Migas
( 498 )Di Tingkat Bawah Penyaluran gas bersubsidi 3 kg Mendesak Dibenahi
Terhitung per 1 Februari 2025, pemerintah memberlakukan
pembelian elpiji bersubsidi 3 kilogram tidak lagi dapat dilakukan ditingkat
pengecer, tetapi hanya bisa dilakukan di pangkalan resmi Pertamina. Aturan ini
berimbas pada sulitnya warga di berbagai daerah untuk mendapat gas bersubsidi.
Salah satunya dialami Aan Sanewi (47),
warga Tanah Abang, Jakarta Pusat. Beberapa hari terakhir ia kesulitan
mendapatkan elpiji 3 kg karena stok di pengecer terbatas. Selama ini ia mudah
mendapatkan elpiji 3 kg di warung seharga Rp 25.000 per tabung ataupun Rp
28.000 di pengecer keliling. Ia tidak mempersoalkan harga yang jauh dari harga
resmi, yakni Rp 12.750 per tabung, sepanjang mudah mendapatkannya. Sejak
kebijakan baru diberlakukan, ia harus keliling ke sejumlah warung untuk
membelinya. ”Kadang dapat satu, kadang enggak kebagian,” ucap Aan, Senin
(3/2/2025).
Di sejumlah daerah, warga bahkan harus mengantre panjang di
pangkalan untuk membeli elpiji 3 kg. Bahkan, seorang warga diduga kelelahan hingga
meninggal setelah mengantre untuk membeli elpiji 3 kg. Yonih (62), warga
Pamulang Barat, Tangerang Selatan, Banten, meninggal sepulang membeli elpiji,
Senin siang. Rohaya (51), adik Yonih, menuturkan, sang kakak pingsan sepulang
mengantre untuk membeli dua elpiji. Tak lama berselang, Yonih meninggal.
”Sampai rumah langsung pingsan. Dia tidak ada riwayat penyakit,” ujar Rohaya.
Sementara itu, kebijakan larangan penjualan elpiji 3 kg di tingkat pengecer
menuai kekhawatiran warga di pelosok Lampung. Mereka khawatir kebijakan
tersebut bakal menyulitkan mereka untuk bisa mendapatkan gas bersubsidi. Darman
(51), warga Pekon Sukadana, Kecamatan Pulau Pisang, Kabupaten Pesisir Barat,
Lampung, menuturkan, selama ini warga di pulau kecil itu mengandalkan warung-warung
untuk mendapatkan elpiji 3 kg.
Harga elpiji di Pulau Pisang berkisar Rp 28.000-Rp 30.000
per tabung.Harga itu lebih tinggi dari harga eceran tertinggi elpiji 3 kg di
Lampung sebesar Rp 20.000 per tabung. Namun, tidak setiap saat warga Pulau
Pisang bisa mendapat gas subsidi itu dengan mudah. ”Kalau angin kencang, elpiji
sulit didapat karena kapal tidak bisa menyeberang dari Krui, Pesisir Barat, ke
Pulau Pisang untuk memasok elpiji,” kata Darman, dihubungi dari Bandar Lampung.
Efek sementara Terkait kondisi warga kesulitan mendapat elpiji 3 kg, Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan, hal itu dampak
sementara dari upaya perbaikan distribusi gas bersubsidi agar lebih tepat
sasaran. ”Mohon kasih kami waktu sedikit saja, akan kami selesaikan ini.
Barangnya (elpiji 3 kg) tidak langka, saya jamin itu,” ujarnya. (Yoga)
Menteri ESDM Larang Pedagang Eceran Jual LPG 3 LG
Kerikil Tajam Perusahaan Gas Negara
Gas dan Rem Kebijakan Transisi Energi
Indonesia Antisipasi Ketidakpastian Geopolitik Global
PT Perusahaan Gas Negara Tbk Gas Pertamina resmi bekerja sama dengan BUMD Papua Barat
Wamen ESDM Pantau Satgas Nataru Pertamina di Medan Agar Tidak Ada Kelangkaan
Bahlil Usulkan Kepada Menkeu Kegiatan Ekplorasi Migas Bebas PPN
Presiden dorong Pengusaha Jepang Lanjutkan Blok Masela
Presiden Prabowo menerima kunjungan 20 delegasi Japan-Indonesia Association atau Japinda di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/12). Pertemuan membahas berbagai inisiatif kerja sama, termasuk investasi, irigasi, pengelolaan lahan, dan proyek energi strategis, di antaranya kelanjutan proyek Great Giant Sea Wall dan Blok Masela. Pembangunan proyek Tanggul Laut Raksasa atau Great Giant Sea Wall yang digagas pertama kali oleh Pemerintah DKI Jakarta di bawah kepemimpinan mantan Gubernur Fauzi Bowo pada 2007 hingga kini belum terwujud. Adapun Blok Masela di Maluku yang diteken pada 1998 dan dipegang oleh Inpex, perusahaan asal Jepang, kini juga Pertamina dan Petronas sebagai operator blok gas tersebut. Namun, hingga kini proyek belum berproduksi sejak Presiden Jokowi pada Maret 2016 memutuskan lokasi eksplorasi dilakukan di darat (on shore), bukan di laut (off shore).
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani ketika memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, menyatakan, Presiden mendorong keterlibatan perusahaan Jepang dalam proyek Great Giant Sea Wall, sebuah inisiatif besar untuk melindungi Jakarta dari banjir dengan panjang hingga 600 kilometer dan kelanjutan proyek Blok Masela. ”Diharapkan partisipasi perusahaan-perusahaan Jepang ini karena mereka juga perusahaan construction-nya juga kita harapkan bisa berpartisipasi,” ucap Rosan. Rosan yang mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa diskusi berjalan produktif. Bahkan, Presiden Prabowo mengapresiasi kontribusi jangka panjang perusahaan Jepang di Indonesia. Rosan juga menjelaskan, salah satu topik utama pertemuan tersebut adalah kelanjutan proyek Blok Masela, yang telah direncanakan sejak tahun 2000. Japinda menyampaikan harapan agar proyek tersebut dapat berjalan tahun depan dan selesai beberapa tahun ke depan. (Yoga)
Efisiensi Distribusi Jadi Andalan Pertumbuhan
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









