;
Tags

Pertumbuhan Ekonomi

( 471 )

Penentu Pertumbuhan Ekonomi Diperkirakan Hanya 4,5%

KT1 12 Apr 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 diperkirakan hanya mencapai 4,5% di bawah target pemerintah yang sebesar 5,2%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi cermin dari ketidakmampuan kebijakan domestik dalam beradaptasi cepat terhadap guncangan eksternal. Proyeksi tersebut bahkan di bawah perkiraan Bank Dunia dan OECD yang masing-masing sebesar 5,1% dan 4,9%. Dari sisi perekonomian global, sikap Presiden AS Donald Trump yang menerapkan tarif  balasan atau resiprokal dari AS  ke Indonesia menjadi penyebab koreksi atas pertumbuhan ekonomi nasional. Meski saat ini Trump telah memutuskan  untuk penundaan selama 90 hari, tetapi hal tersebut masih menyebabkan ketidakpastian  pada perekonomian dunia. "Proyeksi yang lebih jujur dan kritis menurut kami, menempatkan pertumbuhan Indonesia hanya di kisaran 4,2% hingga 4,5%. Bahkan, berpotensi lebih rendah apabila respons  kebijakannya tetap pasif," kelas pakar kabijakan publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat. Nur Hidayat mengatakan kebijakan tarif Trump adalah pemicu, namun tidak serta-merta menjadi penyebab tunggal. (Yetede)

Penumpang Udara Belum Mengalami Kenaikan yang Signifikan

KT1 11 Apr 2025 Investor Daily
Kebijakan pemerintah dalam menurunkan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 13-14% belum mampu mendorong jumlah  penumpang. Tercatat pada libur Lebaran jumlah penumpang  udara hanya naik tipis sebesar 0,8% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Berdasarkan data Posko Pusat Angkutan Lebaran 2025 yang dimulai sejak 24 Maret 2025 hingga 7 April 2025, InJourney Airports melayani 7,39 juta penumpang. Angka itu hanya  naik 0,8% dibandingkan dengan periode tahun yang sama lalu yang tercatat sebesar 7,34 juta penumpang. Adapun selama periode tersebut jumlah kapasitas tempat duduk yang disiapkan sebanyak 8,6 juta dengan realisasi sebanyak 86%. Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan kondisi ini menunjukkan masih lesunya dunia penerbangan. Ia menjelaskan sejak pandemi Covid-19 secara global penggunaan armada pesawat di dalam negeri sudah mulai berkurang. Di sisi lain recovery juga tidak berjalan cepat dengan kondisi internal dan faktor eksternal. "Ini menunjukkan rata-rata penumpang per hari juga sudah mulai berkurang. Ditambah permasalahn eksternal kebijakan AS dan nilai kurs dolar AS juga sudah sangat berat bagi industri ini. harus dibenahi dengan mempertibangkan makro ekonomi kita," ujarnya kepada Investaor Daiily. (Yetede)

Sinyal Tren Positif dari Manufaktur Indonesia

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan  (Kemenkeu)  menyatakan aktivitas manufaktur Indonesia terus berada pada tren positif. Pada Maret 2025, PMI Manufaktur Indonesia berada pada level 52,4, melanjutkan tren ekspansif sejak Desember 2024. Kepala BKF Febrio Kacaribu menerangkan aktivitas menufaktur yang terus ekspansif didorong pertumbuhan produksi yang berlanjut dalam beberapa bulan terakhir, baik akibat peningkatan permintaan domestik selama bulan Ramadan dan Idul Fitri maupun permintaan ekspor. Selain itu, optimisme terhadao prospek ekonomi ke depan juga menjadi pendorong," ujar dia. Febrio mengatakan beberapa mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok (51,2), India (58,1), dan Amerika Serikat (50,2) juga mencatatkan ekspansi menufaktur.

Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia yang tetap stabil dan kompeititif di kawasan, di samping memperkuat permintaan ekspor dari negara-negara mitra utama tersebut. "Kinerja ini memberikan sinyak positif bagi prospek sektor manufaktur nasional ke depan dalam menghadapi dinamika perdagangan global yang diwarnai perang tarif," kata dia. dari sisi konsumen, ketahanan ekonomi tercermin dari indikator konsumsi yang masih berada pada level optimis. Indeks Kepuasan Konsumen pada Februari 2025 tercatat sekitar 126,4, menunjukkan peningkatan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi baik saat ini maupun prospeknya ke depan. (Yetede)

Kondisi Inflasi hingga Maret 2025 Masih Terkendali Sebesar 1,03%

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily (H)

Kondisi inflasi hingga Maret 2025 masih terkendali sebesar 1,03% secara year on year (yoy), setelah bulan sebelumnya mencatatkan deflasi. Pemerintah optimistis inflasi pada tahun ini berada di kisaran 2,5%, kurang lebih 1% dengan terus menjaga stabilitas harga bahan pangan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, inflasi Maret 2025 terus dijaga agar terkendali, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabil di masa Ramadan dan Idul Fitri. Langkah pemerintah menjalankan paket kebijakan pada Ramadan turut berkontribusi untuk menjaga stabilitas inflasi.

"Berbagai insentif yang diberikan seperti diskon tarif tol dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah DTP tiket pesawat di masa HBKN Ramadan dan Idul Fitri berkontribusi menahan kenaikan inflasi, sehingga diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025," ucap Febrio. Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat pada level 2,48% (yoy). Sebagian besar kelompok pengeluaran meningkat, terutama kelompok pakaian dan alas kaki seiring meningkatnya permintaan jelang Idul Fitri. Komponen inflasi pangan bergejolak tercatat sebesar 0,37% yang didorong oleh penurunan harga beras dan produk unggas. Meskipun demikian, beberapa komoditas pangan tercatat meningkat secara bulan ke bulan  karena peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri. (Yetede)

Dampak Ekonomi Regional Merembet ke Indonesia

HR1 10 Apr 2025 Kontan
Perekonomian Indonesia diprediksi akan menghadapi tekanan berat akibat kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan ini bukan hanya menurunkan permintaan global dan harga komoditas, tetapi juga menimbulkan risiko limpahan produk dari negara mitra dagang utama seperti China, yang mengalami pelemahan ekonomi dan kelebihan kapasitas produksi.

Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, menjelaskan bahwa pelemahan ekonomi AS dan negara-negara besar lain seperti Uni Eropa, Jepang, dan terutama China, akan berdampak langsung pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Mandiri menghitung bahwa setiap penurunan ekonomi China sebesar 1% bisa menurunkan ekonomi RI sebesar 0,39%, bahkan lebih besar dibanding dampak dari AS yang mencapai 0,37%.

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga memperkirakan dampak kebijakan tarif Trump akan memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di sektor ekspor-impor seperti tekstil dan alas kaki. Ahmad Heri Firdaus, peneliti dari Indef, menambahkan bahwa Vietnam dan China justru menjadi negara yang paling terdampak secara langsung, dengan potensi penurunan pertumbuhan ekonomi hingga 0,84% untuk Vietnam akibat tarif tinggi yang dikenakan AS.

Kebijakan proteksionisme Trump menciptakan tekanan global yang berimbas pada Indonesia. Dengan sektor manufaktur sebagai penopang utama PDB, dan ketergantungan terhadap ekspor, perekonomian Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap perlambatan ekonomi mitra dagang utama, terutama jika tidak segera dilakukan antisipasi dari sisi kebijakan domestik.

Pemberi Andil pada Inflasi

KT1 09 Apr 2025 Investor Daily (H)

Tarif listrik merupakan komoditas utama yang memberikan andil tertinggi terhadap inflasi bulanan pada Maret 2025 dengan kontribusi sebesar 1,18%. Sementara itu, untuk mengantisipasi inflasi pada kuartal tahun kedua pemerintah perlu memperhatikan ketersediaan pangan, terutama ketika musim kemarau sudah tiba. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa tingkat inflasi tahunan pada Maret 2025 sebesar 1,03% year on year (yoy), tercatat lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi tahunan pada Maret 2024 yang mencapai 3,05% (yoy). Namun, tingkat inflasi tahunan pada Maret 2025 masih lebih tinggi daripada Februari 2025 yang tercatat mengalami deflasi hingga 0,09% (yoy).

Setelah langkah pemerintah memberikan diskon listrik sebesar 50% selama bulan Januari-Februari 2025 mendorong terjadinya deflasi pada Januari 2025. Tarif listrik mengalami deflasi 32,03% dan memberikan sumbangan ke deflasi sebesar 1,47%. Adapun diskon tarif listrik memberikan andil deflasi pada Februari 2025 sebesar 0,67%. Adapun program pemerintah tersebut untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah mengatakan, pada Maret 2025 terjadi inflasi secara bulanan sebesar 1,65 month-to-month (mtm), dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,48 pada Februari 2025 menjadi 107,22 pada maret 2025. Pihaknya mencatat bahwa kelompok pengeuaran yang terbesar adalahan perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan inflasi sebesar 8,45% (mtm). (Yetede)

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

KT1 07 Apr 2025 Investor Daily (H)

Di tengah tekanan perekonomian dunia, momentum Ramadan dan Idulfitri masih memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025. Meski demikian, pemerintah tetap harus mewaspadai kondisi daya beli yang dinilai tidak dalam kondisi menggembirakan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, momentum Ramadan dan Idulfitri yang berlangsung pada kuartal 1-2025 berpotensi memberikan dorongan tambahan ke perekonomian dari sisi konsumsi rumah tangga. Namun, kondisi ini masih dibayangi oleh belum pulihnya daya beli seacra menyeluruh, sebab terjadi deflasi bulanan pada Januari-Februari serta deflasi tahunan di Februari 2025. "Kondisi ini mencerminkan masih ada tantangan lemahnya domestik, khususnya dari kelompok kelas menengah dan bawah yang merupakan penggerak utama konsumsi," jelas Shinta kepada Investor Daily.

Bila melihat secara historis dalam tiga bulan terakhir, pertumbuhan ekonomi secara konsisten  berada diangka 5% pada kuartal 1. Dengan rincian 5,02% di tahun 2022, 5,04% pada 2023, dan 5,11% pada kuartal 1-2024. "Kami memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal 1-2025 akan berada dalam kisaran 4,9% hingga 5,1% (yoy)," tutur Shinta. Selain faktor musiman, terdapat berbagai stimulus kebijakan fiskal yang diharapkan memberi dorongan tambahan, seperti diskon tarif listrik 50% untuk pelanggan tertentu selama Januari-Februari 2025; penurunan harga tiket pesawat menjelang Idulfitri ; pencairan THR, bantuan sosail, dan program PKH yang menjadi faktor pendukung belanja masyarakat. (Yetede)

Pemerintah Perlu Melihat Kondisi Riil Dengan Jeli

KT3 20 Mar 2025 Kompas

Kendati data ekonomi makro masih menunjukkan tren positif, sejumlah ekonom meminta pemerintah lebih jeli dalam melihat realitas di lapangan, utamanya soal ketahanan ekonomi kelompok masyarakat menengah ke bawah. Survei kinerja UMKM dan rasio gini menjaditolok ukur yang perlu diwaspadai untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UI, Telisa Aulia Falianty menyoroti adanya ketidaksinkronan antara data ekonomi makro dan data mikro yang memotret perilaku konsumen untuk memastikan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Secara agregat, data makro sebagian besar masih baik karena kelompok ekonomi kelas atas sedang mendominasi kinerja yang baik.

”Jadi, kita juga harus cukup kritis melihat keterkaitan antara data makro dan mikro. Data mikro menggambarkan realitas di lapangan. Perlu dilengkapi dengan data komprehensif dari berbagai survei dan pengecekan langsung lapangan untuk kesimpulan yang lebih solid,” ujar Telisa, Rabu (19/3). Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/3) malam, menerangkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara spasial relatif baik. Hal itu sejalan pertumbuhan ekonomi 5,03 % pada 2024. Data ini mendukung catatan tingkat inflasi inti pada Februari 2025 positif di angka 2,48 %. Inflasi inti di level positif menjadi indikator masih baiknya daya beli masyarakat, terutama untuk barang-barang sekunder atau tersier.

Kendati demikian, menurut Telisa, untuk membuktikan struktur fundamental ekonomi RI saat ini tetap kuat, perlu dipastikan adanya keseimbangan ketahanan ekonomi, yaitu antara kelompok ekonomi kelas atas, menengah, dan bawah. Alasannya, dalam sejarah krisis keuangan, stabilitas data ekonomi makro tidak cukup karena sifat dari efek domino atau contagion dan self-fulfilling panics atau krisis akibat ekspektasi pesimis investor bisa datang dengan cepat dan mengikis fundamental makro sedikit demi sedikit. ”Terlebih lagi, kita perlu memastikan bahwa fundamental itu seimbang dari sisi kekuatan dan daya tahan antara kelompok atas, menengah, dan bawah tersebut,” ujarnya. (Yoga)

Di Tengah Dinamika Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan

KT3 20 Mar 2025 Kompas

BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 %, dengan mempertimbangkan ketidakpastian global yang masih berlanjut sekaligus menjaga stabilitas perekonomian domestik. BI juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 % dan suku bunga lending facility 6,5 %. Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu (19/3). Keputusan itu konsisten dalam upaya menjaga perkiraan inflasi pada 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-25 persen. Hal tersebut sejalan pula dengan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian yang tetap tinggi seraya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

BI akan mencermati prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemangkasan suku bunga acuan dengan mempertimbangkan pergerak an nilai tukar rupiah. Adapun kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.  Menurut Perry, ketidakpatian global masih tetap tinggi akibat kebijakan tarif AS yang semakin luas. Hal itu berdampak terhadap dinamika perekonomian global yang pada 2025 diperkirakan tumbuh 3,2 %. ”Tetap tingginya ketidakpastian global itu memerlukan respons kebijakan yang tepat dan terkoordinasi dengan baik untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya. (Yoga)

Di Tengah Dinamika Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan

KT3 20 Mar 2025 Kompas

BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 %, dengan mempertimbangkan ketidakpastian global yang masih berlanjut sekaligus menjaga stabilitas perekonomian domestik. BI juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 % dan suku bunga lending facility 6,5 %. Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu (19/3). Keputusan itu konsisten dalam upaya menjaga perkiraan inflasi pada 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-25 persen. Hal tersebut sejalan pula dengan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian yang tetap tinggi seraya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

BI akan mencermati prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemangkasan suku bunga acuan dengan mempertimbangkan pergerak an nilai tukar rupiah. Adapun kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.  Menurut Perry, ketidakpatian global masih tetap tinggi akibat kebijakan tarif AS yang semakin luas. Hal itu berdampak terhadap dinamika perekonomian global yang pada 2025 diperkirakan tumbuh 3,2 %. ”Tetap tingginya ketidakpastian global itu memerlukan respons kebijakan yang tepat dan terkoordinasi dengan baik untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya. (Yoga)