Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Pemerintah Siap Genjot Belanja dan Daya Beli
Pemerintah siap menggenjot belanja dan daya beli masyarakat mulai kuartal 11-2026 untuk mencegah berlanjutnya tren perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dengan begini, pertumbuhan ekonomi 2025 bisa dijaga di atas 5%. Konkretnya, pemerintah akan merilis kebijakan yang berfokus pada peningkatan daya beli, stimulus ekonomi, mendorong investasi, dan mengakselerasi belanja. Poin terakhir menjadi fokus utama pemerintahan dengan target penyerapan bisa lebih tinggi dari siklus kuartalnya untuk mendorong multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi yang tahun ini ditargetkan 5,2%. Hingga 25 April 2025, pemerintah telah membuka blokir anggaran kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp86,6 triliun dari anggaran yang sebelumnya diblokir sebesar Rp 256,1 triliun.
Dengan pembukaan blokir tersebut, K/L bisa kembali melakukan efisiensi anggaran. Hal ini diatur Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025. Sementara itu, ekonom menilai, pemerintah juga perlu mengevaluasi rencana pemangkasan anggaran masif, lantaran bisa menambah tekanan ke ekonomi. Bahkan, pemerintah perlu membatalkan rencana tersebut, jika dirasa merugikan ekonomi. Alasannnya, di tengah tren pelemahan daya beli msayarakat, ekonom membutuhkan dukungan fiskal yang ekspansif. Apalagi, sektor swasta tengah lesu, terimbas kontraksi daya beli. (Yetede)
Stimulus Baru Jadi Jurus Pemerintah Pulihkan Ekonomi
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Timur
Deselerasi ekonomi pada kuartal sebelumnya mendorong berbagai institusi untuk merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 ke bawah, dengan sebagian besar memprediksi angka di bawah 5%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah akan mempercepat realisasi belanja negara dengan fokus pada program-program yang bersifat produktif, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dukungan perumahan melalui perluasan FLPP.
Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemberian gaji ke-13 dan bantuan sosial seperti PKH dan Kartu Sembako akan digelontorkan guna mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2025.
Dari sisi analis, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut pelemahan pertumbuhan dipicu oleh ketidakpastian global yang membuat pelaku usaha menunda investasi, sehingga melemahkan penciptaan lapangan kerja dan daya beli rumah tangga. Senada, analis Ciptadana Sekuritas Renno Prawira menyoroti tantangan eksternal seperti ketegangan geopolitik dan harga komoditas yang melemah, serta tantangan domestik berupa defisit fiskal dan efisiensi anggaran.
Sebagai respons terhadap prospek pelemahan ekonomi, sejumlah ekonom termasuk dari OCBC memperkirakan Bank Indonesia (BI) dapat memangkas suku bunga acuan hingga 50 basis poin pada akhir tahun 2025, dengan catatan stabilitas rupiah tetap terjaga.
Perbankan Harus Lebih Selektif dalam Menyalurkan Kredit
TPT Harus Dimulai dengan Mengurangi Pekerja Informal
Daya Ungkit e-Commerce 2025
BPS Mencatat Jumlah Pengangguran Sebanyak 7,28 Juta Orang
Sektor Pertanian Muncul Sebagai Jawara Baru Sumber Pertumbuhan
Sektor pertanian muncul sebagai 'jawara' baru sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut lapangan Indonesia. Dari total pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025 yang tercatat 4,87% secara yoy, sebanyak 1,11% poin dikontribusikan oleh sektor pertanian, baru kemudian disusul industri pengolahan (0,93%), perdagangan (0,66%), serta informasi dan komunikasi/infokom (53%). Sumbangan terbesar sektor pertanian ke laju pertumbuhan ekonomi itu diberikan seiring dengan sektor yang mengontribusi nominal produk domsetik bruto (PDB) hingga 12,66% itu tumbuh sebesar 10,52% (yoy) pada kuartal 1-2025. Pertumbuhan sektor pertanian yang mengalahkan sektor utama lain seperti industri pengolahan dan perdagangan itu ditopang oleh panen raya padi dan jagung.
Selain panen raya pangan, sektor pertanian yang tumbuh tinggi juga didorong oleh peningkat permintaan domestik, Pada kuartal 1-2025, subsektro tanaman pangan tumbuh hingga 42,26% (yoy) pada periode itu, produksi pada melonjak hingga 51,45% dan jagung 39,02%. Sedangkan subsektor peternakan tumbuh 8,83% sejalan dengan peningkatan permintaan domestik daging dan telur selama Ramadhan dan Idul Fitri. Setidaknya sejak tahun 2022, pertumbuhan sektor pertanian yang juga meliuti kehutanan, perikanan, dan peternakan tidak melampaui angka 4,51%. Sedangkan pada kuartal 1V-2024, kontribusi sektor pertanian ke pertumbuhan ekonomi tercatat hanya sebesar 0,07% poin dari total pertumbuhan 5,02% dan pada kuartal 1-2024 kontribusinya bahkan -0,41% dari total pertumbuhan 5,11%. (Yetede)
RI Hadapi Tantangan Baru dalam Pemulihan Ekonomi
Ketidakpastian Ekonomi Global Gerus Kunjungan Wisman dan Wisnus
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









