;
Tags

Migas

( 497 )

Menteri ESDM Larang Pedagang Eceran Jual LPG 3 LG

KT1 03 Feb 2025 Tempo
 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mengatakan kebijakan pemerintah yang melarang penjualan LPG 3 kilogram (kg) di tingkat pengecer dan hanya bisa dilakukan di pangkalan resmi yang terdaftar di Pertamina mulai 1 Februari 2025 bertujuan untuk memastikan LPG 3 kg tidak dijual di atas harga eceran tertinggi (HET). “Karena harga sampai di pangkalan itu pemerintah bisa kontrol. Kalau harga di pangkalan itu dinaikkan, izin pangkalannya dicabut, dikasih denda, dan kami bisa tahu siapa pemainnya,” kata Bahlil dalam konferensi pers bertajuk “Capaian Sektor ESDM Tahun 2024 dan Rencana Kerja Tahun 2025” di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin, 3 Februari 2025 seperti dilansir dari Antar.

Pada kesempatan tersebut, Bahlil mengungkapkan bahwa lahirnya regulasi tersebut bermula dari laporan yang diterima oleh Kementerian ESDM terkait penyaluran LPG 3 kg (gas melon) yang tidak tepat sasaran, mengingat gas melon tersebut merupakan subsidi dari pemerintah. Selain itu, kata Bahlil, ada juga temuan terkait banyaknya pengecer yang menjual gas melon di atas HET yang ditetapkan oleh pemerintah. “Ada satu kelompok orang yang membeli LPG dengan jumlah yang tidak wajar. Ini untuk apa? Harganya juga naik. Sudah volume yang tidak wajar, harganya pun dimainkan,” ujar Bahlil. Penjualan gas melon di atas HET dinilai merugikan bagi masyarakat dan harga gas melon pun seolah-olah mengalami peningkatan. Karena itu, untuk memastikan distribusi subsidi bisa sesuai target, Kementerian ESDM kemudian mewajibkan para pengecer mendaftarkan diri menjadi pangkalan resmi. Dengan demikian, tidak ada lagi LPG 3 kg yang dijual di pengecer.

“Saya sudah meminta agar pengecer-pengecer yang sudah memenuhi syarat itu dinaikkan statusnya menjadi pangkalan. Supaya apa? Dia bisa kita kendalikan harganya. Karena kalau tidak (dikendalikan), ini bisa berpotensi penyalahgunaan,” ucap Bahlil. Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, meminta para pengecer untuk mendaftarkan diri menjadi pangkalan resmi. “Yang pengecer itu, kami jadikan pangkalan, per 1 Februari,” ucap Yuliot ketika ditemui di Jakarta, Jumat, 31 Januari 2025. Menurut Yuliot,  langkah tersebut merupakan upaya untuk mencegah harga LPG 3 kg yang lebih mahal daripada HET yang ditetapkan oleh masing-masing pemerintah daerah. Selain itu, distribusi LPG 3 kg pun menjadi lebih tercatat, sehingga pemerintah bisa mengetahui berapa kebutuhan masyarakat. (Yetede)


Kerikil Tajam Perusahaan Gas Negara

KT1 01 Feb 2025 Investor Daily (H)
Defisit suplai gas masih akan berlanjut dan menjadi kerikil tajam bagi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN di 2025. Perseroan terindikasi mengencangkan ikat pinggang dengan menciutkan target kinerja operasional. Sejumlah indikator operasional yang menunjukkan PGAS waspada dalam mengarungi kinerja  tahun buku 2025 tampak dari volume transmisi gas yang diproyeksikan turun sebesar 7% yoy menjadi 1.435 MMSCFD. Begitu juga  dengan proyeksi regasifikasi turun 15,6% yoy menjadi 168 BBTUD. Bahkan, Analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia dalam risetnya yang dipublikasikan menyebut, regasifikasi PGAS akan lebih turun lagi menjadi 1655 BBTUD akibat adanya keterbatasan  di Unit Penyimpanan dan Regaisifkasi Terapung (FSRU) Lampung. Entitas Grup Pertamina itu juga memproyeksikan lifting hulu atau produksi minyak dan gas pada 2025 mencapai 17.233 BOPED. Lagi-lagi, angka itu turun jika dibanding 2024 yang diestimasi mencapai 20,4 ribu BOPED, atau dibawah perkiraan  CGS yang sebesar 24,3 ribu BOPED. Sebab, broker efek ini sebelumnya mengestimasi lifting hulu PGAS bisa mencapai 23,1 ribu pada 2025. (Yetede)

Gas dan Rem Kebijakan Transisi Energi

KT1 31 Jan 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah saat ini memang memprioritaskan kedaulatan energi demi mengikis impor yang menyedot devisa sekitar Rp500 triliun per tahun. Akan tetapi, agenda pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dalam rangka transisi energi terus dijalankan demi mengurangi pemanasan global. Kebijakan gas dan rem ini ditempuh untuk menyikapi dinamika global sekaligus menjalankan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, di mana salah satunya adalah kedaulatan energi. Ini penting, mengingat pada akhir 2024, impor minyak mencapai 1 juta barel per hari (bph) dari total kebutuhan domestik 1,6 juta bph. Sementara itu, impor gas LPG berkisar 6-7 juta ton per tahun. Selain itu, pengembangan EBT membutuhkan dana jauh lebih besar ketimbang energi fosil, baik dalam rangka membangun pembangkit listrik hingga mempensiunkan PLTU batu bara. Ironisnya, sampai saat ini, belum satupun pinjaman dari lembaga donor yang cair. Akibatnya, pembiayaan penutupan PLTU saat ini hanya bisa diperoleh dari APBN atau PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menarik utang baru yang bisa membebani neraca keuangan, karena APBN tidak bisa dilakukan, karena APBN memiliki banyak prioritas lainnya. (Yetede)

Indonesia Antisipasi Ketidakpastian Geopolitik Global

KT1 30 Jan 2025 Investor Daily (H)
Kebijakan pemerintah mengalihkan ekspor minyak mentah bagian negara untuk diproses dalam negeri, dinilai sebagai upaya dalam mengantisipasi ketidakpastian geopolitik global. Sekitar 12-13 juta barel ditargetkan dapat dioptimalisasikan untuk menambah pasokan kilang minyak dalam negeri. "Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap ketidakpastian harga impor, sebab adanya ketidakpastian geopolitik," kata Ekonom Energi dari Uiversitas Padjadjaran Yayan Satyakti. Yayan menyoroti presien AS Trump yang ingin menurunkan harga minyak sehingga US$ 74 per barel. Keinginan tersebut menimbulkan kekhawatiran soal harga jual minyak mentah dalam negeri yang diekspor ke negara lain. "Daripada dijual harga murah, lebih baik digunakan sendiri, seiring dengan produksi lifting minyak mentah Indonesia yang semakin menurun," ujar Yayan. Tetapi, Yayan menyarankan kepada pemerintah untuk menghitung ulang dampak dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) apabila Indonesia berhenti mengekspor minyak mentaj. Ia menyampaikan, selama ini kemampuan suplai minyak mentah Indonesia hanya 40% dari 60% sisanya berasal dari impor. (Yetede)

PT Perusahaan Gas Negara Tbk Gas Pertamina resmi bekerja sama dengan BUMD Papua Barat

KT1 10 Jan 2025 Tempo
 PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina resmi bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Papua Barat. Kerja sama ini untuk memanfaatkan alokasi Liquefied Natural Gas milik PT Padoma Lirik Energy (PLE). Direktur Komersial PGN Ratih Esti Prihatini mengatakan perusahaannya akan memanfaatkan alokasi LNG ini dari Kilang BP Tangguh. “Tentunya juga menjadi wujud upaya keberlanjutan PGN yang secara aktif mencari sumber pasokan alternatif pasokan dari gas regasifikasi di tengah tantangan kondisi pasokan gas pipa,” kata Ratih dalam keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia, dikutip Jumat, 10 Januari 2025. 

Volume LNG yang akan dimanfaatkan ini untuk memenuhi kebutuhan PGN sebesar ± 20 MMSCFD atau setara dengan 2 kargo per tahun dari Kilang BP Tangguh, Papua Barat. Kerja sama PGN dengan BUMD Papua Barat ini diklaim untuk memastikan alokasi LNG dapat dimanfaatkan dengan optimal dengan tetap mematuhi ketentuan pemerintah yang berlaku. PGN: Jargas Bantu Substitusi Ompor LPG Nonsubsidi 83,5 Juta Kilogram “Inisiatif kerja sama ini dalam rangka pemanfaatan alokasi gas yang telah ditetapkan oleh Kementerian ESDM. Semoga prosesnya berjalan dengan baik dan memberikan manfaat semua pihak,” ujar Erix Ayatanoi mewakili Gubernur Papua Barat. 

Sementara itu, Direktur Utama PLT T. Heriwansyah mengatakan pemanfaatakan alokasi LNG Tangguh ini akan menjawab ketersediaan pasokan gas pipa di beberapa wilayah strategis. Dia menyebut PGN akan berkoordinasi dengan para stakeholder untuk mendapatkan ketahanan dan swasembada energi seiring permintaan gas juga meningkat. KPK Tetapkan Dua Tersangka Kasus Jual Beli Gas PT PGN, Bagaimana Modusnya? “Pemanfaatan alokasi LNG oleh PGN ini merupakan harapan kami. Setelah ini kami akan melanjutkan koordinasi dengan pemerintah,” kata dia. (Yetede)

Wamen ESDM Pantau Satgas Nataru Pertamina di Medan Agar Tidak Ada Kelangkaan

KT1 24 Dec 2024 Tempo
Memasuki libur Natal dan Tahun Baru 2025 atau Nataru, Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot memantau langsung kesiapan Satuan Tugas Nataru Pertamina di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) Agung Sarana Terminal, Fuel Terminal Medan Group, dan SPBU Pertamina 11.201.101 di Kota Medan. Yuliot didampingi Kepala BPH Migas Erika Retnowati, Direktur Manajemen Risiko Subholding Commercial dan Trading PT Pertamina Patra Niaga Rahman Pramono Wibowo, dan Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sembagut) Freddy Anwar.

"Kami dari posko nasional Kementerian ESDM melakukan pengecekan lapangan terhadap ketersediaan BBM dan LPG dalam rangka Nataru. Distribusi baik sehingga ketersediaan BBM dan LPG relatif aman,” katanya, Senin, 23 Desember 2024. Kementerian ESDM Evaluasi Perpanjangan Izin Usaha Pertambangan: Bisa Diberikan, Bisa Tidak Menurut Yuliot, Nataru kali ini diprediksi permintaan BBM dan LPG akan meningkat khususnya di wilayah Medan dan Sumatra Utara. Jaminan ketersediaan energi telah disiapkan Pertamina dengan penguatan stok serta memastikan seluruh proses distribusi berjalan lancar.

Kami tambah stok BBM di seluruh stasiun pengisian karena ada penambahan permintaan rata-rata 5 persen dari suplai normal sehingga tidak akan ada kelangkaan," ujar Yuliot. Kementerian ESDM Perbarui Skema Investasi Hulu Migas: Untuk Memberikan Kemudahan Manfaat bagi Kontraktor Rahman menambahkan, Pertamina Patra Niaga juga menyiapkan layanan khusus untuk menjamin kelancaran distribusi energi di Sumbagut dengan mengoperasikan 287 SPBU Siaga di jalur strategis, 7 titik Modular Kiosk Pertamina Siaga serta 45 unit mobil tangki stand-by di titik-titik pusat keramaian. "Juga 32 unit motorist yang siap melayani pengantaran BBM ke lokasi saat kondisi emergency," katanya. (Yetede)


Bahlil Usulkan Kepada Menkeu Kegiatan Ekplorasi Migas Bebas PPN

KT1 20 Dec 2024 Investor Daily (H)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadahlia akan mengusulkan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar kegiatan eksplorasi migas dibebaskan dari PPN. Hal ini dilakukan untuk menarik  minat investor untuk berinvestasi di dalam negeri. "Ini saya negosiasikan dengan menteri keuangan. Kalau pada saat masa eksplorasi, PPN jangan dikenakan dulu. Orang judi kok, eksplorasi itu judi. Satu sumur itu bisa mengeluarkan kocek US$ 100 juta, ini belum tentu ada. Kalau langsung kita kenakan PPN, artinya menjadi US$ 110 juta  hingga US$ 112 juta. Ini orang belum tentu ada barang. Larilah orang," kata Bahlil. Menurut Bahlil, regulasi tersebut membuat banyak investor asing  memilih hengkang. Oleh karenannya, dia menciptakan terobosan agar saat investor masuk menyatakan minat, mereka langsung mengucurkan dan mengimplementasikan investasi. (Yetede)

Presiden dorong Pengusaha Jepang Lanjutkan Blok Masela

KT3 06 Dec 2024 Kompas

Presiden Prabowo menerima kunjungan 20 delegasi Japan-Indonesia Association atau Japinda di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/12). Pertemuan membahas berbagai inisiatif kerja sama, termasuk investasi, irigasi, pengelolaan lahan, dan proyek energi strategis, di antaranya kelanjutan proyek Great Giant Sea Wall dan Blok Masela. Pembangunan proyek Tanggul Laut Raksasa atau Great Giant Sea Wall yang digagas pertama kali oleh Pemerintah DKI Jakarta di bawah kepemimpinan mantan Gubernur Fauzi Bowo pada 2007 hingga kini belum terwujud. Adapun Blok Masela di Maluku yang diteken pada 1998 dan dipegang oleh Inpex, perusahaan asal Jepang, kini juga Pertamina dan Petronas sebagai operator blok gas tersebut. Namun, hingga kini proyek belum berproduksi sejak Presiden Jokowi pada Maret 2016 memutuskan lokasi eksplorasi dilakukan di darat (on shore), bukan di laut (off shore).

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani ketika memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, menyatakan, Presiden mendorong keterlibatan perusahaan Jepang dalam proyek Great Giant Sea Wall, sebuah inisiatif besar untuk melindungi Jakarta dari banjir dengan panjang hingga 600 kilometer dan kelanjutan proyek Blok Masela. ”Diharapkan partisipasi perusahaan-perusahaan Jepang ini karena mereka juga perusahaan construction-nya juga kita harapkan bisa berpartisipasi,” ucap Rosan. Rosan yang mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa diskusi berjalan produktif. Bahkan, Presiden Prabowo mengapresiasi kontribusi jangka panjang perusahaan Jepang di Indonesia. Rosan juga menjelaskan, salah satu topik utama pertemuan tersebut adalah kelanjutan proyek Blok Masela, yang telah direncanakan sejak tahun 2000. Japinda menyampaikan harapan agar proyek tersebut dapat berjalan tahun depan dan selesai beberapa tahun ke depan. (Yoga)


Efisiensi Distribusi Jadi Andalan Pertumbuhan

HR1 03 Dec 2024 Kontan
Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diperkirakan akan didorong oleh peningkatan impor liquefied natural gas (LNG) untuk mengimbangi penurunan produksi gas pipa domestik. PGAS berencana mengimpor sekitar 40-50 kargo LNG pada 2025, yang akan berkontribusi pada defisit perdagangan gas yang diperkirakan mencapai US$ 2 miliar. Peningkatan biaya distribusi LNG ini memungkinkan PGAS mengenakan biaya yang lebih tinggi, meskipun ada potensi risiko intervensi pemerintah.

Ryan Winipta, analis Indo Premier Sekuritas, menyoroti potensi pendapatan dan volume distribusi yang kuat dari PGAS, berkat tambahan kargo LNG pada kuartal IV-2024, yang dapat mengimbangi penurunan dari gas pipa. Namun, risiko tetap ada pada penurunan pendapatan dari bisnis transmisi dan Saka Energi.

Rizal Rafly, analis Panin Sekuritas, mengungkapkan bahwa PGAS juga berperan dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan mendukung transisi energi menuju target net zero emission 2060. Analis memberikan rekomendasi berbeda untuk PGAS, dengan Arnanto Januri dari JP Morgan Sekuritas mempertahankan peringkat netral dan target harga Rp 1.370 per saham, Ryan menyarankan hold dengan target harga Rp 1.500 per saham, sementara Rizal Rafly merekomendasikan beli dengan target harga Rp 1.900 per saham.

Kisah Shell Menambang Minyak Bumi Sejak

KT1 30 Nov 2024 Tempo
Perusahaan minyak dan gas Shell Indonesia membantah bakal menutup seluruh unit stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia. "Shell Indonesia menginformasikan bahwa informasi yang beredar terkait rencana Shell untuk menutup seluruh SPBU di Indonesia adalah tidak benar," kata Vice President Corporate Relations Shell Indonesia Susi Hutapea, pada Minggu, 24 November 2024, seperti dikutip dari Antara. Sebelumnya berkembang isu soal Shell bakal menutup SPBU di Indonesia karena kondisi bisnis penyaluran retail bahan bakar minyak di Tanah Air. Ramai isu tersebut beredar sejak Sabtu pekan lalu, 23 November 2024. Lantas, bagaimana sejarah terbentuknya SPBU Shell di Indonesia?

Dikutip dari Antara, PT Shell Indonesia telah memiliki 209 SPBU per April 2023. SPBU tersebut tersebar di lima provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Kemudian terbagi di kota lapis kedua seperti Cirebon, Jawa Timur, Karawang, Bogor, Cilegon, Serang Barat, Blitar, Mojokerto, Pare (Kediri), dan Lamongan. Shell pertama kali memulai bisnis SPBU di Indonesia di Karawaci, Tangerang pada 2005. Sebelum itu, pemerintah membuka swasta non-Pertamina untuk bisnis BBM. Peluang ini disambut Shell, Petronas dan Total. Namun Petronas Malaysia tutup tujuh tahun kemudian. Sedangkan Total yang juga membuka gerainya pada 2005 bertahan sampai 2021.

Setelah Petronas dan total hengkang dari Indonesia, Vivo, BP-AKR, Mobil dan PERTAMINA membuka SPBU di kesempatan ini. Vivo sendiri membuka usaha BBM pada 2017, dan Mobil mulai buka pada 2019, sedangkan BP-AKR pada 2020. Perusahaan BBM swasta umumnya menjual bensin dengan oktan 2 ke atas, kecuali Vivo yang menjual bensin setara Pertalite namun tidak disubsidi pemerintah. Pada 2006, Shell memulai usaha bahan bakar komersial, kelautan, dan bitumen di Indonesia. Mereka menyediakan produk oli dan bantuan teknis terkait kepada sektor industri, transportasi, dan pertambangan. Shell kemudian mendirikan pabrik pencampuran oli pelumas terbesarnya atau Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) Shell di Marunda, Bekasi pada 2015. (Yetede)