Perbankan
( 2293 )BSI Bagikan Dividen Rp 757 Miliar
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp 25% atau sekitar Rp757,05 miliar dari laba bersih perseroan tahun 2021 kepada pemegang saham. Selain itu, RUPST yang digelar pada Jumat (27/5/2022) juga menyetujui Negara Republik Indonesia miliki saham Seri A di BSI. Direktur Utama BSI Hery Gunardi menjelaskan, sepanjang 2021 di tahun pertama sejak merjer pada 1 Februari 2021, BSI mampu menunjukkan kerja yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar Rp3,02 triliun, naik 38,45% secara year on year (yoy). "Atas dasar pencapaian kinerja yang solid di tahun lalu. BSI memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 25% atau senilai Rp757 miliar. Adapun sebesar 20% disisihkan sebagai cadangan wajib dan sisanya sebesar 55% dialokasikan sebagai laba ditahan," ujar Hery dalam pemaparan Hasil RUPST BSI tahun 2022 secara virtual, Jumat(27/5). (Yetede)
Masih Rugi, Bukopin Bersih-Bersih Kredit Busuk
Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) akan menggenjot kredit tahun ini, setelah likuiditasnya membaik sejak tahun lalu. Direktur Keuangan Bank KB Bukopin, Seng Hyup Shin mengatakan, pihaknya telah menstabilkan kondisi likuiditas lewat penambahan modal, penerbitan obligasi dan penghimpunan dana masyarakat (DPK) tahun lalu.
"Selanjutnya, dapat dapat kami salurkan ke dalam kredit baru. Targetnya Rp 10 triliun penyaluran kredit baru tahun ini," kata Seng Hyup Shin, Rabu (25/5). Meski begitu bank ini hingga kuartal I 2022 masih merugi sebesar Rp 1,32 triliun. Melesat dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp 167,1 miliar. "Kami rugi karena dalam rangka penanganan kredit bermasalah. Kami membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN)," jelas Shin.
Harga Pelaksanaan Rights Issue Bank Amar Rp 280
Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) akan melaksanakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue untuk memperkuat permodalan. Bank ini baru memiliki modal inti Rp 2 triliun pada Maret 2022. Bank Amar ini akan merilis 3,59 miliar saham baru atau sebesar 20,6% dari modal ditempatkan disetor penuh perseroan dengan nominal Rp 100 per saham. Melalui aksi korporasi tersebut, Amar bidik dana hingga Rp 1 triliun. Setiap pemilik 100 saham lama akan memperoleh 26 HMETD. Setiap HMETD akan memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 280 per saham.
BI Pertahankan Bunga Acuan
Di tengah kekhawatiran inflasi global dan kebijakan sejumlah bank sentral dunia menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia, untuk ke-15 kalinya, mempertahankan BI 7-Day Reserve Repo Rate pada level 3,5%. Kebijakan itu diambil untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan dan setelah BI melihat bahwa kondisi ekonomi makro cukup stabil dan terkendali. Rapat Dewan Gubernur BI pada 23-24 Mei 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 3,5%, dan suku bunga lending Facility sebesar 4,25%," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Selasa (24/5/2022) Sejalan dengan hal tersebut, kata Perry Bank Indonesia menempuh penguatan bauran kebijakan dalam tujuh langkah utama. Sedangkan kewajiban minimun GWM Rupiah untuk Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) pada saat ini sebesar 4,0%, naik menjadi 4,5% mulai 1 Juni 2022, dan 6,0% mulai 1 Juli 2022, serta 7,5% mulai 1 September 2022. (Yetede)
Kredit dan Pemulihan
Pada triwulan pertama tahun ini sebagian besar bank mencatat pertumbuhan laba bersih puluhan persen. Bahkan, tiga bank berstatus BUMN, yakni BRI, Bank Mandiri, dan BNI, mencatat pertumbuhan laba bersih di atas 50 % dibandingkan periode sama tahun lalu. BRI mencatat pertumbuhan laba bersih 78,13 % menjadi Rp 12,22 triliun, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba bersih 69,52 % menjadi Rp 10,03 triliun, dan BNI mencatat pertumbuhan laba bersih 63,11 % menjadi Rp 3,96 triliun. Sementara bank BUMN lainnya, yakni BTN, mencatat pertumbuhan laba bersih 23,89 % menjadi Rp 774 miliar. Pertumbuhan laba yang signifikan juga dicatat bank-bank swasta. Bank swasta terbesar di Tanah Air, BCA, mencatat pertumbuhan laba bersih pada triwulan pertama tahun ini sebesar 14,56 % menjadi Rp 8,06 triliun. Lonjakan laba perbankan tersebut ditopang oleh berbagai faktor, diantaranya penyaluran kredit perbankan yang mulai pulih selama triwulan I-2022. Data OJK menyebutkan, sampai Maret 2022, penyaluran kredit industri perbankan bertumbuh 6,65 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan likuiditas perbankan yang melimpah berkat pelonggaran moneter oleh BI selama pandemi Covid19, perbankan dengan leluasa melakukan ekspansi kredit saat aktivitas perekonomian kembali menggeliat.
Kinclongnya bisnis bank juga tak terlepas dari makin pulihnya perekonomian nasional. Seperti halnya cermin, penyaluran kredit perbankan adalah refleksi dari menggeliatnya dunia usaha dan konsumsi masyarakat yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Kalaupun BI akhirnya menaikkan suku bunga acuan, penyaluran kredit juga masih bisa tumbuh sepanjang perbankan tidak menaikkan suku bunga dana dan suku bunga kredit. Melimpahnya likuiditas memungkinkan perbankan tidak menaikkan suku bunga dana seperti deposito. Jika bunga dana tidak naik, maka bunga kredit kemungkinan juga tidak akan naik. Menaikkan suku bunga kredit saat ini tentu akan menjadi kontra produktif bagi upaya pemulihan ekonomi. Untuk mendorong pertumbuhan, perekonomian nasional masih membutuhkan bunga kredit yang rendah. (Yoga)
Dag Dig Dug Menanti Keputusan Bank Sentral
Hari ini Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur, untuk membahas bunga acuan. Konsesus para analis menunjukkan bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi, BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%. "BI harus menjaga stabilitas rupiah dan alias inflasi," kata Josua, Senin (23/5).
Selisih bunga yang tipis, terutama dengan bunga acuan di Amerika Serikat (AS), berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah. Apalagi sentimen hawkish dari Fed mendorong penguatan dollar AS. Namun, Josua melihat, pelemahan rupiah cenderung lebih terbatas dibanding mata uang lain.
Penyaluran KUR BNI Capai Rp 11,3 Triliun
Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Sis Apik Wijayanto, Minggu (22/5) menjelaskan, penyaluran KUR BNI per April 2022 mencapai Rp 11,3 triliun atau meningkat 14% dibanding periode yang sama tahun lalu. Capaian itu setara dengan 29,7 % dari total alokasi KUR BNI tahun ini sebesar Rp 38 triliun. (Yoga)
Didukung Pemerintah, BSI Punya Potensi Besar
Guna memenuhi ketentuan porsi saham beredar (free float), Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) bakal melakukan rights issue senilai Rp 5 triliun di kuartal ketiga 2022. Dana hasil aksi korporasi itu juga untuk biaya ekspansi ke depan. Bank syariah milik BUMN ini memang tengah gencar membesarkan bisnis perbankan syariah. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Inisiatif bisnis di dalam negeri yang dimaksud antara lain menjadi satu-satunya bank syariah yang masuk daftar bank yang ada dalam fitur autodebet untuk pembayaran BPJS Kesehatan. Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya menyebut, BRIS memiliki potensi signifikan meningkatkan pangsa pasarnya yang baru 7% saat ini. Lantaran Indonesia memiliki penduduk muslim terbesar di dunia.
Bank Mandiri Hadirkan e-Money Co-Branding Bank Banten
PT Bank Mandiri bersama Bank Banten terus memperkuat sinergi lewat kerja sama co-branding dan top up aplication programing Interface (API) Kartu Mandiri e-Money. Kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen kedua bank untuk memperkuat inklusi keuangan di Tanah Air, sekaligus melengkapi layanan bagi masyarakat. Adapun perjanjian kerja sama ini ditandatangani oleh SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi dan Direktur Utama Bank Banten Agus Syabarudin di Serpong, Jumat (20/5). Thomas mengungkapkan, sinergi ini merupakan upaya perseroan untuk menciptakan layanan dan solusi keuangan bagi masyarakat yang dapat berkontribusi pada perekonomian Indonesia."Kerja sama strategis ini menjadi bagian dari kampanye serta inisiatif Bank Mandiri sebagai urban locomotive lewat penyediaan produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kota," jelas dia dalam keterangannya, akhir pekan lalu. (Yetede)
BNI Resmi Akuisisi Bank Mayora
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI resmi mengakuisisi Bank Mayora melalui penyetoran dana atas saham baru yang diterbitkan Bank Mayora serta pembelian saham International Finance Corporation. Dalam laporan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, Jumat (20/5) disebutkan, setelah pengambil alihan itu, BNI menguasai 63,92 % saham Bank Mayora. Bank Mayora akan mendukung upaya BNI mengembangkan bank digital. (Yoga)









