Teknologi Informasi
( 857 )Bagaimana Starlink Menguasai Menguasai Bisnis Internet Global
BERAWAL dari peluncuran 60 satelit pada 23 Mei 2019, Starlink terus mengembangkan jaringannya hingga kini mencapai 5.402 satelit. Anak usaha SpaceX milik Elon Musk ini diperkirakan bernilai sekitar US$ 150 miliar dan menjadi salah satu perusahaan swasta paling berharga di dunia. "Bisnis Starlink sedang naik. Per September 2023 dikabarkan ada 2 juta pengguna," kata Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi kepada Tempo, Senin, 6 Mei 2024.
SpaceX mulai mengembangkan Starlink pada 2015 dengan berfokus pada upaya memperpendek jarak antara satelit dan bumi. Pada Januari 2015, SpaceX memperkenalkan Starlink kepada publik bersamaan dengan pembukaan fasilitas pengembangan satelit SpaceX di Redmond, Washington. Dalam peluncuran perdana, SpaceX melepaskan satelit Internet Starlink menggunakan roket Falcon 9 dari Stasiun Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. SpaceX membutuhkan beberapa kali percobaan hingga akhirnya berhasil meluncurkan 60 satelit pertama. Proyek ini disebut-sebut menelan biaya US$ 10 miliar.
Perusahaan itu mengklaim entitasnya sebagai korporasi pertama yang memiliki konstelasi satelit orbit bumi rendah atau low earth orbit (LEO) untuk menyediakan akses Internet berkecepatan tinggi dan latensi rendah di seluruh dunia. Starlink memiliki konstelasi ribuan satelit yang mengorbit lebih dekat ke bumi, yakni pada jarak sekitar 550 kilometer. Sementara itu, satelit geostasioner biasanya berada pada jarak 35 ribu kilometer. Karena satelit Starlink berada di orbit rendah, latensi atau waktu perjalanan paket data bolak-balik dari perangkat pengguna ke satelit jauh lebih rendah, yaitu sekitar 25 milidetik. Sedangkan latensi satelit geostasioner sekitar 600 milidetik. (Yetede)
2029, Pasar Gim Indonesia Tembus US$ 5,5 Miliar
Total nilai pasar permainan pada perangkat elektronik dan komputer (gim) Tanah Air diproyeksikan berpotensi mencapai US$ 5,5 miliar pada 2029 dari tahun 2024 masih US$ 3,7 miliar. Pasar gim punya tingkat pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) 8,45% pada rentang lima tahun ke depan (2024-2029). Pertumbuhan terutama ditopang oleh tren terus meningkatnya minat pada kaum muda yang suka bermain gim dan produk yang makin variatif. Statista, lembaga riset dan pemeringkat berbagai sektor industri, menyampaikan, pasar gim di indonesia terus berkembang dan mengalami lonjakan popularitas karena terutama ditopang oleh pertumbuhan gim yang dimainkan di perangkat seluler/mobile (smartphone, tablet, dan laptop) serta makin banyaknya pengembang lokal yang mencipatkan gim inovatif yang relevan dengan budaya dan kebutuhan gamer lokal. (Yetede)
MICROSOFT BUILD: AI DAY JAKARTA : KETIKA MICROSOFT MENYERIUSI AI DI INDONESIA
Indonesia makin diperhitungkan dalam kancah ekosistem digital global setelah perusahaan teknologi multinasional menggelontorkan investasinya di Tanah Air. Kini, Indonesia perlu membuat kebijakan akselerator adopsi AI dan komputasi awan demi inovasi dan ekonomi AI. Kemeriahan ajang Microsoft Build: AI Day Jakarta yang digelar di Jakarta Convention Center pada Selasa (30/4) menjadi pembuka jalan bagi Microsoft lebih berperan di Indonesia. Acara yang menjadi rangkaian tur Microsoft di Asia Tenggara itu tidak saja mempertemukan pegiat teknologi, hingga developer teknologi, tetapi juga menghasilkan komitmen investasi Microsoft di Tanah Air.
Tidak tanggung-tanggung, raksasa teknologi dengan kapatalisasi terbesar di dunia itu siap menggelontorkan investasi senilai US$1,7 miliar atau setara Rp27,65 triliun (asumsi kurs Rp16.267 per dolar AS) di Indonesia. Rencana investasi itu diumumkan sendiri CEO Microsoft Satya Nadella saat menyampaikan pidato utama (keynote speech) dalam acara Microsoft Build: AI Day Jakarta, setelah sebelumnya bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta. Nadella melanjutkan bahwa Microsoft akan memiliki infrastruktur pelatihan inferensi kelas dunia, baik itu Nvidia, AMD, atau cip Maya milik Microsoft yang akan menjadi bagian dari infrastruktur pusat data. “Memungkinkan setiap pengembang dapat melatih model mereka, melakukan inferensi terbaik dari model mereka melalui seluruh infrastruktur,” ujarnya.
“Salah satu andalan kami saat ini adalah Copilot, yang bisa berguna bagi semua pihak, developer, dan perusahaan di berbagai sektor, baik itu publik maupun swasta,” katanya. Berdasarkan penelitian Kearney, AI bisa berkontribusi hampir US$1 triliun terhadap produk domestik bruto Asia Tenggara pada 2030. Microsoft juga menyampaikan komitmen pemberdayaan 2,5 juta orang di berbagai negara anggota Asean menggunakan AI hingga 2025. Inisiatif pelatihan itu akan diimplementasikan melalui kerja sama dengan pemerintah, perusahaan, organisasi nirlaba, serta komunitas di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Presiden Microsoft Asean Andrea Della Mattea mengatakan langkah itu bertujuan memberdayakan individu, organisasi, dan komunitas di negara Asia Tenggara dalam memanfaatkan potensi AI untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Microsoft memahami AI memiliki peran besar dalam meningkatkan ei siensi, produktivitas, dan kualitas hidup manusia tanpa melupakan etika.
Mengutip pernyataan Director Government Affairs Microsoft Indonesia & Brunei Darussalam, Ajar Edi menyebutkan pentingnya kolaborasi Pemerintah Indonesia, masyarakat sipil, akademisi, dan pelaku industri untuk memastikan AI berfungsi sebagai kekuatan untuk kebaikan; serta bagaimana Microsoft telah menyampaikan dukungan sukarela perusahaan untuk menerapkan nilai-nilai etika AI yang digarisbawahi dalam Surat Edaran (SE) Kementerian Komunikasi dan Informatika No. 9/2023. Acara Microsoft Build: AI Day Jakarta dihadiri pula oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi. Menkominfo menyebutkan investasi yang digelontorkan Microsoft menjadi angin segar bagi Indonesia. Hal itu juga menandakan bahwa Indonesia menjadi negara yang sangat diperhitungkan dalam kancah ekosistem digital global. Sementara itu, perusahaan dari berbagai sektor di Indonesia mulai terbiasa dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam menjalankan bisnis sehari-hari.
Sebagai contoh, penyelenggara dompet digital DANA Indonesia sudah menerapkan teknologi AI di semua lini usaha secara day-to-day dan komprehensif sejak awal tahun ini. Chief Teknologi Oficer DANA Norman Sasono menjelaskan AI diadopsi baik untuk costumer service (CS) harian eksternal via chatbot bernama Diana. “Jadi, kalau user ada kendala tinggal chat saja,” kata Norman. Di internal, pengembang difasilitasi produk Microsoft, yaitu GitHub Copilot, untuk asistensi dalam melakukan koding dalam melaksanakan tugas sehari-hari. GitHub Copilotini, sambungnya, membantu pengembang melakukan generate kode pemrograman dengan menggunakan Bahasa manusia. Para pengembang kemudian melakukan pengecekan terhadap kode yang sudah digenerate itu.
Tidak hanya DANA, organisasi lain seperti Universitas Terbuka (UT) dan E-Fishery di sektor agrikultur juga memulai pilot penggunaan AI dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Kita Hidup di Era ”Cloud Economy”
CEO Microsoft Satya Nadella mengunjungi tiga negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Thailand, dan Malaysia, pada 30 April-2 Mei 2024. Ia menjanjikan investasi Microsoft dan penyerapan tenaga kerja. Investasi 2,2 miliar USD dan penyerapan 200.000 tenaga kerja dijanjikan bagi Malaysia. Sebelumnya, investasi 1,7 miliar USD dan penyerapan 840.000 pekerja dijanjikan oleh Satya kepada Indonesia. Di Thailand, nilai investasi tak disebutkan, tetapi negara itu dijanjikan dengan proyek-proyek yang dapat menyerap hingga 100.000 tenaga kerja (Kompas.id, 2 Mei 2024). Investasi yang dijanjikan tertuju pada komputasi awan (cloud computing) dan kecerdasan buatan. Menurut dia, investasi ini membantu negara-negara tujuan untuk membangun ekonomi yang inklusif dan memastikan penciptaan inovasi. Ia mengingatkan, ekonomi kini dibangun berlandaskan pada penguasaan teknologi.
Apa yang direncanakan Nadella merupakan bagian dari strategi korporasi-korporasi teknologi raksasa memperkuat cloud economy atau ekonomi awan. Fondasi ekonomi awan sangat khas, yakni terletak pada infrastruktur pusat data (data center), internet, dan program komputer. Lewat infrastruktur awan (cloud infrastructure) ini, perusahaan bisnis dan penyedia layanan umum, seperti pemerintah, dapat cepat berinovasi serta menciptakan ekonomi skala yang luar biasa. Perusahaan lokapasar, misalnya, tak perlu membangun pusat data sendiri karena bisa menyewanya dari korporasi penyedia cloud infrastructure, seperti Microsoft dan AWS (Amazon Web Service). Biaya sewa jauh lebih kecil daripada membangun sendiri.
Melalui infrastruktur yang dilengkapi layanan kecerdasan buatan itu, perusahaan lokapasar tak hanya menyimpan data, tetapi juga dibantu dalam menganalisis data perilaku berjuta-juta konsumen. Pertumbuhan cloud economy ditentukan inovasi terus-menerus, yakni pengembangan tiada henti kecerdasan buatan, penambahan kecepatan microprocessor dari waktu ke waktu, dan peningkatan kapasitas serta keterampilan tenaga kerja. Atas dasar itulah, Microsoft berinvestasi di Asia Tenggara. Pertumbuhan populasi yang besar di Asia Tenggara menjadi alasan korporasi teknologi berupaya mendominasi pasar di wilayah ini dan memastikan ketersediaan tenaga kerjanya. Tak ada pilihan bagi Indonesia selain memastikan penduduknya berpendidikan baik sehingga mampu menggeluti ekonomi berbasis inovasi teknologi secara optimal. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar. (Yoga)
LAPORAN DARI INDIA : Confluent Genjot Investasi di Indonesia
Perusahaan teknologi data streaming Confluent menjanjikan peningkatan investasi di Indonesia seiring dengan besarnya potensi pasar yang dihasilkan. Kamal Brar, Senior Vice President APAC Confluent menjabarkan bahwa Indonesia bersama Singapura menjadi pasar terbesar perusahaan di kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, Confluent melakukan investasi besar-besaran termasuk merekrut karyawan lokal. “Indonesia merupakan top 2 market di Asia Tenggara. Kami berupaya meningkatkan level [dalam adopsi teknologi] termasuk dengan merekrut karyawan lokal,” kata Kamal di sela Kafka Summit 2024 di Bangalore, India (2/5) malam.
Sebagai gambaran, Confluent merupakan perusahaan data teknologi streaming dunia. Teknologi perusahaan berperan sebagai hub yang menghubungkan berbagai program yang dijalankan di dalam sistem perusahaan secara real time. Kamal menyebutkan, teknologi pengolahan data streaming yang dilakukan Confluent juga dapat diterapkan di berbagai sektor yang membutuhkan data secara realtime dalam jumlah besar. “Misalnya sensor di perusahaan minyak, layanan over the top (OTT), ride hailing, smart manufakturing dan sektor publik lain,” katanya.
Rully Moulany, Area Vice President Asia Confluent memandang sebagai perusahaan teknologi, pihaknya melakukan investasi dalam jumlah besar untuk sumber daya manusia di Indonesia. Kafka sendiri saat ini didominasi oleh para praktisi teknologi komputer dari Amerika Serikat. Pengguna terbesar selanjutnya berada di India, dan kini juga bertumbuh pesat di kawasan lain termasuk Indonesia. Di Indonesia, pengguna Kafka terbesar berasal dari sektor keuangan. Beberapa perusahaan yang sudah mempublikasikan menggunakan Kafka yang didampingi Confluent seperti BRI hingga BCA.
Sementara itu, Kamal menyebutkan teknologi data streaming terus berkembang. Untuk saat ini, tantangan di Indonesia adalah menemukan talenta yang tepat. Posisi Indonesia yang memiliki banyak startup yang tumbuh, perusahaan mapan yang tengah bertransformasi menyerap teknologi, hingga loncatan layanan berbasis teknologi menyebabkan kebutuhan developer menjadi tinggi namun ketersediaannya terbatas. “Ini membuat cost based result di Indonesia jadi mahal. Saat ini Indonesia membutuhkan banyak talenta berbakat,” katanya.
Di sisi lain, Confluent turut meluncurkan Apache Flik dalam Kafka Summit 2024 di Bangalore, India. “Apache Kafka dan Flink adalah penghubung penting untuk mendorong machine learning dan artificial intelegent (AI) dengan data yang paling tepat waktu dan akurat,” ujar Shaun Clowes, Chief Product Officer Confluent di Bangalore.
Dalam kesempatan yang sama Confluent juga meluncurkan clusters Freight, jenis cluster baru untuk Confluent Cloud yang memungkinkan dilakukan penghematan biaya untuk menangani penggunaan bervolume besar yang tidak sensitif terhadap waktu, seperti data logging atau telemetri. “Inferensi Model AI Confluent menghilangkan kerumitan yang ada saat menggunakan data streaming untuk pengembangan AI dengan memungkinkan organisasi berinovasi lebih cepat dan memberikan pengalaman pelanggan yang kuat,” ujar Shaun.
Kafka Summit Asia Pacific Dibuka di Bangalore
Confluent Inc, perusahaan pionir streaming data terkemuka global, menggelar Kafka Summit Asia Pasific pertama di Bangalore, India, Kamis (2/5) siang. Pertemuan itu akan menjembatani para pemikir teknologi informasi dari berbagai perusahaan dunia untuk membangun arsitektur data realtime guna meningkatkan operasi bisnis perusahaan mereka. Kafka Summit digelar pada Kamis pukul 10.00 waktu Bangalore atau pukul 13.30 WIB di Sheraton Grand Bengaluru Whitefield Convention Center. Acara ini mengundang 3.800 orang. Kafka atau Apache Kafka® adalah perangkat lunak streaming data sumber terbuka yang paling populer untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menganalisis data dalam skala besar. Perangkat ini digunakan untuk membangun saluran data real time dan aplikasi streaming.
Kafka disebut sebagai teknologi yang sangat penting bagi bisnis saat ini karena membantu perusahaan besar untuk mendapatkan data secara real time. Apache Kafka dirancang untuk menangani volume data besar dengan kecepatan tinggi. Ini menjadikan Apache Kafka pilihan utama dalam ekosistem streaming data Saat ini, Kafka digunakan 75 % perusahaan yang masuk dalam daftar bergengsi Fortune 500. Adapun Confluent Inc sejak Maret lalu menyediakan Confluent Cloud untuk Apache Flink. Hal ini memungkinkan pengguna memproses data secara real time dan membuat aliran data berkualitas tinggi yang dapat digunakan kembali. Jay Kreps, co-founder dan CEO dari Confluent, kepada Kompas di Bangalore mengatakan, saat ini kebutuhan data realtime sangat diperlukan. Untuk layanan pelanggan, misalnya, dibutuhkan data yang real time dan akurat.
Contohnya layanan reservasi maskapai secara dalam jaringan. Maskapai menyediakan satu tiket harga khusus dengan layanan bebas pembatalan. Jika maskapai tersebut tak memiliki teknologi real time yang mumpuni, satu tiket harga khusus itu bisa dibeli oleh dua pelanggan atau lebih, tetapi sistem hanya bisa menerima satu pembelian. ”Data real time yang baik penting untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih menarik, meningkatkan operasi bisnis, serta mendorong inovasi di seluruh penawaran produk dan layanan mereka,” kata Kamal Brar, Senior Vice President Confluent Asia Pa cific, dalam siaran pers yang diterima Kompas. ”Kami sangat senang menjadi tuan rumah Kafka Summit perdana di Asia di Bangalore tahun ini. Lebih dari 30 % anggota komunitas Kafka dunia berada di Asia Pasifik. India sendiri merupakan rumah bagi komunitas Kafka terbesar kedua di dunia setelah AS,” ujarnya. (Yoga)
Investasi Microsoft untuk Malaysia Melebihi Nilai di Indonesia
CEO Microsoft Satya Nadella mengumumkan investasi sebesar 2,2 miliar USD untuk Malaysia. Jumlah modal untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI dan komputasi awan itu lebih besar dibandingkan yang dikucurkan kepada Indonesia, yakni 1,7 miliar USD. Nadella mengumumkan investasi itu ketika memberikan kuliah umum di Kuala Lumpur, Kamis (2/5). Kunjungan ke Malaysia itu sekaligus menutup turnya ke Asia Tenggara. Pada Selasa (30/4) lalu, Nadella berada di Jakarta. Lalu, pada Rabu (1/5), ia singgah di Bangkok, Thailand.
Kedatangan Nadella untuk mengembangkan industri AI, komputasi awan, dan pengelolaan pangkalan data berbasis peranti lunak Microsoft. Teknologi yang ditawarkan, antara lain, Microsoft Azure, OpenAI, dan Mistral AI. ”Investasi sebesar 2,2 miliar USD ini adalah investasi tunggal terbesar di Malaysia selama 32 tahun terakhir,” kata Nadella di Malaysia. Selama empat tahun ke depan, kata Nadella, Microsoft akan membangun kapasitas Malaysia sebagai pelaku industri teknologi berbasis kecerdasan buatan dan komputasi awan. Pada saat yang sama, pembangunan itu dinilai juga akan membuka lowongan pekerjaan untuk 200.000 warga lokal.
”Pemakaian teknologi ini memungkinkan pembangunan perekonomian yang inklusif dan memastikan inovasi tercipta. Ekonomi kini berlandaskan penguasaan teknologi,” ujar Nadella. Sebelumnya, Nadella berada di Jakarta dan mengumumkan investasi untuk pengembangan kecerdasan buatan, komputasi awan, dan pengelolaan pangkalan data senilaitotal 1,7 miliar USD, yang akan membuka lowongan pekerjaan untuk 840.000 penduduk Indonesia. Di Thailand, Nadella tidak mengumumkan nilai investasi yang akan dikucurkan oleh Microsoft. Akan tetapi, ia menjanjikan lowongan pekerjaan untuk 100.000 warga Thailand. Kedatangan Nadella ke Asia Tenggara ialah bagian dari misi Microsoft untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu ”hub” teknologi dunia. (Yoga)
Microsoft, Apple, dan NVdia, Investasi Rp 33,6 Triliun
Tiga perusahaan raksasa teknologi asal Amerika Serikat, NVidia Corp, Apple Inc, Microsoft Corp, telah menyatakan komitmen mereka untuk berinvestasi di Indonesia dengan nilai total sekitar Rp 33,63 triliun. Secara rinci, komitmen investasi NVidia dan Apple masing-masing sekitar Rp3,23 triliun dan Rp 3 triliun, sedangkan Microsoft mengumumkan rencana investasi US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 27,4 trilun. Investasi Apple akan digunakan untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial inteligence/AI) dan komputasi awan/pusat data (cloud computation/data center). Ketiganya berminat untuk berinvestasi di tanah Air karena yakin dengan potensi pasar dan ekonomi digital Indonesia yang sangat besar. Dalam kunjungannya ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo di istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (30/4/2024), Chairman dan CEO Microsoft Satya Nadella mengumumkan rencana investasi Rp US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 27,4 triliun (dengan kurs Rp 16,162 per dolar AS). (Yetede)
Aplikasi Super INA Digital Siap Diuji Coba Mei 2024
Pemerintah akan meluncurkan aplikasi super atau super app
yang mengintegrasikan layanan dari sejumlah kementerian dan lembaga. Uji coba
platform bernama INA Digital ini, rencananys dilakukan pada Mei 2024, dengan
target bisa digunakan publik pada September 2024. Kementerian PAN dan RB
sebagai pemimpin proyek sistem pemerintah berbasis elektronik (SPBE) menunjuk Perum
Peruri sebagai pengembang dan pengelola INA Digital. Perum Peruri dipilih atas
dasar kapasitas dan kapabilitas perseroan di bidang teknologi dan keamanan digital.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta, Kamis (25/4) Dirut Perum
Peruri Dwina Septiani mengatakan, kehadiran INA Digital merupakan salah satu wujud
dari langkah pemerintah dalam mempercepat transformasi digital untuk birokrasi
dan layanan publik.
Aplikasi INA Digital diatur dalam Perpres No 82 Tahun 2023
tentang Percepatan Transformasi Digital dan Keterpaduan Layanan Digital
Nasional. Saat ini, pengembangan INA Digital telah mencapai lebih dari 50 % ”Presiden
menaruh harapan untuk menciptakan birokrasi yang lebih efektif lewat digitalisasi
dengan membuat aplikasi yang saling terintegrasi dan interoperabilitas,”
ujarnya. Dwina mengatakan, peluncuran yang direncanakan pada Mei merupakan
tahapan pertama yang dilakukan sebagai langkah uji coba atau piloting. Adapun
penyelesaian produk hingga dapat digunakan oleh publik ditargetkan bakal
rampung pada September mendatang. (Yoga)
TEKNOLOGI INFORMASI : PEMERINTAH SIAP TAMBAH SPEKTRUM
Kementerian Komunikasi dan Informatika mengupayakan spektrum tambahan sebesar 1.300 MHz hingga 2026 seiring dengan perkembangan teknologi telekomunikasi yang terus berkembang. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan bahwa pemerintah terus mengupayakan ada konvergensi, mengingat Indonesia memiliki demografi dan geografis yang unik. “Sampai 2026 kita memerlukan 1.300 MHz tambahan spektrum,” katanya saat ditemui di Jakarta, Selasa (23/4). Budi juga menyebutkan penggunaan teknologi komunikasi generasi kelima (5G) di Indonesia masih terbatas, sehingga tergantung pada permintaan di pasar. Di samping itu, teknologi ini juga bukan hanya sekadar kecepatan jaringan saja. Di sisi lain, Budi menuturkan bahwa kecepatan internet di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan negara di kawasan Asia lain.
Dia menegaskan Indonesia memiliki tantangan geografis sebagai negara terbesar di kawasan Asia. Akan tetapi, dia menegaskan Kemenkominfo sebagai regulator dan juga pemangku kepentingan menyatakan terus berupaya agar terjadi peningkatan kecepatan internet di Tanah Air. Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kemenkominfo Ismail menambahkan bahwa kebutuhan spektrum 1.300 MHz itu terdiri atas lower band, middle band, hingga high band atau band bawah, tengah, dan tinggi. Dia menegaskan tingginya kebutuhan spektrum itu seiring dengan teknologi yang terus berkembang, sehingga frekuensi perlu ditambah.
Terkait dengan lelang spektrum frekuensi, Ismail juga menyatakan Kemenkominfo telah berkonsultasi dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menetapkan harga awal lelang alias reserve pricespektrum frekuensi 700 MHz dan 26 GHz. Untuk harga lelang, Ismail menjelaskan bahwa akan dirilis dengan adanya insentif. “Bukan diturunkan harganya, harganya spektrumnya ya segitu, jelas, tapi kan ada insentifnya. macam-macam opsi bentuk insentif itu,” katanya. Sebaliknya, PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison menyatakan bahwa perusahaan mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat infrastruktur telekomunikasi nasional. SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Steve Saerang mengatakan bahwa pengalokasian spektrum frekuensi 700 MHz dan 26 GHz bagi penyelenggara jaringan bergerak seluler merupakan langkah penting memperkuat infrastruktur layanan telekomunikasi seluler.
Dia berharap proses seleksi dapat berjalan transparan, adil, efi sien, serta mendorong optimalisasi pemanfaatan spektrum frekuensi, sehingga dapat memberikan dampak nyata bagi pengembangan ekosistem telekomunikasi yang berdaya saing.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menyampaikan bahwa antusiasme operator mengikuti lelang spektrum frekuensi akan tergantung dari insentif yang diberikan pemerintah dan harga lelang yang ditawarkan.
Selain mahal, Heru menambahkan bahwa membangun infrastruktur juga menyedot angka persentase regulatory cost yang besar bisa mencapai 20% dari kewajiban universal service obligation (USO), biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi, BHP telekomunikasi, serta retribusi di daerah untuk tower dan kabel.
Pilihan Editor
-
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Core Petani Tak Menikmati Penetrasi Digital
30 Dec 2021









