beras saat ini lebih dari 7.000 ton, minyak goreng 34.000 liter, tepung terigu 14 ton, daging sapi beku 17 ton dan gula 19 ton. Sehingga menjelang HBKN tahun ini, seperti natal dan tahun baru, ketersediaannya dipastikan aman hingga tiga bulan ke depan,” jelas Arif Mandu, Rabu (2/12).
Ia menambahkan, pihak nya telah memesan gula pasir sebanyak 1.000 ton untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi di akhir tahun. “Saat ini pasokan gula pasir tersebut sudah dalam proses pengiriman dari Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menuju Banjarmasin melalui jalur laut,” tambahnya.
Harga minyak sawit diprediksi naik tahun depan
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pembukaan IPOC yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (2/12) memproyeksi harga minyak sawit mentah atau CPO tahun 2021 akan mengalami peningkatan menjadi sekitar 668 dolar AS per ton.
Selain itu, lanjut dia, peningkatan harga CPO juga didukung oleh berlanjutnya kebijakan biodiesel yang diterapkan pemerintah melalui mandatori Program Biodiesel 30 atau B30, serta adanya peningkatan permintaan oleh mitra dagang besar.
Replanting atau peremajaan kebun sawit juga telah masuk dalam salah satu program strategis dalam penanganan pemulihan ekonomi nasional, untuk kepentingan kemudahan upaya tersebut akan lebih diupayakan kerja sama antara perkebunan dan pemerintah. Salah satu kerja samanya adalah dengan mengeluarkan proses peremajaan melalui pembentukan pinjaman usaha rakyat atau KUR.
Harga Pangan Dunia Melonjak Tajam
Food and Agriculture (FAO) menyampaikan bahwa komoditas pangan global naik tajam 105 poin ke level tertinggi pada November, dalam hampir enam tahun karena kondisi cuaca buruk. Laporan indeks Harga Pangan FAO selama satu bulan menunjukkan angka di kisaran 105 poin, naik 3,9% dari Oktober dan 6,5% dari tahun sebelumnya.
Kenaikan terbesar terjadi pada indeks harga minyak nabati yang mengalami lonjakan 14,5% karena rendahnya stok minyak sawit. Indeks harga sereal juga naik 2,5% dari Oktober sehingga membuat berada di level hampir 20% lebih tinggi dari tahun lalu. Harga ekspor gandum pun dilaporkan meningkat karena berkurangnya prospek panen di Argentina. Begitu halnya dengan harga jagung, dengan ekspektasi produksi yang lebih rendah di AS dan Ukraina dan pembelian besar-besaran di Tiongkok. FAO Menambahkan harga susu juga naik 0,9% mendekati level tertinggi 18 bulan karena adanya ledakan penjualan di Eropa. Harga daging dilaporan meningkat 0,9% dari Oktober, tetapi kemudian turun secara signifikan pada tahun lalu.
Pandemi Covid-19 memperburuk, dan mengintensifkan kondisi yang sudah rapuh yang disebabkan oleh konflik, hama dan gangguan cuaca, termasuk badai yang melanda Amerika Tengah dan banjir di Afrika. Risiko curah hujan di atas rata-rata di Afrika Selatan dan Asia Timur, sementara sebagian kawasan Asia Timur Dekat dan Afrika timur diperkirakan mengalami curah hujan berkurang.
OPEC Bahas Perpanjangan Pengurangan Produksi
Organisasi Negara - negara Pengekspor Minyak Bumi
(OPEC) mengadakan per temuan
secara virtual pada Senin (30/11)
untuk mempertimbangkan perpanjangan pengurangan produksi hingga Januari 2021. Langkah ini diambil
menyusul pandemi virus corona
Covid-19, yang terus membebani
permintaan minyak mentah global.
Para menteri minyak negara anggota OPEC memulai pertemuan konferensi video pada pukul 13.00 GMT,
dan berharap dapat membuka halaman baru dari tahun yang membawa
bencana. Demikian dikutip AFP.
Sementara itu, harga minyak
mentah telah meningkat 25% sejak
awal bulan, dan kembali ke level
sebelum terjadi pandemi antara US$
45 dan US$ 50 per barel untuk acuan
harga minyak Amerika Serikat (AS),
West Texas Intermediate (WTI),
dan acuan harga Eropa Brent North
Sea. Namun, harga minyak Senin
pagi kembali turun sebagai tanda
kecemasan investor menjelang pertemuan
BYAN Targetkan Volume Penjualan 30 Juta Ton Batubara di Akhir Tahun 2020
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memperkirakan akan menjual 30 juta-31 juta ton batubara di akhir tahun 2020. Sementara produksi batubara BYAN diperkirakan sebanyak 26 juta ton.
Direktur Urusan Korporasi dan Sekretaris Perusahaan Bayan Resources Jenny Quantero bilang, dengan target itu BYAN memproyeksikan perolehan pendapatan US$ 1,2 miliar. “Ini dengan asumsi harga jual US$ 39 per ton,” terang dia saat public expose yang digelar secara virtual, Senin (30/11).
Tingginya volume penjualan ini sudah mulai dirasakan BYAN di kuartal III dan berlanjut setelahnya. Pada Juli-September saja, BYAN menjual 8,9 juta ton batubara, atau naik 50,84% dibanding periode yang sama tahun 2019 yang sebesar 5,9 juta ton. Jika diakumulasi, penjualan BYAN sepanjang sembilan bulan 2020 mencapai 26 juta ton, naik 10,2% dari setahun sebelumnya yang hanya 23,6 juta ton. Bahkan, jumlah penjualan ini lebih tinggi dari target BYAN, yakni 22 juta ton.
Tingginya volume penjualan bisa membantu BYAN menjaga kinerja ketika harga batubara melandai, seperti yang terjadi di tiga kuartal awal. Pada kuartal III, harga jual rata-rata BYAN hanya US$ 34,6 per metric ton (MT), turun dari US$ 48,3 per MT. Dengan alasan itu, pendapatan BYAN di akhir kuartal III-2020 menjadi US$ 1 miliar, turun 12,28% year on year.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









