Perusahaan
( 1082 )Perusahaan di Indonesia lebih menonjolkan sisi lingkungan
Alih-alih menerapkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG secara berimbang, laporan keberlanjutan perusahaan di Indonesia cenderung hanya menonjolkan sisi lingkungan. Padahal, aspek sosial dan tata kelola tak kalah penting bagi perusahaan agar memperoleh penilaian dan akses permodalan yang pada gilirannya dapat berpengaruh terhadap kinerja korporasi. Hal ini mengemuka dalam Media Briefing Penguatan BUMN Menuju Indonesia Emas bertajuk ”Memaksimalkan Peran Lembaga Jasa Keuangan di Era ESG” di Jakarta, Kamis (12/9). Hadir sebagai pembicara ekonom senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Ryan Kiryanto, dan Director of Compliance PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk A Solichin Lutfiyanto.
Ryan mengatakan, penerapan ESG di Indonesia hanya terkonsentrasi padahuruf ”E” (environment). Akibatnya, banyak perusahaan, terutama di sektor jasa keuangan, yang lebih menonjolkan aspek lingkungan dalam laporan berkelanjutan (sustainable report). ”Sayangnya, isu sosial, baik dalam praktik maupun laporan berkelanjutan, kurang eksplorasi sehingga isinya cenderung mengenai keramahtamahan lingkungan, seperti menanam pohon, pot tanaman di gedung, dan menanam mangrove,” katanya. Menurut Ryan, aspek sosial merupakan langkah atau upaya perusahaan untuk memanusiakan manusia. Industri perbankan, misalnya, wajib memberikan pelayanan kepada orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus.
Dari sisi pemberi kerja, perbankan harus memberikan aspek kemanusiaan, seperti memberi kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Selain itu, terdapat pula aspek tata kelola (governance) yang isinya mengenai pengelolaan bisnis sesuai aturan-aturan main yang baik dan benar. Hal ini meliputi penerapan manajemen terkait nilai yang dianut oleh perusahaan, pengendalian risiko atau manajemen risiko, serta prinsip kepatuhan (compliance) terhadap aturan main yang berlaku, baik dari sisi internal maupun eksternal. Penilaian risiko dan penerapanESG dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional, seperti S&P, Moodiest, dan Ficht Rating.
Atau lembaga pemeringkat dalam negeri, seperti Pefindo serta Yayasan Kehati. Lembaga-lembaga tersebut bertugas melakukan asesmen mengenai penerapan ESG dalam bentuk skor. Semakin rendah skor yang diberikan, semakin rendah risikonya. Dari sisi perbankan, Solichin menyebut, BRI tidak hanya berfokus pada pertumbuhan finansial, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan melalui penerapan prinsip ESG yang dijalankan sejak 2013. Hal ini membawa BRI menyandang predikat low risk dengan skor 17,8 selama 2 tahun berturut-turut dalam annual review bersama Morningstar Sustainalytics. (Yoga)
Medco Menggapai Target jadi Perusahaan Terkemuka di Asia Tenggara
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mengungkapkan ambisinya untuk menjadi perusahaan energi terkemuka di wilayah Asia Tenggara atau Asean. Untuk menggapai target tersebut, emiten konglomerat Panigoro ini bakal menggeber tiga core bisnis, yakni minyak dan gas (migas), kelistrikan, serta pertambangan tembaga. Sebagai bukti keseriusan dalam mendatangkan nilai tambah bagi pemegang saham, perseroan juga bakal membagikan dividen interim tahun buku 2024 dengan jumlah lebih besar dibanding tahun lalu.
"Kami ingin menjadi perusahaan energi terkemuka di Asia Tenggara dengan tiga lini bisnis utama kami," kata Direktur Hilmi Panigoro. Hilmi menekankan bahwa MedcoEnergi berkomitmen memberikan solusi energi yang terjangkau, andal, dan berkelanjutan, serta memposisikan diri untuk memanfaatkan permintaan energi yang terus meningkat di Asia Tenggara. "Strategi MedcoEnergi mencakup perluasan operasi migas, investasi di bidang energi bersih dan terbarukan, serta pertambangan tembaga," ungkap dia. (Yetede)
Dividen Jadi Target Utama Emiten BUMN
Kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bakal menghadapi tantangan berat. Pada 2025, pemerintah menargetkan dividen BUMN bisa tembus Rp 90 triliun. Target dividen ini naik 4,85% dari setoran dividen BUMN tahun 2024 sebesar Rp 85,84 triliun. Besarnya target dividen itu, jelas menjadi beban bagi emiten BUMN. Di sisi lain, naiknya setoran dividen bisa menjadi berkah bagi investor pasar modal untuk menadah pembagian dividen dari emiten pelat merah.
Terlebih, beberapa emiten BUMN yang tergabung dalam IDX BUMN 20 masih konsisten menebar dividen jumbo. Contohnya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Emiten halo-halo ini membagikan dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2023 sebesar 72% dari laba bersihnya. Tak hanya TLKM, emiten BUMN tambang PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), juga menebar dividen jumbo untuk tahun buku 2023. Bahkan, ANTM membagikan dividen tunai dengan porsi 100% dari laba bersihnya di sepanjang 2023 Rp 3,07 triliun atau Rp 128 per saham.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani melihat, penurunan kinerja indeks IDX BUMN20 disebabkan koreksi beberapa saham berkapitalisasi besar yang kinerja sahamnya melemah sejak awal tahun.
Misalnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) punya bobot 15,74% ke IDX BUMN20. Saham BBRI pun sudah turun 8,29% sejak awal tahun.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat, kinerja IDX BUMN20 memang lebih lambat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja IHSG saat ini tercatat 6,71% secara YTD.
Merger Angkasa Pura Kian Mengangkasa
Penggabungan PT Angkasa Pura dalam ”Injourney Airports
Pemerintah resmi melebur PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II menjadi PT Angkasa Pura Indonesia atau Injourney Airports di bawah induk perusahaan Injourney. Penggabungan dua BUMN ini diharapkan membuat prosedur dan tata kelola jaringan bandara makin ramping dan efisien, tanpa mengurangi pekerja. Peresmian penggabungan digelar di Gedung Sarinah, Jakarta, Senin (9/9). Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan, penggabungan Angkasa Pura (AP) sama dengan merangkul semua bandara dari Aceh hingga Papua. ”(Mereka) mesti mendapat perhatian yang sama baiknya dengan Bandara Soekarno-Hatta dan kepulauan lain karena kalau itu tidak dilakukan akan timbul keirian. Semangat kita mempersatukan Indonesia jadi tidak terwujud,” ujar Budi.
Budi meyakini, penggabungan kedua perusahaan pelat merah ini dapat meningkatkan indikator kinerja (KPI) Kemenhub pula. ”Melihat persaingan makro makin hebat, dengan disatukan, pasti lebih efisien. Kedua, pasti penetrasi (wisatawan) lebih bagus sehingga (pendapatan) non-aeronautical akan naik, bahkan bukan tidak mungkin kami bisa mengakuisisi bandara-bandara lain,” ujar Budi. Menteri BUMN Erick Thohir mengemukakan, bergabungnya kedua perusahaan tersebut diharapkan dapat menekan biaya logistik Indonesia yang masih tergolong tinggi. Kemudahan bertransportasi pun diharapkan dapat diperoleh warga. (Yoga)
Industri Multifinance Mencatatkan Kinerja Positif
Industri multifinance hingga 20 Juli 2024 mencatatkan kinerja yang positif dengan piutang pembiayaan tumbuh 10,53% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 494,10 triliun. Di tegah kondisi ekonomi yang menantang saat ini, perusahaan pembiayaan masih optimistis dapat memacu pertumbuhan kinerja. Pertumbuhan pembiayaan per Juli 2024 sedikit melambat dibandingkan dengan posisi Juni yang meningkat 10,27,72% (yoy), bahkan jauh lebih rendah dari Juli 2023 sebesar 16,22% (yoy).
OJK mencatat, pembiayaan modal kerja menjadi penopang pertumbuhan kinerja industri multifinance per Juli dengan peningkatan sebesar 9,43% (yoy), meskipun lebih lambat dari Juni 2024 yang naik 11,46% (yoy). Meskipun saat ini terjadi perlambatan konsumsi kelas menengah, kinerja PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. "Dimana pertumbuhan piutang pembayaran sebesar 38,28% (Agustus Rp10,29 triliun) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 7,44 triliun," kata Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman. (Yetede)
Hambatan Karier dan Pekerja NPC
Karyawan yang tidak terlalu peduli dengan pekerjaan, tidak terlampau hirau dengan tempat dan teman kerja, menurut istilah gen Z, adalah pekerja ”NPC”. The Wall Street Journal, Senin (2/9) menyebutkan, perusahaan kini tengah berupaya untuk semakin terlibat dengan karyawan mereka, terutama para pekerja muda. Survei menunjukkan, perusahaan paling kesulitan bekerja dengan karyawan berusia muda. Majalah Forbes, 18 Agustus 2024, menerbitkan laporan tentang ketidakterlibatan (disengagement) karyawan yang lebih banyak merugikan mereka sendiri. Selain menghambat karier, mengurangi kebahagiaan, juga akan dicap sebagai NPC atau non-playable character. NPC merupakan istilah para pemain gim dan generasi Z.
NPC sering diasosiasikan dengan karakter yang tidak berpengaruh dalam permainan. Karakter ini berperilaku sesuai program saja. Tidak bisa berpikir. Tidak mampu berinteraksi. Membosankan. Di tempat kerja, pekerja NPC dianggap kurang berkomitmen secara emosional. Mereka kurang antusias dengan pekerjaan dan tempat kerja. Padahal, dalam lingkungan pekerjaan dengan teman-teman di kantor, musti bisa membawa diri sebaik-baiknya, untuk membangun kredibilitas dan reputasi positif. Dengan demikian, kesuksesan di tempat kerja meningkat. Survei Gallup menemukan, banyak pekerja tidak terikat secara emosional dengan tempat kerjanya. Bahkan, rasa terikat anjlok ke titik terendah dalam 11 tahun terakhir. Hasil survei menyebut, satu dari tiga pekerja kesulitan memotivasi diri sendiri agar semangat kerja.
Ciri orang yang berjarak lalu berdampak buruk pada rekan dan tempat kerja, yakni konsisten lelah dan sinis. Ciri selanjutnya, hanya berbuat minimal. Lebih buruk lagi, kadang memanfaatkan rekan kerja untuk menyelesaikan tugas. Ini membuat pekerja berjarak menjadi kehilangan integritas dan kredibilitas. Relasi cuma formal dan minimal. Untuk menghindarkan pekerja dari label NPC agar pekerja bersatu dan punya ikatan dengan tempat kerja, pekerja perlu mengingatkan diri sendiri dengan dampak dirinya pada sekitar. Selalu sampaikan kepada diri: saya penting. Pekerja perlu senantiasa berkontribusi pada gagasan baru. Guna memperbaiki ini, pekerja perlu menantang diri sendiri untuk belajar hal baru dan membangun ikatan dengan tempat kerja. (Yoga)
Menyorot Keselamatan Kerja pada Industri Kreatif
Kerja berlebih atau overwork masih menjadi fenomena yang berulang terjadi di industri film, periklanan, dan pertelevisian. Penyebab utamanya ialah kurangnya kesadaran terhadap prinsip kesehatan dan keselamatan kerja, baik dari sisi pekerja maupun pengusaha di sektor industri tersebut. Hal itu bisa membahayakan pekerja, seperti memicu kecelakaan. Pekan lalu, di media sosial ramai diberitakan Rifqi Novara, seorang pekerja industri film, periklanan, dan pertelevisian, mengalami kecelakaan tunggal di Mampang, Jaksel, Rabu (28/8) tengah malam, dalam perjalanan pulang kerja, yang menyebabkan Rifqi meninggal. Pihak keluarga menduga kuat kecelakaan yang dialami Rifqi karena kelelahan akibat overwork.
Ketua Umum Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) Ikhsan Raharjo, Minggu (1/9), di Jakarta, mengatakan, jika dugaan itu benar, kejadian yang dialami Rifqi menambah daftar pekerja di industri film, periklanan, dan pertelevisian yang kelelahan akibat overwork. Berdasar data dari paper berjudul ”#Sepakatdi14: Advokasi Pembatasan Waktu Kerja dan Perlindungan Hak Pekerja Film Indonesia”, lebih dari 50 % pekerja industri film dan periklanan di Indonesia diyakini bekerja sepanjang 16-20 jam sehari. Angka di atas menempatkan pekerja film Indonesia dalam bahaya. Sebab, organisasi internasional, seperti WHO, memperingatkan mereka yang bekerja di atas 55 jam per pekan rentan mengalami risiko kematian akibat gangguan iskemik jantung dan stroke.
Menurut dia, dalam konteks produksi konten, semua pihak termasuk klien dan agensi semestinya menghargai proses kreatif yang telah disepakati saat praproduksi sehingga tidak sepihak mengubah proses produksi yang sering berakibat pada molornya waktu bekerja. Sutradara Ray Farandy Pakpahan menceritakan, pola kerja dan perlindungan sosial di industri kreatif seperti film, iklan, dan konten seri sangat bervariasi dan sering kali tidak terstruktur dengan baik. Di industri film dan konten, ada kontrak yang mengikat yang biasanya disusun oleh pemberi kerja. Namun, saat ini, para pekerja film terutama kru produksi dan pascaproduksi film sering kali tak memiliki tempat atau wadah bertanya jika ada masalah.
”Tidak ada keseimbangan dalam kontrak. Jika terjadi pelanggaran kontrak, seperti keterlambatan pembayaran, pekerja biasanya diminta untuk mengalah dan mengerti situasi perusahaan,” ucapnya. Di sisi lain, situasi di industri periklanan, jauh lebih parah dan mendesak. Pekerja lepas di industri periklanan sering kali bekerja tanpa kontrak karena sifat pekerjaan yang cepat dan singkat demi mengejar deadline. Baik Ikhsan maupun Ray sepakat betapa pentingnya serikat pekerja di industri film, periklanan, dan pertelevisian. Dengan demikian, serikat lebih mudah maju untuk merundingkan pembatasan waktu bekerja melalui perjanjian kerja bersama dengan pemberi kerja. (Yoga)
United Tractors Mencari Tambang Potensial untuk Diakuisisi
PT United Tractors Tbk (UNTR) menegaskan akan terus mencari tambang potensial untuk diakuisisi, baik didalam maupun di luar negeri. Anak usaha Grup Astra ini mengaku tengah mencari tambang mineral seperti nikel, emas, tembaga, hingga lithium, yang bisa diakuisisi guna mendongkrak konstribusi bisnis non-batu bara menjadi 50% dalam lima tahun kedepan. Saat ini, ketergantungan pendapatan perseroan dari bisnis batu bara masih cukup tinggi, mencapai 65% baik dari sketor kontrakstor batu bara maupun pertambangan batu bara. Dan diharapkan dalam lima tahun ke depan, kontribusi dari bisnis batu bara dan non-baru bara menjadi imbang. Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro mengatakan, dalam lima tahun terakhir, United Tractors telah menyusun strategi untuk diverifikasi usaha ke dua sektor, yakni pertambangan mineral (non-batu bara), dan bisnis energi baru terbarukan (EBT) atau rebewables energi. (Yetede)
Diversifikasi Pendapatan Media
Disrupsi digital menggoyahkan industri media massa. Banyak media kelimpungan karena pendapatannya menurun. Sejumlah media siber mengandalkan iklan programatik untuk bertahan. Namun, ketergantungan terhadap iklan programatik harus dikurangi karena tren dan polanya tidak bisa dikontrol perusahaan pers. Oleh sebab itu, media memerlukan diversifikasi pendapatan untuk menyehatkan ekosistem bisnis media. Adaptasi dan inovasi menjadi kunci bagi media massa menghadapi gelombang disrupsi. Bukan hanya dalam memproduksi konten, tapi juga dalam membangun model bisnis yang berkelanjutan. Ketua Umum Indonesia Digital Association (IDA) Dian Gemiano menuturkan, menurunnya pendapatan media dari iklan programatik perlu dimitigasi. Tak cuma mengantisipasi dampaknya terhadap sektor bisnis, tetapi ekosistem pers secara keseluruhan.
Sebab, iklan programatik tidak membedakan konten jurnalistik berkualitas dengan konten yang biasa-biasa saja, bahkan konten yang menjiplak. Padahal, perusahaan media atau publisher menggunakan berbagai sumber daya yang tidak murah untuk memproduksi konten. ”Iklan programatik tidak bisa dikontrol media. Ketika iklannya menurun dengan alasan apa pun, media tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan model bisnis yang berkelanjutan bagi industri media,” ujarnya seusai menghadiri diskusi ”Strategi Revenue Stream Baru untuk Media Digital” dalam Indonesia Digital Conference di Jakarta, Kamis (29/8). Gemiano mengatakan, memang tidak semua iklan programatik tak menghargai konten jurnalistik berkualitas. Namun, polanya yang di luar kendali berpotensi membuat ekosistem bisnis media menjadi tidak sehat jika terlalu menggantungkan pemasukan dari iklan tersebut.
Karena itu, media harus mencari sumber pendapatan bervariasi. Iklan langsung ke perusahaan media perlu diperkuat. Selain itu, masih ada sumber pendapatan lain yang bisa dioptimalkan, seperti pengolahan data, event, dan riset. ”Memang tidak murah, perlu investasi. Namun, ini bisa dilakukan bertahap. Diversifikasi revenue bertujuan untuk memecah sumber-sumber pendapatan. Lambat laun ketergantungan media pada iklan itu semakin berkurang sehingga diharapkan menyehatkan ekosistem media,” katanya. Gemiano menambahkan, peluang diversifikasi pendapatan itu tak cuma terbuka bagi media nasional, tetapi juga media berskala kecil di daerah. Media di daerah, bisa memproduksi konten yang menonjolkan kekhasan setiap wilayah. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Visa Luncurkan Layanan Konsultasi Kripto
09 Dec 2021 -
Jasa Keuangan Paling Banyak Dikeluhkan
10 Dec 2021 -
Inflasi AS Melonjak 6,8% pada November
11 Dec 2021









