Teknologi Informasi
( 857 )Implementasi Layanan 5G di RI Tertinggal
JAKARTA,ID-Implementasi layanan teknologi seluler terbaru 5G di Indonesia (RI) masih tertinggal dibanding sejumlah negara Asia Tenggara dan Oseania (kawasan Samudera Pasifik). Riset dari Ericsson, perusahaan teknologi global yang berbasis di Swedia, menyebutkan, Indonesia baru pada tahap awal uji coba 5G dipuluhan kota. Thailand, Malaysia, Australia, dan Selandia Baru, layanan 5G sudah menjangkau 30-95% populasi. Menurut Ericsson, Indonesia masih pada tahap awal pembangunan 5G dan layanan terkemuka di Indonesia, yakni Telkomsel (anak usaha PT Telkom Indonesia (persero) Tbk), PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutshison), dan PT XL Axiata Tbk, meluncurkan layanan 5G menggunakan spektrum yang juga untuk layanan 4G, yakni 1.800 MHz, 2.100 MHz, dan 2.300 MHz. Ericsson pun menyimpulkan, peluncuran jaringan 5G di Tanah Air lambat karena kurangnya spektrum midband. Pita spektrum 5G baru (700 MHz, 2,6 GHz, 3,5 GHz, dan 26 GHz) kemungkinan akan tersedia untuk penyedia layanan mulai tahun 2023. Sebelumnya, Kemenkominfo telah menyatakan akan melelang frekuensi tersebut. Pengamat teknologi informasi dan komunikasi dari Institute Teknologi Bandung (ITB) pun mengiyakan riset Ericsson tersebut. "Kalau dibandingkan dengan negara lain memang Indonesia (dalam implementasi layanan 5G) sedikit tertinggal. Hambatannya memang frekuensi masih jadi kendala," ujar Ridwan kepada Investor Daily, Kamis (15/06/2023). (Yetede)
KECERDASAN BUATAN, Revolusi Teknologi Paling Berdampak
Saat ribuan peneliti dan pentolan industri teknologi membuat surat terbuka pada akhir Maret lalu, yang meminta moratorium pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang lebih canggih dari GPT-4, CEO OpenAI, yang mengembangkan Chat GPT, Sam Altman merasa ”tersanjung”. Potensi GPT-4, model kecerdasan buatan yang dikembangkan OpenAI dinilai memiliki kemampuan untuk mengubah dunia secara drastic hingga memicu kesadaran untuk meregulasi AI. Tidak lama setelah dilayangkannya surat terbuka itu, Altman pun merancang tur dunia untuk meyakinkan dunia akan potensi revolusi AI. Kongres AS, Komisi Uni Eropa, Presiden Perancis, PM India, Presiden Israel, hingga Presiden Korsel telah ditemuinya. Indonesia, pada Rabu (14/6) telah menjadi negara ke-21 yang ia datangi dalam sebulan terakhir. Acara tanya jawab dengan Altman berlangsung selama satu jam, dipandu Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (Korika) Prof Hammam Riza. Acara ini merupakan kerja sama Korika dan GDP Venture.
Dalam acara bertajuk ”Conversation with Sam Altman” yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Altman yang mengenakan kemeja batik memberikan berbagai pendapat tentang masa depan pendidikan, apa yang masih menjadi kelemahan GPT-4, dan upaya kolektif yang bisa dilakukan masyarakat dunia untuk menjaga pemanfaatan AI yang aman bagi peradaban manusia. Menurut Altman, pendidikan akan berubah secara dramatis dengan penggunaan AI, namun perubahan sebesar ini bukan cerita baru. Sepanjang sejarah, sudah beberapa kali masyarakat khawatir akan masa depan pendidikan setiap ada teknologi baru, seperti ketika kemunculan kalkulator atau mesin pencari. Saya yakin bahwa (AI) bisa akan menjadi revolusi teknologi paling berdampak yang pernah diciptakan oleh umat manusia. Saya percaya bahwa 25-50 tahun dari sekarang, dunia bisa menjadi tempat yang jauh lebih baik. Hampir tak terbayangkan, bagaimana bertambah baiknya kualitas hidup masyarakat dunia kelak. Saya berpendapat teknologi ini tidak bisa dihentikan, namun, kita perlu membimbing dan mengarahkannya dengan baik. (Yoga)
Pemerintah Harus Usut Tuntas Insiden Kebocoran Data
DPR mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti secara tuntas kasus dugaan kebocoran data pribadi sampai ke ranah hukum. Pasalnya, tidak ada kejelasan penanganan, apalagi penegakan hukum,terhadap peristiwa dugaan kebocoran data. Akibatnya, masyarakat tidak mengetahui sejauh mana pelindungan dan keamanan data pribadinya. ”Panja Kebocoran Data Pribadi Komisi I DPR mendesak Kemenkominfo dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk berkoordinasi guna tercipta sinergi dalam dua hal,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari saat membacakan kesimpulan rapat Panja Kebocoran Data Pribadi Komisi I DPR, Senin (12/6) di Jakarta.
Dua hal tersebut, lanjut Abdul Kharis, pertama, melakukan langkah-langkah strategis pengamanan data sesuai dengan tugas dan fungsi agar kedaulatan siber terjaga dengan baik. Kedua, menindaklanjuti secara tuntas kasus kebocoran data ke ranah hokum sehingga pihak berwenang mampu memberikan sanksi hukum yang tegas kepada pelaku. Anggota Komisi I DPR dari PDI-P, Junico BP Siahaan, menyampaikan, masyarakat sebenarnya ”gelap” ketika terjadi kasus dugaan kebocoran data pribadi, termasuk bentuk koordinasi penanganan antar kementerian dan lembaga. ”Masyarakat dan kami perlu mengetahui persis seperti apa tindak lanjut atas insiden keamanan siber dan kebocoran data pribadi. DPR sebagai mitra pemerintah, secara khusus, jangan dibiarkan ’gelap’,” katanya. (Yoga)
EKONOMI DIGITAL, Inovasi Kecerdasan Buatan Perlu Bertanggung Jawab
Google berkomitmen mendukung lingkungan inovasi kecerdasan buatan yang bertanggung jawab. Dalam setiap pengembangan kecerdasan buatan, Google selalu mengikuti prinsip etika global. ”Kami terbuka bekerja sama dengan pemerintah, termasuk Pemerintah Indonesia, untuk membuat lanskap kecerdasan buatan lebih baik, lingkungan kecerdasan buatan yang sehat (bertanggung jawab),” ujar Direktur Regional Google Cloud untuk Indonesia dan Malaysia Megawaty Khie, di acara Google Cloud Jakarta Summit 2023, Kamis (8/6). Pada 2018, Google menjadi perusahaan pertama yang mengeluarkan batasan / prinsip tentang penggunaan kecerdasan buatan agar aman. Beberapa pekan lalu, Google telah merilis Agenda Bersama untuk Perkembangan Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab di blog resmi perusahaan.
Dalam laporan itu, selain mendorong tanggung jawab, Google menganjurkan pemerintah untuk fokus membuka peluang dengan memaksimalkan potensi ekonomi dan meningkatkan keamanan global sembari mencegah kejahatan siber yang mengeksploitasi teknologi kecerdasan buatan. Dalam laporan Agenda Bersama untuk Perkembangan Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab, Google menyatakan, kecerdasan buatan terlalu penting untuk tidak diregulasikan dengan baik. Dari sisi komputasi awan, Google diketahui terus-menerus membangun kemampuan produknya melalui perangkat keras, perangkatlunak, dan melatih kecerdasan buatan di jaringan pusat data. Google Cloud sekarang meluncurkan penambahan kemampuan kecerdasan buatan tipe generatif untuk produk Vertex AI.
Direktur Digital dan Teknologi Informasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Arga Nugraha, yang hadir di acara yang sama, mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, BRI berusaha membawa banya proses bisnis ke ranah digital. Perusahaan juga sudah menetapkan tema composable, yang terdiri dari resiliensi, open banking, dan kecerdasan buatan/mesin pembelajaran. ”Kami juga mengeksplorasi kecerdasan buatan tipe generatif untuk memperbaiki kualitas chatbot. Selain bisa meningkatkan pengalaman nasabah, upaya ini diharapkan mampu menghemat peran agen customer service,” tuturnya. (Yoga)
Teknologi Cloud Ciptakan Efisiensi dan Peluang Bisnis Industri Media
JAKARTA,ID-Teknologi cloud diyakini dapat menciptakan peluang bisnis, efisiensi, serta kualitas yang mumpuni bagi industri media dan hiburan di Tanah Air. Bagi industri media dan hiburan di Tanah Air industri cloud berperan penting untuk mempertahankan efisiensi, kualitas, dan pengalaman pengguna dalam mengakses konten. Sedangkan bagi pengguna teknologi cloud memberikan peluang untuk menikmati layanan konten yang lebih beragam dan variatif. Ketua Umum Indonesia Digital Association (IDA) Dian Gemiano mengatakan, konten-konten video kini telah menjadi segmen terbesar di industri media dan hiburan di Tanah Air yang tengah bertransformasi. "Teknologi cloud memainkan peran penting untuk mempertahankan efisiensi, kualitas dan pengalaman pengguna dalam mengakses konten. IDA akan berkolaborasi semakin erat dengan pelaku industri media & hiburan lokal guna mendorong inovasi di cloud dan menjeljahi lebih banyak peluang demi kebrhasilan bersama," kata Dian dalam keterangan persnya, dikutip Snein (5/6/2023). Ketua Umum Forum Pemimpin Redaksi Arifin Asydhad, sekaligus pemimpin redaksi Kumparan.com menambahkan, dengan mengadopsi teknologi cloud para editor dapat menghadirkan digitalisasi untuk menunjang produksi maupun distribusi konten. (Yetede)
Sekuritas dan MI Siap Adopsi AI
JAKARTA, ID- Perusahan sekuritas dan Manager Investasi (MI) di Indonesia cepat atau lambat perlu mengadopsi teknologi berbasis Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk layanan keuangan dan investasi kepada nasabah. Selain sebagai keniscayaan, inovasi, layanan ini dapat memberikan nilai tambah dan referensi berharga bagi para nasabah karena memberikan analisa data keuangan yang lebih akurat. Apalagi trend dunia investasi portfolio global sudah mengarah pada implementasi AI atau kecerdasan buatan, khususnya pemanfaatan ChatGPT (Generative Pre-trained Transformation/GPT) tersebut. Revolusi AI yang dikembangkan oleh perusahaan OpenAI, perusahaan teknologi AI di Amerika Serikat, sudah diadopsi sejumlah Bank-bank pengelola nasabah super kaya dunia ini tengah melakukan riset dan mengembangkan platform untuk layanan investasi berbasis AI yang ditujukan kepada para klien. Digitalisasi perbankan sudah sangat berkembang, sebagai contoh, persentase aktivitas transaksi melalui non-teller kini sudah sangat kecil. Bagaimana dengan perkembangan digitalisasi perbankan di BNI. BNI telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam digitalisasi perbankan. Sekitar 90% dari aktivitas transaksi kami sudah dilakukan melalui kanal non-teller, seperti aplikasi perbankan mobile dan internet banking. (Yetede)
Pemerintah Terbuka kepada Pelaku Bisnis Satelit Asing
Pemerintah membuka kesempatan bagi pelaku bisnis satelit mancanegara untuk mengembangkan infrastruktur. Sebab, tidak dimungkiri jika pengembangan satelit masih bergantung pada teknologi asing. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Asia Pacific Satellite Communication System (Apsat) International Conference 2023, di Jakarta, Selasa (30/5/2023). (Yoga)
Kapan Berinvestasi di Kecerdasan Buatan?
Sebuah tulisan di Business Insider berjudul ”RIP Metaverse”, metamesta ditinggalkan. Semua beralih ke kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai akhir 2022. Meta dan Microsoft telah menyatakan menghentikan pengembangan teknologi metamesta. Beberapa perusahaan lain juga melakukan langkah yang sama. Kesalahan dari pengembangan teknologi ini adalah tidak ada definisi tunggal tentang metamesta. Masing-masing bisa menafsirkan tentang metamesta dan mengembangkannya sendiri. Mereka lantas beralih ke teknologi AI. Associate Professor of Science Technology and Society di Virginia Tech Lee Vinsel dalam MIT Sloan Management Review menulis, gelembung teknologi dapat menimbulkan kesulitan baru bagi pemimpin bisnis. Mereka merasakan tekanan untuk berinvestasi lebih awal dalam teknologi yang sedang berkembang. Cara ini digunakan untuk mendapatkan keuntungan atas pesaing, tetapi tidak ingin jatuh ke dalam kehebohan kosong. Para eksekutif berada di tengah situasi, satu sisi bergulat dengan pertanyaan tentang di mana mereka harus memangkas biaya dan di sisi lain di mana harus berinvestasi lebih banyak.
Vinsel melanjutkan, bidang AI dan pembelajaran mesin yang berkembang pesat menimbulkan tantangan khusus bagi para pembuat keputusan bisnis. Investasi dalam model prediktif yang telah terbukti semakin dipandang baik dan diharapkan akan mendorong peningkatan pengeluaran untuk investasi AI dari 33 miliar USD pada 2021 menjadi 64 miliar USD AS pada 2025. Namun, lebih jauh lagi, AI generatif memicu banyak kebisingan dan spekulasi. Vinsel seolah kembali mengingatkan kita tentang kasus metamesta yang lebih banyak bisingnya dibandingkan dengan realitas manfaat dan investasi teknologi. Di sinilah para CEO harus berpikir keras untuk membuat keputusan strategis di tengah kebisingan soal pengembangan AI. Saat ini merupakan saat yang tepat mereka harus memutuskan di mana harus mendedikasikan waktu dan sumber daya yang berharga. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan kerangka kerja yang tepat dan tersedia untuk memandu pembahasan dan strategi yang diambil. (Yoga)
MODUS SERANGAN SIBER : WASPADA JEBAKAN DATA
Anda barangkali pernah menerima pesan singkat dengan lampiran file .apk. Pesan itu beragam, ada yang berupa berkas daftar pemenang undian, undangan pernikahan, surat panggilan kerja, dan format lainnya. File .apk dikutip dari situs Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bermakna Android Package Kit. Berkas .apk dikirim melalui pesan whatsapp. File itu merupakan bentuk serangan siber yang berpotensi mencuri data-data pribadi pengguna ponsel. Apabila penerima pesan mengakses berkas .apk tersebut, peretas akan akan mendapatkan akses terhadap short message service (SMS) dan token SMS-banking. Modus kejahatan itu, jika aplikasi diakses oleh pengguna, akan muncul pemberitahuan akses Baca SMS atau MMS. Jika diizinkan, SMS yang tersimpan di ponsel atau kartu simcard akan dapat dibaca oleh peretas. Akses selanjutnya yang diminta adalah untuk melakukan aktivitas Terima SMS juga diminta. Jika diizinkan, peretas dapat memonitor bahkan menghapus pesan tanpa sepengetahuan korban. Akses selanjutnya yang diminta adalah untuk melakukan aktivitas Kirim SMS. Jika diizinkan, pelaku dapat mengirimkan SMS berbayar tanpa perlu melakuan konfirmasi terlebih dahulu kepada korban.
Bhimo Wikan Hantoro, Direktur Digital & Operasional PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) mengatakan bahwa malware yang dikirimkan para peretas memang dapat melakukan scanning terhadap seluruh file di komputer milik perusahaan. “Beberapa kasus peretasan sistem dilakukan melalui social engineering atau phising untuk memasukkan malware kedalam jaringan sehingga dapat melakukan scanning terhadap seluruh file di komputer,” kata Bhimo kepada Bisnis, Jumat (26/5). Melalui jalur yang dibangun melalui sistem, lanjutnya, serangan dapat mencuri data secara otomatis. Bahkan, beberapa serangan terkadang menyerang secara langsung aplikasi melalui jaringan internet yang dapat diidentifikasi melalui perangkat keamanan seperti Web Application Firewall (WAF). Bank Raya, jelasnya, memperkuat sistem keamanan infrastruktur digital, monitoring sistem keamanan serta meningkatkan fitur keamanan di berbagai layanan digital yang digunakan. Sementara untuk memitigasi risiko, kata Bhimo, perusahaan melakukan pemantauan rutin terhadap potensi serangan siber di sistem keamanan layanan digital dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menggunakan fraud detection system.
PERETASAN DI SEKTOR KEUANGAN : TAMPARAN DI ERA SERBA DIGITAL
Seorang eksekutif perusahaan penyedia sistem teknologi keuangan, membagikan potongan artikel koran terbitan The Straits Time Singapura. Judul artikel itu, Woman scans QR code for free milk tea, and loses $20.000 while asleep. Kisah dalam potongan artikel itu, seorang perempuan berusia 60 tahun tertarik dengan tawaran mendapatkan gratis minuman dengan cara mengisi survei online melalui ponsel android miliknya. Dirinya lantas mengikuti petunjuk pengisian survei dengan mengunduh (download) satu aplikasi. Dia juga memindai (scan) kode quick response (QR) yang muncul lewat aplikasi tersebut. Pada saat malam hari, dia menyadari ponselnya menyala dengan sendirinya. Rupanya, dari aplikasi yang diunduh sebelumnya, telah digunakan oleh peretas untuk mengambil alih perangkatnya dari jarak jauh. Peretas berhasil menembus sistem dan memindahkan dana di rekening bank miliknya senilai 20.000 dolar Singapura. “Kejadian kayak gini di Indonesia sudah banyak, cuma tidak terekpose,” kata eksekutif tersebut melalui pesan Whatsapp. Dia menyadari transaksi keuangan berbasis digital di Indonesia sedang berkembang pesat. Penggunaan mobile banking, internet banking, kartu elektronik, hingga QR Code, sudah menjadi keseharian masyarakat. Saat euforia layanan keuangan digital tengah tinggi, justru muncul sejumlah kasus peretasan di industri keuangan seperti perbankan dan jasa keuangan. Situasi yang ‘menampar’ digitalisasi di industri jasa keuangan Tanah Air.
Dalam perspektif Ardi Sutedja, Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), serangan siber ke infrastruktur perbankan maupun layanan jasa keuangan lain, sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Menurutnya, karakter peretas tidak pernah melakukan penyerangan secara seketika, melainkan melakukan secara bertahap dan berjenjang. “Kami sebut peretas itu kelompok manusia yang paling sabar sedunia karena melakukan aksi secara bertahap dan berjenjang, tanpa terikat waktu. Hal terpenting dia masuk, cari celah yang lemah, sampai dia yakin dengan apa yang mereka dapat, dan tidak akan berhenti,” katanya kepada Bisnis. Merujuk temuan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), layanan administrasi pemerintahan menjadi ‘sarang’ peretasan paling tinggi pada 2022. Jumlahnya mencapai 890 notifikasi yang yang diterima lembaga itu sebagai bentuk serangan siber. Serangan lain yang tertinggi menyasar sektor informasi dan komunikasi, kesehatan, dan keuangan.
Pilihan Editor
-
Neraca Komoditas Hapus Rekomendasi Ijin Ekspor
07 Apr 2021 -
IMF Dukung Pajak Minimum untuk Korporasi
07 Apr 2021









