;
Tags

Perbankan

( 2293 )

2024, LPS Proyeksi Simpanan Perbankan Tumbuh 7%

KT1 10 Nov 2023 Investor Daily (H)
BANDUNG,ID-Perbankan nasional pada tahun depan diprediksi mengandalkan penghimpunan dana masyarakat sebagai sumber pendanaan utama.Sementara kondisi likuiditas dinilai masih memadai (ample) pada saat pesta demokrasi dan mampu mendukung perekonomian melalui penyaluran kredit. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada tahun politik 2024 masih stabil meski tumbuh single digit. "Perkiraan kami 2024 masih stabil  di kisaran antara 6% sampai dengan 7%. Hal ini dikatalisasi oleh aktivitas perekonomian yang telah pulih dan tambahan dorongan konsumsi LNPRT (Lambaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga) pada pesta demokrasi," jelas Direktur Grup Riset LPS Herman Saheruddin kepada Investor Daily. Meski pertumbuhan simpanan 2024 tumbuh single digit, Herman menegaskan bahwa perbankan tidak akan mengalami kesulitan likuiditas. "Oh tidak. Kondisi likuiditas perbankan masih akan ample  seperti saat ini. Pertumbuhan DPK per September 2023 kan juga sebesar 6,54% (yoy)," sambung dia. (Yetede)

PERMINTAAN PEMBIAYAAN : KREDIT BANK LAWAN KELESUAN

HR1 09 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Potensi pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini diprediksi tak seagresif pada 2022. Dinamika internal yang memasuki tahun politik dan perkembangan global yang kian tak menentu, menjadikan lambatnya permintaan pembiayaan. Proyeksi terakhir yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit bank sebesar 10,7% year-on-year (YoY). Angka itu lebih optimistis dibandingkan dengan perkiraan awal yang disusun lembaga itu yang memproyeksikan kredit tumbuh tahun di kisaran 8,9% YoY.Dalam tiga kuartal terakhir 2023, bank sentral mematok rentang pertumbuhan kredit bank di kisaran 10,4%—10,9%. Pada 2022, pertumbuhan kredit perbankan tercatat 11,4%.Hingga kuartal III/2023, outstanding kredit perbankan senilai Rp6.803,4 triliun atau tumbuh 8,7% dibandingkan dengan periode yang sama 2022. Menurut Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, pertumbuhan kredit masih melaju positif. Namun, pertumbuhannya diperkirakan terbatas di kisaran 7% hingga 9%.Dia menuturkan, pertumbuhan kredit yang diprediksi hanya akan menyentuh single digit, lantaran adanya tren kenaikan suku bunga hingga 25 basis poin ke level 6%. Sementara itu, peneliti dari Lembaga ESED Chandra Bagus Sulistyo mengatakan, pertumbuhan kredit terdorong lantaran aktivitas perekonomian yang menunjukkan kondisi pemulihan sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang pemilu. Head of Emerging Business Banking PT CIMB Niaga Tbk. Tony Tardjo menyatakan sejumlah alasan di balik sikap optimistis terhadap laju pembiayaan untuk tumbuh lebih tinggi.Emiten dengan kode saham BNGA itu mematok target penyaluran kredit, khususnya kepada sektor usaha mikro kecil dan menengfah (UMKM) pada sisa tahun ini dapat mencapai digit ganda atau sekitar Rp25 triliun di tengah tren suku bunga yang tinggi. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Agustya Hendy Bernadi mengaku optimistis menghadapi situasi yang akan berkembang pada tahun depan. Bahkan, menurutnya, Pemilu cenderung memberikan dampak positif terhadap perekonomian, sehingga berdampak pada penjualan pelaku UMKM yang merupakan core business BRI. Adapun, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Sigit Prastowo mengatakan, hal ini didasarkan capaian Bank Mandiri yang mencatatkan kinerja, di mana kredit perseroan tumbuh 12,71% secara tahunan, melampaui industri 8,96% YoY. Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memproyeksikan penyaluran kredit akan tetap konservatif di 9% hingga 10% pada akhir tahun ini.Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Jahja Setiaatmadja memproyeksikan kenaikan suku bunga memang tidak akan secara langsung memberi dampak kepada sejumlah segmen.

Segmen Konsumer Sokong BBCA

HR1 09 Nov 2023 Kontan
Kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih akan tumbuh disokong target penyaluran kredit yang bisa tumbuh di atas 10% hingga akhir tahun ini. BBCA gencar menyalurkan pinjaman untuk segmen konsumer melalui beberapa pameran dagang atau ekspo. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas, Agus Pramono mengatakan, kinerja BBCA sejalan dengan perkiraannya.  Laba bersih mencapai Rp 36,4 triliun dalam sembilan bulan pertama 2023 atau tumbuh 25,8% year on year (yoy). Angka tersebut menunjukkan keberhasilan strategi BBCA untuk fokus pada konsumen UKM dan perbankan, sehingga mengantarkan pertumbuhan pinjaman sebesar 12,3% yoy menjadi Rp 765,90 triliun per kuartal ketiga 2023.  Pendapatan bunga BBCA tumbuh 2,1% secara kuartalan dan naik 19,8% yoy menjadi Rp 22,1 triliun dari awal tahun hingga September 2023. Menurut Agus, pinjaman ke segmen konsumer dengan imbal hasil yang lebih rendah melalui BCA Expo dan BCA Fest di semester I-2023 berpengaruh pada pendapatan bunga. Dari sisi risiko, Agus bilang, ancaman keamanan terhadap data perbankan menyebabkan BBCA mengeluarkan tambahan Rp 300 miliar untuk sistem keamanan data. Hasilnya, cost to income ratio (CIR) meningkat menjadi 36,1% pada kuartal ketiga 2023 dari 31,2% pada kuartal kedua. Analis Henan Putihrai Sekuritas, Arandi Pradana memproyeksikan, BBCA bisa mencetak pertumbuhan pinjaman sebesar 13,8% yoy di 2023. Tahun depan, pertumbuhan pinjaman BBCA diprediksi naik 11% yoy.Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, dampak kenaikan suku bunga BI  belum bisa memberikan dampak kenaikan NIM di tahun ini. Namun, momentum Natal dan tahun baru dapat mendukung konsumsi domestik di akhir tahun. Ditambah lagi, adanya potensi permintaan kredit yang lebih tinggi menjelang tahun Pemilu.

Pertumbuhan Laba Perbankan Melambat

KT1 09 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Industri perbankan terus mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang melambat hingga posisi Agustus 2023. Laba bersih yang dikantongi perbankan tembus Rp 160,7 triliun, tumbuh 19,21% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 134,8 triliun. Dari data yang dihimpun Investor Daily, jika dibandingkan bulan sebelumnya, laba bersih per Juli 2023 tumbuh 20,42% secara year on year (yoy). Ini menunjukkan adanya perlambatan dari sisi profitabilitas  perbankan. Bahkan, pada Juni 2023 perbankan mencatatkan pertumbuhan cuan 23,42% (yoy). Lebih jauh lagi apabila  dibandingkan posisi Maret 2023, pertumbuhan laba bersih mencapai 33,68% (yoy). Perlambatan ini diprediksi terus terjadi hingga akhir tahun. Ini lantaran basis kinerja pada 2021 yang rendah akibat dampak Covid-19, sehingga terlihat pertumbuhan tinggi pada realisasi kinerja perbankan 2022. Dengan basis 2022 yang tinggi, sulit untuk bisa mencetak pertumbuhan setinggi itu dalam kondisi yang menantang saat ini. (Yetede)

Beda Nasib Investor Raup Cuan di Bisnis Perbankan

HR1 08 Nov 2023 Kontan
Tidak semua pemodal asing bisa menunaikan keinginannya meraup cuan dari bisnis perbankan di Indonesia. Sebab sejumlah bank domestik yang kepemilikan sahamnya dikuasai investor asing masih membukukan kinerja negatif di sembilan bulan pertama tahun ini 2023. Ini terutama dialami oleh bank yang mayoritas sahamnya dikempit pemodal asing asal negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang. Salah satunya Bank KB Bukopin Tbk (BBKP), yang 67% sahamnya digenggam Kookmin Bank Co Ltd, gergasi keuangan asal Korea Selatan. Pada periode sembilan bulan pertama tahun ini, Bank KB Bukopin masih dibekap kerugian sebesar Rp 3,37 triliun, naik 28,14% secara tahunan. Hasil tersebut sejalan dengan beberapa indikator keuangan bank milik investor Negeri Gingseng ini yang kompak turun. Misal, pendapatan bunga turun 36% secara tahunan jadi Rp 560 miliar. Wakil Direktur Utama Bank KB Bukopin Robby Mondong menyadari, kerugian yang terjadi saat ini adalah bagian dari tantangan perusahaan. Ini sejalan dengan proses transisi ke era digital. "Investasi dalam teknologi dan sumber daya manusia memang memerlukan komitmen jangka panjang," terang Robby, kemarin. Toh tak semua pemodal asing gigit jari. Beberapa investor dari kawasan Asia Tenggara masih menikmati cuan dari kepemilikannya di bank dalam negari. Bank CIMB Niaga Tbk yang dimiliki investor asal Malaysia, misalnya, membukukan laba Rp 4,9 triliun pada akhir September 2023. Laba bank ini naik 27,6% secara tahunan. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan memaparkan, kinerja positif bank ini tak lepas dari peran induk usaha, yaitu CIMB Group. "Terutama dengan dukungan modal yang kuat," ujar Lani, Selasa (7/11). Tak mau kalah, Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) yang juga dimiliki investor Malaysia mencatatkan kinerja positif. Per akhir September 2023, laba BNII tumbuh 17,92% secara tahunan menjadi Rp 1,25 triliun. Salah satu penopang laba adalah melejitnya pendapatan non bunga sebesar 8,33% secara tahunan jadi Rp 1,43 triliun. Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, selama ini induk usaha Maybank melihat Indonesia sebagai home country, dengan tingkat strategis setara Malaysia dan Singapura.

Taipan Menjaring Cuan Jumbo dari Perbankan

HR1 08 Nov 2023 Kontan (H)
Sinyal kenaikan suku bunga tidak berlanjut cukup kuat. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (Fed)  pada bulan ini kembali mempertahankan suku bunga. Bank Indonesia juga diprediksikan ikut menahan suku bunga, setelah mengerek naik suku bunga ke 6%. Suku bunga yang stabil, kendati masih tinggi, akan berdampak positif bagi kinerja bank. Ini akan menguntungkan investor pemegang saham emiten bank, termasuk para konglomerat pemilik bank. Berdasarkan catatan KONTAN, dari 12 bank milik konglomerat yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), 11 di antaranya telah merilis laporan kinerja keuangan untuk periode yang berakhir 30 September 2023. Dari jumlah tersebut, sembilan bank di antaranya sukses mencetak kenaikan laba dua digit. Pertumbuhan laba Bank Ina sejalan dengan laju sahamnya. Pada penutupan pasar saham Selasa (7/11), saham BINA sudah bertengger di posisi Rp 4.150 per saham, naik 4,01% sejak awal tahun. Melesatnya harga saham BINA, tentu saja, bakal mengerek nilai kepemilikan Salim di bank ini. Anthony Salim menjadi pemegang saham pengendali Bank Ina melalui PT Indolife Pensiontama dengan jumlah kepemilikan 1,4 miliar saham, setara 22,83%. Grup Salim juga mengempit saham Bank Ina lewat PT Samudera Biru dan PT Gaya Hidup Masa Kini, dengan porsi masing-masing 18,16% dan 11,84%. Salim juga menguasai saham BINA lewat fund DBS Bank, sebesar 9,67%. Dus, total kepemilikan grup Salim di Bank Ina mencapai 62,50%. Konglomerat lain yang mengalap cuan dari pertumbuhan kinerja bank adalah Hartono bersaudara, yakni Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Duo Hartono ini menjadi pemegang saham pengendali di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui entitas PT Dwimuria Investama Andaln dengan porsi 54,92%. Di bawah Hartono bersaudara, konglomerat Chairul Tanjung juga mencatat nilai kepemilikan besar di Bank Mega Tbk (MEGA). Di posisi berikutnya ada pengusaha Mu'min Ali Gunawan, pemegang pengendali Bank Panin Tbk. Senada, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani juga merekomendasi beli BBCA dengan target harga Rp 9.400. "Pertumbuhan labanya konsisten. Valuasinya masih menarik. Jadi ada potensi kenaikan lebih lanjut," kata Arjun. Sisanya Arjun merekomendasikan jual, terutama saham bank digital yang mengalami downtrend.

Diminta Diet, NIM Bank Justru Semakin Gemuk

HR1 06 Nov 2023 Kontan
Margin bunga bersih perbankan semakin menggemuk hingga kuartal III-2023. Padahal, berbagai pihak sudah mengingatkan, margin perbankan di Tanah Air sudah terlalu tinggi dan dinilai perlu sedikit diet. Sentilan ini termasuk datang dari Presiden Joko Widodo awal tahun ini. Net interest margin (NIM) tinggi dikhawatirkan membuat peran bank dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kurang optimal. Alasannya, bunga kredit yang dibebankan ke nasabah tinggi. Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NIM industri perbankan per September 2023 ada di level 4,85%. Angka ini memang sudah turun tipis dari level 4,87% pada bulan sebelumnya, tapi masih naik dari posisi Desember 2022 yang tercatat 4,71%. Di bank konvensional, pencetak NIM tertinggi bukan lagi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Posisinya digantikan Bank Danamon dengan NIM 8,2%, naik 30 bps secara tahunan. Sedangkan NIM BRI turun 20 bps ke 8,05%. Selanjutnya, Bank Mandiri mencetak NIM naik 17 bps ke level 5,59% dan BCA naik 40 bps jadi 5,5%. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, aturan ini masih dalam proses penyempurnaan dan selanjutnya akan dimintakan pendapat pihak-pihak terkait. “Nanti, OJK akan mengonsultasikan hal ini ke DPR,” ujar dia dalam keterangannya, Minggu (5/11). EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyebut, NIM BCA sudah mulai turun dari semester pertama tahun ini. NIM masih tinggi sejalan dengan peningkatan volume kredit. "Juga komposisi aktiva produktif BCA bergeser ke portofolio kredit yang memberi imbal hasil lebih tinggi," kata dia pada KONTAN, Jumat (3/11).

Dana Non-DPK Bank Melonjak

HR1 04 Nov 2023 Kontan
Perbankan di Tanah Air terus menggenjot likuiditas. Tak hanya dari dana pihak ketiga (DPK), perbankan juga mengandalkan sumber dana non-DPK untuk mempertebal likuiditasnya. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, sampai Agustus 2023, sumber dana non-DPK bank telah mencapai Rp 533,96 triliun. Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sumber dana non-DPK bank meningkat sebesar 0,16%. Menurut LPS, pertumbuhan sumber dana non DPK bank pada akhir Agustus 2023 terutama dikontribusi oleh pinjaman diterima. Kenaikannya mencapai Rp 9,33 triliun. Lalu kewajiban bank lain naik Rp 9,31 triliun secara tahunan. Data LPS selaras dengan sumber dana non DPK di sejumlah bank. Contohnya di Bank Mandiri Tbk. Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, sumber dana non-DPK bank antara lain, berasal dari instrumen wholesale funding melalui transaksi yang sifatnya bilateral, serta penerbitan surat utang. Rudi menambahkan, sampai akhir September 2023, total pendanaan Bank Mandiri yang bersumber dari non DPK mencapai Rp 91,48 triliun atau 6,84% dari total liabilitas Bank Mandiri (bank only). Sementara Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat total sumber dana dari non-DPK sebesar Rp 9,6 triliun per akhir September 2023. Jumlah ini naik sekitar 5% secara tahunan dibanding dengan periode yang sama tahun lalu. "Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat," kata Hera F Haryn, EVP Secretariat & Corporate Communication BCA. Selain bank konvensional, sejumlah bank daerah juga mencatat pertumbuhan dana non DPK. BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB), misalnya. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldy, mengklaim per september 2023, total dana non DPK tumbuh 11,6% secara tahunan. Namun, Yuddy tidak menjelaskan angka pastinya. 

Peran Bank Dorong Rendah Karbon

HR1 03 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Negara-negara Asean tengah mencatatkan kemajuan menuju dekarbonisasi, tetapi upaya regional yang terpadu diperlukan untuk mencapai kemajuan yang konsisten dan signifikan. Tujuan tersebut menjadi fokus utama dalam Asean Business and Investment Summit yang telah diadakan di Jakarta, di mana konsep “beauty of diversity” dari Asean menjadi sorotan diskusi. .Sebagai pendatang baru dalam ranah keberlanjutan, Asean dapat belajar dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China, yang menjadi acuan dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, memberdayakan keahlian, dan mempromosikan keberlanjutan secara strategis sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank berada di garis depan dalam upaya dekarbonisasi mengingat mereka memiliki kewajiban besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dalam operasional mereka. Menurut Ernst & Young (EY), meskipun sekitar setengah dari lembaga keuangan di kawasan Asean telah menetapkan target net zero pada 2050, kesenjangan yang besar masih dapat ditemukan. Beberapa bank belum mengambil tindakan nyata, alih-alih membuat komitmen eksplisit untuk menyelaraskan diri dengan Paris Agreement. Di KBank, salah satu bank terbesar di Thailand, kami memikul tanggung jawab ini dengan sepenuh hati. Sebagai Bank Keberlanjutan, kami telah membuat komitmen net zero sesuai dengan Sustainable Development Goals dari PBB. Kami menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca dari operasi kami sebesar 21% pada 2025. Kami juga berupaya secara aktif untuk mencapai target tersebut melalui sejumlah inisiatif. Sustainable financing atau pembiayaan berkelanjutan berfungsi sebagai kendaraan utama dalam transisi menuju ekonomi hijau. Hal ini membuka kesempatan bagi bisnis dari semua kalangan untuk mendapatkan modal yang diperlukan dalam memulai perjalanan keberlanjutan mereka.Pada paruh pertama 2023, KBank melakukan pembiayaan dan investasi berkelanjutan di Thailand dengan total lebih dari 19,4 miliar baht atau setara dengan Rp8,3 triliun. Pada 2030, KBank berkomitmen untuk mencapai angka 200 miliar baht atau sekitar Rp85,8 triliun.

BSI Bidik Pembiayaan Tumbuh hingga 17%

KT1 01 Nov 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) meraih kinerja positif diatas industri perankan  pada kuartal III-2023. Pembiayaan bank syariah terbesar di Indonesia ini tumbuh 15,95% secara year on year (yoy) menjadi Rp 231,68 triliun, dan diharapkan bisa tumbuh hingga 17% (yoy) di akhir tahun ini. Pertumbuhan pembiayaan BSI hampir dua kali dari kredit  industri yang hanya tumbuh 8,96% (yoy) per September 2023. Hal ini didukung oleh kinerja segmen  konsumer yang tumbuh 17,59% (yoy) menjadi Rp 16,77% (yoy) menjadi Rp66,25 triliun, dan pembiayaan kepada segmen UMKM sebesar Rp40,08 triliun atau meningkat 9,82%. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, portfolio BSI saat ini mayoritas masih berasal dari konsumer dan ritel sebesar 70% dari total portfolio. Sedangkan korporasi dijaga agar tidak lebih dari 30% terhadap total pembiayaan. (Yetede)

Pilihan Editor