;
Tags

Industri lainnya

( 1905 )

Target Sulit Tercapai

Sajili 17 May 2021 Kompas

Membaiknya sejumlah indikator ekonomi membuat pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi triwulan II-2021 bisa mencapai 7 persen secara tahunan. Namun, sejumlah kalangan berpendapat target tersebut akan sulit tercapai mengingat ada potensi lonjakan kasus Covid-19 pasca-Lebaran hingga masih lemahnya konsumsi masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pada triwulan II-2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan naik seperti kurva huruf V. ”Kita berharap pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua akan memasuki jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen,” ujar Airlangga akhir pekan lalu secara daring. Menurut Airlangga, optimisme itu didasarkan pada sejumlah indikator. Pertama, indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index/PMI) Indonesia per April 2021 yang mencapai 54,6, naik dibandingkan Maret 2021 yang sebesar 53,2. Dalam pengukuran PMI, nilai di atas 50 menunjukkan sektor usaha berada dalam zona ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 merupakan zona kontraksi. Kedua, lanjut Airlangga, Indeks Keyakinan Konsumen yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) juga berada dalam level optimistis. Ketiga, nilai ekspor dan impor berada dalam tren membaik. Begitu pula pembentukan modal tetap bruto (PMTB). ”Kami melihat pertumbuhan PMTB sudah mendekati positif,” ujarnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, berbagai indikator memang menunjukkan tren pemulihan ekonomi. Namun, target 7 persen akan sulit tercapai. ”Triwulan kedua ini masih berlangsung 1,5 bulan lagi. Masih banyak hal yang bisa terjadi. Ini yang harus diwaspadai dan diantisipasi,” ujar Bhima. Ia mengatakan, pemerintah harus bisa mengendalikan jumlah kasus Covid-19. Jangan sampai pasca-Lebaran malah terjadi lonjakan kasus yang justru mengakibatkan pengetatan aktivitas sosial ekonomi lagi. Jika terjadi demikian, akan kontra produktif dengan pemulihan ekonomi. Selain itu, pemerintah juga harus mengantisipasi gejolak geopolitik di Timur Tengah. Meski bukan mitra dagang utama Indonesia, konflik Israel-Palestina berpotensi mengganggu perdagangan internasional yang juga belumpulih sepenuhnya. Hal ini bisa berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, kendati mengalami lonjakan signifikan dibandingkan titik terendah pada April 2020, indeks PMI yang ekspansif belum tentu menggambarkan pemulihan seluruh sektor industri. ”Industri itu sangat beragam. Kalau mau dibedah satu per satu, hanya beberapa sektor yang mulai konsisten membaik. Itu pun banyak ditopang oleh permintaan global yang kembali naik karena perekonomian negara lain yang juga mulai pulih,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, per triwulan I-2021, sektor-sektor yang menopang kinerja industri adalah kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 11,46 persen, disusul industri furnitur 8,04 persen, industri logam dasar 7,71 persen, industri karet 3,84 persen, industri mesin dan perlengkapan 3,22 persen, serta industri makanan dan minuman 2,45 persen.

Faisal mengatakan, kendati sejumlah sektor itu mampu tumbuh selama pandemi,masih banyak sektor lain yang belum pulih, khususnya yang bersifat padat karya. Misalnya, sektor tekstil dan pakaian masih terkontraksi minus 13,28 persen, demikian juga industri pengolahan tembakau minus 9,58 persen, industri bahan galian bukan logam minus 7,28 persen, serta industri alat angkutan minus 10,93 persen. Menurut dia, beberapa sektor itu masih mengalami kontraksi karena permintaan domestik yang belum membaik. Jika pandemi mulai terkendali dan tingkat mobilitas kembali normal, permintaan otomatis akan meningkat lagi untuk produk seperti baju dan sepatu. Di sisi lain, meskipun pasar ekspor saat ini mulai bangkit, produk tekstil Indonesia masih sulit bersaing dengan negara lain yang juga menjual produk serupa.

Industri Plastik, Pebisnis Tetap Waspada

Ayutyas 10 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Kendati telah mencatatkan hasil positif pada kuartal I/2021, industri plastik masih tetap waspada terhadap dampak pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri karet, barang karet, dan plastik merupakan sektor yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,84%. Angka itu bahkan di atas sektor makanan dan minuman yang hanya tumbuh 2,45% sepanjang triwulan pertama tahun ini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan kinerja industri 3 bulan pertama tahun ini selaras dengan level utilitas sektor hulu yang terjaga di atas 90% dan sektor hilir yang masih berkisar 65%-70%.

Sebelumnya, produsen plastik kemasan, PT Panca Budi Idaman Tbk., menargetkan peningkatan volume dan nilai produksi 10%-15% pada tahun ini.

Direktur Panca Budi Lukman Hakim mengatakan untuk mencapai target tersebut, perseroan akan menjaga rata-rata kapasitas terpasang di kisaran 80%. Adapun kapasitas total pabrik milik Panca Budi sekarang sebesar 125.000 ton per tahun.

Selain diversifikasi produk, perseroan juga masih akan memperluas pangsa pasar dan jaringan distribusi, meningkatkan kualitas produk dan brand value, dan melakukan efisiensi operasional.

(Oleh - HR1)

Industri Kreatif, Pemanfaatan Platform Digital UMKM Kian Luas

Ayutyas 07 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, BANDUNG — Para pelaku UMKM di Jawa Barat terpantau mulai masif menggunakan platform digital untuk menyasar konsumen di masa pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Provinsi Jawa Barat Kusmana Hartadji mengatakan banyak pelaku UMKM Jabar yang mulai memanfaatkan peluang bisnis di pasar digital. Aktivitas pelaku UMKM Jabar di marketplace pun semakin masif.

“Di salah satu marketplace, ada kenaikan sekitar 31% UMKM yang on boarding. Lalu, aktivitas UMKM Jabar di marketplace meningkat. Itu terlihat dari pelaku UMKM Jabar yang aktif di market place mencapai 57%,” kata Kusmana, Kamis (6/5).

Salah satu faktor penyebab meningkatnya aktivitas UMKM Jabar di pasar digital adalah Gerakan Nasional (Gernas) Bangga Buatan Indonesia. Selain mempromosikan produk UMKM, Gernas BBI mampu meningkatkan kepercayaan dan antusias masyarakat untuk membeli produk UMKM dalam negeri.

Dalam Gernas BBI di Jabar, kata Kusmana, nilai transaksi dari penjualan langsung mencapai Rp2,7 miliar. Angka tersebut berpotensi meningkat karena belum semua kabupaten/kota melaporkan.

Kemudian, Dinas KUK Jabar terus menginventarisasi nilai transaksi dari penjualan tidak langsung atau online. “Hampir ada 100 event dalam Gernas BBI di Jabar. Baru beberapa kabupaten/kota yang melapor ke kita. Transaksinya Rp2,7 miliar. Itu penjualan langsung. Terus juga transaksi pembiayaan mencapai Rp10,6 miliar,” ucapnya.

Kesadaran digitalisasi pelaku UMKM yang terus meningkat harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat dengan berbelanja online. Apalagi di tengah pandemi, masyarakat dapat tetap berbelanja sekaligus turut serta mencegah penularan Covid-19.

“Ada marketplace untuk UMKM. Jabar sendiri punya borondong.id dan marketplace lainnya. Sekarang pelaku UMKM sudah mulai memasarkan produknya secara online. Ini juga membuat peluang UMKM untuk memperluas pasar semakin besar,” ucap Kusmana.

(Oleh - HR1)

Pemerintah Diminta Kenakan Pajak Karbon terhadap Industri Besar

Sajili 07 May 2021 Koran Tempo

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform, Fabby Tumiwa, mengingatkan pemerintah agar berhati-hati merancang aturan perdagangan karbon dioksida (CO2). Penciptaan pasar menjadi salah satu hal yang perlu menjadi perhatian utama.

Instrumen seperti pajak karbon bisa efektif mendorong entitas bisnis menurunkan kadar emisi CO2. Penerapannya bisa dimulai dari sektor energi, yaitu bahan bakar minyak, karena penggunaannya yang masif. Entitas yang memproduksi CO2 lebih dari batasannya akan dikenakan sanksi.

Penerapan pajak karbon akan membuka kesempatan bagi berkembangnya sumber-sumber energi terbarukan yang rendah emisi. Namun besaran pajaknya perlu ditentukan secara cermat agar regulasi ini berjalan efektif.

Pemerintah juga perlu menyiapkan metode evaluasi dan pengawasan. "Program ini dapat dilakukan secara progresif untuk mempercepat perubahan perilaku. Di Prancis, penerapan pajak karbon ditolak sopir truk karena membuat harga bahan bakar minyak meningkat.

Pajak karbon diterapkan bagi konsumen mobil di atas 2.500 cc, lalu diperluas secara bertahap.  Pajak juga bisa diterapkan pada tarif pesawat premium.


Industri Pengolahan Baja, Pengenaan Bea Masuk Antidumping Terus Dibahas

Ayutyas 06 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Tim Pertimbangan Kepentingan Nasional tengah membahas usulan pengenaan bea masuk antidumping (BMAD) untuk bahan baku baja lapis aluminium seng atau BjLAS. Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menyatakan usulan BMAD tersebut ditujukan bagi komoditas BjLAS asal Vietnam dan China. Adapun hal tersebut telah disampaikan kepada pemerintah sejak Februari 2021.Ketua KADI Bachrul Chairi mengatakan pembahasan pengenaan BMAD untuk BjLAS cukup alot di pemerintah.

Saat ini, Bachrul menyebut Vietnam dan China melakukan dumping berkisar 25%-30% di bawah harga jual industri di dalam negeri. Namun, bagi Bachrul hal itu justru menimbulkan pertanyaan akan ketahanan industri dalam negeri sendiri. Dari sisi kapasitas, menurut kajian KADI, Indonesia pada 2018 memang belum mampu memenuhi kebutuhan BjLAS dalam negeri. Namun, ketika sudah ada komitmen pemerintah menerapkan fair trade, ada tambahan kapasitas dari dua perusahaan baru.

Di sisi lain, sejumlah proyek pemerintah diproyeksi bakal mangkrak bila BMAD untuk BjLAS diterapkan.Wakil Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Bidang Logistik dan Kepelabuhanan Erwin Taufan mengatakan importir kesulitas membeli BjLAS.

(Oleh - HR1)

Maskapai Super di Lingkaran Singa Merah

Sajili 05 May 2021 Koran Tempo

Industri penerbangan nasional kedatangan pemain baru setelah Super Air Jet mengajukan rencana operasi di kelas low-cost carrier (LCC) atau penerbangan berbiaya rendah. Juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan Super Air Jet belum mengantongi izin operasi komersial.

Super Air Jet dioperasikan oleh perusahaan bernama PT Super Air Jet. Dalam akta perusahaan disebutkan bahwa Super Air Jet bergerak dalam bisnis angkutan udara berjadwal untuk penumpang dalam dan luar negeri, angkutan udara perintis, serta angkutan barang dan penerbangan wisata.

Nama-nama dalam akta ini memunculkan dugaan bahwa Super Air Jet terafiliasi dengan grup Lion Air, maskapai yang menguasai pasar LCC di Indonesia. Rudy Lumingkewas tercatat sebagai Direktur Lion Air, sementara Redi Irawan menjabat Direktur Operasional Wings Air, salah satu maskapai di bawah grup Lion Air.

Farian menolak jika Super Air Jet disebut terkait dengan Lion Air. Namun dia enggan memberikan informasi lebih jauh. Redi Irawan dan Rudy Lumingkewas belum memberikan konfirmasi soal kepemilikan sahamnya di Super Air Jet. Adapun Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, menyatakan Super Air Jet tidak berhubungan dengan Lion Air.


Pemprov Restui Pembangunan Kawasan Industri Baru di Maros

Sajili 04 May 2021 Tribun Timur

Pemprov Sulsel berencana buka kawasan industri baru di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Rencana ini mencuat saat pertemuan antara Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman bertemu dengan Plt Dirut Kawasan Industri Makassar (Kima) di Kantor Gubernur Sulsel pada Senin (3/5) kemarin.

Rencana pembukaan ini dilakukan karena Kawasan Industri Makassar kini menyisakan 7 hektare lahan dari total luas 338 hektare. Dia mengungkapkan, pengembangan kawasan industri di Maros mendapat lampu hijau dari Pemprov Sulsel.

Alasan Kabupaten maros dipilih sebagai kawasan industri baru karena lokasinya yang strategis, apalagi dekat dengan bandara, kemudian dekat pula pelabuhan dan ada jalur kereta api. Kepala Dinas Perindustrian Sulsel Ahmadi Akil menyebut pembangunan kawasan Industri baru di Maros sangat memungkinkan karena dari empat hal tersebut sangat mendukung.


Industri Tekfin, Izin Baru Diliris Lagi

Ayutyas 04 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis lagi izin baru bagi perusahaan teknologi finansial pemberi pinjaman. Sejak Februari 2020, otoritas melakukan moratorium izin baru bagi para pelaku usaha teknologi finansial (tekfin) peer-to-peer lending di Tanah Air. Namun, pada awal 2021 otoritas memberikan izin bagi beberapa perusahaan seperti PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash). Izin terbaru dikeluarkan oto-ritas kepada PT Modal Rakyat Indonesia. Hal tersebut beriringan dengan diperolehnya dana investasi dari Fazz Financial Group atau FFG. Direktur Utama Modal Rakyat, Hendoko Kwik menjelaskan bahwa izin usaha itu dikantongi perusahaan berdasarkan surat keputusan OJK bernomor KEP-27/D.05/2021. Kendati baru mengantongi izin, perusahaan telah menyalurkan dana lebih dari Rp1,2 triliun.

Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menjelaskan bahwa pendanaan baru ini akan memperkuat bisnis Amartha yang berbasis kelompok serta mempercepat inovasi produk dengan meluncurkan layanan tambahan bagi peminjam (borrower) dan pendana (lender).Dari pendanaan itu, perusahaan bakal merilis produk baru hingga menambah lagi beberapa lini bisnis baru, seperti asuransi dan layanan creditscoring.“Lewat pendanaan ini, ka-mi ingin lebih dari sekadar lending biasa. Kami ingin memperluas pengaruh kami kepada para borrower, sekaligus mengakomodasi diversifikasi portofolio para lender,” katanya.

(Oleh - HR1)

Pengembangan Industri Kreatif, GIM Lokal Incar Pasar Global

Ayutyas 03 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Pengembang gim lokal masih sulit untuk bersaing di negeri sendiri. Pasar global pun menjadi sasaran yang paling ideal untuk dapat bertahan di industri tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI), Cipto Adiguno mengatakan strategi untuk menyasar pasar internasional akan tetap menjadi cara yang baik bagi pengembang lokal dalam jangka waktu pendek dan menengah.

Alasannya, meskipun tren bermain gim terus meningkat selama pandemi Covid-19, gim buatan pengembang lokal justru sulit mendapat tempat di dalam negeri.

Di sisi lain, Cipto meyakini bahwa produktivitas pengembang untuk mengeluarkan produk baru pada tahun ini bakal meningkat pesat. Oleh karena itu, para pengembang perlu memanfaatkan pasar internasional yang diperkirakan mampu memberikan potensi pertumbuhan bagi industri di kisaran 20%—50%.

“Produk gim lokal masih belum mampu bersaing di dalam negeri. Pemenang pasar lokal kecenderungannya adalah produk karya raksasa-raksasa asing. Dari talenta hingga investasi, cukup banyak yang perlu dilakukan bersama,” ujar Cipto, Minggu (2/4).

Direktur eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan secara industri peran gim lokal masih kecil, hanya berkontribusi pada kisaran 1%—2% sehingga potensi pertumbuhan pada tahun ini juga masih di bawah 1%.

Menurutnya, dalam pengembangan gim, pekerjaan rumah dari pemerintah dan pengembangan lokal masih harus mengetahui secara persis bagaimana pola masyarakat bermain gim.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo), Edward Ismawan Chamdani mengatakan pengembang gim lokal masih fokus pada pengembangan gim pada ponsel, dengan tema kasual dan creative agency atau merek terkait gamification.

CEO Digital Happiness dan President Director PT Digital Semantika Indonesia, Rachmad Imron mengatakan potensi industri gim akan selalu meningkat setiap tahun. Gim asing dari perusahaan besar mendulang peningkatan unduhan dengan kontribusi sebesar 80%.

CEO Anantarupa Studio, Ivan Chen mengatakan perusahaan membuat gim bertema e-sports guna memenangkan persaingan dengan industri gim global.

“Ini kami lakukan karena industri gim berbeda dengan startup yang mulai dari lokal dan baru merambah pasar luar negeri setelah menguasai pasar lokal. Industri gim memaksa para pemainnya langsung head to head dengan pemain global,” katanya.

ANGIN SEGAR

Sementara itu, penggabungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dinilai menjadi kabar baik bagi industri gim Tanah Air.

Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo), Handito Joewono mengatakan ke depan, langkah ini bisa menggerakkan kampus agar lebih inovatif dalam menggarap bisnis digital, termasuk gim.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan saat ini perlu pemahaman yang baik dan mendalam tentang industri gim Indonesia. Tujuannya, untuk menentukan inisiatif dan kebijakan yang tepat sasaran, termasuk untuk mengatasi tantangan pengembangan ekosistem gim.

(Oleh - HR1)

Selain Peternakan, Erick Thohir Berminat Beli Tambang Garam di Luar Negeri

Sajili 30 Apr 2021 Sinar Indonesia Baru

Menteri BUMN Erick Thohir tertarik mengambil alih tambang garam di luar negeri. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan garam industri dalam negeri agar Indonesia bisa mengurangi ketergantungannya akan garam impor.

Pak Menteri juga membuka opportunity apabila harus men-take over tambang garam di luar, untuk transfer teknologi juga. Untuk menyiapkan garam yang berkualitas NaCL di atas 96% untuk industri yang membutuhkan garam. Jadi bukan garam konsumsi, tapi garam industri

Sedangkan, untuk garam konsumsi dianggap sudah cukup. Hanya saja yang masih jadi PR adalah terkait harganya. PR lainnya adalah terkait mekanisasi tambak garam, juga menjadi salah satu poin kunci yang harus dikerjakan dan perbaiki demi produksi garam berkualitas tinggi.

Sebagaimana diketahui, tahun ini Indonesia kembali mengimpor garam. Tak tanggung-tanggung jumlahnya sampai 3 juta ton. Jumlah itu meningkat dari impor tahun lalu.


Pilihan Editor