;
Tags

Industri lainnya

( 1875 )

Kinerja Industri Gim - Ladang Cuan di Arena Bermain

Ayutyas 18 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 09 Jun 2020

Daya tahan industri gim nasional teruji saat pandemi Covid-19. Hal itu setidaknya tecermin dalam laporan sejumlah operator seluler atas ledakan trafik penggunaan data untuk bermain gim selama pembatasan sosial berskala besar.

Tercatat, lalu lintas data untuk keperluan bermain gim di PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia) melonjak 54% selama pandemi dibandingkan dengan bulan-bulan normal. 

Kenaikan trafik data untuk penggunaan gim juga terjadi di PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Berdasarkan keterangan resmi perseroan, lalu lintas data untuk penggunaan gim melesat 83% selama PSBB dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. 

Business development Esports Manager Garena Indonesia Wijaya Nugroho mengatakan gaya hidup serba daring tersebut akan berbanding lurus dengan geliat industri gim Indonesia. Hal tersebut dimungkinkan seiring dengan makin terdukasinya para gamers lokal. 

CEO Anantarupa Studios Ivan Chen menambahkan, pengembang gim lokal tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar untuk dapat berekspansi. Dorongan program-program strategis dari pemerintah untuk memacu percepatan pengembangan industri gim lokal tetap dibutuhkan. 

Melihat tren tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Asosiasi Game Indonesia (AGI) bergerak cepat dalam merangsang industri gim lokal segera meningkatkan pangsa pasar di dalam negeri. Deputi Infrastruktur Kemenparekraf Hari Santosa Sungkari menjelaskan Kemenparekraf dan AGI telah menyiapkan dua langkah utama untuk memperkuat persebaran gim buatan lokal.

Presiden AGI Cipto Adiguno menambahkan pangsa pasar industri gim lokal tahun ini ditargetkan naik perlahan dari capaian tahun lalu. Beberapa strategi pengembangan industri gim lokal pun telah dijalankan sepanjang tahun lalu, seperti kolaborasi antara pemerintah dan pengembang, penyelenggaraan ajang-ajang gim, upaya promosi gim lokal ke luar negeri, serta penekanan konsep yang unik sebagai daya tarik.


Industri Makanan Menjadi Primadona Investasi

Ayutyas 14 Jun 2020 Kontan, 27 Mei 2020

Sektor manufaktur mengalami tantangan sekaligus lompatan yang besar di era kemajuan teknologi digital dan internet, atau kerap kali disebut era industri 4.0. Ada lima sektor industri yang menjadi tulang punggung, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronik. Selama lima tahun terakhir (2015 s.d Triwulan I 2020) realisasi investasi di sektor manufaktur mencapai Rp 1.348,9 triliun. Sektor utama yang paling diminati dan oleh investor adalah Industri Makanan yang investasinya mencapai Rp 293,2 triliun dengan persentase total investasi sebanyak 21,7%.

Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Farah Indriani optimistis sektor manufaktur berpotensi meningkat lagi. Dengan kemajuan teknologi dan internet, proses produksi akan lebih efisien. Ia juga mengatakan angka-angka ini menjadi refleksi bahwa tidak bisa dipungkiri jika pasar domestik Indonesia adalah magnet investasi, khususnya industri makanan dan minuman. Industri ini porsi modal dalam negerinya lebih besar dari penanaman modal asing

Harga BBM & Tarif Listrik Murah untuk Industri Dulu

Ayutyas 14 Jun 2020 Kontan, 27 Mei 2020

Masyarakat harus mengulur sabar untuk bisa menikmati penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik. Pasalnya, pemerintah memilih akan memangkas harga BBM dan tarif listrik untuk pebisnis dan industri terlebih dulu, rencana ini sudah masuk menjadi salah satu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk membantu pelaku usaha yang terpapar pandemi korona.

Askolani, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemkeu) memastikan kebijakan ini akan berlaku di tahun ini. Pemerintah akan terus berusaha menjaga stabilitas perekonomian. Askolani mengatakan, saat tarif BBM dan tarif listrik turun, arus kas perusahaan terjaga. Dengan begitu, harapannya, perusahaan bisa mempertahankan karyawannya. Namun, rencana ini masih dalam proses finalisasi dan akan diterapkan setelah mendapat persetujuan dari Presiden Joko Widodo.

Ade Sudrajat, Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengatakan, rencana itu akan membantu pelaku usaha. Penurunan harga BBM bisa menolong pebisnis bidang logistik serta menambah cadangan BBM untuk pembangkit listrik. Sedang penurunan tarif listrik bisa mengurangi besaran tagihan listrik yang ditanggung industri. Persoalannya, pengusaha juga membutuhkan daya beli masyarakat naik sedangkan arus kas cuma bisa untuk bertahan bulan depan saja. Menurutnya, dana kompensasi bagi dua BUMN sebaiknya diubah jadi bantuan langsung tunai untuk mendongkrak daya beli. Saat daya beli naik permintaan produk ke industri ikut terkerek.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, tren penurunan harga minyak dunia dan Indonesia Crude Price (ICP) seharusnya diikuti dengan penurunan harga BBM dan tarif listrik serentak bukan cuma untuk industry agar bisa meringankan dan mendongkrak daya beli masayarakat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, sebelumnya, menyatakan penurunan harga BBM menunggu harga minyak mentah dunia serta nilai tukar rupiah stabil.


Gas Murah Siap Mengalir ke Industri

Ayutyas 14 Jun 2020 Kontan, 26 Mei 2020

Pemerintah berupaya mengimplementasikan kebijakan harga gas US$ 6 per mmbtu untuk industri tertentu dan sektor kelistrikan. Dari sisi hulu, empat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan 11 pembeli gas bumi telah meneken 14 Perjanjian Penyesuaian Harga Gas Bumi. Anggota Komite BPH Migas Jugi Prajogio mengungkapkan, untuk mendukung kebijakan tersebut pihaknya telah inisiatif melakukan penyesuaian agar bisa menekan biaya toll fee, bahkan jauh sebelum Permen (ESDM) terbit. Menurut Jugi, review toll fee juga telah dilakukan terhadap sebagian besar ruas pipa transmisi yang dikelola BPH Migas. Termasuk empat ruas yang bertarif di atas US$ 1 per mscf, yakni pipa transmisi Arus-Belawan, SSWJ1, SSWJ2, dan KJG. Dengan begitu, kajian dan penyesuaian ruas pipa transmisi yang telah dialiri gas sudah selesai. Sebagai informasi, menurut perhitungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dalam pembentukan harga gas hingga ke pengguna akhir, biaya di hulu berkontribusi paling dominan, yakni 70%. Sedangkan sisanya adalah biaya transmisi dengan porsi 13% dan biaya distribusi 17%.

Suntikan Investasi Ke Gojek - Ekosistem Super App RI Makin Dilirik

Ayutyas 11 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 04 Jun 2020

Masuknya suntikan modal dari Facebook dan Paypal ke Gojek menjadi preseden baik bagi pengembangan ekosistem industri aplikasi super di Indonesia.

Pakar ekonomi digital Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan model bisnis super app seperti Wechat dan Alipay di China relevan untuk diterapkan di Tanah Air lantaran karakteristiknya yang lebih efisien. 

Lebih jauh, dia mengatakan kehadiran super app sekelas Alipay di Tanah Air juga menjadi indikator peningkatan skala ekonomi RI yang menjadi kunci bagi perusahaan berbasis digital untuk mampu melakukan efisiensi. 

Selain itu, Fithra menilai perlu dilakukan pembenahan dari sisi regulasi sebagai kesiapan untuk menyambut lonjakan transaksi ekonomi secara digital pada masa mendatang. 

Co-CEO PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) Andre Soelistyo menjelaskan keterlibatan Facebook dan Paypal dalam pendanaan Gojek membuka kesempatan untuk mengakselerasi ekonomi digital di Tanah Air. 

Menurutnya, kedua korporasi global itu melihat besarnya peluang di Indonesia lantaran masih banyak pelaku UMKM yang bergantung pada penggunaan uang tunai dan banyak penduduk yang belum tersentuh oleh layanan perbankan.

Dampak Pandemi ke Infrastruktur - Sektor Konstruksi Tagih Insentif Pajak

Ayutyas 11 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 05 Jun 2020

Asosiasi Kontraktor Indonesia mengharapkan pemerintah memberikan insentif berupa pengurangan pajak setelah sektor itu mengalami perlambatan selama pandemi Covid-19. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) Joseph Pangalila mengatakan pengerjaan konstruksi di lapangan masih mengalami berbagai tantangan terutama penurunan aktivitas. 

Dengan protokol Covid-19, paparnya, menyebabkan pekerjaan konstruksi mengalami kenaikan biaya dan jadwal yang mundur. Pembengkakan biaya terjadi karena adanya protokol kesehatan yang harus dilakukan seperti penyemprotan disinfektan, dan keperluan alat pelindung diri. 

Selain itu, harga barang, biaya transportasi, dan lain-lain juga naik karena penerapan protokol kesehatan secara ketat. Belum lagi, tegasnya, barang impor juga banyak terhambat karena ada pembatasan di negara asal.

Joseph menyatakan AKI juga masih kesulitan memprediksi dampak yang terjadi jika kondisi masih tak stabil. Alasannya, belum ada yang tahu secara pasti kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Pembahasan Sengketa Sawit RE - EU - Waspadai Manuver Benua Biru

Ayutyas 11 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 05 Jun 2020

Indonesia harus mewaspadai manuver politis Uni Eropa di tengah tertundanya proses penyelesaian dan perundingan terkait dengan sengketa dagang produk sawit untuk bahan baku biofuel.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan proses penyelesaian sengketa perdagangan biofuel dengan UE di WTO sejauh ini mengalami penundaan akibat Covid-19. 

Kendati demikian, dia berharap RI dan UE dapat menemukan jalan tengah atas konflik tersebut tanpa harus melalui proses sidang panel di WTO. 

Pasalnya, UE memiliki kecenderungan mengubah kebijakannya secara tiba-tiba untuk tetap mendiskriminasikan biofuel berbahan baku minyak sawit dari produk nabati yang boleh digunakan di kawasan tersebut. Terlebih, pandemi Covid-19 berpotensi membuat serapan minyak rapa dan bunga matahari produksi UE terganggu.

96 Pabrik Alas Kaki Setop Produksi

Ayutyas 07 Jun 2020 Investor Daily, 3 Juni 2020

Sekitar 96 pabrik alas kaki berhenti beroperasi akibat pandemi Covid-19. Bahkan, 75% tenaga kerja kontrak dan trainee sudah dirumahkan dan tidak diperpanjang lagi berdasarkan informasi dari Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri. Dampak pandemi Covid-19 terhadap industri alas kaki, sudah mulai dirasakan sejak bulan Februari 2020 saat pandemi Covid masih terjadi di Tiongkok dan semakin memburuk seiring dengan perkembangan pandemi Covid-19 di dalam negeri.

Hal ini dikarenakan impor bahan baku alas kaki dari Tiongkok mengalami keterlambatan karena kebijakan karantina wilayah (lockdown) di negara tersebut. Selain mengalami keterlambatan satu bulan dari target awal, impor bahan baku juga mengalami peningkatan harga hingga 5% dibanding harga normal.

Kondisi, lanjut Firman, semakin memburuk di bulan Maret. Mulai meluasnya pandemi Covid-19 di pasar tujuan ekspor, ditemukannya kasus Covid-19 pertama di Indonesia, dan pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menyebabkan penurunan omset penjualan retail domestik. Pengiriman order untuk Lebaran juga diminta diundur bahkan hingga cancel order. Menurutnya, sekitar 63% perusahaan alas kaki sudah melakukan pengurangan karyawan.

Produksi Gula Rafinasi Diprediksi 1,6 Juta Ton

Ayutyas 05 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 02 Jun 2020

Kementerian Perindustrian optimistis produksi gula rafinasi pada semester II tahun ini mencapai 1,6 juta ton, sejalan dengan target akhir tahun yang mencapai 3 juta ton. 

Seperti diketahui, produk gula di dalam negeri dibagi menjadi dua, yakni gula kristal putih (GKP) untuk kebutuhan rumah tangga dan gula kristal rafinasi (GKR) untuk kebutuhan pabrikan, terutama makanan dan minuman. 

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan pabrikan gula di dalam negeri sejauh ini berhasil memproduksi sekitar 1,55 juta ton GKR.
Terpisah, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kemenperin Enny Ratnaningtyas mencatat produksi GKR pada kuartal I/2020 mencapai 731.611 ton. Menurutnya, produksi GKR masih sesuai dengan target akhir tahun yakni sekitar 3 juta ton. 

Setelah itu, ujar Enny, pihaknya akan mendorong industri kecil dan menengah (IKM) mamin untuk melakukan pola distribusi secara daring. Enny mencatat selama masa pandemi industri mamin berskala besar masih berjalan normal tetapi sebaliknya IKM mamin mengalami penurunan produksi. 

Di sisi lain, Enny mengamati adanya peningkatan permintaan oleh konsumen melalui toko daring. Oleh karena itu, Enny meminta agar pelaku IKM untuk selalu melakukan inovasi produk dan melakukan penjualan daring. 

Sementara itu, Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman menyampaikan bahwa belum terjadi adanya kekurangan GKR di pabrikan pada semester I/2020. Adhi menilai seharusnya izin impor GKR untuk kebutuhan semester II/2020 sudah diterbitkan.

Memperbaiki Defisit Produksi Susu

Ayutyas 04 Jun 2020 Republika, 02 Jun 2020

Produksi susu dalam negeri belum mampu mengimbangi kebutuhan konsumsi, meski tingkat konsumsi masyarakat Indonesia pun masih relatif rendah. Rendahnya produksi susu berkaitan erat dengan tingkat populasi sapi perah di dalam negeri. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menuturkan, total populasi sapi perah nasional pada 2019 sebanyak 561.061 ekor. Dari populasi itu, produksi susu sapi dalam negeri (SSDN) diperkirakan mencapai 996.442 ton.

Sementara itu, total kebutuhan nasional susu bagi masyarakat Indonesia mencapai 4,33 juta ton. Ketut menyampaikan, produksi SSDN yang ada hanya mampu memenuhi sekitar 22 persen dari kebutuhan nasional. Pertumbuhan populasi sapi perah dan pertumbuhan produksinya belum mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi sehingga ketersediaan sebagian besar produk susu dan turunannya melalui importasi yang semakin lama semakin meningkat. Ketut memaparkan, produksi susu saat ini juga masih didominasi oleh susu sapi. Padahal, Indonesia memiliki potensi ternak lain seperti kambing perah, kambing peranakan ettawa, dan kambing saanen. Ia menegaskan, Kementerian Pertanian terus mengejar target pada 2025 sebanyak 60 persen kebutuhan susu, dipenuhi oleh produksi lokal.

Dewan Persusuan Nasional (DPN) menyatakan, sektor persusuan peternakan sapi perah rakyat masih jauh dari yang diharapkan untuk dapat berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan susu segar sebagai sumber protein hewani. Kebutuhan susu juga masih bergantung kepada pemasaran industri pengolahan susu. Dalam kurun waktu hampir 20 tahun, produksi susu segar stagnan, tidak ada pertumbuhan yang signifikan, kata Ketua DPN Teguh Boediyana.

Pilihan Editor