Perbankan
( 2293 )Transaksi DIgital Perbankan Menuai Berkah Ramadan
Momentum ramadan membawa berkah bagi perbankan dalam mengenjot transaksi digital banking.
Bank BRI misalnya mencatatkan transaksi finansial mencapai 450 juta transaksi dengan volume transaksi mencapai Rp 678,91 triliun di April 2022. Bank BTN juga melihat momentum ramadan dan Idul Fitri tahun ini memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap transaksi Mobile Banking BTN. Selama periode April 2022, jumlah transaksi Mobile Banking BTN ada meningkat 43% yoy menjadi 17,21 juta transaksi. Direktur IT and Digital Banking BTN Andi Nirwoto menyatakan nominal transaksi tersebut mencapai naik 76% yoy jadi Rp 3,7 triliun.
Bank-Bank Kecil Masih Berjuang Penuhi Modal
Nama-nama investor baru terus bermunculan sebagai pemegang saham baru di bank domestik bermodal mini. Seiring berkembangnya tren perbankan digital, investor tak jauh-jauh dari perusahaan yang menawarkan inovasi teknologi.
Teranyar, Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) menggandeng Investree Singapore Pte Ltd. (Investree Group) sebagai pemegang saham baru. Tolaram sebagai pengendali Bank Amar telah meneken kesepakatan penjualan sebanyak 18,4% kepemilikan saham di bank ini kepada platform fintech peer to peer (P2P) lending yang beroperasi di Indonesia di bawah bendera PT Investree Radhika Jaya. Pasca aksi ini, Tolaram masih akan jadi pengendali AMAR. Bank Amar juga akan kembali right issue dengan menerbitkan 20 miliar saham di semester II 2022. Selain Bank Amar, setidaknya masih ada belasan emiten bank kecil yang modal intinya masih dibawah ketentuan minimum yang harus dipenuhi hingga akhir 2022 sebesar Rp 3 triliun.
Libur Lebaran, Transaksi Digital BNI Meningkat 38%
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) melaporkan jumlah dan nilai transaksi digital yang dilakukan nasabah semakin meningkat. Pada periode libur Lebaran ini, terjadi pertumbuhan transaksi digital sebesar 38% dibandingkan dengan periode libur Lebaran 2021. "Transaksi digital melalui belanja online di e-commerce ataupun website juga semakin meningkat, terbukti dengan peningkatan transaksi sebesar 38% secara year on year (yoy) dibandingkan libur Lebaran tahun lalu," kata Corporate Secretary BNI Mucharom. Selain transaksi digital, pada periode libur Lebaran tahun ini, BNI juga mencatatkan peningkatan penggunaan dari uang elektronik, seperti pembayaran tol saat mudik ke kampung halaman, transaksi di merchant, dan lainnya. "Selama arus mudik Lebaran tahun 2022,merupakan puncak tertinggi selama arus mudik dan hal ini juga terlihat dari pertumbuhan TapCash yang tumbuh 51% (yoy) dari sisi volume dan tumbuh 25% (yoy) per kuartal I dari sisi frekuensi transaksi," urai Mucharom. (Yetede)
Libur Lebaran, Transaksi Digital BNI Meningkat 38%
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) melaporkan jumlah dan nilai transaksi digital yang dilakukan nasabah semakin meningkat. Pada periode libur Lebaran ini, terjadi pertumbuhan transaksi digital sebesar 38% dibandingkan dengan periode libur Lebaran 2021. "Transaksi digital melalui belanja online di e-commerce ataupun website juga semakin meningkat, terbukti dengan peningkatan transaksi sebesar 38% secara year on year (yoy) dibandingkan libur Lebaran tahun lalu," kata Corporate Secretary BNI Mucharom. Selain transaksi digital, pada periode libur Lebaran tahun ini, BNI juga mencatatkan peningkatan penggunaan dari uang elektronik, seperti pembayaran tol saat mudik ke kampung halaman, transaksi di merchant, dan lainnya. "Selama arus mudik Lebaran tahun 2022,merupakan puncak tertinggi selama arus mudik dan hal ini juga terlihat dari pertumbuhan TapCash yang tumbuh 51% (yoy) dari sisi volume dan tumbuh 25% (yoy) per kuartal I dari sisi frekuensi transaksi," urai Mucharom. (Yetede)
Bank Mandiri, BRI dan BCA Menyiapkan Suntikan Modal ke Anak Usaha
Bank-bank besar berupaya mendorong bisnis anak-anak usaha mereka terus berkembang. Dan berharap akan meningkatkan kontribusi mereka terhadap perolehan laba konsolidasi. Untuk mendorong pertumbuhan itu, sejumlah bank bersiap melakukan penguatan modal anak usaha mereka.
Bank Mandiri salah satunya. Bank aset terbesar di Tanah Air ini sedang mempersiapkan melakukan injeksi modal kepada anak-anak usaha tahun ini. Di antaranya Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan Mandiri Capital Indonesia. Bank Central Asia juga menganggarkan dana untuk meningkatkan modal anak usaha tahun ini. Salah satu anak usaha yang akan mendapat suntikan modal adalah PT Central Capital Ventura. Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mengalokasikan dana cukup untuk memenuhi kecukupan modal anak usaha.
Transaksi Tunai dan BI-FAST Melonjak
Sepanjang Ramadhan dan libur Idul Fitri 2022, BI mencatat realisasi penarikan uang tunai mencapai Rp 180,2 triliun, meningkat 16,6 % dibanding tahun lalu, juga lebih tinggi 9,21 % dibanding periode yang sama pada 2019 sebelum pandemi Covid-19. Nominal transaksi BI-FAST pada April 2022 juga melonjak 51,88 % dibanding pada Maret, mencapai Rp 100,25 triliun. Transaksi tertinggi pada H-7 Idul Fitri. (Yoga)
Kantong Perbankan Kian Tebal
Industri perbankan Indonesia semakin memperlihatkan kondisi pemulihan kinerja yang tercermin dari laporan laba 15 bank pada kuartal I/2022 yang mencapai Rp43,61 triliun atau tumbuh hingga 45% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Secara rata-rata, capaian laba bersih bank papan atas dengan aset terbesar itu menguasai tak kurang dari 90% total laba bersih setelah pajak di industri bank nasional. Jumlah bank secara keseluruhan sebanyak 107 entitas. Dari 15 bank yang telah menyampaikan kinerja kuartal pertama, hanya ada dua bank yang labanya susut jika dibandingkan dengan kuartal I/2021. Selebihnya, berhasil menorehkan kinerja gemilang. Sebanyak 11 bank membukukan pertumbuhan laba hingga double digit dan dua bank lainnya mencetak pertumbuhan laba single digit.
Memperkuat Perlindungan Konsumen Jasa Keuangan
Seiring pertumbuhan industri jasa keuangan yang pesat, jenis serta variasi dari produk dan jasa keuangan juga semakin inovatif, Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) selalu berupaya meluncurkan produk baru kepada konsumen. Situasi ini membuat dinamika di dalam industri jasa keuangan semakin kompleks. Banyaknya penawaran produk dan jasa keuangan baru itu juga membuat konsumen mengalami information overload. Padahal, tingkat literasi keuangan di Indonesia masih tergolong rendah. Survey Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia (SNLKI) pada 2019 menyatakan, tingkat literasi masyarakat baru 38,03 %, dengan tingkat inklusi 76,19 %. Faktor rendahnya tingkat literasi menjadi penyebab munculnya kasus pengaduan dan sengketa konsumen. Hal ini terjadi karena konsumen memiliki ekspektasi tertentu terhadap produk atau jasa keuangan yang dibeli, tanpa memahami risiko atau komitmen terhadap produk tersebut. Hal tersebut mendorong nasabah untuk menyetujui kontrak perjanjian dengan lembaga jasa keuangan, walaupun belum memahami secara utuh klausul-klausul yang diperjanjikan. Padahal, setiap produk keuangan memiliki karakteristik masing-masing serta membutuhkan komitmen dan pemahaman terhadap produk terkait.
Untuk meningkatkan perlindungan konsumen dan mencegah kerugian di masyarakat yang bisa menurunkan kepercayaan terhadap industri jasa keuangan, diperlukan penguatan pengawasan market conduct. OJK menjelaskan batasan aspek market conduct sebagai perilaku lembaga jasa keuangan dalam mendesain, menyusun dan menyampaikan informasi, menawarkan, membuat perjanjian atas produk dan/atau layanan serta penyelesaian sengketa dan penanganan pengaduan. Pengawasan market conduct ini diharapkan bisa memastikan integritas PUJK dalam menerapkan aspek perlindungan konsumen pada setiap tahapan product life cycle di industri jasa keuangan, yaitu mulai dari perencanaan produk, pemasaran, penjualan dan mekanisme penyelesaian sengketa. Saat ini,terdapat dua regulasi yang mengatur perlindungan konsumen. Pertama, UU No 21//2011 tentang OJK yang mengatur implementasi perlindungan konsumen jasa keuangan di Indonesia dan Peraturan OJK (POJK) No 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan yang mengatur perlindungan konsumen secara teknis. (Yoga)
Naik 33,18% Laba Bersih BSI Tembus Rp 987,68 Miliar
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) meyakini kinerja tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dengan tumbuh berkelanjutan. Hal ini tercermin dari capaian kinerja kuartal 1-2022 yang mencatatkan pertumbuhan positif. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, pada kuartal 1-2022, BSI membukukan laba bersih Rp987,68 miliar, tumbuh 33,18% secara year on year. Capaian tersebut membuktikan kondisi ekonomi Indonesia semakin pulih dari dampak krisis ekonomi akibat pandemi. Di sisi lain, kinerja positif BSI itu membuktikan pula literasi dan inklusi perbankan syariah di Tanah Air semakin meningkat dan mendorong kepercayaan masyarakat terhadap BSI. Pihaknya semakin optimistis dengan pertumbuhan kinerja BSI pada 2022. Adapun secara fundamental, menurutnya pembiayaan yang sehat dan solid didukung dengan efisiensi biaya serta ekspansi dana murah. Hal ini menjadi kunci kinerja cemerlang BSI pada kuartal 1-2022. (Yetede)
Kinerja Bank BUMN Mengalahkan Bank Swasta
Industri perbankan sudah mengumumkan laporan keuangan kuartal I 2022. Tiga bank BUMN, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri dan Bank BNI mencetak kinerja fantastis.
Jawara laba adalah BRI. Setelah konsolidasi PT Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) BRI mencetak laba Rp 12,22 triliun. Melesat 78,13%. Di posisi runner up ada Bank Mandiri. Dengan laba Rp 10,03 triliun, melejit 69,52%. Bank BNI di posisi keempat. Laba meroket 63,11% menjadi Rp 3,96 triliun. Sementara di kalangan bank swasta, cuma BCA yang mampu eksis di empat besar. Laba tercatat Rp 8,06 triliun, tumbuh 14,56%. Lalu Cimb Niaga mencetak laba Rp 1,2 triliun, meningkat 19,9%. Sementara bank swasta laln mencetak laba dibawah Rp 1 triliun, dengan pertumbuhan kalah dibanding bank BUMN.








