;
Tags

Industri lainnya

( 1858 )

Kemenperin Terus Perkuat Industri Halal Agar Jago di Kancah Global

Sajili 10 Dec 2020 Sinar Indonesia Baru

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya memperkuat struktur industri, termasuk industri halal di Tanah Air untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor, serta mampu bersaing di kancah global.

“Upaya tersebut sebagaimana yang tercantum dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia Tahun 2019-2024,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses industri Internasional (KPAII) Kemenperin Dody Widodo di Jakarta, Rabu (9/12).

Menurutnya, di dalam kawasan industri halal tersebut, seluruh layanan yang berhubungan dengan kehalalan produk berada dalam satu atap atau one stop service, termasuk laboratorium dan lembaga pemeriksa halal (LPH).

Potensi meningkatnya permintaan produk halal dalam negeri maupun luar negeri, kata dia, selain bisa menjadikan Indonesia sebagai regional and global halal hub untuk produksi dan perdagangan halal, juga mendorong kebutuhan terhadap logistik halal.

Berdasarkan The State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2020/2021, Indonesia berhasil naik ke peringkat 4 pada tahun ini, dibandingkan 2019 yang ada di posisi ke-5 dan 2018 di peringkat 10. Sedangkan dilihat dari nilai ekspor, Indonesia menempati urutan ke-4 yang mencapai 21,588 miliar dolar AS.


Pasar Domestik Berpotensi Diserbu Barang Tiongkok

leoputra 02 Dec 2020 Investor Daily, 2 Desember 2020

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menuturkan, banjir produk impor Tiongkok membuat produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersungkur, sehingga defisit neraca dagang dengan Negeri Tirai Bambu itu makin lebar.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan, RCEP berpotensi mempercepat normalisasi arus perdagangan yang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, Indonesia bisa lebih mudah mengundang masuk investasi dari negara-negara RCEP. Namun, untuk mendapat hasil positif dari perjanjian kerja sama ini, Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara anggota lain.

Pemerintah Indonesia, kata Shinta, perlu terus menerus memastikan iklim usaha di sektor-sektor tersebut tetap baik sehingga produktifivitas, efisiensi, dan keunggulan ekspor sektor tersebut bisa terus dipertahankan. Pada saat yang sama, RCEP menciptakan persaingan yang lebih tinggi bagi sektor telekomunikasi, teknologi informasi, dan sektor padat karya nasional seperti sektor garmen, sepatu, dan otomotif

Reformasi Industri, Ujian Pemulihan Manufaktur

tuankacan 01 Dec 2020 Bisnis Indonesia

Subsektor industri manufaktur yang bisa melejit pastinya adalah subsektor yang secara langsung menyokong proses pemulihan kesehatan dan ekonomi nasional, seperti subsektor farmasi, kimia dan alat kesehatan. Sementara itu, subsektor industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT), otomotif, dan peralatan elektronik kemungkinan akan berangsur-angsur pulih meski masih akan tetap bergantung pada pola konsumsi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran per Agustus melonjak menjadi 9,77 juta orang, atau naik 2,67 juta orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu akibat pandemi Covid-19. Di sisi lain, sektor manufaktur masih mengalami tekanan yang cukup dalam mengingat belum pulihnya permintaan domestik dan pasar ekspor. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan penciptaan lapangan kerja, industrialisasi, dan peningkatan daya saing ekonomi masih menjadi ujian berat bagi sektor manufaktur

Sementara itu, jumlah produk yang memiliki sertifi kat TKDN sekurang-kurangnya sebesar 25% ditargetkan sebanyak 6.000 produk pada 2020, dan meningkat menjadi 8.400 produk pada 2024. Selanjutnya, untuk mendorong terserapnya produk-produk lokal, pemerintah mengeluarkan regulasi untuk optimalisasi penggunaan barang dengan standar TKDN.

Nanjing Steel bangun Pabrik Kokas US$ 383 Juta di Morowali

leoputra 01 Dec 2020 Investor Daily, 1 Desember 2020

Nanjing Iron & Steel mengatakan bahwa anak usahanya yakni Jinmancheng Technology Investment Co Ltd, Tsingshan Holding GroupJ-eray Technology Group, PT Indonesia Morowali Industrial Park, dan Dongxin Business Management Partnership Ltd akan membangun perusahaan patungan (joing venture) yang dinamakan PT KinRui New Energy Technologies Indonesia, untuk membangun pabrik kokas tersebut . Nanjing Iron & Steel akan memiliki 78% saham di perusahaan joint venture tersebut. Kepemilikan sahan itu akan melalui anak usahanya, yakni Jinmancheng

Tiongkok memproduksi 471,26 juta kokas di 2019, naik 5,2% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu produksi kokas di Januari-Oktober 2020 menurun 0,7% dibanding periode sama tahun lalu menjadi 390,99 juta ton.

Salah satu perusahaan industri baja PT Sunrise Steel mampu melakukan penambahan investasi di tengah pandemi. Sigit menuturkan, melalui penambahan lini produksi kedua baja lapis aluminium seng (BjLAS), Sunrise Steel diharapkan terus berkontribusi memperkokoh industri baja di Tanah Air.

Dalam upaya menumbuhkan industri baja nasional, dia menuturkan, pemerintah mendorong para pelaku industri untuk terus berinovasi serta meningkatkan kemampuan produksi,, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor

OPEC Bahas Perpanjangan Pengurangan Produksi

leoputra 01 Dec 2020 Investor Daily, 1 Desember 2020

Organisasi Negara - negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) mengadakan per temuan secara virtual pada Senin (30/11) untuk mempertimbangkan perpanjangan pengurangan produksi hingga Januari 2021. Langkah ini diambil menyusul pandemi virus corona Covid-19, yang terus membebani permintaan minyak mentah global. Para menteri minyak negara anggota OPEC memulai pertemuan konferensi video pada pukul 13.00 GMT, dan berharap dapat membuka halaman baru dari tahun yang membawa bencana. Demikian dikutip AFP.

Sementara itu, harga minyak mentah telah meningkat 25% sejak awal bulan, dan kembali ke level sebelum terjadi pandemi antara US$ 45 dan US$ 50 per barel untuk acuan harga minyak Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), dan acuan harga Eropa Brent North Sea. Namun, harga minyak Senin pagi kembali turun sebagai tanda kecemasan investor menjelang pertemuan

Tiga Industri Unggulan Melesat Tahun Depan

leoputra 30 Nov 2020 Investor Daily, 30 November 2020

Para pelaku industri memprediksi penjualan mobil pada 2021 mencapai 750 ribu unit, naik 43% dari estimasi 2020 sebanyak 525 ribu unit, sedangkan sepeda motor diestimasikan tumbuh 6-19% menjadi 4-4,3 juta unit dari estimasi 2020 sebanyak 3,6-3,7 juta unit. Adapun penjualan semen diperkirakan tumbuh 5-6% dan mamin naik 5-7% 

Seiring dengan itu, industri manufaktur tahun depan diproyeksikan tumbuh 3,95%, dibandingkan per September 2020 yang turun 2,63%. Investasi akan menjadi salah satu faktor penopang per tumbuhan industri, selain perbaikan kinerja beberapa sektor unggulan. Melesatnya industri mamin olahan, otomotif, dan semen bakal berimbas ke lantai bursa. Tahun depan, saham-saham emiten ketiga industri tersebut diperkirakan berada dalam teritori positif.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman menuturkan, pertumbuhan industri mamin tahun ini tergerus oleh pandemi Covid-19. Hingga akhir tahun, pertumbuhan industri pemasok produk domestik bruto (PDB) manufaktur terbesar ini ditaksir hanya 3%, melambat dari 2019 sebesar 7,78%. Tahun depan, pertumbuhan mamin diprediksi naik menjadi 5-7%. 

Industri Reksa Dana, Banjir Investor Di Tekfin

tuankacan 30 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan pertumbuhan jumlah investor pasar modal berdasarkan single investor identification (SID) secara year to date (ytd) sudah mencapai 3,5 juta investor, menanjak 42,19%. Padahal, per Desember 2019, jumlah investor berdasarkan SID baru 2,48 juta. Secara khusus, investor reksadana mencatatkan pertumbuhan 59,32% ytd menjadi 2,8 juta investor dari 1,7 juta investor pada akhir 2019.

Berdasarkan demografinya, sebanyak 49,4% merupakan investor pada rentang usia 20 tahun–30 tahun, diikuti dengan 23,85% investor berada pada rentang usia 30 tahun—40 tahun. Demografi berdasarkan usia yang lebih muda, lanjut Uriep, merupakan alasan pertumbuhan investor dan AUM reksadana melalui platform daring di Indonesia mengingat generasi tersebut lebih melek terhadap teknologi.

Chief Executive Officer PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit) Sigit Kouwagam menyebut bahwa sebenarnya Covid-19 memberikan tekanan pada industri reksadana, diantaranya karena daya beli turun. Namun, di sisi lain APERD berbasis tekfin mampu menawarkan solusi investasi digital.

Menurutnya, kemudahan menggunakan aplikasi dan transaksi reksadana secara digital menjadi faktor utama peningkatan transaksi selama masa pandemi. Selain itu, lanjutnya, selama Covid-19 awareness masyarakat akan investasi juga meningkat karena banyak yang sadar bahwa dana darurat itu sangat penting dalam menghadapi situasi krisis.  

Mitha optimistis pertumbuhan transaksi reksadana akan terus meningkat pada tahun depan. Pasalnya, dia melihat sejak adanya pandemi masyarakat jadi semakin melek keuangan dan sadar akan kebutuhan untuk berinvestasi dan mengembangkan uang yang dimiliki.

Industri Tekstil dan Produk Tekstil, Cegah Deindustrialisasi TPT!

tuankacan 27 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rerata impor produk TPT sebesar US$7 miliar— US$8,5 miliar, dengan angka tertinggi pada 2018 sebesar US$8,5 miliar. Sebagian besar impor tersebut adalah bahan baku, termasuk serat tekstil. Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan saat ini industri TPT masih sulit berdaya saing dengan negara lain karena ongkos produksi—harga energi, listrik, gas, hingga biaya pengolahan limbah B3 dan upah—masih tinggi. Biaya upah yang terus naik pun tidak diimbangi dengan produktivitas yang meningkat.

Dengan adanya program substitusi impor 35% oleh Kementerian Perindustrian, imbuhnya, seharusnya bisa meningkatkan penggunaan bahan baku lokal. Apalagi, imbuhnya, industri hulu di dalam negeri memiliki kapasitas produksi serat rayon dan polyester yang memadai untuk memenuhi kebutuhan nasional. Dari segi keunggulan dan harga, kedua bahan baku tersebut juga tidak kalah dengan katun.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta sebelumnya mengatakan pembukaan keran impor menjadi penyebab utama hancurnya industri TPT yang berorientasi pasar domestik, bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19. Disisi lain, Kemenperin juga mendorong agar lebih banyak pelaku usaha TPT yang masuk dalam platform Indonesia Smart Textile Industry Hub (ISTIH), mengingat saat ini yang terdaftar baru ada sekitar 6.000 pelaku usaha.

Menurut dia reformasi pengembangan kebijakan industri riil saat ini sebaiknya tidak lagi melihat dari supply side melainkan demand side. “Bahwa ada roadmap itu bagus tapi sesuai pasar tidak? Jadi coba mindset-nya diubah sekarang kita melihat dulu market-nya. Jangan lupa saat ini terjadi peningkatan 140 juta kelas menengah, artinya peningkatan domestik akan melebar dari sini saja,” tuturnya.


Penurunan Utilisasi Pabrikan, BM Masker Impor Disorot

tuankacan 26 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Kementerian Perindustrian menyatakan utilisasi industri masker medis nasional terus merosot dari 100% ke level 60% pada November 2020. Berdasarkan data Kemenperin, impor masker medis yang tercatat dalam Pos Tarif 6307.90.40 dan 6307.90.90 menunjukkan tren peningkatan secara volume pada Januari— Agustus 2020. Volume terbesar tercatat per Agustus 2020 yang mencapai 123.713 ton.

Sementara itu, harga masker yang diimpor per Agustus 2020 merupakan yang terendah selama 3 bulan sebelumnya atau sekitar US$25,14 per kilogram. Alhasil, saat ini masker medis lokal hanya memiliki pangsa pasar sekitar 40% dari total permintaan masker medis nasional. Sementara itu, masker medis lokal hanya berkontribusi sekitar 24% dari total pasar masker nasional.

Untuk itu, Kemenperin mengusulkan penambahan bea masuk agar pabrikan tidak menjual kembali mesin produksi masker medis. Selain menambah bea masuk masker medis impor, Elis menyampaikan pihaknya juga akan mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker walau pandemi sudah berakhir.

Komoditas Perkebunan, Saatnya Menghangatkan Produksi Kopi Lokal

tuankacan 25 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEIKI) mencatat permintaan kopi olahan pada kuartal III/2020 sudah berada di posisi 0% atau stagnan. Ketua Bidang Kopi Specialty dan Industri AEIKI Moelyono Soesilo mengatakan permintaan kopi pada kuartal IV/2020 akan kembali ke posisi pra-pandemi. Sayangnya, pertumbuhan konsumsi kopi di dalam negeri tidak diikuti dengan ketersediaan bahan baku, padahal pabrikan sudah mulai ekspansif. Sepanjang 2020, volume produksi kopi olahan diperkirakan turun 5%-10% secara tahunan menjadi sekitar 350.000-360.000 ton. Sementara itu, volume produksi kopi olahan pada 2021 diproyeksi hanya tumbuh sekitar 4,22% menjadi 360.000-380.000 ton.

Adapun, produksi bubuk kopi ritel mendominasi hasil gilingan biji kopi bubuk dengan ampas dan 20% untuk kopi bubuk tanpa ampas. hanya 10% dari hasil gilingan kopi dialokasikan untuk produksi minuman rasa kopi, permen rasa kopi, dan produk makanan dan minuman lainnya yang berbahan kopi.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani sebelumnya menyebutkan sektor pangan dan pertanian sudah seharusnya diberikan prioritas oleh pemerintah, mengingat sektor ini terbukti cukup tangguh selama masa pandemi Covid-19. Pangan dan pertanian menjadi salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan politik pada situasi pandemi. Sektor pangan dan pertanian dapat diandalkan dalam mengurangi  jumlah pengangguran terbuka, menyejahterakan masyarakat, dan mengentaskan kemiskinan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengemukakan Indonesia merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Pada 2019, produksi biji kopi Indonesia mencapai 729.1000 ton, dengan nilai ekspor produk kopi olahan sebesar US$ 610,89 juta. Kemenperin mendata ekspor produk kopi olahan pada ahir 2019 tumbuh 5,33% menjadi US$ 610,89 juta. Indonesia tercatat sebagai negara penghasil biji kopiterbesar keempat di dunia dengan produksi rata-rata sekitar 773.000 ton per tahun atau menyumbang 8% dari produksi kopi dunia.

Indonesia akan terus menjadi eksportir utama produk kopi olahan karena didukung pula dengan maraknya gaya hidup minum kopi di dunia. Selain itu, Indonesia yang tadinya dikenal sebagai negara konsumen kopi. Untuk itu, diperlukan perluasan areal produksi kopi yang saat ini baru 760.000 hektare, dari total luas lahan yang tersedia mencapai 1,26 juta hektare. Dengan demikian, kebutuhan kopi di dalam negeri bisa terpenuhi, tanpa harus bergantung pada impor.

Pilihan Editor