Industri lainnya
( 1858 )Kinerja Industri Mobil RI Terburuk di Asean
Kinerja industri mobil Indonesia dari sisi penjualan domestik pada 2020 terburuk di Asean. Tahun lalu, penjualan mobil domestik Indonesia ambles 48% menjadi 532.027 unit, terdalam dibandingkan negara-negara Asean lainnya. Seiring dengan itu, Thailand merebut posisi puncak di segmen pasar domestik, menggusur Indonesia. Thailand juga mengungguli Indonesia dari sisi ekspor.
Berdasarkan data Asia Motor Business, Rabu (3/2), penurunan penjualan mobil di Indonesia jauh lebih dalam dibanding negara tetangga seperti Singapura, Filipina, Thailand, Malaysia, ataupun Vietnam. Setelah Indonesia, penjualan terdalam lainnya dialami oleh Singapura yang sebanyak 47,7% menjadi 45.511 unit, disusul Filipina yang turun 31% menjadi 285.512 unit, Thailand terkoreksi 21% menjadi 792.146 unit, Malaysia turun 12,4% menjadi 529.434 unit, dan Vietnam yang terkoreksi 7,1% menjadi 283.983 unit. Secara keseluruhan, penjualan mobil di Asean turun 28,5% pada 2020 menjadi 2.468.613 unit dibanding tahun sebelumnya 3.451.097 unit. Penjualan terbanyak diraih oleh Thailand dengan 792.146 unit, menggeser posisi Indonesia. Pada 2019, Indonesia masih menempati posisi puncak sebagai negara dengan penjualan domestik terbesar di Asean dengan angka penjualan 1.030.126 unit, di atas Thailand yang menjual 1.007.552 unit, dan Malaysia dengan 604.281 unit.
Sekretaris Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, sudah saatnya pemerintah membantu mempermudah masyarakat dalam memiliki kendaraan baru di tengah pandemi Covid-19. Memiliki kendaraan pribadi dinilai lebih aman dari sisi kesehatan masyarakat. Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, tentu perekonomian Indonesia bisa bergerak kembali. “Dengan konsumen dibantu tentunya akan membuat para pelaku industri bisa tetap produksi,” ucap dia. Tahun ini, Gaikindo menargetkan penjualan mobil mencapai 725 ribu unit. Hal ini topang kuatnya permintaan pada kuartal IV-2020, terlihat pada lebih besarnya penjualan ritel ketimbang wholesales (pengiriman mobil ke dealer). Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan, agen pemegang merek (APM) segera menggenjot produksi mobil untuk mengisi stok di dealer.
Jatim Siap Resmikan Kawasan Industri Halal
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mempromosikan Kawasan Industri Halal (KIH), Pasalnya KIH sengaja digagas untuk menyediakan wadah juga untuk usaha kecil menengah dan industri kecil menengah.
Dijelaskan, KIH adalah suatu area yang dikhususkan untuk produksi dan tempat penyimpanan produk halal. Di mana integritas suatu produk halal dijamin oleh kawasan melalui sistem dan prosedur halal yang ketat.
“KIH ini merupakan pengembangan kawasan industri di Safe N Lock yang berdiri di atas lahan seluas 410 hektare di Sidoarjo. Lahan KIH ini direncanakan mencapai 148 hektare. KIH dikelola PT Makmur Berkah Amanda. Rencananya, kawasan ini akan dilaunching sekitar Minggu kedua Februari, “ ungkap Khofifah.
Menurut Khofifah, kawasan ini diharapkan mampu mendorong perkembangan industri produk halal di Indonesia. Harapannya KIH bisa menjadikan pelaku IKM semakin bermartabat. Apa lagi tulang punggung ekonomi Jatim yang berasal dari UMKM hampir mencapai 57 persen.
Industri Mobil Kekurangan Stok
Industri mobil kekurangan stok pada awal 2021, seiring lebih besarnya penjualan ritel ketimbang wholesales (pengiriman mobil ke dealer) pada 2020. Alhasil, sejumlah pabrikan bakal memacu produksi untuk mengisi stok di dealer. Berdasarkan data Gabugan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diolah UOB Kay Hian, penjualan ritel mobil tahun lalu mencapai 578.327 unit, sedangkan wholesales 532.052 unit. Artinya, ada selisih sebanyak 46.275 unit. Selisih ini bisa disumbangkan oleh penjualan mobil rakitan 2019 di 2020.
Tahun lalu, penjualan mobil secara
wholesales turun 48%, seiring pelemahan daya beli dan pembatasan sosial
yang dilakukan untuk membendung
penyebaran Covid-19. Pasar mobil
tertekan hebat kuartal I-2020, namun
membaik semester I. Bahkan, pada
November dan Desember 2020, penjualan mobil secara ritel melampaui
IHSG, menandakan penyerapan di
pasar sangat kuat.
Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan, agen pemegang merek (APM) segera menggenjot produksi mobil, mengingat penjualan ritel pada Desember 2020 lebih tinggi dibandingkan wholesales. Data Gaikindo menunjukkan, Desember 2020, penjualan ritel mobil mencapai 68.698 unit atau naik 22,44% dibandingkan November sebanyak 56.105 unit. Sementara itu, pada Desember 2020, wholesales mobil hanya 57.129 unit.
UOB menilai, lebih tingginya penjualan ritel mobil ketimbang wholesales
mengindikasikan permintaan akan
lebih kuat ke depannya. Sebab, penjualan ritel menggambarkan permintaan
mobil sesungguhnya.
“Hal ini juga bakal menurunkan
level stok di dealer, sehingga mereka
harus mengorder mobil lagi ke APM
atau pabrikan. Alhasil, penjualan mobil
bakal tinggi tahun ini,” tulis UOB.
Keramik Plered Purwakarta, Bertahan Di Pasar Lokal
Produk keramik khas Plered Kabupaten Purwakarta terus memperkuat eksistensinya di pasar lokal di tengah lesunya pasar ekspor ke sejumlah negara akibat pandemi Covid-19. Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menuturkan sebelum ada pandemi, komposisi pasar produk keramik Plered 70% merupakan ekspor dan 30% untuk kebutuhan pasar lokal. Anne menjelaskan, pasar luar negeri saat ini sedang mengalami kelesuan akibat pandemi Covid-19. Tapi ada berkah tersendiri, karena pasar dalam negeri justru bergeliat. Menurut Anne, keramik Plered saat ini banyak diburu warga lokal. Terutama, warga dari luar daerah seperti Jakarta dan sekitarnya. Mereka, yang mencari keramik ini kebanyakan adalah kaum ibu-ibu. Kebanyakan, mereka itu mencari pot bunga.
Dengan fenomena tersebut, Anne menambahkan, ada berkah tersendiri dari Covid-19 ini bagi para perajin keramik. Karena, di saat yang lain terpuruk, kerajinan keramik justru mengalami kondisi sebaliknya. “Kami berharap, seluruh UMKM [usaha mikro kecil dan menengah] bisa kembali berjaya. Meskipun pandemi masih berlangsung,” katanya. Sementara itu, Kepala Bidang UKM pada Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan perdagangan (DKUPP) Kabupaten Purwakarta Ahmad Nizar menambahkan keramik Plered merupakan salah satu produk UMKM andalan untuk diekspor. Keramik Plered, lanjutnya, sudah lama ekspor ke berbagai negara di antaranya pasar Eropa dan Amerika. Bahkan, pasar peminat keramik Plered bertambah ke Asia Timur Raya, salah satunya Korea Selatan.
Nizar bercerita, merujuk pada data yang ada, ekspor keramik ini sudah ada sejak dekade 80an. Sejak dulu, produk kerajinan kriya ini banyak digemari warga asing. Adapun jenis yang paling banyak diburu, yakni vas bunga dan keramik hias. Menurut Nizar, sejauh ini potensi ekspor keramik asal Plered cukup menjanjikan. Pertahunnya, ekspor keramik ini bisa mencapai 400 sampai 1.000 kontainer. Omzetnya pun lumayan, yakni mencapai Rp1-3 miliar per kontainernya. Saat ini jumlah pelaku usaha keramik Plered mencapai 264 perajin dengan jumlah pekerja mencapai 3.000 orang. Sedangkan, untuk kategori industri, meliputi produk bata dan genting. Untuk sentra produksi, meliputi wilayah Citeko, Citalang, dan Tegalwaru dengan jumlah pekerjanya mencapai 40.000 orang.
Industri Kendaraan Listrik, Investasi Jumbo Ekosistem Baterai
Ambisi Indonesia untuk memiliki industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir membutuhkan nilai investasi mencapai US$13,4 miliar—US$17,4 miliar. Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana mengatakan bahwa kebutuhan investasi itu untuk membangun industri baterai kendaraan listrik (baterai EV) dari hulu ke hilir dengan kapasitas cells 140 GWh. “Nilai investasi besar mencapai US$13—US$17 miliar dengan risiko teknologi yang tinggi dan pasar yang bergantung pada OEM [original equipment manufacturer],” ujarnya, Senin (1/2)
MIND ID dan PT Antam Tbk. yang memiliki cadangan nikel nomor dua di Indonesia akan berperan menyediakan bijih nikel sebagai bahan baku hingga bahan antara baterai EV, mulai dari pengolahan bijih nikel sulfat hingga diolah menjadi prekusor dan katoda. Selanjutnya, PT Pertamina (Persero) akan berperan di bidang manufaktur produk hilir meliputi battery cell, battery pack, dan ESS.
Lalu, PT PLN (Persero) akan berperan dalam pembuatan battery cell, penyediaan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik dan integrated management systems (IMS).
Ketujuh perusahaan tersebut adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), BYD Auto Co.Ltd, dan Farasis Energy, Inc., dari China; LG Chem Ltd. dan Samsung SDI dari Korea Selatan; Tesla Inc. asal Amerika Serikat; dan Panasonic dari Jepang. “Para mitra harus punya kemampuan untuk menjual [produksi baterai] di dalam negeri maupun ke luar negeri,” imbuhnya. Sementara itu,Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengungkapkan bahwa modal awal untuk pembentukan IBH diperkirakan mencapai US$50 juta. Adapun, IBH merupakan konsorsium BUMN yang akan dibentuk untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Holding tersebut akan beranggotakan MIND ID, Pertamina, PLN, dan Antam dengan masing-masing kepemilikan saham sebesar 25%.
Masing-masing BUMN tersebut memiliki keleluasaan untuk dapat berpartisipasi langsung dalam joint venture (JV) yang dibentuk bersama calon mitra. Heru Setiawan, CEO Subholding Power and New and Renewable Energy Pertamina, menyebutkan bahwa pihaknya menyadari tren bahan bakar fosil pada masa yang akan datang lambat laun akan ditinggalkan. Namun, pihaknya akan tetap memanfaatkan asetnya untuk mengolah energi konvensional yang ada saat ini untuk nantinya dikembangkan guna menangkap peluang pada masa transisi energi
Heru menuturkan Pertamina tengah menyiapkan panel surya yang akan dipasangkan di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Nantinya, alat tersebut akan menjadi pasokan tambahan yang bisa digunakan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). “Nantinya power yang berasal dari SPBU itu kombinasi dari EBT dan fosil,” jelasnya. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Ramson Siagian berharap semua pihak yang terkait dengan pengembangan industri baterai EV dapat bersinergi dengan baik
Dia juga meminta Menteri BUMN Erick Thohir untuk melibatkan PT Len Industri dalam konsorsium BUMN dalam proyek baterai kendaraan listrik. Adapun, Direktur Utama Len Industri Bobby Rasyidin mengatakan pihaknya telah mampu memproduksi komponen battery management system (BMS). Dia menjelaskan perseroan telah memulai produksi dengan skala industri yang dimulai sejak 2018. Dia mengklaim tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam produk itu sudah mencapai 40%.
(Oleh - HR1)
Erick Thohir dan Sri Mulyani Mau Bentuk 6 Holding BUMN Tambahan
Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan berencana membentuk enam holding BUMN. Adapun keenam holding BUMN terdiri dari Jasa Survei, Industri Pangan, Industri Pertahanan, Industri Media, Layanan Kepelabuhan, dan Layanan Transportasi (Aviasi-Pariwisata).
Sejauh ini, baru terbentuk 6 holding BUMN terdiri dari holding perkebunan PT Perkebunan Nusantara III (PTPN Group), holding kehutanan Perum Kehutanan Negara (Inhutani Group), holding industri tambang PT Inalum (Bukit Asam, Timah, Aneka Tambang, Freeport Indonesia), Holding Minyak dan Gas PT Pertamina (PT PGN), holding farmasi PT Bio Farma (Kimia Farma, Indofarma), dan holding Asuransi PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Askrindo, Jamkrindo, Jasindo, Jasa Raharja).
Industri Keramik, Ambisi RI Kembali Ke Lima Besar
Kementerian Perindustrian berupaya untuk mengembalikan kejayaan industri keramik nasional seperti era 2014 sebagai produsen nomor empat di dunia. Target ini ditopang dengan kebijakan strategis. Salah satunya dengan program substitusi impor sebesar 35% yang ditargetkan tercapai pada 2022. Implementasi didukung dengan kebijakan pengendalian tata niaga impor keramik dan pembatasan pelabuhan masuk di wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Selain itu, ada kebijakan minimum import price untuk ubin keramik serta pemberlakuan SNI wajib yang diperketat.
“Kami telah melakukan pertemuan dengan Asosiasi Aneka Keramik Indonesia [Asaki] guna mencari solusi agar industri keramik nasional bisa lebih berdaya saing di kancah global,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui siaran pers, Senin (25/1). Agus menyatakan industri keramik saat ini optimistis dapat kembali berjaya apabila mendapatkan dukungan dan atensi dari pemerintah. Asaki sepakat mendukung misi besar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk substitusi impor.
Seperti diketahui, wabah pandemi Covid-19 memang telah menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi dan industri, termasuk sektor keramik. Utilisasi industri keramik sempat turun menjadi 30% pada kuartal II/2020 kemudian mulai beranjak naik hingga 60% periode kuartal III/2020. Peningkatan itu tidak terlepas peran dari implementasi kebijakan harga gas industri sebesar US$6 per Million British Thermal Unit (MMBTU).
Berdasarkan data Kemenperin, kekuatan industri ubin keramik di Indonesia ditopang sebanyak 37 perusahaan yang tersebar di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Total kapasitas produksi terpasang sebesar 537 juta m2 atau 8,14 juta ton per tahun yang menyerap tenaga kerja hingga 150.000 orang. Adapun, jumlah anggota Asaki mencapai 71 perusahaan yang terdiri atas industri ubin keramik, keramik tableware, saniter, genteng atau roof tile, dan industri pendukung lainnya.
Produsen keramik memproyeksikan rerata utilisasi industri 2021 akan meningkat di level 72,5% setelah sempat anjlok hingga 30% pada kuartal II/2020 dihantam pandemi Covid-19. Secara detail, utilisasi industri 2020 sebesar 56%, sedangkan pada semester II/2020 utilisasi sudah mendekati tahun lalu yakni 64%. Adapun, volume produksi pada 2020 diproyeksi mencapai 301 juta m2. “Utilisasi ubin keramik paling rendah pada kuartal II/2020 di angka 30% dan kuartal IV/2020 sudah di kisaran 70%. Perkiraan utilisasi meningkat pada 2020 di kisaran 72,5% dengan volume produksi 389 juta m2,” kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto kepada Bisnis, Selasa (29/12/2020).
Pada semester I/2021, level utilisasi diproyeksi stabil di level 70% yang kemudian dilanjutkan pada paruh kedua 2021 di level 75%. Volume produksi diproyeksi mendekati 400 juta m2 pada 2021. Jika angka itu tercapai, Indonesia berpotensi memperbaiki peringkat produksi terbesar di dunia menjadi ranking enam atau tujuh. Pada 2019, volume produksi keramik 349 juta per m2 yang menempatkan Indonesia berada diperingkat delapan produsen terbesar di dunia.
Lebih lanjut, proyeksi perbaikan industri keramik di atas sejalan dengan Kemenperin yang memiliki perkiraan pertumbuhan industri galian non-logam akan naik di level 7,36% setelah tahun ini minus 8,19%. Edy menyebut untuk mempertahankan momentum pemulihan dan kebangkitan industri keramik pasca penurunan harga gas US$6 per MMBTU, Asaki mendesak sejumlah langkah konkret perlindungan dan penguatan industri keramik, seperti pembatasan pelabuhan impor tertentu dan penetapan minimum import price. Dia menyebut industri keramik nasional harus mendapatkan atensi khusus terlebih sebagai industri strategis yang menyerap jumlah tenaga kerja cukup besar lebih dari 150.000 orang dan dengan TKDN yang tinggi rerata di atas 75%.
(Oleh - HR1)
Industri Keramik, Menanti Langkah Konkret Substitusi Impor
Pelaku industri keramik mengharapkan langkah konkret dari pemerintah agar target substitusi impor 35% dapat tercapai. Produk impor keramik dari China, India, dan Vietnam terus meningkat sehingga defisit perdagangan ekspor dan impor keramik dari tahun ke tahun kian lebar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka defisit telah mencapai US$1,1 miliar sejak 2015 hingga 2020. Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menilai penerapan instrumen safeguard sejak 2018 belum cukup efektif menahan impor. Selain itu, ada pula penipisan ketebalan keramik yang secara tidak langsung menjadi penurun kualitas produk untuk mengejar efisiensi biaya pengiriman. Untuk itu, Asaki saat ini sedang mengajukan perpanjangan safeguard yang akan berakhir pada Oktober mendatang dengan besaran bea masuk harus lebih besar minimal 35%—40% dibandingkan dengan sebelumnya, yakni 19%—23%.
Sementara itu, dalam keterangan tertulisnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan siap membangkitkan kembali kejayaan industri keramik nasional seperti pada 2014 sebagai produsen nomor empat di dunia. Kemenperin mencatat, hingga saat ini kekuatan industri ubin keramik di Indonesia ditopang sebanyak 37 perusahaan yang tersebar di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan. Total kapasitas produksi terpasang sebesar 537 juta m2 atau 8,14 juta ton per tahun yang menyerap tenaga kerja hingga 150.000 orang.
(Oleh - HR1)
Industri Komponen Sepeda, Substitusi Impor Mendesak
Pemerintah mendorong industri kecil dan menengah untuk memasok komponen sepeda yang saat ini masih diimpor sekitar 70% dari total kebutuhan dalam negeri. Dalam mendorong industri kecil menengah atau IKM, yang paling penting adalah pasar dan kesempatan untuk memasok produk pada industri besar. Inovasi dari produk IKM pun kini tidak boleh dipandang sebelah mata dan harus didukung. Kemenperin tengah mengumpulkan industri komponen otomotif yang dapat membuat komponen sepeda.
IKM juga akan terus menekankan pentingnya kunci kontinuitas dalam berproduksi, jika sudah bermitra dengan industri besar. Para IKM pun dituntut mampu menjaga standar dan kapasitas produksinya. Sepanjang periode 2015-2019, Kemenperin telah menyalurkan bantuan restrukturasi mesin dan peralatan dengan total nilai penggantian Rp 46 miliar kepada 427 pelaku IKM. Pengembangan komponen sepeda akan sangat bergantung dari regulasi yang diracik pemerintah. Tanpa kewajiban produsen menyerap material lokal, maka akan sulit industri dalam negeri bersaing dengan produk impor.
Otomotif dan Makanan Kuasai Kawasan Industri
Kawasan industri diperkirakan akan terus bangkit, meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Pada 2020 pasar otomotif masih menguasai 34% kawasan industri di Jabodetabek, disusul oleh perusahaan makanan (food). Industri makanan juga terus bangkit dan hampir menguasai kawasan industri sebesar 22%. Sementara itu, penjualan lahan setiap kuartal 2020 hanya dikontribusikan oleh maksimal tujuh kawasan menandakan aktifitas yang masih lesu. Meski masih melemah, tetapi masih ada pembukaan lahan baru selama 2020 dengan total lahan seluas 153 hektare (ha).
Pada 2021, kawasan industri akan menjadi sektor pertama yang bangkit, karena potensinya yang besar yang sewaktu-waktu bisa muncul saat ekonomi membaik. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang berkaitan dengan IT dan teknologi. Semakin terbatasnya cadangan lahan kawasan industri di wilayah Jabodetabek, membuat pengembangan kawasan industri ke depan berpotensi meluas ke koridor timur Jabodetabek seperti Karawang, Purwakarta, dan selanjutnya ke Subang, sejalan dengan pembangunan fasilitas pendukung.
Para pelaku industri berharap permintaan dari perusahaan asing akan mulai pulih setelah dicabutnya pembatasan sosial skala besar (PSBB) di Jakarta dan distribusi vaksin Covid-19. Undang-undang Omnibus Law yang baru akan memberikan kemudahan bagi investor asing untuk mengembangkan usahanya di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan industri baik untuk lahan industri maupun pergudangan.









