;
Tags

Ekspor

( 1052 )

Permintaan Batubara belum membara

Ayutyas 30 Apr 2020 Kontan, 28 April 2020

Pebisnis batubara memproyeksikan adanya penurunan permintaan yang cukup tajam dari negara utama tujuan ekspor batubara Indonesia. Kondisi ini merupakan imbas pandemi korona (Covid-19). Hal ini sebagaimana diutarakan Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia yang menyebutkan ekspor sedikit menurun karena melemahnya permintaan dan pasokan batubara di China masih berlimpah. Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF), Singgih Widagdo menilai, permintaan batubara dari China ditaksir tidak naik signifikan dalam waktu dekat setidaknya baru terlihat setelah Juni.

Kondisi ini diamini Direktur & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava PT Bumi Resources Tbk (BUMI), menurutnya pihaknya masih mencatatkan kinerja operasional memuaskan pada periode kuartal I-2020 namun masih wait and see untuk kuartal II-2020. Senada dengan pendapat ini, Direktur PT ABM Investama Tbk (ABMM) Adrian Erlangga juga menyebutkan hal senada seraya menambahkan China dan India memegang porsi dominan sekitar 80% ekspor batubara ABMM, untuk menyiasati berkurangnya penjualan ekspor kedua negara tersebut ABMM kini mengalihkannya ke negara lain terutama Thailand dan Vietnam.

Investasi Tumbuh, Ekspor Tumbang

Ayutyas 23 Apr 2020 Kompas, 21 April 2020

Pada triwulan I-2020, investasi Indonesia tumbuh 8 persen dibandingkan periode yang sama 2019. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) menyebutkan, realisasi investasi pada triwulan I-2020 sebesar Rp 210,7 triliun.Kenaikan terbesar berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang meningkat 29,3 persen menjadi Rp 112,7 triliun. Adapun penanaman modal asing (PMA) turun 9,2 persen menjadi Rp 98 triliun. Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Senin (20/4/2020), dalam siaran pers, mengatakan, nilai realisasi investasi triwulan pertama sudah mencapai 23,8 persen dari target investasi tahun ini yang sebesar Rp 886,1 triliun. Total penyerapan tenaga kerja Indonesia juga meningkat menjadi 303.085 pekerja, sementara pada periode sama tahun lalu sebanyak 235.401 pekerja. Meskipun begitu, Bahlil mengakui, realisasi investasi pada triwulan II-2020 akan merosot dibandingkan triwulan I. Pihaknya berharap dan meminta komitmen perusahaan untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja kepada karyawannya untuk menjaga perekonomian bangsa saat ini.

Disisi lain, Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia Lukman Zakaria mengatakan lesunya ekspor komoditas perkebunan yang belum pulih sejak tahun lalu semakin menekan petani. Bahkan sebagian biasanya menjadi buruh bangunan di kota karena lebih menjanjikan. Hal ini dipicu harga karet di tingkat petani saat ini Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram (kg) sedangkan idealnya petani mendapatkan harga sekitar Rp 12.000 per kg. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai tukar petani (NTP) sektor perkebunan rakyat pada Maret 2020 turun 1,91 persen menjadi 100,39. Artinya, nilai yang diterima petani lebih rendah dibandingkan dengan yang mesti dibayarkan. Dibandingkan dengan sektor lain, penurunan NTP sektor perkebunan rakyat paling dalam.

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Dendi Ramdani, mengatakan, lesunya kinerja industri dan ekspor itu otomatis akan memperlambat kondisi ekonomi dan sosial di tiap daerah penghasil ekspor sehingga angka pengangguran diprediksi akan lebih tinggi. Dendi menambahkan, apabila pada Juni tren pandemi mulai menurun, angka infeksi berkurang. Namun, kalau sampai Juni pandemi belum menurun, perlu dilakukan antisipasi karena sektor-sektor industri ekspor yang masih bertahan itu pun bisa ikut anjlok. Kendati ada kecenderungan melambat dan turun, sejumlah kalangan industri berupaya mempertahankan ekspor. Adaro sebagai salah satu produsen batubara Indonesia melalui Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir mengatakan pihaknya sudah menyiapkan manajemen krisis dan pencegahan untuk memastikan opersaional tidak ada gangguan terutama dalam memasok batubara untuk memperkuat penyediaan listrik, hal ini juga diharapkan dapat mencegah pengurangan karyawan di dalam perusahaan. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan, hingga 20 April 2020, penjualan batubara mencapai 136,86 juta ton. Penjualan tersebut termasuk untuk pasar ekspor dan domestik. Namun, permintaan batubara tengah melemah. 

Ekspor Besi dan Baja Melonjak Selama Pandemi

Ayutyas 20 Apr 2020 Tempo, 17 April 2020

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor besi dan baja pada triwulan melonjak drastis ke US$ 2,26 miliar dari US$ 610 juta pada Februari dan US$ 649 juta pada Maret tahun lalu. Namun Menurut pelaksana tugas Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazir, kenaikan ini terjadi lantaran kinerja industri dan dampak pandemi Covid-19 belum terlihat ke ekonomi internasional. Kenaikan ekspor besi dan baja ditopang oleh permintaan baja ke Amerika Serikat yang berasal dari Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah; serta Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang meningkat dimana ada sejumlah perusahaan dengan penyertaan modal asing asal Cina yang memiliki smelter dengan nilai ekspor yang cukup besar. 

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan,?Kasan?Muhri, mengatakan pernyataan senada dimana kenaikan ekspor tersebut diperkirakan karena pemenuhan kontrak yang sudah ditandatangani pada tahun lalu. Sedangkan Ketua Cluster Flat Product Asosiasi Besi dan Baja Indonesia (IISIA), Purwono Widodo menambahkan, kenaikan ekspor juga dipicu karena produsen mulai mengarahkan orientasinya untuk ekspor akibat permintaan domestik anjlok hingga 40 persen. Menurut mereka, pada triwulan kedua, sudah pasti ekspor besi dan baja akan turun baik domestic maupun ekspor lantaran penyerapan baja untuk konstruksi dan otomotif juga turun karena ada beberapa perusahaan yang berhenti sementara sampai Covid-19 mereda atau selesai

Pandangan ini diperkuat juga dengan analisa dari Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro yang mengatakan kenaikan ekspor ditopang permintaan dari Cina cukup tinggi karena persediaan baja menipis akibat libur Imlek dan disusul penguncian wilayah (lockdown). Sehingga terjadi backload (ditumpuk di belakang) ia juga beranggapan pemulihan ekonomi di Tiongkok tidak seburuk yang diprediksi banyak orang.

Kemudahan Impor Ekspor Akses Pasar Diperluas

Ayutyas 20 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 17 April 2020

Pemerintah memberikan perluasan akses pasar di dalam negeri bagi pelaku usaha yang memanfaatkan kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Selain itu, wajib pajak KITE juga mendapatkan keringanan pajak sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK)   No .31/2020 tentang Insentif Tambahan untuk Perusahaan Penerima Fasilitas Kawasan Berikat dan/atau Kemudahan Impor Tujuan Ekspor untuk Penanganan Dampak Bencana Covid-19. Dari sisi ?skal, wajib pajak KITE mendapatkan insentif berupa pembebasan PPN dan PPnBM untuk pemasukan barang dari dalam negeri yang diolah untuk dieskpor. 

Plt. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas (APJP) Rishdianto Budi Irawan menilai, kebijakan ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha, ia beranggapan kemudahan ini akan menggerakkan ekonomi yang telah lesu dalam beberapa bulan terakhir, serta mendongkrak daya beli masyarakat dengan akan membantu memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan menurunkan biaya logistik

Lebih lanjut, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Ditjen Bea dan Cukai Syarif Hidayat menjelaskan tujuan klausul ini adalah untuk memberikan persamaan perlakuan antarpengusaha KITE yang tidak mendapatkan fasilitas sejenis dan produknya dijual di dalam negeri.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pilihan untuk menjual hasil produksi ke dalam negeri bakal lebih menarik bagi perusahaan KITE ketimbang menjual ke luar negeri karena didorong prospek ekonomi Indonesia yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan negara lain dan hal ini merupakan kabar positif bagi perusahaan yang menjual produknya di Indonesia.

PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Ayutyas 16 Apr 2020 Kompas, 15 April 2020

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, Selasa (14/4/2020), mengatakan, pandemi Covid-19 memengaruhi pergeseran pemetaan produk dan ketersediaan pasar ekspor, khususnya industri kecil dan menengah (IKM). Untuk itu, perwakilan atase perdagangan dan Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (indonesian Trade Promotion Center/ITPC) terus mengkaji dan memetakan ulang produk unggulan ekspor sesuai kondisi terbaru setelah pandemi Covid-19 merambah ke ratusan negara dan mendisrupsi rantai perdagangan global.

Menurut Jerry, untuk mendorong kemudahan ekspor, pemerintah sudah mengeluarkan stimulus nonfiskal yang ditujukan bagi pelaku ekspor. Hal itu, misalnya, berupa efisiensi proses logistic, penyederhanaan aturan larangan pemba tasan atau tata niaga terhadap ekspor maupun impor, khususnya impor bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi serta lobi-lobi dengan negara lain di tingkat bilateral untuk menjamin pintu pasar tetap terbuka di tengah pandemi.

Sementara Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri Indonesia Handito Joewono mengatakan, beberapa IKM membutuhkan dukungan pemerintah diantaranya untuk membuka akses pasar internasional, informasi terkait kondisi pasar di sejumlah negara serta akses regulator ekspor (trading house) yang bisa membantu pengiriman produk dalam jumlah lebih besar.

Ekspansi Saat Pandemi

Ayutyas 15 Apr 2020 Kompas, 14 April 2020

Perekonomian terpukul pandemi Covid 19. Namun, masih ada pelaku usaha, khususnya segmen industri kecil menengah, yang bertahan, bahkan berekspansi ke pasar ekspor. Industri kecil menengah (IKM) yang menggeliat di tengah kondisi pandemi Covid-19 antara lain bergerak di sektor tekstil dan produk tekstil, interior rumah dan furniture, serta produk olahan pangan. Produk yang diekspor antara lain keripik, rendang siap saji, bumbu masak instan, pakaian batik, dan mebel

Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono, Senin (13/4/2020), di Jakarta, menyampaikan, dari sisi per mintaan barang dan kemampuan suplai produk, IKM yang bermain di pasar dalam negeri mampu menggenjot ekspor. Selama ini, penjualan ke luar negeri lewat jalur perseorangan dengan jumlah terbatas sehingga perlu didukung pemerintah untuk memanfaatkan percepatan momentum dan tren positif yang muncul, saat ini pengiriman dianggap masih terlalu mahal dan prosesnya masih rumit seperti perizinan serta tata niaga ekspor

Menteri Keuangan periode 2013 - 2014 M Chatib Basri menyampaikan, pandemi Covid-19 menyebabkan tiga guncangan sekaligus pada permintaan, penawaran, dan kepercayaan pasar, hal ini berbeda dengan krisis sebelumnya, respons ke kebijakan tidak bisa lagi dengan cara-cara konvensional. Jika pemerintah tidak bertindak cepat dan tepat, situasi ini akan memukul dunia usaha. Ia menambahkan, risiko kredit macet dalam 3-6 bulan mendatang akan meningkat karena daya beli melemah dan likuiditas mengetat. terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Akibatnya, kinerja ekspor akan menurun dan angka pengangguran meningkat.

Kepala Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menyebutkan, pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk membantu dunia usaha. Sebagaimana disebutkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, bahwa Anggaran Rp 150 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional sudah disiapkan untuk pelaku usaha di sektor riil dan keuangan. Namun Enrico menyayangkan hingga kini sasaran dan skema program masih belum jelas. Menurut Enrico, ada tiga kelompok sektor utama yang berkontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan bersifat padat karya yang harus menjadi fokus pemerintah, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan; penambangan dan penggalian; serta manufaktur.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam siaran pers menyebutkan Indeks Manufaktur Cepat (Prompt Manufacturing Index/PMI) yang diterbitkan Bank Indonesia, Senin, memperlihatkan kinerja sektor industri pengolahan atau manufaktur pada triwulan 1-2020 turun dibandingkan dengan tri wulan IV-2019. Indeks ini menjadi indikator gambaran umum kondisi sektor manufaktur terkini serta perkiraan pada triwulan mendatang.

Dampak Pandemi di China Tekanan Ekspor Berlanjut

Ayutyas 14 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 14 April 2020

Ekonom senior Australia & New Zealand Banking Group Betty Wang, dilansir Bloomberg, Senin (13/4) mengatakan Kendati pulih dari wabah COVID-19, kontraksi perdagangan luar negeri China diperkirakan berlanjut dan tidak akan mengejutkan melihat ekspor China turun dua kali lipat pada kuartal kuartal II/2020 meskipun peningkatan pengiriman obat-obatan sedikit mengimbangi kerugian.

Hal senada diuatarakan Larry Hu dari Macquarie Group Ltd yang mengatakan pertumbuhan ekspor dapat turun lebih jauh pada April-Juni yang dapat membuat kinerja tahunan terjungkal 13% akibat langkah-langkah domestik untuk mengekang wabah. Ekonom UBS Ning Zhang juga memperkirakan ekspor menurun 20% antara April dan Juni dengan potensi resesi di AS, Eropa, Jepang, dan beberapa negara berkembang.

Wang menambahkan, permintaan global tertekan oleh langkah-langkah pencegahan penyebaran virus corona di berbagai negara utamanya pasar ekspor Utama China termasuk Uni Eropa dan AS yang diperkirakan akan merosot sedikitnya 10% pada Maret 2020.

Ironisnya, tepat ketika pasar luar negeri mereka tutup, menurut Kementerian Perdagangan China, mayoritas eksportir telah kembali ke kapasitas produksi 70% namun sayangnya pabrik-pabrik menghadapi banyak pembatalan pesanan.

Sementara itu, Dirjen WTO Roberto Azevedo dalam ke-terangan resmi pekan lalu. menyatakan 2020 bisa menjadi pukulan terbesar bagi perdagangan internasional sejak Depresi Besar atau the Great Depression pada 1930-an melebihi kemerosotan perdagangan yang terjadi saat krisis ?nansial global 2008-2009 dan melihat ekspektasi pemu-lihan pada 2021 sesungguhnya tidak pasti dengan hasil bergantung pada durasi wabah dan efektivitas respons kebijakan.

Di sisi lain, ia mengatakan jika negara-negara bekerja sama, pemulihan akan jauh lebih cepat ketimbang masing-masing negara bertindak sendiri, perdagangan akan menjadi unsur penting, bersama dengan kebijakan fiskal dan moneter.

RI Ekspor Hasil Perikanan Rp 194 Miliar

Ayutyas 06 Apr 2020 Investor Daily, 2 April 2020

Pada Rabu (1/4), Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sukses melepas ekspor 3.200 ton hasil perikanan senilai Rp 194,60 miliar dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, ke 13 negara tujuan, di tengah merebaknya pandemi Covid-19. Adanya proses perizinan ekspor hasil perikanan yang mudah, di antaranya dengan tidak mewajibkan dokumen Surat Kesehatan Ikan/Health Certificate (HC) sebagai persyaratan ekspor kecuali negara tujuan memintanya. Menteri KP Edhy Prabowo mengatakan, KKP mempermudah proses perizinan ekspor hasil perikanan untuk menggeliatkan ekonomi nasional melalui kinerja ekspor hasil perikanan.


Ekspor 3.200 ton hasil perikanan itu menggunakan KM OOCL Guangzhou, hasil perikanan berasal dari 36 perusahaan Indonesia, dikemas dalam 115 unit kontainer ke-13 negara tujuan ekspor, yaitu Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Mauritus, Reunion, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, dan Lithuania. Komoditas perikanan yang diekspor terdiri atas 28 jenis, yaitu udang, cumi, paha kodok, sotong, cupang, cakalang, yellow fins tuna, dan lainnya.

 
Menteri Edhy menjamin bahwa perizinan di sektor kelautan dan perikanan mudah dan kondusif. KKP akan terus melakukan terobosan dan menyederhanakan prosedur ekspor, sesuai kebijakan fiskal. Kinerja ekspor dapat berjalan dengan sangat baik apabila semua instansi bersama kementerian/lembaga saling koordinasi dan bersinergi. Kemudahan bagi para eksportir terkait perizinan ekspor perikanan dengan tidak mewajibkan HC sebagai syarat ekspor kecuali negara tujuan yang memintanya, ditargetkan berlaku mulai 1 April 2020.


Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, UPT Lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melakukan pembatasan layanan yang bersifat tatap muka beralih menjadi layanan online, guna membantu pemerintah dalam mencegah dan menekan kenaikan kasus Covid-19. Untuk pelayanan yang tidak memerlukan tatap muka secara langsung, telah disiapkan jalur komunikasi melalui nomor telepon atau email bagi pembudidaya yang membutuhkan. Hotline layanan kepada pembudidaya tersebar di seluruh Indonesia dan dapat dilihat di instagram dan website yang disediakan. Sejak 2009, Balai Perikanan Budidaya Laut Batam telah mengembangkan sistem untuk dapat melakukan pelayanan online bagi pembudidaya, melalui integrasi sistem aplikasi pesan instan WhatsApp-Website bernama SimaPro BPBL Batam.


Agregator Produk Lokal dengan Pasar Ekspor

Ayutyas 06 Apr 2020 Tempo, 4 April 2020

Bagi Ilyas Bhat, pria yang sudah kawakan di dunia bisnis keuangan dan industri itu berujar bahwa produk Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk sejenis luar negeri, contohnya Mi instan, diyakininya sebagai salah satu produk terenak di dunia. Begitu juga dengan Batik dan furniture dari Jepara. Banyak produsen menginginkan produk-produk unggulan mereka tersebut menembus pasar ekspor, tetapi terhambat proses ekspor yang sulit dan aturan main di negara tujuan yang rumit.


Melihat potensi pasar ekspor yang besar, sejak akhir 2019 Ilyas meluncurkan platform digital untuk membantu para pemilik usaha memasarkan produknya di luar negeri, platform perdagangan ini bernama Made In Indonesia atau disingkat Mind. Melalui Mind, pelaku bisnis bisa mencoba peruntungan menjajal pasar global. Saat ini biaya kemitraan masih gratis, mitra hanya cukup dengan mendaftar di Mind saja. Mind memiliki keahlian dan fitur untuk membenahi skema business-to-business (B2B), dengan dibantu oleh jejaring lama Ilyas untuk menyediakan sarana promosi di luar negeri dan teknologi yang sudah dikembangkan selama lima tahun terakhir memungkinkan proses penjualan dan pembelian ke lebih dari 100 bahasa. Saat ini sudah ada ratusan mitra yang tergabung dengan Mind.


Aktivitas perdagangan ekspor perlu legitimasi dan mengandalkan kepercayaan karena adanya kompetisi, maka itu pelaku bisnis yang sudah mapan, dalam arti kata sudah memiliki struktur organisasi yang lengkap dan berkekuatan hukum, cocok untuk menggarap bisnis internasional. Tahun 2020, Mind menerapkan kurasi ketat untuk menjaga orisinalitas dan berfokus pada beberapa produk, seperti dekorasi rumah, agroindustri, apparel, dan industri kimia. Benua Afrika, Asia dan negara dengan selera yang cenderung sama menjadi fokus perhatian pasar tahun ini.


Mind nantinya akan memperoleh pendapatan dari program berbayar yang memanfaatkan semua fitur dan layanan di marketplace tersebut. Mitra akan dikenai biaya antara 15 juta hingga 35 juta per tahun. Advisor Mind, Kemal Panigoro, menjamin bahwa biaya tersebut lebih murah disbanding mengurus sendiri administrasi ekspor. Mind ditargetkan mendapatkan 2000-2500 vendor sampai akhir tahun dengan tujuh juta transaksi.

Larangan Ekspor Etil Alkohol, Serapan Etanol Harus Dijamin

tuankacan 30 Mar 2020 Bisnis Indonesia, 30 Maret 2020

Para produsen etil alkohol berharap ada jaminan serapan etanol di dalam negeri pascaditerbitkannya aturan larangan sementara ekspor produk tersebut demi menjaga pasokan di tengah pandemi COVID-19. Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia (Asendo) mengemukakan rerata produksi etanol per tahun Indonesia sangat besar dengan tingkat serapan domestik yang tidak terlalu tinggi. Itu sebabnya, selama ini produsen etanol Tanah Air mengandalkan pasar ekspor untuk serapan produksinya. Berdasarkan catatan Asendo, kapasitas maksimal produksi etanol nasional mencapai 240 juta liter. Adapun, 6 pabrik anggota Asendo yang aktif beroperasi saat ini memiliki kapasitas produksi 185 juta liter dengan serapan dalam negeri hanya 50% dari total volume tersebut.

Namun demikian, seiring dengan dilarangnya ekspor etanol hingga 30 Juni 2020, Asendo pun mempertanyakan jaminan serapan stok etil alkohol lokal yang surplus. Meski terdapat lonjakan permintaan produk yang menjadi bahan baku cairan sanitasi tangan tersebut, stok etanol di luar kontrak dengan pembeli masih berlebih. Mengingat belum adanya jaminan serapan etanol di dalam negeri, berharap pemerintah mempertimbangkan pelarangan sementara impor produk sejenis demi mencegah banjir pasokan. Pemerintah juga harus mengawasi ekspor tetes tebu (molasses), yang merupakan bahan baku utama etanol. Pengawasan perlu dilakukan mengingat makin berkurangnya pasokan tetes tebu, yang saat ini mencapai 800.000 ton. Hal ini berefek pada kenaikan harga molasses. Berdasarkan catatan Asendo, harga lelang untuk tetes tebu tahun lalu berkisar antara Rp1,8 juta—Rp1,9 juta per ton. Saat ini, harga lelang bisa menyentuh Rp2,3 juta per ton.