;
Tags

Industri lainnya

( 1875 )

RI Impor Garam Industri 3 Juta Ton

Ayutyas 19 Mar 2021 Investor Daily, 19 Maret 2021

Jakarta - Pemerintah akan membuka keran impor garam industri sebanyak 3 juta ton tahun ini, naik 13,8% dari tahun lalu. Impor garam kembali dilakukan karena kualitas garam dalam negeri belum memadai untuk industri. Impor garam tidak akan mengganggu nota kesepahaman (MoU) penyerapan garam rakyat tahun lalu sebanyak 1,2 juta ton. Kemenperin mendapatkan tugas untuk mendorong penyerapan 1,5 juta ton garam dari petani oleh industri pengolahan garam.

Garam masih menjadi barang yang strategis. Saat ini, 84% permintaan garam datang dari industri, sedangkan sisanya dari rumah tangga dan restoran. Dari angka 84% itu, sebanyak 53% diserap industri kimia atau tahun ini sekitar 2,4 juta ton. Angka itu telah menghitung investasi baru yang dilakukan para pelaku industri. Sementara itu, di industri aneka pangan, sebagian kebutuhan sudah mampu dipenuhi garam lokal dan sebagian masih harus impor. Jika garam lokal sudah mampu memenuhi standar kualitas dan kebutuhan industri, penyerapan garam rakyat juga akan naik. Hal tersebut bisa menjadi basis penguatan industri dalam negeri.

(Oleh - IDS)

Kebutuhan Garam, Jaga Komitmen Penyerapan

Ayutyas 19 Mar 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, Jakarta - Industri makanan dan minuman akan meningkatkan komitmen penyerapan garam rakyat di samping tetap menggunakan garam impor. Kebutuhan bahan baku garam pada industri tersebut untuk tahun ini akan berkisar 743.000 ton. Angka itu lebih tinggi dari tahun lalu yang berkisar 530.000 ton. Untuk kebutuhan tahun ini, industri tidak akan sepenuhnya mengandalkan garam impor. Telah ada komitmen penyerapan garam rakyat sebanyak 131.000 ton. 

Industri makanan dan minuman dituntut membuat produk yang baik dengan masa simpan yang panjang. Alhasil, jika banyak ditemukan kontaminan, maka kualitas produk akan sulit bersaing. Adapun, sektor manufaktur yang sudah dapat mengonsumsi garam lokal sampai saat ini adalah industri water treatment, penyamakan kulit, pakan ternak, sabun dan deterjen.

Kenaikan impor garam tahun ini tentu sudah berdasarkan audit kebutuhan garam industri yang dilakukan pemerintah bersama Badan Pusat Statistik (BPS). Garam masih menjadi barang yang strategis dengan 84% permintaan datang dari industri. Dari 84% tersebut, 53% berasal dari kebutuhan industri kimia atau sekitar 2,4 juta ton. Angka tersebut telah menghitung investasi baru yang dilakukan para pelaku industri.

(Oleh - IDS)

Mentan Mau Minum Susu 17 Agustus

Sajili 17 Mar 2021 Tribun Timur

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa dengan PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory), memulai pembangunan medium scale farm atau inkubator sapi perah. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama dan penanaman rumput jenis odot sebanyak 1.000 stek dan indigofera 500 stek, di Eks Pabrik Markisa, Desa Tonasa, KecamatanTomboIopao, Selasa (16/3). Acara ini turut dihadiri langsung Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Mantan Bupati Gowa dan Gubernur Sulsel ini berharap, rencana Pemkab Gowa dalam program ini bisa terwujud dan mampu merasakan hasilnya tepat pada tanggal 17 Agustus mendatang. Ia juga berharap perencanaan Cimory dalam membangun industri pengolahan susu dari skala kecil bisa menjadi besar, dengan mendapatkan bantuan berbagai pihak. Sementara Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan mengatakan, progres sangat cepat ini diakui Adnan karena terpacu dengan target diberikan oleh Mentan RI, yang ingin merasakan susunya pada 17 Agustus mendatang.

BPS: Impor Barang Modal Naik 9,08%, Industri dan Investasi Mulai Menggeliat

Ayutyas 16 Mar 2021 Investor Daily, 16 Maret 2021

Jakarta - Nilai impor barang modal Indonesia pada Februari 2021 tercatat sebesar US$ 2,15 miliar, naik 9,08% dibandingkan periode Januari 2021 (month to month/mtm) atau melonjak 17,68% dibandingkan periode sama 2020 (year on year/yoy). Kenaikan impor barang modal yang berkontribusi hingga 16,23% terhadap total impor tersebut dinilai sebagai sinyal positif bagi kegiatan industri atau manufaktur dan investasi ke depan. Nilai impor barang modal mengalami kenaikan karena ditopang oleh peningkatan impor komponen mesin dari Jepang, Filipina, dan Singapura. Selama Februari 2021 lalu, nilai impor mesin dan perlengkapan elektrik naik sampai US$ 172,8 juta. Alhasil, posisi impor meningkat baik secara month to month maupun year to year.

Sedangkan untuk nilai impor bahan baku/penolong sebesar US$ 9,89 miliar, turun tipis 0,5% dari posisi Januari 2021, namun meningkat 11,53% dari Februari 2020. Kontribusi bahan baku/penolong terhadap total impor Februari 2021 ini mencapai sebesar 74,57%. Peningkatan jumlah impor barang modal khususnya impor mesin dan perlengkapan elektrik sejalan dengan ekspansi investasi di sektor manufaktur atau ekspansi dalam bentuk adopsi teknologi produksi baru. Secara month to month (mtm) posisi impor mesin dan perlengkapan elektrik meningkat US$ 172,8 juta.

Dengan adanya peningkatan impor barang modal sebesar 9,08% dibandingkan Januari 2021 atau naik 17,68% dibandingkan Januari 2021 atau naik 17,68% dibandingkan Februari 2020 (year on year/yoy) tidak berarti sektor manufaktur sudah pulih sesuai ekspektasi. Sebab jumlah impor bahan baku dan bahan penolong masih termasuk kontraksi, dimana pada 2020 impor mengalami kontraksi yang cukup besar karena kondisi lockdown Tiongkok. Bila dilihat secara rinci ekspansi impor pada Februari 2021 terjadi karena ada ekspansi produktivitas di sektor riil yaitu sektor makanan dan minuman, agrikultur, teknologi informasi dan kesehatan. Hal ini tidak mengherankan karena sektor-sektor tersebut tidak terlalu tertekan sepanjang pandemi dan dapat berjalan, bahkan tumbuh relatif stabil meski kondisi pandemi.

(Oleh - IDS)

Produksi Garam, Petani Andalkan Kebutuhan Pabrik

Ayutyas 15 Mar 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, Cirebon - Sebagian besar petani garam di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, masih menghasilkan garam yang bergantung kepada kebutuhan pabrik sehingga mengakibatkan harga garam tidak mengalami peningkatan. Untuk mendukung produksi garam kemasan saat ini masih menunggu surat izin dari pihak terkait. Washing plant atau unit pengolahan garam di Kabupaten Indramayu, terdapat di kecamatan Kerangkeng yang merupakan bantuan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk mendorong produktivitas garam lokal Indramayu. Fasilitas tersebut merupakan bantuan dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dibangun pada tahun lalu. Kapasitas produksi washing plant ini mencapai 20 ton per hari.

Produksi garam di Kabupaten Indramayu mencapai 361.000 ton pada tahun lalu. Sayang, lantaran hanya dijual ke pabrik-pabrik untuk diolah lagi menjadi garam kemasan. Setiap tahun ada saja garam yang tersimpan di gudang sebab pabrik juga memiliki keterbatasan dalam melakukan pengolahan. Tercatat, ada 37.000 ton garam menumpuk. Nelayan banyak menyampaikan keluhan terkait alat tangkap garong dan pukat harimau. Nelayan yang setiap harinya melaut sejauh satu kilometer dari bibir pantai, kesulitan mendapatkan ikan. akibatnya, setiap harinya hanya mendapatkan uang tidak lebih dari Rp 100.000. 

(Oleh - IDS)

Rekonduktoring Jaringan SUTT, PLN Komitmen Dukung Industri Smelter di Sulawesi

Sajili 10 Mar 2021 Tribun Timur

Industri smelter yang saat ini berkembang pesat di Pulau Sulawesi merupakan tantangan bagi PLN dalam memasok kebutuhan listriknya secara cukup dan Andal.

PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNI) merupakan smelter di Bantaeng di bidang industri pengolahan dan pemurnian mineral nikel yang menjadi pelanggan potensial PLN dengan daya eksisting 40 MW.

Proses Rekonduktoring jaringan Transmisi Line Punagaya - Bantaeng smelter telah dimulai sejak November tahun lalu dan direncanakan akan selesai pada April 2021.

“saat ini proses Rekonduktoring sedang berlanjut dengan progress 90% dan telah mendapat Rekomendasi Laik Bertegangan (RLB) sehingga dapat segera dilakukan uji coba bertegangan. Harapan kami project ini dapat berjalan sesuai dengan schedule yang ada,” ungkap Rahmat - Senior Manager Transmisi PLN UIKL Sulawesi


Pemerintah Didesak Awasi Impor Baja Melalui Batam

Ayutyas 04 Mar 2021 Investor Daily, 4 Maret 2021

Jakarta - Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA) mendesak pemerintah untuk mengawasi impor baja melalui Kawasan Perdagangan Bebas Batam, Kepulauan Riau. Sejak 2015, impor di Kawasan Perdagangan Bebas Batam terus naik, yang dapat semakin naik sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 41 Tahun 2021 pada Februari 2021, yang merupakan peraturan pelaksana atas UU Cipta Kerja. Hal ini menjadi kekhawatiran para pelaku industri baja di Indonesia, terutama produsen baja untuk galangan kapal.

Impor baja, khususnya produk pelat yang membanjiri Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Kawasan Bebas) Batam terjadi akibat pembebasan bea masuk, di mana di dalamnya termasuk bea masuk anti dumping (BMAD), bea masuk imbalan (BMI), bea masuk pengamanan perdagangan (BMTP) dan bea masuk pembalasan. DUmping adalah praktik yang tidak diperbolehkan oleh hukum dagang internasional. Masuknya baja impor ke Kawasan Bebas Batam harus tetap diawasi agar tidak keluar produknya untuk kembali dijual di wilayah Indonesia.

(Oleh - IDS)

Ketua DPRD Tala Dukung Pemkab Tawarkan Industri Jorong kepada Investor

Sajili 01 Mar 2021 Banjarmasin Post

Upaya Pemerintah Kabupaten Tanah Laut (Tala) menawarkan Kawasan Industri (KI) Jorong kepada investor mendapat dukungan wakil rakyat setempat.

Ketua DPRD Tala, Muslimin menyatakan mendukung langkah Pemkab Tala yang saat ini sedang menjajaki kerjasama dengan pihak investor ternama Indonesia (PT Jababeka Tbk) tersebut.

Gencarnya pemerintah daerah menawarkan KI Jorong kepada pihak investor, menurut dia, masih perlu kesiapan internal. Termasuk kesiapan di kawasan industri yang berada di wilayah Desa Swarangan, kecamatan Jorong tersebut.

Apalagi KI Jorong juga telah masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN). Area KI Jorong cukup luas mencapai ribuan hektare. Sejumlah sarana dan prasarananya pun telah tersedia, termasuk pelabuhan berskala besar yang sangat layak untuk aktivitas bongkar muat barang dalam kapasitas besar pula.

Infrastruktur menuju lokasi pun telah ada dan cukup memadai, jaraknya juga tak terlalu jauh dari jalan poros Trans Kalimantan. Pemerintah daerah juga terus berupaya melakukan peningkatan kualitas dan kelas jalan menuju lokasi.


Utilitas Pabrik, Pemerintah Berambisi Tingkatkan Produksi Gula

Ayutyas 25 Feb 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, Jakarta - Kementrian Perindustrian berambisi memaksimalkan produksi pabrikan gula guna memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi di masyarakat. Tujuan tersebut akan diwujudkan dengan melakukan pembenahan terkait produktivitas gula. Upaya tersebut dimulai dengan merilis Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 3/2021 tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Industri Gula dalam Rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional. Dengan aturan itu, ada demarkasi yang bertujuan untuk memberi garis antara gula rafinasi untuk industri dan gula tebu untuk konsumsi. 

Langkah lain yang sedang ditempuh saat ini adalah revisi Permenperin No. 10/2017 tentang fasilitas memperoleh bahan baku dalam rangka pembangunan industri gula. Revisi regulasi tersebut dalam rangka percepatan dan pemberian insentif agar ada investasi baru untuk pabrik gula yang terintegrasi dengan tebu. Pemerintah menyadari menjaga produksi kebun agar kapasitas mesin tetap penuh tidak mudah. Oleh karena itu, revisi regulasi pun akan menyasar pada pabrik existing yang saat ini sudah beroperasi dengan lahan tebunya.

Ekspansi ke Sragen Blesscon Banyak Permintaan

Sajili 24 Feb 2021 Surya

Ekspansi PT Superior Prima Sukses (SPS) membangun pabrik bata ringan di Sragen, Jawa Tengah (Jateng) mendapat respons positif dari pasar. Meski pabrik baru melakukan uji coba untuk line 1 dalam satu pekan ini, permintaan dari pasar sudah mulai membanjir.

Henrianto, Commercial Director PT SPS, mengatakan, Pabrik Blesscon SPS di Sragen disiapkan menjadi dua lini. Lini pertama, yang saat ini sedang uji coba, ditargetkan bisa operasional penuh di Juni 2021.

Blesscon merupakan brand bata ringan yang selama ini diproduksi di pabrik Mojokerto dan Lamongan. Di dua pabrik ini masing-masing memiliki kapasitas 400.000 m3 dan 700. 000 m3.

Dari produksi tersebut, SPS memilih ekspansi di Sragen untuk menyasar pasar di Jawa Tengah (Jateng) wilayah Soloraya dan sebagian Jateng bagian selatan dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


Pilihan Editor