;

Industri Keramik, Menanti Langkah Konkret Substitusi Impor

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 26 Jan 2021 Bisnis Indonesia
Industri Keramik, Menanti Langkah Konkret Substitusi Impor

Pelaku industri keramik mengharapkan langkah konkret dari pemerintah agar target substitusi impor 35% dapat tercapai. Produk impor keramik dari China, India, dan Vietnam terus meningkat sehingga defisit perdagangan ekspor dan impor keramik dari tahun ke tahun kian lebar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka defisit telah mencapai US$1,1 miliar sejak 2015 hingga 2020. Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menilai penerapan instrumen safeguard sejak 2018 belum cukup efektif menahan impor. Selain itu, ada pula penipisan ketebalan keramik yang secara tidak langsung menjadi penurun kualitas produk untuk mengejar efisiensi biaya pengiriman. Untuk itu, Asaki saat ini sedang mengajukan perpanjangan safeguard yang akan berakhir pada Oktober mendatang dengan besaran bea masuk harus lebih besar minimal 35%—40% dibandingkan dengan sebelumnya, yakni 19%—23%. 

Sementara itu, dalam keterangan tertulisnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan siap membangkitkan kembali kejayaan industri keramik nasional seperti pada 2014 sebagai produsen nomor empat di dunia. Kemenperin mencatat, hingga saat ini kekuatan industri ubin keramik di Indonesia ditopang sebanyak 37 perusahaan yang tersebar di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan. Total kapasitas produksi terpasang sebesar 537 juta m2 atau 8,14 juta ton per tahun yang menyerap tenaga kerja hingga 150.000 orang. 

(Oleh - HR1)

Download Aplikasi Labirin :