;
Tags

Pertumbuhan Ekonomi

( 471 )

Pemerintah Siap Genjot Belanja dan Daya Beli

KT1 07 May 2025 Investor Daily (H)

Pemerintah siap menggenjot belanja dan daya beli masyarakat mulai kuartal 11-2026 untuk mencegah berlanjutnya tren perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dengan begini, pertumbuhan ekonomi 2025 bisa dijaga di atas 5%.  Konkretnya, pemerintah akan merilis kebijakan yang berfokus  pada peningkatan daya beli, stimulus ekonomi, mendorong investasi, dan mengakselerasi belanja. Poin terakhir menjadi fokus utama pemerintahan dengan target penyerapan bisa lebih tinggi dari siklus kuartalnya untuk mendorong  multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi yang tahun ini ditargetkan 5,2%. Hingga 25 April 2025, pemerintah telah  membuka blokir anggaran kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp86,6 triliun dari anggaran yang sebelumnya diblokir sebesar Rp 256,1 triliun.

Dengan pembukaan blokir tersebut, K/L bisa kembali melakukan efisiensi anggaran. Hal ini diatur Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025. Sementara itu, ekonom menilai, pemerintah juga perlu mengevaluasi rencana pemangkasan anggaran masif, lantaran bisa menambah tekanan ke ekonomi. Bahkan, pemerintah perlu membatalkan rencana tersebut, jika dirasa merugikan ekonomi. Alasannnya, di tengah tren pelemahan daya beli msayarakat, ekonom membutuhkan dukungan fiskal yang ekspansif. Apalagi, sektor swasta tengah lesu, terimbas kontraksi daya beli. (Yetede)

Stimulus Baru Jadi Jurus Pemerintah Pulihkan Ekonomi

HR1 07 May 2025 Bisnis Indonesia
Pemerintah berupaya mempercepat realisasi belanja APBN sebagai respons atas perlambatan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2025, yang dipicu antara lain oleh kontraksi belanja pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan percepatan program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta dukungan terhadap sektor perumahan melalui FLPP dan insentif perpajakan.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa penyaluran bantuan sosial dan pencairan gaji ke-13 ASN akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan pada kuartal II/2025. Kebijakan ini diharapkan menjadi stimulus fiskal yang efektif.

Namun, beberapa lembaga seperti Bank Permata dan Ciptadana Sekuritas menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 ke kisaran 4,5%–4,8%, di bawah target semula 5% atau lebih. Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyoroti bahwa ketidakpastian global, terutama akibat perang dagang, telah menekan investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Selain tekanan eksternal, analis seperti Renno Prawira dari Ciptadana Sekuritas juga menggarisbawahi tantangan domestik seperti pelemahan daya beli dan defisit fiskal. Untuk menjaga momentum, pelonggaran kebijakan moneter menjadi opsi yang dipertimbangkan. Ekonom OCBC, Lavanya Venkateswaran dan Ahmad A. Enver, memproyeksikan suku bunga acuan BI bisa turun ke 5,25% pada akhir 2025, jika stabilitas rupiah terjaga dan tekanan global mereda.

Pemerintah dan otoritas moneter berupaya mengombinasikan stimulus fiskal dan potensi pelonggaran moneter guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi domestik maupun global. 

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Timur

HR1 07 May 2025 Bisnis Indonesia

Deselerasi ekonomi pada kuartal sebelumnya mendorong berbagai institusi untuk merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 ke bawah, dengan sebagian besar memprediksi angka di bawah 5%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah akan mempercepat realisasi belanja negara dengan fokus pada program-program yang bersifat produktif, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dukungan perumahan melalui perluasan FLPP.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemberian gaji ke-13 dan bantuan sosial seperti PKH dan Kartu Sembako akan digelontorkan guna mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2025.

Dari sisi analis, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut pelemahan pertumbuhan dipicu oleh ketidakpastian global yang membuat pelaku usaha menunda investasi, sehingga melemahkan penciptaan lapangan kerja dan daya beli rumah tangga. Senada, analis Ciptadana Sekuritas Renno Prawira menyoroti tantangan eksternal seperti ketegangan geopolitik dan harga komoditas yang melemah, serta tantangan domestik berupa defisit fiskal dan efisiensi anggaran.

Sebagai respons terhadap prospek pelemahan ekonomi, sejumlah ekonom termasuk dari OCBC memperkirakan Bank Indonesia (BI) dapat memangkas suku bunga acuan hingga 50 basis poin pada akhir tahun 2025, dengan catatan stabilitas rupiah tetap terjaga.



Perbankan Harus Lebih Selektif dalam Menyalurkan Kredit

KT1 07 May 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025 yang melambat ke level 4,87% secara (yoy) dinilai menjadi sinyal  bagi pertahanan perbankan untuk  mewaspadai potensi risiko ke depannya. Industri perbankan diimbau untuk berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Langkah tersebut dilakukan demi menjaga kualitas kredit yang tetap bagus. Sehingga, perbankan tidak agresif dalam memberikan fasilitas pinjaman kepada calon debitur. Berdasarkan BPS, dibandingkan kuartal IV-2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru terkontraksi 0,98% Menanggapi data tersebut, Ekonom Senior & Assoociate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai bahwa ini harus menjadi perhatian pemerintah dan para pengambil kebijakan, terutama di bidang ekonomi. Sedangkan, bagi pelaku sektor keuangan, khususnya perbankan, sikap yang harus diambil ke depannya adalah harus lebih hati-hati, lebih selektif terutama bagi kredit yang masih berjalan. Kemudian, tetap prospek kredit juga perbankan harus lebih hati-hati. "Saya katakan ke teman-teman perbankan, dalam situasi ekonomi seperti ini lebih baik sikap kita adalah under promising, overdeliver. Yang penting orientasinya bukan lagi ekpansi kredit yang ngebut, tapi lebih kepada penjagaan kualitas aset atau kredit. (Yetede)

TPT Harus Dimulai dengan Mengurangi Pekerja Informal

KT1 07 May 2025 Investor Daily (H)
penurunan jumlah pengangguran terbuka (TPT) harus dimulai dengan mengurangi pekerja informal.  Kenaikan jumlah pekerja akan memberikan efek domino terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan TPT mencapai 4% pada 2029. Adapun target TPT pada tahun ini sekitar 4,5% sampai 5%. Oleh karena itu, pemerintah harus konsisten meningkatkan kesempatan kerja lebih tinggi dari penambahan jumlah usia angkatan kerja. Berdasarkan data BPS, 7,28 juta penduduk termasuk dalam kelompok TPT pada Februari 2025 dengan presentase TPT mencapai 4,76%. Bila diteiti lagi, penduduk bekerja pada kegiatan informal sebanyak 86,58 juta orang (59,4%), sedangkan yang bekerja ada kegiatan formal sebanyak 59,19 juta orang (40,6%). Dibanding Februari 2024, persentase penduduk bekerja pada kegiatan formal mengalami penurunan sebesar 0,23%. Deputi Bidang kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappanas Maliki mengatakan, untuk menyerap bonus demografi yang saat ini dialami oleh Indonesia tidak bisa sekedar menciptakan laangan kerja, tetapi harus menghadirkan lapangan kerja formal. Pencipataan lapangan kerja harus dibarengi juga dengan persiapan tenaga kerja. (Yetede)

Daya Ungkit e-Commerce 2025

KT1 06 May 2025 Investor Daily
Sektor e-commerce Indonesia memiliki potensi besar pada tahun ini, dengan berbagai tren dan peluang yang menarik. Namun, tantangan seperti persaingan yang ketat dan regulasi persaingan usaha perlu diantisipasi. Pelaku usaha perlu beradaptasi dengan perubahan pasar dan memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan potensi pertumbuhan e-commerce. Dalam laporan e-Conomy SEA 2024 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, Gross Merchandise  Value (GMV) ekonomi digital Indonesia diproyeksi  tumbuh sebesar 13% dibandingkan tahun 2023. Angka ini diperkirakan mancapai US$ 90 miliar atau setara dengan Rp1,430 triliun pada  tahun 2024, yang mengukuhkan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Laporan tersebut mengungkapkan sektor e-commerce tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi digital  dengan diperkiraan peningkatan GMV sebesar 11% hingga mencapai US$ 65 miliar. Sementara, Sirclo penyedia solusi omnichannel commerce enabler di Indonesia, dalam laporan terbarunya menyebut, terjadi peningkatan rata-rata jumlah transaksi online sebesar 4,95% dan jumlah konsumen sebesar 6,8% sepanjang tahun 2024. (Yetede)

BPS Mencatat Jumlah Pengangguran Sebanyak 7,28 Juta Orang

KT1 06 May 2025 Investor Daily
Dinamika perekonomian nasional berimplikasi langsung terhadap kondisi ketenagakerjaan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran sebanyak 7,28 juta orang atau 4,75% dari total angkatan kerja pada Februari 2025, meningkat sebanyak 83 ribu orang dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski terjadi peningkatan secara jumlah, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami penurunan dari 4,82% menjadi 4,76% pada Februari 2025. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk usia kerja atau angkatan kerja yang  bekerja masih lebih besar dari kenaikan jumlah pengangguran. "Ke depan, tren TPT akan sangat bergantung pada arah pemulihan ekonomi nasional dan global, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas," jelas Josua kepada Investor Daily. Secara keseluruhan petumbuhan ekonomi kuartal 1-2025 mencapai 4,87%. Perekonomian Indonesia  berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.695,9 triliun dan atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.695,9 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp3.264.5 triliun pada kuartal 1-2025. Jika dibandingkan dengan kuartal IV-2024 perekonomian Indonesia terkontraksi 0,98%. (Yetede)

Sektor Pertanian Muncul Sebagai Jawara Baru Sumber Pertumbuhan

KT1 06 May 2025 Investor Daily (H)

Sektor pertanian muncul sebagai 'jawara' baru sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut lapangan Indonesia. Dari total pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025 yang tercatat 4,87% secara yoy, sebanyak 1,11% poin dikontribusikan oleh sektor pertanian, baru kemudian disusul industri pengolahan (0,93%), perdagangan (0,66%), serta informasi dan komunikasi/infokom (53%).  Sumbangan terbesar sektor pertanian ke laju pertumbuhan ekonomi itu diberikan seiring dengan sektor yang mengontribusi nominal produk domsetik bruto (PDB) hingga 12,66% itu tumbuh sebesar 10,52% (yoy) pada kuartal 1-2025. Pertumbuhan sektor pertanian yang mengalahkan sektor utama lain seperti industri pengolahan dan perdagangan itu ditopang oleh panen raya padi dan jagung.

Selain panen raya pangan, sektor pertanian yang tumbuh tinggi juga didorong oleh peningkat permintaan domestik, Pada kuartal 1-2025, subsektro tanaman pangan tumbuh hingga 42,26% (yoy) pada periode itu, produksi pada melonjak hingga 51,45% dan jagung 39,02%. Sedangkan subsektor peternakan tumbuh 8,83% sejalan dengan peningkatan permintaan domestik daging dan telur selama Ramadhan dan Idul Fitri. Setidaknya sejak tahun 2022, pertumbuhan sektor pertanian yang juga meliuti kehutanan, perikanan, dan peternakan tidak melampaui angka 4,51%. Sedangkan  pada kuartal 1V-2024, kontribusi sektor pertanian ke pertumbuhan ekonomi tercatat hanya sebesar 0,07% poin dari total pertumbuhan 5,02% dan pada kuartal 1-2024 kontribusinya bahkan -0,41% dari total pertumbuhan 5,11%. (Yetede)

RI Hadapi Tantangan Baru dalam Pemulihan Ekonomi

HR1 06 May 2025 Bisnis Indonesia (H)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai 4,87% pada kuartal I/2025 menunjukkan tren perlambatan sejak 2023, sehingga membuat target ambisius 8% yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin sulit tercapai. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pertumbuhan ini masih relatif kuat dibanding negara-negara G20, namun pelaku usaha seperti yang disampaikan oleh Ketua Apindo Shinta W. Kamdani masih cenderung wait and see akibat tingginya ketidakpastian investasi.

Ekonom Fithra Faisal Hastiadi dari Samuel Sekuritas memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 hanya tumbuh 4,8%, disebabkan oleh daya beli rendah, suku bunga tinggi, serta regulasi yang belum mendukung. Sementara itu, Mohammad Faisal dari Core Indonesia menilai pertumbuhan 8% tak realistis, tapi angka di atas 6% masih mungkin asal investasi dan konsumsi masyarakat meningkat signifikan. Semua pihak menekankan pentingnya reformasi struktural, penyederhanaan regulasi, dan percepatan belanja pemerintah sebagai kunci pemulihan ekonomi.

Ketidakpastian Ekonomi Global Gerus Kunjungan Wisman dan Wisnus

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Maret 2025 mencapai 841,03 ribu, turun sebesar 5,63% secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,18% secara tahunan (yoy). Perjalanan turis lokal atau wisatawan Nusantara (wisnus) juga turun 1,76% secara bulanan menjadi 2,18 juta pada Maret 2025 dari sebelumnya 90,5 juta. Namun, secara tahunan, perjalanan wisnus meningkat 12,61%. Ekonomi menilai penurunan kunjungan wisman disebabkan ketidakpatian ekonomi global, yang salah satunya disebabkan perang tarif bea masuk (BM). Perang yang dikobarkan AS dibawah komando Presiden Donald Trump itu diyakini mengikis laju ekonomi global. Sementara itu, daya beli masyarakat yang melemah disinyalir menjadi menyebab utama turunnya perjalanan turis lokal. Ini dibarengi oleh kenaikan biaya transportasi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini mengatakan, jumlah kunjungan yang melalui pintu masuk utama didominasi wisman dengan moda 79,6%, sedangkan wisman dengan moda angkutan laut dan darat masing-masing 17,26% dan 3,14%. (Yetede)