Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Evaluasi Kebijakan Cuti Bersama
Jaga Perekonomian, Pemerintah Perlu Cermati Kondisi Eksternal
Kinerja Industri Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
Masih Sulit Mengangkat Laju Ekonomi di Atas 5%
Harapan Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk memacu pertumbuhan ekonomi 8% dalam dua tiga tahun ke depan tampaknya sulit terwujud. Pasalnya, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berkutat di angka 5%, di saat yang sama, sederet tantangan internal dan eksternal masih mengadang.Lima lembaga internasional juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dan tahun depan tak akan beranjak dari level 5%-an. Kelima lembaga global tersebut adalah Asian Development Bank, Fitch Ratings, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Bank Dunia. Ekonom Utama Asian Development Bank (ADB) Indonesia Arief Ramayandi menilai, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% per tahun, ada beberapa hal yang perlu dilakukan pemerintah, mulai dari menggenjot sektor industri hingga mendorong iklim kompetisi di Indonesia. Ekonom Utama Asian Development Bank (ADB) Indonesia Arief Ramayandi menilai, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% per tahun, ada beberapa hal yang perlu dilakukan pemerintah, mulai dari menggenjot sektor industri hingga mendorong iklim kompetisi di Indonesia.
Tahun ini ekonomi Indonesia dibayangi risiko eksternal sehingga menekan permintaan ekspor. Akan tetapi, di saat yang sama prospek positif datang dari Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 yang berjalan kondusif dan lancar. Arief pun memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di level 5% masing-masing pada 2024 dan 2025. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia di Asia Tenggara masih lebih tinggi dibandingkan Malaysia, Singapura dan Thailand. Selain itu, Arief bilang, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia penting untuk memacu produktivitas tenaga kerja. "Salah satu tantangan pembangunan jangka menengah panjang adalah produktivitas ketenagakerjaan kita yang belum kompetitif, serta komposisi tenaga kerja yang didominasi masyarakat berpendidikan relatif rendah," ungkap dia. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berkisar 4,9%-5%, sementara pada 2025 di level 5%-5,2%. Ronny juga bilang, perekonomian Indonesia masih ditopang konsumsi. Melihat faktor itu, dia melihat langkah pemerintah mengguyur anggaran bantuan sosial (bansos) cukup masuk akal demi mengatasi tekanan daya beli masyarakat akibat lonjakan harga bahan pokok.
Ancaman Baru Ekonomi
Ekonomi memang tumbuh impresif, sebesar 5,1% kuartal I-2024 di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan ketidakpastian global. Namun, kuartal II, muncul ancaman baru berupa tren penurunan penerimaan negara yang bisa menggerus belanja pemerintah. Jika hal itu tidak diantisipasi, sejumlah kalangan menilai pertumbuhan ekonimi sulit bertahan diatas 5%. Di sisi lain, tekanan glonal mulai reda, seiring mendinginnya konflik Iran-Israel dan kepastian menurunnya suku bunga acuan AS tahun ini. Per Maret 2024 penerimaan negara turun 4% menjadi Rp 620 triliun, sedangkan belanja negara naik 18% menjadi Rp 611,9 triliun. Memang, masih terjadi surplus anggaran, yakni Rp 8,1 triliun.
Namun, jumlah itu turun dalam dibandingkan per Maret 2023 yang mencapai Rp 128 triliun. Kala itu, pendapatan negara melejit 29% menjadi Rp 647 triliun belanja negara berperan sentral sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 bersama dengan konsumsi lembaga non profit yang yang melayani rumah tangga (LNPRT), menggantikan peran konsumsi rumah tangga. Pada periode itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik pengeluaran konsumsi LNPRT melejit 24,2%, tertinggi dibandingkan konponen pengeluaran lain dan menyumbangkan pertumbuhan ekonomi 0,29%. (Yetede)
Menuju Pertumbuhan Inklusif
Di tengah divergensi pemulihan global dan dampak scaring effect pandemi Covid-19, ketidakpastian pasar keuangan, dan ketegangan geopolitik saat ini telah menambah tantangan bagi banyak negara, khususnya bagi negara berkembang. Negara perkembang memiliki infrastruktur ekonomi yang seringkali bergantung pada sektor tertentu, sehingga disrupsi rantai pasok dan volatilitas harga karena tekanan eksternal bukan hanya mengancam potensi pertumbuhannya, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Dengan resiko ketidakpastian global yang semakin meningkat, fokus kebijakan lazim menjadi prioritas pembangunan. Sehingga upaya mencapai pertumbuhan yang inklusif menjadi semakin menantang. Padahal, dalam konteks stabilitas, struktur ekonomi yang lebih inklusif yang didukung sumber daya dalam negeri yang solid, justru dapat memodernisasi dampak negatif dari risiko dari external driver. Tidak ada yang salah dalam kebijakan jangka pendek yang fokus dalam menyerap guncangan. Namun, pengembangan kebijakan masa depan perlu terus berarah kepada kesejahteraan yang lebih luas, yaitu inklusivitas dan kesetaraan. (Yetede)
Pertumbuhan Masih Andalkan Konsumsi
Konsumsi rumah tangga masih menjadi andalan pemerintah dalam menopang pertumbuhan ekonomi saat ini, bahkan hingga 2045. Kondisi ini dinilai rawan terhadap pelemahan, apalagi jika pertumbuhan tersebut bersifat situasional, sehingga harus diimbangi dengan investasi dan ekspor. Pada kuartal I-2024, konsumsi rumah tangga tercatat memberikan kontribusi terbesar yaitu 54,93% terhadap pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,11%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2024 tumbuh 4,91% secara year on year. Jika dirinci, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi pada transportasi dan komunikasi, yang tercermin dari pertumbuhan indeks perdagangan eceran untuk komodoittas suku cadang dan aksesoris, bahan bakar kendaraan, serta pertumbuhan jumlah penumpang angkutan rel, laut, dan udara. Geliat restoran dan hotel, tercermin dari peningkatan Tingkat Penghunian Kamar (TKP) Hotel. Konsumsi pemerintah juga tumbuh hingga 19,9% secara year on year pada kuartal I 2024. Sektor ini memberikan kontribusi sebesar 6,25% ke pertumbuhan ekonomi, menjadi yang tertinggi sejak tahun 2006. (Yetede)
Perekonomian Butuh Investasi Rp7,417,9 Triliun
Akselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan mutlak dilakukan untuk memastikan target Indonesia Emas 2045 bisa terwujudkan dengan sasaran antar pertumbuhan ekonomi pada 2025 di kisaran 5,3-5,6%. Guna mewujudkan itu, di antaranya dibutuhkan pertumbuhan investasi yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dengan total investasi sebesar Rp 7.329,28-7.417,86 triliun untuk tahun 2025 saja. Deputi Bidang Ekonomi kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) Amalia Adiniggar Wadyasanti menyatakan, dengan target pertumbuhan ekonomi 5,3-5,6%, maka investasi 2025 harus tumbuh 6,5-7,8%. lainnya, pertumbuhan industri manufaktur diharapkan bisa mencapai 5,5-6,1%, sehingga kontribusi ke produk domestik bruto meningkat menjadi 19,3-19,6%. Dalam Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2025, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,3% sampai 5,6% dengan investasi diharapkan menjadi pintu gerbang guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lima tahun ke depan," ujar Amalia.(Yetede)
Pasar Cloud Publik Indonesia Berpotensi Tembus USD 2 Miliar
Pendapatan dan Laba Moratelindo Kompak Turun
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









