Kerjasama Ekonomi
( 335 )Indonesia Mendukung Reformasi Kembali Serukan Reformasi WTO
KUNJUNGAN KERJA Presiden Siap Hadiri KTT G20 Brasil
Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Republik Indonesia, bersiap untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang berlangsung pada 18-19 November 2024 di Rio de Janeiro, Brasil. Prabowo tiba bersama rombongan di Pangkalan Militer Angkatan Udara Galeão pada 16 November dan disambut oleh sejumlah pejabat Brasil, termasuk Duta Besar Brasil untuk Indonesia, George Monteiro Prata. Setelah itu, Prabowo dan rombongan menuju Hotel Hilton Rio de Janeiro, di mana ia juga disambut oleh sejumlah pejabat Indonesia, termasuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Kepala BIN Muhammad Herindra. Di hotel, Prabowo disambut hangat oleh diaspora Indonesia yang tinggal di Brasil. KTT G20 dihadiri oleh delegasi dari 21 negara anggota G20 serta sejumlah negara non-anggota yang diundang, mencakup negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, India, Rusia, dan negara-negara lainnya, dengan Brasil sebagai tuan rumah acara tersebut.
INDONESIA-CHINA Menggarap Peluang Besar Industri Halal
Hubungan ekonomi Indonesia-China terjalin dalam berbagai sektor. Masih banyak peluang memperluas hubungan itu, termasuk pada pasar dan industri halal. Upaya perluasan antara lain lewat pameran dan pertemuan bisnis produk pangan di Jakarta, 11-15 November 2024. Lembaga Indonesia Tiongkok (LIT) menjadi tuan rumah forum yang dihadiri perwakilan 175 perusahaan RI-China itu. Ketua LIT sekaligus mantan Dubes RI di Beijing, Sudrajat, menyebut forum itu bagian dari pengenalan pasar halal di kedua negara. Dari Indonesia, dihadirkan pembicara yang membahas soal sertifikasi jaminan halal.
Selain itu, ada juga perwakilan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI. ”Tahun 2023, ekspor produk pangan Indonesia 46 miliar USD, mencakup 34 %i PDB Republik Indonesia. Peluang semakin besar untuk meningkatkan produksi dan ekspor pangan jika bekerja sama dengan China yang memiliki skala bisnis jauh lebih besar dari kita. Intinya adalah maju bersama demi masa depan kita yang merupakan dua negara besar di Asia Pasifik,” kata Sudrajat dalam seminar di pertemuan itu. Angka 46 miliar USD baru 2 % dari nilai pasar produk pangan halal dunia.
Padahal, Indonesia adalah negeri subur yang dapat melakukan produksi sepanjang tahun. Berbeda dengan negara-negara empat musim yang tak bisa menghasilkan pangan sepanjang tahun. Pertumbuhan pasar makanan halal terus melonjak. Nilainya 1,4 triliun USD pada 2017. Setelah itu naik berturut-turut pada 2018, 2019, dan 2020 menjadi 1,6 triliun USD, 1,7 triliun USD dan 1,9 triliun USD. Sudrajat mengingatkan, kehalalan produk menjadi hal utama bagi pasar Indonesia. Karena itu, pemahaman soal produk halal atau Qing Zhen dibahas secara khusus. (Yoga)
Kunjungan Prabowo ke China: Emiten Jalin Kerja Sama Strategis
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke China membuahkan sejumlah kesepakatan strategis di berbagai sektor antara perusahaan Indonesia dan mitra internasional, yang mencerminkan visi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan transformasi digital di Indonesia.
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjalin kerja sama dengan GEM Co., Ltd. untuk membangun smelter berbasis teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) senilai US$1,4 miliar. Smelter ini akan memproduksi nikel ramah lingkungan dengan kapasitas 60.000 ton MHP per tahun dan mencakup investasi pada pusat penelitian, ESG, serta pembangunan masyarakat. CEO INCO, Febriany Eddy, menegaskan bahwa proyek ini akan menjadi model global untuk pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.
GoTo Group menggandeng Tencent Cloud dan Alibaba Cloud untuk memperkuat infrastruktur komputasi awan dan pengembangan talenta digital. Direktur Utama GoTo, Patrick Walujo, menyatakan kemitraan ini akan mendukung ekonomi digital dan kedaulatan data nasional. Tencent Cloud berkomitmen membangun pusat data baru di Indonesia dengan investasi US$500 juta hingga 2030, sedangkan Alibaba Cloud akan menggandakan pelatihan talenta digital hingga 800.000 individu pada 2033.
PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) bersama Envision Energy International Ltd. merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan kapasitas total 200 MW. Proyek ini mendukung pengembangan energi hijau di wilayah timur Indonesia, sejalan dengan program pemerintah untuk menarik lebih banyak investasi asing pada energi berkelanjutan.
Kesepakatan ini, yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Forum Bisnis Indonesia-China, menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong investasi hijau, transformasi digital, dan kemandirian energi guna memperkuat daya saing nasional di kancah global.
Penandatanganan Kerja Sama Pengusaha RI-China Rp 157,6 Triliun
Penguatan kerja sama RI-China setelah pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden China, Xi Jinping diikuti penandatanganan kerja sama perdagangan antarpengusaha kedua negara dengan nilai investasi 10,07 miliar USD atau Rp 157,64 triliun. Kerja sama dipastikan tidak mengubah sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Di tengah rivalitas China dengan AS, Indonesia berkomitmen untuk tidak berpihak kepada semua kekuatan di dunia. Memasuki hari ketiga kunjungan kenegaraan perdananya setelah dilantik, Prabowo menghadiri forum bisnis Indonesia-China yang diselenggarakan di Hotel Peninsula, Beijing, China, Minggu (10/11). Forum yang mempertemukan pengusaha dari Kadin Indonesia dan para pengusaha China itu dihadiri pengusaha Indonesia, Tomy Winata dan Garibaldi Thohir.
Di hadapan Prabowo, para pengusaha menyepakati sejumlah perjanjian kerja sama yang sejalan dengan program prioritas pemerintah di bidang ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi 26 komoditas utama, serta pemajuan sains dan teknologi. Kerja sama tersebut, kata Garibaldi Thohir, yang menjabat Ketua Kadin Komite Tiongkok, bernilai investasi 10,07 miliar USD. Dalam sambutannya, Prabowo mengatakan, Indonesia memandang China bukan hanya sebagai negara adikuasa, melainkan juga berperadaban besar. Indonesia pun ingin menjadi bagian dari kebangkitan China sebagai kekuatan besar dunia, salah satunya dengan cara berkolaborasi dengan para pengusaha. (Yoga)
Indonesia dan China Menandatangani Komitmen Kerja Sama Senilai Total US$ 10,07 Miliar
Ambisi Iklim Pemerintahan Prabowo dalam COP29 Azerbaijan Kelanjutan atau Gebrakan Baru
Ini penting agar negara-negara dapat memangkas emisi karbon sebesar 43 persen pada 2030 dibanding jumlah emisi pada 2019 sebagai patokan. Namun, alih-alih berkurang, emisi Indonesia kemungkinan besar akan terus meningkat karena penggunaan batu bara yang masih dominan pada pembangkit listrik. Menurut data Dewan Energi Nasional, bauran energi nasional 2023 masih didominasi oleh batu bara, yaitu sebesar 40,46 persen; diikuti oleh minyak bumi (30,18 persen); gas bumi (16,28 persen); dan energi baru terbarukan (13,09 persen). Batu bara juga masih mendominasi pasokan bahan bakar untuk pembangkit listrik, yaitu sebesar 67 persen Menuju COP 29, Presidensi Azerbaijan menyiapkan tiga kerangka aksi yang perlu diperhatikan oleh negara-negara anggota. Pertama, prioritas utama yang tidak bisa ditawar lagi, yakni mencegah pemanasan bumi tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius pada 2030 dengan mengurangi emisi secara mendalam, cepat, dan berkelanjutan. (Yetede)
UEA Jadi Target Besar Bagi Investor Migas
Pentingnya kolaborasi antara pemerintah Indonesia, melalui SKK Migas, dengan perusahaan migas kelas dunia untuk mengoptimalkan potensi sumber daya migas di Indonesia. Dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan energi nasional yang diperkirakan akan mencapai 1.012 juta ton setara minyak (MTOE) pada 2025, dengan 43,5% di antaranya harus dipenuhi oleh migas, kerja sama global dianggap krusial. Hudi Suryodipuro, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, menegaskan bahwa kemitraan internasional dapat mempercepat penemuan cadangan baru, transfer teknologi, serta mendukung inovasi dan pengembangan kapasitas nasional.
Selain itu, Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas, mengungkapkan bahwa masih terdapat potensi besar di sektor hulu migas Indonesia yang dapat dikembangkan, termasuk 301 struktur yang memiliki potensi sekitar 1,8 miliar barel minyak dan 13,4 triliun kaki kubik gas, serta potensi peningkatan produksi melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan waterflood. Pembaruan regulasi kontrak bagi hasil juga bertujuan untuk menarik lebih banyak investasi dengan memberikan kepastian bagi hasil yang lebih menguntungkan bagi kontraktor.
Di sisi lain, perusahaan seperti Medco E&P dan Pertamina Hulu Energi terus berfokus pada pengembangan potensi migas di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi canggih untuk meningkatkan produksi dan efisiensi. PT Pertamina Hulu Energi, misalnya, berhasil mencatatkan produksi sebesar 1,04 juta barel setara minyak per hari pada 2024, berkat penerapan teknologi seperti multi-stage fracturing dan artificial intelligence. Mubadala Energy juga menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan Blok South Andaman dengan rencana eksplorasi yang matang dan pengembangan pada tahun 2028.
Kesimpulannya, sektor hulu migas Indonesia memiliki potensi besar yang dapat dimaksimalkan melalui kemitraan strategis dengan perusahaan internasional, penerapan teknologi modern, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan kepentingan antara pemerintah dan kontraktor. Semua upaya ini diharapkan dapat memastikan ketahanan energi nasional di masa depan.
Kerja Sama BRICS: Menghitung Dampak bagi Indonesia
Debat hangat di Indonesia mengenai keinginan bergabung dengan organisasi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) sementara juga memproses aksesi ke OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Tokoh-tokoh seperti Ahmad Khoirul Umam dari Paramadina Public Policy Institute dan ekonom Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa bergabung dengan BRICS dapat menimbulkan ketegangan dengan negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat. Namun, mereka juga menekankan potensi keuntungan ekonomi dan dukungan pendanaan infrastruktur yang bisa diperoleh dari BRICS.
BRICS menawarkan alternatif bagi negara berkembang dengan pendekatan yang lebih fleksibel dalam pendanaan, sementara OECD memberikan jaringan stabil untuk perdagangan dan investasi dengan standar yang ketat. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa proses aksesi ke OECD tetap berjalan meskipun Indonesia mempertimbangkan keanggotaan BRICS, menunjukkan bahwa Indonesia berkomitmen pada diplomasi nonblok dan keseimbangan antara kedua aliansi ini.
Dengan tantangan dan peluang yang ada, keputusan Indonesia untuk memilih atau menyeimbangkan antara BRICS dan OECD menjadi sangat strategis dan harus mempertimbangkan hubungan diplomatik serta kepentingan ekonomi jangka panjang.
Menakar Baik Buruknya Masuk BRICS
PRESIDEN Prabowo Subianto mesti ekstra hati-hati sebelum memutuskan bergabung menjadi bagian BRICS, aliansi ekonomi yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, dan Cina. Ibarat pisau bermata dua, keanggotaan Indonesia di organisasi kerja sama ekonomi global itu bisa memiliki dampak positif sekaligus negatif. Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan keinginan Indonesia bergabung dengan BRICS saat hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS Plus di Kazan, Rusia, pada 24 Oktober 2024. Menurut dia, keputusan tersebut merupakan implementasi politik luar negeri yang bebas-aktif. BRIC didirikan oleh Brasil, Rusia, India, dan Cina pada 2009. Nama BRIC berasal dari huruf depan tiap negara tersebut. Organisasi ini memfokuskan perhatian pada peluang investasi di antara negara-negara anggotanya. Pada 2011, Afrika Selatan ikut bergabung sehingga nama organisasi ini berubah menjadi BRICS. Pada Januari 2024, sejumlah negara, seperti Iran, Mesir, Etiopia, dan Uni Emirat Arab, bergabung menjadi anggota BRICS.
Prabowo yakin keanggotaan Indonesia dalam BRICS bisa memperluas kemitraan global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Argumentasi ini di satu sisi masuk akal. Secara keseluruhan, negara-negara anggota BRICS mencakup sekitar 30 persen dari luas daratan dunia dan 43 persen populasi global. Afrika Selatan memiliki ekonomi terbesar di Afrika, sementara Brasil, India, dan Cina termasuk di antara sepuluh negara teratas dunia dalam hal populasi, luas wilayah, serta produk domestik bruto nominal. Negara-negara anggota BRICS sudah lama menjadi tujuan ekspor Indonesia. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang mengurangi tarif dan hambatan nontarif bagi produk ekspornya. Pun Indonesia dapat mengurangi dampak volatilitas dolar Amerika Serikat dengan memanfaatkan penggunaan mata uang bilateral BRICS dalam perdagangan. Di sisi investasi juga menggiurkan. Negara-negara anggota BRICS berkontribusi sebesar US$ 9,25 miliar atau sekitar 21,2 persen dari total penanaman modal asing di Indonesia. Wajar Presiden Prabowo tergiur memasukkan Indonesia menjadi anggota BRICS dengan harapan bisa meningkatkan pasar ekspor sekaligus menarik investor. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









