Perbankan
( 2293 )BCA Meningkatkan Keamanan Siber
Bank Central Asia (BCA) menganggarkan modal kerja (capex) senilai Rp 5 triliun untuk pengembangan teknologi informasi (TI) pada tahun ini. EVP Secretariat & Corporate Communication Bank BCA, Hera F. Haryn mengatakan, sekitar Rp 500 miliar dialokasikan untuk keamanan siber.
BRI Targetkan Fee Based Income Bancassurance Tumbuh 11%
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) melihat prospek bisnis bancassurance semakin cerah seiring kesadaran masyarakat terhadap proteksi resiko yang terus meningkat. Pada tahun ini, wealth manajemen perseroan menargetkan fee based income (FBI) dari bisnis bancasurrance bisa tumbuh 11% secara tahunan (yaer on year/yoy), selaras dengan optimalisasi literasi finansial yang telah dilaksanakan pada seluruh lapisan masyarakat. "Pemulihan ekonomi nasional mendorong meningkatnya konsumen masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki asuransi sebagai proteksi serta perlindungan dari resiko-resiko kerugian yang mungkin terjadi di masa depan juga mulai terbangun," ungkap Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani. Lebih lanjut, dia menyebut perseroan senantiasa menghadirkan layanan proteksi yang komprehensif bagi nasabah bancasurrance. (Yetede)
Investor Baru Terus Mencaplok Bank Kecil
Sejumlah bank di Tanah Air masih rame diburu para pemodal. Yang terbaru, Investree Singapore Pte Ltd resmi membeli 1,5 miliar atau setara 10,9% saham Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR).
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Kamis (9/6), harga pembelian senilai Rp 280 per saham. Berarti nilai transaksi Investree itu sekitar Rp 422,02 miliar pada 7 Juni 2022. Amin Nurdin, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) berpendapat, bank kecil bisa ekspansi lewat transfer teknologi, SDM dan pengembangan bisnis.
Memacu Daya Saing Perbankan Syariah
Industri perbankan syariah di Indonesia memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi secara nasional. Sejak dirintis, perbankan syariah diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan finansial. Sejauh ini, terdapat dua pola bisnis perbankan syariah, yaitu sebagai bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS). Keduanya sama-sama menjunjung prinsip tata kelola sesuai syariah. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, industri perbankan syariah di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Kenyataan di atas cukup menarik untuk dicermati. Fakta bahwa upaya yang telah dilakukan untuk membangun industri perbankan syariah di Indonesia ternyata selama ini masih jauh panggang dari api. Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan untuk mengungkit daya saing perbankan syariah. Salah satu ikhtiar yang semula diyakini dapat meningkatkan market share perbankan syariah, yaitu mendorong UUS untuk spin off dari induknya.
Pertama, kinerja keuangan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepanjang periode 2016—2021, UUS tumbuh cukup kompetitif dengan compound annual growth rate (CAGR) pada aset, financing, funding, dan profit before tax (PBT) secara rata-rata lebih tinggi (>18%) dibandingkan dengan BUS (<13%). Demikian juga dari sejumlah rasio kunci UUS seperti RoA sebesar 2,2% dibandingkan BUS 1,3%; NOM UUS 2,3%, sementara BUS 1,4%; dan BOPO UUS <80%, sementara BUS >85%. Baik profitabilitas maupun efisiensi biaya, faktanya UUS mengungguli model BUS. Kedua, tingkat ketahanan UUS juga lebih tinggi dibandingkan BUS terutama pada masa krisis pandemi tercermin dari indikator NPF UUS di bawah 3%, sementara BUS >4%. Pencapaian tersebut tentunya tanpa mengurangi kesyariahan dari praktik bisnis UUS yang selalu diiringi pengawasan prinsip-prinsip syariah oleh OJK, Dewan Pengawas Syariah, serta Satuan Kerja Audit Internal Bank. Ketiga, UUS mempercepat literasi dan inklusi perbankan syariah karena pola bisnisnya memiliki akses terhadap market dari bank induk yang menjangkau seluruh kalangan (universal). Keempat, yaitu tingkat layanan dan pricing UUS yang setara atau lebih baik dari bank induk, sehingga membuat nasabah tetap merasakan layanan terbaik. Kelima, dari sisi kelembagaan. Pada akhir 2021, terdapat 12 BUS dan 21 UUS pada industri perbankan syariah di Indonesia. Dari total 21 UUS, mayoritas merupakan bank yang memiliki modal kecil dan skala bisnis terbatas.ECB Mulai Naikkan Suku Bunga Bukan Depan
Bank Central Eropa ECB pada Kamis (9/6) memastikan suku bunga acuan akan dinaikkan mulai bulan depan. Stimulus pembelian obligasi juga akan diakhiri mulai Juli 2022. Keputusan yang ditunggu-tunggu ini akhirnya keluar setelah ECB terus ditekan untuk bergerak memerangi lonjakan inflasi. Dewan Gubernur ECB dalam rapat kebijakan yang digelar di Amsterdam, Belanda sepakat bahwa sebagai langkah pertama adalah mengakhiri stimulus pembelian obligasi per 1 Juli 2022, yang nilainya mencapai lima triliun euro atau US$ 5,4 triliun sejak 2014.
"Dewan Gubernur kemudian akan menaikkan suku bunga acuan ECB sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan berikutnya di 21 Juli (2022)," kata ECB dalam pernyataannya, seperti diikuti AFP. Presiden ECB Christine Lagarde dalam dalam konferensi persnya mengungkapkan, keputusan Dewan Gubernur diambil secara aklamasi. "Kami sekarang menapaki jalan yang akan mencukupi serangkaian pergerakan (penaikan suku bunga) sepanjang beberapa bulan ke depan," dia. (yetede)
Bank Siap Tingkatkan Cadangan
Bank-bank di Tanah Air berancang-ancang untuk menaikkan dana pencadangan. Hal ini untuk merespons kebijakan Otomatis Jasa keuangan (OJK) yang bakal menghentikan program restrukturisasi kredit nasabah terdampak Covid-19 mulai Maret 2023 diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun ini, sehingga prospek bisnis perbankan diprediksi semakin cerah. Data OJK menunjukkan kredit perbankan per April 2022 tumbuh 9,`% yoy, atau 3,69% secara year to date, meningkatkan signifikan dibandingkan Maret yang tumbuh 6,67% yoy. Secara sektoral, per April lalu, kredit yang paling moncer adalah kredit sektor pertambangan dan penggalian yang melejit 49,8%, perikanan 16,4% transportasi pergudangan dan komunikasi 12,3% kemudian pengolahan 12,1%. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengatakan, tren restrukturisasi kredit perseroan terus mengalami penurun, seiring membaiknya kinerja para debitur. (Yetede)
Restrukturisasi Melanda, Profit Bank Mandiri Makin Kinclong
Selaras dengan kondisi ekonomi yang terus membaik, tren restrukturisasi kredit terdampak pandemi Covid-19 terus mengalami penurunan. OJK mencatat hingga April 2022, nilai restrukturisasi terdampak pandemi Covid-19 telah menuju ke-angka Rp 606,39 triliun. Merespon hal tersebut, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha menjelaskan tren restrukturisasi kredit debitur terdampak Covid-19 di Bank Mandiri kian melandai. Rudi menjelaskan bila dibandingkan dengan posisi tertinggi pada Juni 2021 posisi restrukturisasi Covid-19 di Bank Mandiri telah menurun sebesar Rp32,48 triliun. Dia menambahkan, tren penurunan restrukturisasi Covid-19 juga tercermin dalam total Loan At Risk (LAR) termasuk debitur terdampak Cobid-19 Bank Mandiri yang mencapai level 16,4% di April 2022. "Untuk menjaga kualitas kredit, Bank Mandiri secara intens melakukan monitoring termasuk melakukan stres test secara berkala serta menerapkan early warning sign untuk memastikan posisi pencadangan berada di level optimal," pangkas Rudi. (Yetede)
World Bank Pangkas Proyeksi Ekonomi RI
Bank Dunia (World Bank) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022. Lembaga ini memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 sebesar 5,1%, turun 0,1% poin dari sebelumnya 5,2%.
Dalam laporan bertajuk Global Economic Prospects edisi Juni 2022, World Bank menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini cukup stabil. Hal ini didorong oleh kondisi Covid-19 yang mulai membaik, serta ada berkah dari peningkatan harga komoditas global.
AKSI KORPORASI BUMN : TRANSFORMASI 2 BANK DILANJUTKAN
Kementerian Badan Usaha Milik Negara melanjutkan transformasi dua entitas bank yakni PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Kedua bank itu akan menggelar aksi korporasi jelang akhir tahun ini. Saat rapat dengan Komisi VI DPR pada Selasa (7/6), Kementerian BUMN akan menambah permodalan bagi Bank Tabungan Negara (BTN) guna meningkatkan rasio permodalan bank itu menjadi 19%. Skema penambahan modal dilakukan melalui penawaran saham terbatas (rights issue). Sebelumnya, Kementerian BUMN juga berencana menjadikan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai entitas pelat merah. BSI disiapkan untuk menggelar rights issue senilai Rp5 triliun yang waktunya akan dilakukan pada kuartal III atau kuartal IV tahun ini. Dengan permodalan yang kuat, baik BTN dan BSI nantinya akan menjadi entitas yang kuat untuk menopang perekonomian nasional. Di satu sisi, kementerian BUMN juga berencana melakukan integrasi unit usaha syariah (UUS) BTN ke dalam entitas BSI. Dengan demikian, seluruh layanan syariah perbankan milik pemerintah seluruhnya berada dalam naungan BSI.
Bank Fokus Kejar Dana Murah
Tren penurunan suku bunga mengurangi minat masyarakat untuk berinvestasi di deposito. Di tengah penurunan bunga, bank fokus mengejar dana murah (CASA) untuk menekan biaya dana.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, nilai deposito perbankan per April 2022 Rp 2.821 triliun, atau tumbuh 1,0% year-on-year (yoy). Jika dihitung dalam basis kalender dan bulanan, nilai deposito April turun masing-masing 1,3 % dan 0,1%. Sedang dana murah, seperti tabungan dan giro, tetap tumbuh. Secara tahunan, kedua simpanan itu tumbuh signifikan. Nilai giro per April tumbuh 18,4% yoy sedang tabungan meningkat 15,9%. Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga meningkatkan porsi dana murah demi mendorong efisiensi biaya dana.









