;
Tags

Teknologi Informasi

( 857 )

Amazon Web Service Melanjutkan Pembangunan Pusat Data di Indonesia

Sajili 02 Sep 2020 Kontan

Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan rencana Amazon Web Service (AWS) untuk berinvestasi di Indonesia. Country Leader AWS Indonesia Gunawan Susanto menyebutkan, rencana Amazon untuk membangun pusat data di Indonesia tetap berlanjut. “Rencana pembangungan data center tetap berlanjut, tidak ada efeknya. Artinya, sesuai yang sudah kami umumkan bahwa target kami untuk menyelesaikan data center di tahun 2021,” ujar dia dalam konferensi virtual, Selasa (1/9).

Gunawan menjelaskan, berdasarkan rencana, proyek pusat data akan dilakukan di tiga lokasi yang memiliki jarak hingga belasan kilometer. Hal tersebut guna memberikan jarak untuk disaster recovery (DR). “Jaraknya terpisah cukup jauh karena kalau hanya bersebelahan saja nanti kebutuhan DR tidak cukup. Artinya jika terjadi banjir, maka akan kebanjiran semua,” sebut Gunawan.

Kendati begitu, pihaknya memastikan semua zona tetap terhubung dengan  fiber optic yang low latency sehingga masing-masing bisa saling back-up dan pelanggan tetap bisa mengakses data secara cepat. Dalam rencananya tersebut, AWS akan menggelontorkan dana investasi hinga RP 35 triliun.

Dengan pembangunan pusat data tersebut, Indonesia akan menjadi AWS Region ke-9 di Asia Pasifik, bergabung dengan region yang sudah ada di Beijing, Mumbai, Ningxia, Seoul, Singapura, Sidney, Tokyo dan Hong Kong SAR, yang segera dibuka. Pada 2018, AWS juga telah membuka kantor di Jakarta untuk mendukung basis pelanggan yang tumbuh cepat di seluruh tanah air, selain mencuptakan pekerjaan baru di bidang teknologi di dalam negeri, seperti  technical evangelist dan solution architect.

Gunawan menambahkan, dampak pandemi Korona turut meningkatkan permintaan layanan komputasi awan. “Pertumbuhan permintaan tersebut lantaran di tengah pandemi ini pengusaha tetap berupaya meningkatkan performa kinerja usaha sekaligus memangkas biaya. Terlebih, teknologi cloud mampu memangkas biaya hingga 50% sehingga banyak ayng melakukan migrasi,” ujar dia.


Bisnis Laptop Laris Manis di Masa Pandemi

Sajili 13 Aug 2020 Kontan

Persaingan bisnis laptop semakin ketat seiring munculnya produk baru di pasaran. Gabungan Elektronika dan Alat-Alat Rumah tangga (Gabel) memproyeksikan penjualan laptop di semester II-2020 tumbuh signifikan seiring kebutuhan masyarakat dalam masuk kenormalan baru.

Ketua Umum Gabel, Oki Widjaja mengakui, penjualan laptop di bulan April dan Mei 2020 memang menurun. Namun di bulan Juni 2020, omzet penjualan laptop justru tumbuh. “Kebutuhan laptop meningkat karena saat ini banyak karyawan bisa bekerja dari mana saja (work from anywhere). Ada pula kebutuhan anak-anak sekolah,” jelas dia, Rabu (12/8). Adapun laptop di rentang harga Rp 5 juta hingga Rp 8 juta dan menggunakan prosesor Celeron atau i3 paling banyak diminati.

Muhammad Firman, Head of Public Relations Asus Indonesia bilang, kompetisi antar pemain cukup sengit, di mana cukup banyak pemain baru yang masuk Indonesia. Dia mengaku di awal pandemi, permintaan produk personal computer (PC) dan laptop sempat anjlok. Namun seiring muncul gejolak aktivitas online di rumah, maka kebutuhan laptop menjadi signifikan. “Di kala anak sekolah harus online,  butuh lebih dari satu perangkat di dalam rumah,” kata Firman. Oleh karena itu pada bulan Mei menuju Juni, Asus mencatat ada kenaikan penjualan laptop di Indonesia sekitar 15%-20%. Adapun produk laptop Asus yang banyak dicari konsumen di rentang harga Rp 4,9 juta-Rp 13,9 juta.

Anandita Puspitasari, Consumer Marketing Manager Acer Indonesia, mengakui ada kenaikan penjualan di tengah pandemi. Produk Acer yang banyak dicari di antaranya Laptop Acer Swift 3 series dengan harga mulai Rp. 5 jutaan, laptop gaming Nitro 5 dengan harga mulai Rp. 7 jutaan. Oleh karena itu, Anandita bilang, pihaknya optimistis dalam menjalani bisnis di semester II-2020.

Pemain baru di bisnis laptop yakni Sharp siap meramaikan persaingan. Andri Adi Utomo, Senior General Manager National Sales PT Sharp Electronics Indonesia mengakui produk laptop adalah segmen bisnis yang terbilang baru bagi Sharp Indonesia. “Sharp memulai lagi bisnis laptop setelah Sharp Corp mengakuisisi saham Dynabook dari Toshiba.” ujar dia. Ke depan Sharp akan memperkuat brand laptop Dynabook. Produk tersebut akan menyasar segmen pasar korporasi. “Kami bermain dengan harga Rp. 9 juta hingga 25 juta,” sebut Andri.


Asing Agresif Bangun Pusat Data

Ayutyas 20 Jul 2020 Kontan

Ketua Umum Asosiasi Cloud Compoting Indonesia, Alex Budiyanto memaparkan, berdasarkan riset Google, potensi market cloud di Indonesia hingga tahun 2023 mencapai Rp 560 triliun. Alex bilang, perusahaan lain yang siap meluncurkan pusat data di Indonesia pada tahun depan adalah Amazon Web Service (AWS) dan Microsoft. Tak main-main, dalam pengembangan pusat datanya itu, AWS disebut-sebut berinvestasi sebesar Rp 35 triliun dan Microsoft Rp 14 triliun. Namun Alex juga mengharapkan bantuan pemerintah karena dikhawatirkan pemain lokal tak mampu bersaing.

Head Of Solution Architect, Alibaba Cloud Indonesia Max Maiden Dasuki menyebutkan, ekspansi data center selaras peningkatan permintaan layanan cloud di Indonesia. Setelah global pandemi Covid 19, kebanyakan bisnis dan masyarakat semakin merasa go to digital is a must. Presiden Direktur PT Multipolar Technology Tbk ( MLPT ), Wahyuli Chandra menyebutkan, saat ini mereka memiliki satu Data Center Rated 3 Facility di Cikarang yang di kelola anak usahanya, PT Graha Teknologi Nusantara. MLPT juga punya satu fasilitas data center yang di kelola PT Visionet Data International. Wahyuli Chandra berujar, beberapa perusahaan memindahkan data center server room ke data center karena keterbatasan tim IT dalam melakukan perawatan akibat PSBB. 

Alibaba bangun pusat data ketiga di Indonesia

Ayutyas 03 Jul 2020 Kompas

Perusahaan platform komputasi awan Alibaba Cloud saat ini sedang membangun pusat data ketiganya di Indonesia. Hal ini merupakan bagian dari rencana ekspansi global Alibaba Cloud senilai 28 miliar dollar AS selama tiga tahun mendatang.

Presiden Alibaba Cloud Intelligence Jeff Zhang saat membuka Alibaba Cloud Summit 2020 yang digelar secara virtual pada kamis (2/7/2020) mengungkapkan.“Kami saat ini hadir di 21 kawasan dan melayani lebih dari 200 negara di dunia. Kami bisa membantu perusahaan kecil ataupun besar memanfaatkan inovasi digital melalui layanan Alibaba Cloud”.

Netflix Diklaim Bersedia Benahi Aturan Konten

Ayutyas 26 Jun 2020 Tempo, 15 Jun 2020

Direktur Utama PT Telkomsel Setyanto Hantoro memastikan pelanggan Telkomsel bakal bisa segera menikmati tayangan konten film on demand yang disediakan Netflix. Pemblokiran yang sudah terjadi sejak 2016 akan segera berakhir dalam waktu dekat. 

Dia mengatakan, dalam perkembangannya, Telkomsel melihat niatan positif ihwal konten yang disediakan Netflix. Kini, menurut dia, perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat, tersebut telah memiliki kebijakan menurunkan konten atau take-down policy

Setyanto mengatakan fitur pengawasan konten terhadap orang tua sudah kian maju. Selain itu, Netflix telah banyak melakukan kerja sama dengan produsen film lokal. 

Dalam perkembangannya, Netflix memiliki basis pengguna yang cukup besar di Indonesia. Dalam pengumuman resmi entitas tersebut, tahun ini ditargetkan bakal ada 900 ribu lebih pengguna aktif di Tanah Air. Awal tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menjalin kerja sama dengan platformer yang memiliki rumah produksi konten film sendiri untuk memperbanyak konten yang bersahabat dengan pendidikan di Indonesia.

Sebelumnya, selain wacana membuka akses Netflix yang diprediksi bisa terjalin pada Juli mendatang, Setyanto mengatakan konsumen Telkomsel bakal terus dimanjakan oleh akses platform berbagai sektor, seperti platform Pendidikan.

Pengamat telekomunikasi Nonot Harsono mengatakan wajar jika operator jaringan seluler bakal memperbanyak bisnis akses platform ke depannya. Bisnis dari telepon dan layanan pesan pendek (SMS) sudah tak bisa diharapkan lagi. 

Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo mengatakan pemerintah bakal memblokir layanan apabila penyedia layanan digital seperti Netflix tak mau bekerja sama untuk menjadi pelapor, pencatat, dan pemotong pajak pertambahan nilai. Seperti yang diketahui, pemerintah bakal menjalankan pemungutan pajak transaksi sebesar 10 persen per 1 Juli mendatang.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengatakan Telkom akan digiring untuk berkutat bermain di bisnis digital dan teknologi. Karena itu, dia akan menempatkan banyak sosok milenial di posisi strategis untuk bisa mengikuti perkembangan zaman.

Musim Semi Layanan Platform Video Berbayar

Ayutyas 26 Jun 2020 Tempo, 15 Jun 2020

Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ahmad M. Ramli mengatakan pada era wabah seperti sekarang ini mengharuskan masyarakat untuk membatasi kegiatan sosialnya. Berbagai kegiatan, dari pekerjaan sampai hiburan, harus dilakukan dari rumah. 

Menurut dia, jaringan di Indonesia saat ini sudah cukup bagus dan tidak mungkin bagi operator untuk terus-terusan bermain di bisnis jaringan saja. Direktur Utama Telkomsel Setyanto Harsono mengatakan bisnis aksesibilitas platform bakal menjadi inti bisnis perseroannya pada masa-masa mendatang. Ada beberapa sektor platform yang jadi fokus Telkomsel, antara lain adalah pendidikan, kesehatan, dan hiburan seperti konten film. 

Dia tak menampik bahwa pembukaan kembali akses ke platform Netflix yang diblokir sejak 2016 itu menarik perhatian masyarakat. Melansir BBC, Netflix mencatatkan penambahan pengguna baru sebanyak 16 juta orang di kuartal I 2020. Wabah corona yang berujung pada karantina masyarakat dinilai sebagai pemicu peningkatan pengguna Netflix yang saat ini ada di kisaran 180 juta pelanggan dengan pendapatan US$ 5,7 miliar.

Tak hanya Netflix, platform serupa seperti Viu juga terus mencatatkan perkembangan positif. Hingga akhir 2019, pengguna Viu sudah menyentuh 41,4 juta orang dengan pertumbuhan 35 persen dibanding pada tahun sebelumnya. 

Kepala Eksekutif Ideosource Entertainment Andi Boediman mengatakan ada potensi pasar di segmen tersebut dengan omzet hingga US$ 1 miliar di Indonesia dalam hitungan tiga tahun mendatang. 

Andi sendiri baru saja meresmikan pendanaan ke platform video on-demand milik Gojek, GoPlay, pekan lalu. Pendanaan yang tak disebutkan jumlahnya itu bakal digunakan untuk meningkatkan pelayanan dan konten GoPlay agar bisa bersaing dari serbuan platform asing.

Lonjakan Streaming Saat Lockdown

Ayutyas 24 Jun 2020 Tempo, 12 Jun 2020

Saat kebijakan lockdown diberlakukan, banyak orang menghabiskan waktu di rumah saja yang menyebabkan lonjakan penggunaan streaming game, terutama lewat platform Twitch. Peningkatan terjadi untuk semua industri streaming game, seperti Youtube Gaming, Facebook Gaming, dan Mixer.

Menurut TwitchTracker, jumlah pengguna aktif streaming naik dua kali lipat pada Februari – Mei 2020, yaitu dari 3,75 juta menjadi 7,40 juta pengguna.

XL Axiata Bermitra dengan Google Cloud

Ayutyas 21 Jun 2020 Investor Daily, 10 Juni 2020

PT XL Axiata Tbk dan Google Cloud mengumumkan kemitraan strategis untuk melanjutkan transformasi digital. Hal ini dilakukan agar bisa melayani kebutuhan dari jutaan perusahaan yang menjadi bagian dari ekonomi Indonesia yang sedang beralih secara pesat ke era digital. Google Cloud Anthos memungkinkan perusahaan untuk membangun dan mengelola aplikasi berbasis Kubernetes, baik yang ada di pusat data lokal, Google Cloud, atau solusi cloud lainnya tanpa perlu dimodifikasi. Chief Information and Digital Officer XL Axiata Yessie D Yosetya mengatakan, XL Axiata berkomitmen untuk memodernisasi infrastruktur demi meningkatkan fleksibilitas bisnis dan mempercepat deployment aplikasi.

Peluncuran region GCP Google Cloud di Jakarta juga akan memampukan XL Axiata untuk menyimpan, memproses, serta menganalisis data secara real time dan lokal untuk melayani pelanggan lama dan yang baru di Indonesia dengan lebih baik. Pada saat yang sama, XL Axiata juga mengumumkan telah menjadi  partner interkoneksi Google Cloud. Dengan kesepakatan ini, keduanya akan bisa menyajikan konektivitas berkecepatan tinggi, layanan cloud, dan peluang pertumbuhan digital terbaik bagi pelanggan di Indonesia.

Angin Segar Industri Pangkalan Data Nasional

Ayutyas 20 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 18 Jun 2020

Pelaku industri pangkalan data optimistis akan adanya peluang untuk lebih ekspansif pada tahapan pembukaan kembali perekonomian pascapandemi Covid-19. 

CEO Telkomsigma Sihmirmo Adi menyatakan era kenormalan baru membuka pintu cuan bagi bisnis pangkalan data (data center), seiring dengan keyakinan akan terjadinya pergeseran tren pola bisnis di Indonesia yang bakal lebih mengedepankan penggunaan layanan digital yang andal. 

Menurutnya, antisipasi pemetaan bisnis yang dipilih oleh Telkomsigma saat ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu jangka panjang dengan membangun beberapa pangkalan data serta antisipasi terhadap pasar global, dan untuk jangka pendek akan menambah space serta variasi ketersediaan produk.

Selain itu, dia mengatakan agar pangkalan data lokal dapat bersaing pada masa depan, pelaku industri harus terus memberikan pelatihan kepada sumber daya manusia (SDM). 

President Asosiasi Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma menilai penyedia pangkalan data lokal secara kapasitas, kualitas, dan kemanan sudah sangat siap untuk mendukung ekosistem digital Indonesia. Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi juga mengatakan pangkalan data penting untuk menopang segala macam transaksi serta akses digital yang bakal melonjak semasa pandemi dan pascapandemi.

Normal Baru Mempercepat Disrupsi Dunia Kerja

Ayutyas 23 May 2020 Kompas, 12 Mei 2020

Bekerja dari rumah bukan hal baru. Namun, situasi pandemi memaksa sebagian besar perusahaan menerapkan pola kerja tersebut. Pandemi kemudian menjadi ujian bagi kesiapan berbagai perusahaan dan individu dalam menerapkan sistem bekerja dari rumah atau sistem kerja jarak jauh (remote working). Meski terdengar sederhana, bekerja dari rumah atau kerja jarak jauh memiliki landasan konsep dan sistem yang berbeda dengan kerja harian di kantor secara konvensional.

Dalam artikel jurnal berjudul ”The Option to Work at Home: Another Privilege for the Favoured Few?” (2002), pertimbangan bekerja dari rumah dititikberatkan pada kondisi pekerja dengan melibatkan berbagai aspek. Preferensi atau kecenderungan bekerja dari rumah disandingkan dengan faktor keseimbangan kehidupan kerja atau work life balance.

Ada beberapa pertimbangan penting, misalnya terkait status dan jenis kelamin pekerja. Perihal status, penting untuk diketahui bahwa pekerja tersebut masih lajang, sudah menikah, memiliki anak, hingga memiliki tanggungan anggota keluarga (orangtua, saudara, dan anak). Aspek lain yang harus dimasukkan pertimbangan adalah sejauh mana perusahaan mampu menyediakan kebutuhan karyawan untuk bekerja. Selain itu, perlu ada dukungan teknologi, seperti listrik, internet, dan komputer, serta kebutuhan perlengkapan lainnya, misalnya alat tulis, buku, dan akses jurnal.

Di atas kertas, biaya listrik, internet, konsumsi, dan lainnya yang biasa diberikan oleh perusahaan bagi para karyawan di kantor dapat diminimalkan dengan penerapan kerja jarak jauh. Akan tetapi, perusahaan juga patut mempertimbangkan risiko terkait kepegawaian dan produktivitas sehingga sepatutnya merancang regulasi tersendiri (peraturan perusahaan) sebelum menerapkan sistem kerja dari rumah guna mengantisipasi konflik internal di kemudian hari.

Sistem kerja jarak jauh atau kerja dari rumah sudah dan sedang diterapkan oleh sejumlah perusahaan di dunia, terlebih perusahaan multinasional. Sejumlah pengalaman, tantangan, dan peluang pola kerja ini dapat ditemukan, antara lain, dalam survei yang dilakukan perusahaan teknologi OWL Labs berjudul ”State of Remote Work 2019”. Survei ditujukan bagi pekerja di Amerika Serikat kepada 1.202 orang pekerja dengan proporsi 62 persen pekerja jarak jauh (remote workers) dan 38 persen pekerja di kantor (on-site workers). Semua responden berusia 22 tahun hingga 65 tahun dengan jabatan berbeda-beda,. Dari segi persepsi, keinginan para pekerja untuk dapat bekerja jarak jauh terlihat masih besar dibandingkan dengan bekerja di ruangan kantor. Alasan cukup beragam, mayoritas menyeimbangkan kehidupan kerja (work life balance), lainnya lebih fokus bekerja, menghindari mobilitas atau kemacetan, dan mengurangi stress.

Lebih lanjut para responden juga menyoroti beberapa hal yang patut diperhatikan oleh perusahaan ketika menerapkan sistem kerja jarak jauh seperti jaminan kesehatan serta kompensasi dasar seperti listrik, konsumsi, internet, dan sebagainya termasuk terkait aturan liburan atau cuti dan kompensasi kinerja (reward) yang diperoleh.

Survei tersebut menemukan pula keterkaitan antara rasa bahagia dan loyalitas kepada perusahaan. Sebanyak 71 persen pekerja jarak jauh merasa bahagia dengan pola kerja ini dan menyatakan akan bertahan di perusahaan tersebut setidaknya sampai lima tahun ke depan

Survei oleh OWL Labs tak hanya menggali persepsi dari segi pekerja di tingkat karyawan, tetapi juga di tingkat manajer. Temuan mendapati bahwa pelatihan bagi para manajer terkait sistem jarak jauh sangat perlu diberikan sebelum diterapkan ke anggota tim mereka. Manajer yang belum memiliki pelatihan memiliki perhatian atau kekhawatiran lebih besar ketimbang mereka yang sudah mendapatkan pelatihan. Dimana dari segi tantangan masih berpusat pada isu penurunan produktivitas dan fokus pada kerja karyawan atau anggota tim dimana adanya penurunan keterlibatan karyawan dalam tim dan pekerjaan yang berhasil dituntaskan anggota mereka.

Jika disarikan, temuan dari survei menekankan pentingnya persiapan oleh perusahaan, pemimpin tim kerja, dan para pekerja. Perusahaan perlu menimbang aspek modal, tantangan, dan peluang ke depan. Selain itu, perusahaan juga perlu memberikan pelatihan khusus bagi manajer dan karyawan sebelum menerapkan sistem ini.

Menurut survei lainnya dari US Census Bureau American Community Survey di AS, pola kerja jarak jauh mengalami peningkatan mulai tahun 2008 hingga 2018 meski jumlah tidak drastis secara persentase dan diprediksi hingga 2025 dan seterusnya, tren ini akan meningkat. Bagi masyarakat AS, mahalnya harga properti untuk menyewa gedung perkantoran dapat disiasati dengan menerapkan sistem ini. Adapun sistem kerja jarak jauh setidaknya dilakukan lima kali dalam sebulan atau tidak sepenuhnya kerja jarak jauh.

Kendati saat ini belum ada survei terkait sistem kerja jarak jauh di kalangan perusahaan dan pekerja di Indonesia, ada asumsi yang dapat digunakan. Asumsi itu ialah sistem kerja ini diterapkan oleh banyak perusahaan rintisan yang jumlahnya juga meningkat setiap tahun. Hingga 19 Januari 2020, ada 2.218 perusahaan rintisan.

Dalam publikasi Kementerian Keuangan RI pada Mei 2020, konsep sistem kerja jarak jauh dikenal juga dengan The New Thinking of Working (NTOW) atau perwujudan konsep bekerja di era modern yang berdampak positif pada produktivitas kerja. Konsep ini memungkinkan masyarakat lebih fleksibel terkait waktu, tempat, dan ruangan bekerja, berkat dukungan teknologi informasi. Dalam menerapkan budaya kerja yang cukup baru di Indonesia itu, aspek kematangan organisasi dan individu pekerja menjadi hal yang perlu diutamakan. Dua hal ini merupakan aspek di luar regulasi perusahaan dan hal-hal teknis.

Penilaian lain dikemukakan oleh Hadiyando, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, dalam wawancara di publikasi tersebut. Menurut dia, transformasi institusi harus segera diwujudkan agar dapat beradaptasi di tengah disrupsi. Ada paradigma kerja yang perlu diubah dan disesuaikan, apalagi pandemi Covid-19 ”memaksa” sejumlah institusi mulai terbiasa menerapkan sistem ini. Penerapannya selama PSBB dapat dijadikan momentum uji coba dan evaluasi. Bagi pekerja, tentu harus menimbang dengan baik semua persiapan dan kematangan secara individu