Industri lainnya
( 1858 )Kemenperin Terus Perkuat Industri Halal Agar Jago di Kancah Global
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya memperkuat struktur industri, termasuk industri halal di Tanah Air untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor, serta mampu bersaing di kancah global.
“Upaya tersebut sebagaimana yang tercantum dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia Tahun 2019-2024,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses industri Internasional (KPAII) Kemenperin Dody Widodo di Jakarta, Rabu (9/12).
Menurutnya, di dalam kawasan industri halal tersebut, seluruh layanan yang berhubungan dengan kehalalan produk berada dalam satu atap atau one stop service, termasuk laboratorium dan lembaga pemeriksa halal (LPH).
Potensi meningkatnya permintaan produk halal dalam negeri maupun luar negeri, kata dia, selain bisa menjadikan Indonesia sebagai regional and global halal hub untuk produksi dan perdagangan halal, juga mendorong kebutuhan terhadap logistik halal.
Berdasarkan The State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2020/2021, Indonesia berhasil naik ke peringkat 4 pada tahun ini, dibandingkan 2019 yang ada di posisi ke-5 dan 2018 di peringkat 10. Sedangkan dilihat dari nilai ekspor, Indonesia menempati urutan ke-4 yang mencapai 21,588 miliar dolar AS.
Pasar Domestik Berpotensi Diserbu Barang Tiongkok
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf
Rendy Manilet menuturkan, banjir
produk impor Tiongkok membuat
produk-produk usaha mikro, kecil,
dan menengah (UMKM) tersungkur,
sehingga defisit neraca dagang dengan
Negeri Tirai Bambu itu makin lebar.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum
Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan,
RCEP berpotensi mempercepat
normalisasi arus perdagangan yang
terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, Indonesia bisa lebih mudah
mengundang masuk investasi dari
negara-negara RCEP. Namun, untuk
mendapat hasil positif dari perjanjian
kerja sama ini, Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara
anggota lain.
Pemerintah Indonesia, kata Shinta,
perlu terus menerus memastikan
iklim usaha di sektor-sektor tersebut
tetap baik sehingga produktifivitas,
efisiensi, dan keunggulan ekspor
sektor tersebut bisa terus dipertahankan. Pada saat yang sama, RCEP
menciptakan persaingan yang lebih
tinggi bagi sektor telekomunikasi,
teknologi informasi, dan sektor padat karya nasional seperti sektor
garmen, sepatu, dan otomotif
Reformasi Industri, Ujian Pemulihan Manufaktur
Subsektor industri manufaktur yang bisa melejit pastinya
adalah subsektor yang secara langsung menyokong proses pemulihan kesehatan dan
ekonomi nasional, seperti subsektor farmasi, kimia dan alat kesehatan. Sementara
itu, subsektor industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT),
otomotif, dan peralatan elektronik kemungkinan akan berangsur-angsur pulih
meski masih akan tetap bergantung pada pola konsumsi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah
pengangguran per Agustus melonjak menjadi 9,77 juta orang, atau naik 2,67 juta
orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu akibat pandemi Covid-19.
Di sisi lain, sektor manufaktur masih mengalami tekanan yang cukup dalam
mengingat belum pulihnya permintaan domestik dan pasar ekspor. Wakil Ketua Umum
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan
penciptaan lapangan kerja, industrialisasi, dan peningkatan daya saing ekonomi
masih menjadi ujian berat bagi sektor manufaktur
Sementara itu, jumlah produk yang memiliki sertifi kat TKDN sekurang-kurangnya sebesar 25% ditargetkan sebanyak 6.000 produk pada 2020, dan meningkat menjadi 8.400 produk pada 2024. Selanjutnya, untuk mendorong terserapnya produk-produk lokal, pemerintah mengeluarkan regulasi untuk optimalisasi penggunaan barang dengan standar TKDN.
Nanjing Steel bangun Pabrik Kokas US$ 383 Juta di Morowali
Nanjing Iron & Steel mengatakan bahwa anak usahanya
yakni Jinmancheng Technology Investment Co Ltd, Tsingshan Holding GroupJ-eray
Technology Group, PT Indonesia Morowali Industrial Park, dan Dongxin Business
Management Partnership Ltd akan membangun perusahaan patungan (joing venture)
yang dinamakan PT KinRui New Energy Technologies Indonesia, untuk membangun
pabrik kokas tersebut . Nanjing Iron & Steel akan memiliki 78% saham di
perusahaan joint venture tersebut. Kepemilikan sahan itu akan
melalui anak usahanya, yakni Jinmancheng
Tiongkok memproduksi 471,26 juta kokas di 2019, naik 5,2% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu produksi kokas di Januari-Oktober 2020 menurun 0,7% dibanding periode sama tahun lalu menjadi 390,99 juta ton.
Salah satu perusahaan industri baja PT Sunrise Steel mampu
melakukan penambahan investasi di tengah pandemi. Sigit menuturkan, melalui
penambahan lini produksi kedua baja lapis aluminium seng (BjLAS), Sunrise Steel
diharapkan terus berkontribusi memperkokoh industri baja di Tanah Air.
Dalam upaya menumbuhkan industri baja nasional, dia menuturkan, pemerintah mendorong para pelaku industri untuk terus berinovasi serta meningkatkan kemampuan produksi,, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor
OPEC Bahas Perpanjangan Pengurangan Produksi
Organisasi Negara - negara Pengekspor Minyak Bumi
(OPEC) mengadakan per temuan
secara virtual pada Senin (30/11)
untuk mempertimbangkan perpanjangan pengurangan produksi hingga Januari 2021. Langkah ini diambil
menyusul pandemi virus corona
Covid-19, yang terus membebani
permintaan minyak mentah global.
Para menteri minyak negara anggota OPEC memulai pertemuan konferensi video pada pukul 13.00 GMT,
dan berharap dapat membuka halaman baru dari tahun yang membawa
bencana. Demikian dikutip AFP.
Sementara itu, harga minyak
mentah telah meningkat 25% sejak
awal bulan, dan kembali ke level
sebelum terjadi pandemi antara US$
45 dan US$ 50 per barel untuk acuan
harga minyak Amerika Serikat (AS),
West Texas Intermediate (WTI),
dan acuan harga Eropa Brent North
Sea. Namun, harga minyak Senin
pagi kembali turun sebagai tanda
kecemasan investor menjelang pertemuan
Tiga Industri Unggulan Melesat Tahun Depan
Para pelaku industri memprediksi
penjualan mobil pada 2021 mencapai 750 ribu unit, naik 43% dari
estimasi 2020 sebanyak 525 ribu
unit, sedangkan sepeda motor diestimasikan tumbuh 6-19% menjadi 4-4,3
juta unit dari estimasi 2020 sebanyak
3,6-3,7 juta unit. Adapun penjualan
semen diperkirakan tumbuh 5-6%
dan mamin naik 5-7%
Seiring dengan itu, industri manufaktur tahun depan diproyeksikan
tumbuh 3,95%, dibandingkan per
September 2020 yang turun 2,63%.
Investasi akan menjadi salah satu
faktor penopang per tumbuhan
industri, selain perbaikan kinerja
beberapa sektor unggulan.
Melesatnya industri mamin olahan, otomotif, dan semen bakal
berimbas ke lantai bursa. Tahun
depan, saham-saham emiten ketiga
industri tersebut diperkirakan berada dalam teritori positif.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman menuturkan, pertumbuhan industri mamin tahun ini tergerus oleh pandemi Covid-19. Hingga akhir tahun, pertumbuhan industri pemasok produk domestik bruto (PDB) manufaktur terbesar ini ditaksir hanya 3%, melambat dari 2019 sebesar 7,78%. Tahun depan, pertumbuhan mamin diprediksi naik menjadi 5-7%.
Industri Reksa Dana, Banjir Investor Di Tekfin
Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan pertumbuhan jumlah investor pasar
modal berdasarkan single investor
identification (SID) secara year to
date (ytd) sudah mencapai 3,5
juta investor, menanjak 42,19%.
Padahal, per Desember 2019,
jumlah investor berdasarkan SID
baru 2,48 juta.
Secara khusus, investor reksadana mencatatkan pertumbuhan
59,32% ytd menjadi 2,8 juta
investor dari 1,7 juta investor
pada akhir 2019.
Berdasarkan demografinya, sebanyak 49,4% merupakan investor pada rentang usia
20 tahun–30 tahun,
diikuti dengan
23,85% investor
berada pada rentang usia 30
tahun—40 tahun.
Demografi berdasarkan usia
yang lebih muda, lanjut Uriep,
merupakan alasan pertumbuhan
investor dan AUM reksadana
melalui platform daring di Indonesia mengingat generasi tersebut
lebih melek terhadap teknologi.
Chief Executive Officer PT
Bibit Tumbuh Bersama (Bibit)
Sigit Kouwagam menyebut bahwa
sebenarnya Covid-19 memberikan
tekanan pada industri reksadana,
diantaranya karena daya beli
turun.
Namun, di sisi lain APERD
berbasis tekfin mampu menawarkan solusi investasi digital.
Menurutnya, kemudahan menggunakan aplikasi dan transaksi
reksadana secara digital menjadi
faktor utama peningkatan transaksi
selama masa pandemi.
Selain itu, lanjutnya, selama
Covid-19 awareness masyarakat
akan investasi juga meningkat
karena banyak yang sadar bahwa
dana darurat itu sangat penting
dalam menghadapi situasi krisis.
Mitha optimistis pertumbuhan
transaksi reksadana akan terus
meningkat pada tahun depan.
Pasalnya, dia melihat sejak adanya
pandemi masyarakat jadi semakin
melek keuangan dan sadar akan
kebutuhan untuk berinvestasi
dan mengembangkan uang yang
dimiliki.
Industri Tekstil dan Produk Tekstil, Cegah Deindustrialisasi TPT!
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rerata impor produk TPT
sebesar US$7 miliar— US$8,5 miliar, dengan angka tertinggi pada 2018 sebesar
US$8,5 miliar. Sebagian besar impor tersebut adalah bahan baku, termasuk serat
tekstil. Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan saat ini industri
TPT masih sulit berdaya saing dengan negara lain karena ongkos produksi—harga
energi, listrik, gas, hingga biaya pengolahan limbah B3 dan upah—masih tinggi.
Biaya upah yang terus naik pun tidak diimbangi dengan produktivitas yang
meningkat.
Dengan adanya program substitusi impor 35% oleh Kementerian Perindustrian, imbuhnya, seharusnya bisa meningkatkan penggunaan bahan baku lokal. Apalagi, imbuhnya, industri hulu di dalam negeri memiliki kapasitas produksi serat rayon dan polyester yang memadai untuk memenuhi kebutuhan nasional. Dari segi keunggulan dan harga, kedua bahan baku tersebut juga tidak kalah dengan katun.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta sebelumnya mengatakan pembukaan keran impor menjadi penyebab utama hancurnya industri TPT yang berorientasi pasar domestik, bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19. Disisi lain, Kemenperin juga mendorong agar lebih banyak pelaku usaha TPT yang masuk dalam platform Indonesia Smart Textile Industry Hub (ISTIH), mengingat saat ini yang terdaftar baru ada sekitar 6.000 pelaku usaha.
Menurut dia reformasi pengembangan kebijakan industri riil saat ini sebaiknya tidak lagi melihat dari supply side melainkan demand side. “Bahwa ada roadmap itu bagus tapi sesuai pasar tidak? Jadi coba mindset-nya diubah sekarang kita melihat dulu market-nya. Jangan lupa saat ini terjadi peningkatan 140 juta kelas menengah, artinya peningkatan domestik akan melebar dari sini saja,” tuturnya.
Penurunan Utilisasi Pabrikan, BM Masker Impor Disorot
Kementerian Perindustrian menyatakan utilisasi industri
masker medis nasional terus merosot dari 100% ke level 60% pada November 2020. Berdasarkan
data Kemenperin, impor masker medis yang tercatat dalam Pos Tarif 6307.90.40
dan 6307.90.90 menunjukkan tren peningkatan secara volume pada Januari— Agustus
2020. Volume terbesar tercatat per Agustus 2020 yang mencapai 123.713 ton.
Sementara itu, harga masker yang diimpor per Agustus 2020 merupakan yang terendah selama 3 bulan sebelumnya atau sekitar US$25,14 per kilogram. Alhasil, saat ini masker medis lokal hanya memiliki pangsa pasar sekitar 40% dari total permintaan masker medis nasional. Sementara itu, masker medis lokal hanya berkontribusi sekitar 24% dari total pasar masker nasional.
Untuk itu, Kemenperin mengusulkan penambahan bea masuk agar pabrikan tidak menjual kembali mesin produksi masker medis. Selain menambah bea masuk masker medis impor, Elis menyampaikan pihaknya juga akan mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker walau pandemi sudah berakhir.
Komoditas Perkebunan, Saatnya Menghangatkan Produksi Kopi Lokal
Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEIKI) mencatat permintaan kopi olahan pada kuartal III/2020 sudah berada di posisi 0% atau stagnan. Ketua Bidang Kopi Specialty dan Industri AEIKI Moelyono Soesilo mengatakan permintaan kopi pada kuartal IV/2020 akan kembali ke posisi pra-pandemi. Sayangnya, pertumbuhan konsumsi kopi di dalam negeri tidak diikuti dengan ketersediaan bahan baku, padahal pabrikan sudah mulai ekspansif. Sepanjang 2020, volume produksi kopi olahan diperkirakan turun 5%-10% secara tahunan menjadi sekitar 350.000-360.000 ton. Sementara itu, volume produksi kopi olahan pada 2021 diproyeksi hanya tumbuh sekitar 4,22% menjadi 360.000-380.000 ton.
Adapun, produksi bubuk kopi ritel mendominasi hasil gilingan biji kopi bubuk dengan ampas dan 20% untuk kopi bubuk tanpa ampas. hanya 10% dari hasil gilingan kopi dialokasikan untuk produksi minuman rasa kopi, permen rasa kopi, dan produk makanan dan minuman lainnya yang berbahan kopi.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani sebelumnya menyebutkan sektor pangan dan pertanian sudah seharusnya diberikan prioritas oleh pemerintah, mengingat sektor ini terbukti cukup tangguh selama masa pandemi Covid-19. Pangan dan pertanian menjadi salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan politik pada situasi pandemi. Sektor pangan dan pertanian dapat diandalkan dalam mengurangi jumlah pengangguran terbuka, menyejahterakan masyarakat, dan mengentaskan kemiskinan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengemukakan Indonesia merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Pada 2019, produksi biji kopi Indonesia mencapai 729.1000 ton, dengan nilai ekspor produk kopi olahan sebesar US$ 610,89 juta. Kemenperin mendata ekspor produk kopi olahan pada ahir 2019 tumbuh 5,33% menjadi US$ 610,89 juta. Indonesia tercatat sebagai negara penghasil biji kopiterbesar keempat di dunia dengan produksi rata-rata sekitar 773.000 ton per tahun atau menyumbang 8% dari produksi kopi dunia.
Indonesia akan terus menjadi eksportir utama produk kopi olahan karena didukung pula dengan maraknya gaya hidup minum kopi di dunia. Selain itu, Indonesia yang tadinya dikenal sebagai negara konsumen kopi. Untuk itu, diperlukan perluasan areal produksi kopi yang saat ini baru 760.000 hektare, dari total luas lahan yang tersedia mencapai 1,26 juta hektare. Dengan demikian, kebutuhan kopi di dalam negeri bisa terpenuhi, tanpa harus bergantung pada impor.









