Perbankan
( 2293 )Layanan Keuangan: Taktik Bank Jaga Nasabah Kaya
Kian terintegrasinya ekosistem keuangan di perbankan menjadikan setiap entitas bank memperkuat basis-basis layanan yang terkait dengan pengelolaan keuangan dan pengembangan dana melalui produk investasi. Strategi memperkuat layanan kepada nasabah dengan simpanan jumbo dilakukan saat tren bunga simpanan, khususnya produk berjangka, bertahan di level rendah. Di satu sisi, strategi penguatan layanan keuangan atau wealth management menjadi cara agar bank dapat mengelola biaya dana di tengah masih banjirnya likuiditas. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Februari 2022, total simpanan nasabah di sistem perbankan nasional mencapai Rp7.446 triliun atau tumbuh 9,67% year-on-year (YoY). Kelompok simpanan nasabah dengan nominal di atas Rp500 juta—Rp5 miliar, rata-rata mencatat pertumbuhan di atas 5% secara tahunan. Namun, rata-rata pertumbuhan simpanan di kelompok nominal jumbo itu lebih lambat dibandingkan dengan periode 2021 yang tumbuh 7%.
Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Noviady Wahyudi mengatakan bahwa layanan prioritas di CIMB yang dikenal dengan CIMB Preferred dihadirkan bagi nasabah yang memiliki saldo minimal Rp500 juta atau memiliki pinjaman minimal Rp2 miliar. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. terus memacu pertumbuhan nasabah wealth management dengan sejumlah strategi pada tahun ini. Menurut Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto, seiring dengan tren pertumbuhan bisnis perseroan yang terus meningkat setiap tahunnya, bisnis wealth management diprediksi ikut terkerek. “Jumlah nasabah CIMB Preferred mencapai 70.000—80.000 nasabah dengan pertumbuhan tahunan di atas 10%,” kata Noviadi kepada Bisnis, Sabtu (16/4).
Kredit Perbankan Tumbuh
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh 6,33% pada Februari 2022 dibandingkan dengan tahun lalu atau year on year (yoy).
AIIO Bank Alihkan Aset Konvensional ke Mega
Guna meluncurkan transformasi menjadi bank digital. Allo Bank mengalihkan aset dan liabilitas miliknya ke Bank Mega, kelompok usaha Mega Corpora, yang kini menjadi pemegang saham pengendali bank berkode saham BBHI itu. Dalam pengumuman di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (12/4), Allo Bank menyebut, mengalihkan aset senilai Rp 958,63 miliar dan melimpahkan liabilitas ke Bank Mega Rp 921,38 miliar. Harga pengalihan bersih aset dan liabilitas Allo Bank kepada Bank Mega ini sebesar Rp 37,25 miliar.
Inovasi Pinjaman Bank Digital Didorong
Inovasi layanan perbankan digital saat ini baru menyentuh sisi tabungan dan pembayaran. Padahal, perbankan digital seharusnya juga mengembangkan inovasi pemberian pinjaman secara daring. Pengamat teknologi digital Richardus Eko Indrajit, Selasa (12/4) mengatakan, perbankan digital ke depan perlu mengembangkan mahadata sebagai basis data untuk validasi identitas calon debitor. (Yoga)
BNI Tunggu Restu Beli Mayora dari OJK
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank BNI telah menyetujui rencana akuisisi Bank Mayora pada 15 Maret 2022 lau. Sekretaris Perusahaan BNI, Mucharom mengatakan, mayoritas pemegang saham BNI telah menyetujui akuisisi saham Bank Mayora sebesar 63,92%. Dengan begitu, BNI menjadi pemegang saham mayoritas Bank Mayora. "Proses akuisisi terus berjalan, dan saat ini kami tengah menunggu persetujuan regulator (OJK) sehingga Bank Mayora dapat secara efektif menjadi anak perusahaan BNI," kata Mucharom, Selasa (12/4).
Kredit UMKM Tumbuh
Bank Indonesia (BI) mencatat kredit UMKM tumbuh 14,4% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 1.156,0 triliun hingga Februari 2022.
Bank Mestika Cetak Kenaikan Laba 59% di 2021
Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD) membukukan laba bersih sebesar Rp 519,58 miliar sepanjang tahun 2021. Perolehan laba tesebut tumbuh 59,41% secara tahunan atau year on year (yoy). Adapun, total aset Bank Mestika naik 12,88% yoy menjadi Rp 15,98 triliun. Presiden Direktur Bank Mestika Achmad S. Kartasasmita mengatakan, performa positif itu didorong oleh strategi untuk fokus ke segmen kredit high yield, yang membuat margin bunga bersih (NIM) stabil di level 5%.
PPN Naik Menjadi 11%, Beban Nasabah Bank Semakin Berat
Pemerintah butuh uang untuk membiayai anggaran. Maka, mulai 1 April 2022 pemerintah menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10% menjadi 11%. Efek kenaikan ini kemana-mana. Termasuk untuk nasabah perbankan. Bank Central Asia (BCA) misalnya, menaikkan tarif PPN dari 10% menjadi 11% pada transaksi Obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Serta biaya transaksi pada instrumen di Bank Indonesia (BI). Excecutive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA mendukung kebijakan pemerintah, regulator, dan otoritas perbankan di tengah pemulihan akibat pandemi.
Bank Aladin Mengandeng ZA Tech Global
Seiring pertumbuhan perbankan digital di Indonesia yang semakin pesar, Bank Aladin terus memperluas ekosistem digitalnya. Terbaru, Bank Digital Syariah tersebut mengumumkan kemitraan baru, yaitu ZA Tech Global Limited (ZA Tech), penyedia teknologi insurtech. ZA Tech menjadi mitra strategis terbaru untuk berkolaborasi dengan Bank Aladin sebagai investor. Presiden Direktur Bank Aladin, Dyota Marsudi mengatakan, kerja sama Bank Aladin dengan ZA Tech merupakan komitmen mendukung transformasi digital serta mempercepat adopsi insurtech di Indonesia. Melalui kerja sama ini, Dyota mengungkapkan, Bank Aladin ingin meningkatkan sinergi khusus di sektor asuransi Indonesia.
Bank Amar Kembali Right Issue Untuk Tambah Modal
Bank Amar Indonesia Tbk kembali akan menambah modal dengan memberi hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) II dengan jumlah sebanyak-banyaknya 20 miliar saham. Nilai nominal right issue ini Rp 100 per saham. Right issue ini untuk memperkuat struktur permodalan Bank Amar. "Juga sebagai tambahan modal kerja untuk mendukung kegiatan usaha, terutama dalam rangka pemberian kredit ke nasabah secara bertahap," ujar direksi Bank Amar dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin (5/4).









