;
Tags

Kebijakan

( 1341 )

Penerimaan Pajak Diburu di Tengah Ekonomi Stagnan

HR1 26 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp2.189,3 triliun pada 2025 berdasarkan UU APBN 2025, namun realisasi hingga Februari menunjukkan capaian baru Rp187,8 triliun, menurun drastis dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tantangan serius dalam mencapai target ambisius tersebut, terutama karena stagnasi ekonomi dan lemahnya konsumsi rumah tangga serta ketergantungan pada ekspor komoditas mentah yang bernilai tambah rendah.

Sri Mulyani Indrawati, sebagai Menteri Keuangan, menjadi tokoh sentral dalam kebijakan fiskal ini, dengan data Kemenkeu menunjukkan penurunan tajam pada penerimaan PPh Badan akibat harga komoditas global yang melemah. Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang masih didominasi sektor informal—sebagaimana disoroti oleh Bank Dunia dan BPS—membuat tax ratio Indonesia tetap rendah, yakni sekitar 10%.

Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah perlu melakukan reformasi kebijakan, antara lain dengan mendorong hilirisasi industri, mempercepat formalisasi sektor informal melalui digitalisasi sistem perpajakan, dan memperkuat daya beli masyarakat agar optimalisasi penerimaan PPN dapat tercapai. Namun, keberhasilan tersebut tidak bisa dicapai hanya oleh pemerintah, melainkan memerlukan kolaborasi erat dengan dunia usaha dan masyarakat untuk memperluas basis pajak dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Proyeksi Ekonomi RI Dipangkas Bank Dunia

HR1 26 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Bank Dunia dan IMF sama-sama memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi 4,7%, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%. Penurunan ini dipicu oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan global dan penurunan harga komoditas yang melemahkan daya saing ekspor dan mengurangi kepercayaan investor.

Dalam laporan Macro Poverty Outlook, Bank Dunia juga menyoroti bahwa konsumsi swasta tetap akan menjadi penopang pertumbuhan, meskipun terbatas oleh kurangnya penciptaan lapangan kerja berkualitas. Namun, stimulus fiskal dan reformasi struktural yang dirancang pemerintah, termasuk pembentukan lembaga investasi seperti Danantara, diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan dan mengurangi tingkat kemiskinan hingga 11,5% pada 2027.

Pierre-Olivier Gourinchas, Direktur Departemen Riset IMF, menegaskan bahwa ketegangan perdagangan global—terutama akibat tarif resiprokal yang diimplementasikan Presiden Trump—akan menghambat laju perdagangan internasional, yang diperkirakan turun drastis dari 3,8% menjadi 1,7% tahun ini. Kondisi ini mendorong perusahaan menunda investasi dan lembaga keuangan lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman, sehingga berdampak langsung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia.

DPR Panggil Dirjen Pajak Terkait Kinerja Fiskal

HR1 26 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyampaikan rencana pemanggilan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan untuk membahas merosotnya penerimaan negara dan perkembangan sistem administrasi perpajakan Coretax. Hal ini menyusul penurunan tajam penerimaan pajak pada triwulan I 2025 yang hanya mencapai Rp322,6 triliun, turun 18,1% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Komisi XI menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik kelemahan dalam penerimaan negara, termasuk dari sisi pajak, kepabeanan, dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Sebelumnya, Komisi XI dan DJP juga telah sepakat untuk menunda implementasi penuh sistem Coretax karena masih terdapat berbagai kendala teknis yang perlu diselesaikan. Pemanggilan lanjutan ini bertujuan untuk memperoleh kejelasan dan langkah strategis agar kinerja fiskal kembali optimal.

DPR Panggil Dirjen Pajak Terkait Kinerja Fiskal

HR1 26 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyampaikan rencana pemanggilan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan untuk membahas merosotnya penerimaan negara dan perkembangan sistem administrasi perpajakan Coretax. Hal ini menyusul penurunan tajam penerimaan pajak pada triwulan I 2025 yang hanya mencapai Rp322,6 triliun, turun 18,1% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Komisi XI menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik kelemahan dalam penerimaan negara, termasuk dari sisi pajak, kepabeanan, dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Sebelumnya, Komisi XI dan DJP juga telah sepakat untuk menunda implementasi penuh sistem Coretax karena masih terdapat berbagai kendala teknis yang perlu diselesaikan. Pemanggilan lanjutan ini bertujuan untuk memperoleh kejelasan dan langkah strategis agar kinerja fiskal kembali optimal.

Konsolidasi Perdagangan Jadi Andalan Ekspor

HR1 26 Apr 2025 Bisnis Indonesia (H)
Tim negosiasi Indonesia yang dipimpin oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sinyal positif usai pertemuan perdana dengan pemerintah Amerika Serikat terkait kebijakan tarif resiprokal Trump. Meski demikian, Airlangga menekankan pentingnya konsolidasi antar pemangku kepentingan di dalam negeri guna mengantisipasi dampak negatif dari pelemahan ekonomi global dan tekanan perdagangan internasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan bahwa kebijakan tarif AS telah mengubah tatanan perdagangan dunia dan Indonesia harus bersiap menghadapi ketidakpastian tersebut dengan strategi fiskal yang adaptif. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menambahkan bahwa Indonesia tidak bisa bergantung sepenuhnya pada hasil negosiasi, melainkan perlu segera menciptakan rencana cadangan dan mempercepat reformasi iklim usaha untuk meningkatkan daya saing ekspor.

Sementara itu, Direktur Indef Eisha M. Rachbini menilai bahwa perdagangan intra-Asean merupakan peluang yang menjanjikan dan perlu dioptimalkan pemanfaatannya. Ketua Umum Aprisindo Eddy Widjanarko juga menekankan pentingnya penyelesaian perjanjian dagang IEU-CEPA agar industri alas kaki nasional dapat menembus pasar Eropa, mengingat terbatasnya negara tujuan ekspor saat ini.

Hasil awal negosiasi tarif dengan AS cukup menjanjikan, pemerintah dan dunia usaha Indonesia tetap harus memperkuat koordinasi domestik, memperluas pasar ekspor, dan meningkatkan daya saing untuk menghadapi risiko jangka panjang dari perang dagang global.

Tins Garap Proyek Rare Eart

KT1 25 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Timah terus mengakselerasi pengembangan mineral logam tanah jarang atau Rare Eart Element (REE) dengan mengembangkan pilot plant Logam Tanah Jarang di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pilot Plant Logam Tanah Jarang ini merupakan bentuk komitmen PT Timah dalam mendukung program hilirisasi mineral nasional yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yakni 'Melanjutkan Hilirisasi dan Industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri'. PT Timah bersama MIND ID selaku BUMN Holding industri Pertambangan Indonesia terus melakukan upaya percepatan pengembangan LTJ. Fokus Utama dalam Pilot plant Logam Tanah Jarang ini yakni revitalisasi fasilitas pilot plant pengeolahan monasit  untuk dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari pengembangan LTJ. Pengembangan pilot plant Logam Tanah Jarang ini  bertujuan untuk menciptakan nilai tambah melalui industrialisasi LTJ berbasis mineral ikutan penambangan timah. hal ini juga menjadi bagian dari strategis hilirisasi mineral nasional, sekaligus mendorong kemandirian teknologi dan ekonom, terutama dalam memanfaatkan LTJ yang sangat dibutuhkan oleh industri-industri strategis seperti magnet permanen, baterai hybrid, elektronik, dan katalis. (Yetede)

Tins Garap Proyek Rare Eart

KT1 25 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Timah terus mengakselerasi pengembangan mineral logam tanah jarang atau Rare Eart Element (REE) dengan mengembangkan pilot plant Logam Tanah Jarang di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pilot Plant Logam Tanah Jarang ini merupakan bentuk komitmen PT Timah dalam mendukung program hilirisasi mineral nasional yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yakni 'Melanjutkan Hilirisasi dan Industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri'. PT Timah bersama MIND ID selaku BUMN Holding industri Pertambangan Indonesia terus melakukan upaya percepatan pengembangan LTJ. Fokus Utama dalam Pilot plant Logam Tanah Jarang ini yakni revitalisasi fasilitas pilot plant pengeolahan monasit  untuk dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari pengembangan LTJ. Pengembangan pilot plant Logam Tanah Jarang ini  bertujuan untuk menciptakan nilai tambah melalui industrialisasi LTJ berbasis mineral ikutan penambangan timah. hal ini juga menjadi bagian dari strategis hilirisasi mineral nasional, sekaligus mendorong kemandirian teknologi dan ekonom, terutama dalam memanfaatkan LTJ yang sangat dibutuhkan oleh industri-industri strategis seperti magnet permanen, baterai hybrid, elektronik, dan katalis. (Yetede)

BI Mengoptimalkan Kebijakan Likuiditas ke Perbankan

KT1 25 Apr 2025 Investor Daily (H)
BI terus memperkuat kebijakan yang akomodatif, termasuk mengoptimalkan kebijakan insentif likuditas makroprudensial (KLM). Sampai dengan minggu kedua April 2025, perbankan diguyur dana mencapai Rp370.6 triliun di tengah ketatnya likuiditas industri perbankan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan tersebut dilakukan untuk mendorong pendanaan perbankan bagi manajemen likuiditas dan penyaluran kredit ke sektor rill. Bank Indonedia juga akan terus mempererat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mendorong pertumbuhan kredit dalam mendukung pembiayaan ekonomi. Selain itu, BI juga memperkuat implementasi ketentuan Rasio Pendanaan Luar Negeri (RPLN). Mulai 1 April 2025, KLM ditingkatkan dari paling besar 4% menjadi sampai dengan 5% dari dana pihak ketiga (DPK). Hingga minggu kedua April 2025, insentif KLM meningkat sebesar Rp78,3 triliun dari minggu keempat Maret 2025 sebesar Rp 292,3 triliun. "Khusus sektor perumahan, insentif KLM 84 triliun dari minggu keempat Maret 2025 seiring dengan impelementasi penguatan KLM pada 1 April 2025," papa Perry. (Yetede)

Upaya BI Jaga Stabilitas Rupiah

HR1 25 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Kebijakan tarif impor resiprokal oleh Amerika Serikat menimbulkan tekanan besar pada nilai tukar global, termasuk rupiah yang telah terdepresiasi sekitar 4% sepanjang 2025. Bank Indonesia (BI) berada dalam posisi dilematis: menjaga stabilitas nilai tukar sambil tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Gubernur BI, melalui Rapat Dewan Gubernur, memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dan memperkuat intervensi di pasar valuta asing internasional seperti Asia, Eropa, dan New York.

Prediksi dari MUFG Bank Ltd. dan Barclays Bank Plc. menyebut rupiah berpotensi menembus Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat, memperkuat urgensi BI dalam mengelola arus modal dan cadangan devisa, yang saat ini mencapai US$157,1 miliar. Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1% menjadi 4,7% tahun ini.

Sejalan dengan itu, pemerintah didorong untuk memperkuat koordinasi fiskal, mendorong diversifikasi ekspor, dan mengoptimalkan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Tokoh-tokoh seperti Gubernur BI dan lembaga seperti IMF menegaskan bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia sangat bergantung pada sinergi kebijakan yang kredibel dan responsif terhadap dinamika global.

Kemenhub Dorong Maskapai Beli Boeing

HR1 25 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Kementerian Perhubungan Indonesia mendukung maskapai penerbangan nasional untuk mempertimbangkan opsi membeli pesawat Boeing yang dikembalikan oleh maskapai China akibat dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menjelaskan bahwa keputusan untuk mengambil pesawat tersebut sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing maskapai, asalkan pembelian tersebut menguntungkan dan sesuai dengan kebutuhan operasional mereka. Indonesia masih membutuhkan penambahan armada pesawat, sehingga peluang ini patut dipertimbangkan.

Boeing saat ini tengah mencari pelanggan baru untuk pesawat-pesawat Boeing 737 MAX 8 yang sebelumnya ditujukan untuk maskapai China. Setidaknya tiga unit pesawat tersebut sudah kembali ke pusat produksi Boeing di Seattle, dan sejumlah maskapai dari negara lain, seperti India dan Malaysia, juga dilaporkan tertarik untuk menampung pesawat yang dikembalikan ini. Pemerintah Indonesia memberikan fleksibilitas dalam regulasi dan teknis, sehingga maskapai dapat memanfaatkan kesempatan ini jika dirasa cocok.