Digital Ekonomi umum
( 1150 )Digital Dorong Investasi
Pertumbuhan infrastruktur digital dan populasi pengguna internet di Indonesia menjadi salah satu pendorong investasi. Sekitar 15-20% dari penanaman modal asing (PMA) didukung sektor digital. Investasi langsung berupa PMA di sektor ekonomi digital meningkat pesat.
Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berpotensi meningkatkan PDB sebesar 150 miliar dollar AS. Penambahan tenaga kerja digital di sektor manufaktur diprediksi 4,5 juta orang, sedangkan tenaga kerja penunjang manufaktur sebanyak 12,5 juta orang.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengemukakan, ditengah tekanan ekonomi global ada 2 sektor penyelamat PMA di Indonesia yaitu ekonomi digital dan industri pengolaha. Bahkan dari 11 unicorn di Asia, sebanyak 5 unicorn berada di Indonesia (GoJek, Traveloka, Bukalapak, Tokopedia dan Ovo).
Alodokter Raih Pendanaan US$ 33 Juta
Alodokter, super app kesehatan terkemuka di Indonesia, menerima investasi seri C senilai US$ 33 juta. Pendanaan diberikan oleh Sequis Life dan dengan partisipasi dari Philips, Heritas Capital, Hera Capital, Dayli Partner dan lainnya. Investor yang sudah ada, seperti Softbank Ventures Asia dan Golden Gate Ventures masih turut berpartisipasi dalam pendanaan tersebut. Alodokter merupakan plarform kesehatan lebih dari 20 juta pengguna aktif setiap bulannya.
Gaet Pengguna, Fintech Perluas Jangkauan
Pemain fintech peyment semakin rajin berkolaborasi untuk meningkatkan jumlah pengguna dan transaksi pada tahun ini. Mereka tidak hanya menggandeng penjual online, tetapi juga BUMN dan perusahaan swasta lain. Terbaru, DANA menggandeng mitra perusahaan pengiriman dan layanan logistik JNE. CEO&Founder DANA mengatakan kerja sama tersebut untuk meningkatkan perdagangan secara digital atau diplatform e-comerce. DANA sebelumnya berkolaborasi dengan berbagai perbankan serta pemerintahan, seperti penyaluran Pembiayaan Ultra Mikro, Bantuan Sosial , dan Badan Usaha Milik Desa. Berkat kolaborasi tersebut pengguna DANA sudah mencapai 20 juta per Juni 2019. CEO&Founder DANA menargetkan jumlah pengguna DANA sampai akhir tahun melebihi 30 juta.
Selain itu fintech dari BUMN Linkaja bermitra dengan Pegadaian. Kerjasama ini meliputi penyediaan titik penerimaan setoran tunai untuk menambah saldo rekening (cash in) dan penarikan tunai dari saldo rekening Linkaja (cash out). Sejak maret hingga agustus 2019 jumlah pengguna Linkaja terdaftar menjapai 32 Juta. Direktur utama Linkaja mengharapkan sampai dengan akhir tahun pengguna Linkaja mencapai 40 juta.
Sementara Direktur OVO, menyatakan bahwa fokus kerjasama dengan perusahaan transportasi, e-commerce dan ritel termasuk food and beverages. Sektor transportasi OVO sebelumnya telah bekerjasama dengan Grab. Sedangkan untuk e-comerce OVO telah bekerjasama dengan Tokopedia.
Rintisan Bidang Teknologi Tetap Dibidik Investor
Pendanaan bagi pelaku usaha ekonomi digital Asia Tenggara diperkirakan mencapai 37 miliar dollar AS dalam 4 tahun terakhir. Sebagian besar suntrikan investasi itu diterima perusahaan teknologi berskala besar.
Sesuai laporan studi e-Economy SEA 2019, saat ini perusahaan yang berstatus unicorn di Asia Tenggara adalah Bigo, Bukalapak, Gojek, Grab, Lazada, Razer, OVO, SEA Group, Traveloka, Tokopedia, dan VNG. Adapun aspiring unicorn adalah Carousell, Zilingo, Carro, dan PropertyGuru.
Laporan itu juga menyebutkan ketegangan perdagangan AS-China yang meningkat telah menurunkan perdagangan dan membatasi pengeluaran investasi. Situasi ini berdampak terhadap pendanaan bagi pelaku usaha ekonomi digital global. Menurut data Crunchbase, pendanaan ventura global diprediksi turun 17,5% pada triwulan II-2019 meskipun ke Asia Tenggara tetap lancar.
Usaha Rintisan Banyak Drama
Dalam beberpa pekan terakhir banyak drama di kalangan investor dan usaha rintisan. Salah satu investor WeWork yaitu Softbank mencoba mengumpulkan kembali dana dari beberapa investor setelah penawaran WeWork batal.
Drama lain, perusahaan modal ventura dari Amerika Serikat masih terus memasuki China kendati Presiden Donald Trump berusaha menekan agar aliran dana tak lagi masuk ke China.
Softbank menjadi investor yang cukup besar dibeberapa usaha rintisan dunia. Mereka berhasil meyakinkan rekanya dari Timur Tengah untuk bergabung, antara lain dana kelolaan kekayaan dari Arab Saudi sebesar 45 miliar dollar AS dan 15 miliar dollar dari sebuah korporasi Uni Emirat Arab. Jumlah dana kelolaan di bawah Softbank yang dikucurkan ke berbagai usaha rintisan mencapai 100 miliar dollar AS termasuk dana milik Softbank sendiri.
Drama yang tak kalah heboh, Komitmen perusahaan ekuitas General Atlantic untuk berinvestasi 35 miliar dollar AS di usaha rintisan China. Invesatasi ini mengejutkan ditengah upaya Amerika Serikat menekan investasi ke China sedangkan China malah membuka peluang investasi lebar. Ketertarikan investasi ke China karena banyak paten baru, pasar yang besar, dan akses internet yang menjangkau lebih dari 800juta orang. Perang dagang antara AS-China sepertinya tidak berpengaruh pada invesatasi usaha rintisan.
Sebenarnya, dibalik drama investor itu adalah kenyataan bahwa pendanaan usaha rintisan masih memiliki masa depan yang cerah. Sejumlah CEO yang diwawancarai meyakini prospek bisnis yang dijalankan usaha rintisan yang telah teruji.
2022, Pasar IoT Bernilai Rp 444 Triliun
Asosiasi Internet of Things Indonesia (Asioti) memperkirakan, nilai pasar internet of things (IoT) Indonesia mencapai Rp 444 triliun pada 2022. Jumlah tersebut tumbuh signifikan dibandingkan nilai pasar IoT saat ini masih di sekitar Rp 100 triliun. Sementara itu, jumlah perangkat yang terhubung ke internet, atau sensor IoT, diperkirakan mencapai 400 juta pada tahun 2022 yang saat ini masih sekita 100 juta perangkat terhubung. Salah satu perangkat yang menjadi indikator terhubung ke internet adalah ponsel pintar (smartphone). Ketua Umum Asioti Teguh Prastya mengatakan, smartphone merupakan salah satu perangkat IoT yang paling banyak terhubung ke internet. Di dalam smartphone setidaknya terdapat 12 sensor. Sedangkan nilai pasar IoT dapat dihitung dari komposisi perangkat sebesar 13%, jaringan 9% serta platform dan aplikasi sebesar 78%. Belum lama ini juga, Kemenkominfo telah mengungkapkan, terdapat dua isu utama dalam penerrapan IoT di Indonesia. Selain sensor dan konektivitas, ekosistem dan pengolahan data analytic menjadi isu utama dalam penerapan IoT. Karena itu, Kemenkominfo mengajak semua pihak terkait (stakeholder) di Tanah Air untuk turut memikirkan kedua hal tersebut. harapannya, penerapan IoT di Indonesia bisa lebih masif dan memberikan solusi yang nyata dalam mengatasi berbagai persoalan.
Penggunaan Kartu Debit, Aktivitas Transaksi Menurun
Pertumbuhan transaksi kartu debit mengalami penurunan pada Agustus 2019. Maraknya transisi transaksi melalui dompet digital atau e-wallet menjadi salah satu penyebab penurunan tersebut.
Berdasarkan data Bank Indonesia, volume transaksi menggunakan kartu debit hanya tumbuh 3,95% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi sebanyak 566,4 juta transaksi per Agustus 2019. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, volume transaksi kartu ATM meningkat 10,61% yoy menjadi 544,9 juta transaksi. Beralihnya transaksi dari kartu debit ke server based e-money milik perusahaan teknologi finansial (tekfin) menjadi salah satu penyebab terbesar penurunan jumlah transaksi.
Faktor penurunan lainnya disebabkan oleh fraud, yang menyebabkan pembatasan transaksi kartu debit sehingga sangat mempengaruhi volume transaksi.
Grab dan KAI Perluas Jangkauan GrabExpress
Grab, everyday superapp terkemuka di Asia Tenggara, mengumumkan kemitraan strategisnya antara layanan pengiriman paket on-demand miliknya, GrabExpress, dengan layanan logistik milik PT Kereta Api Indonesa (KAI), Rail Express. Pendantangan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan nama Grab Rail Express itu dilakukan oleh Dirut PT KAI Edi Sukmoro dan Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi, di sela perayaan ulang tahun KAI ke-74 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Ir H Djuanda, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/9). Menurut dia, tidak hanya memanjakan pelanggan individu, layanan Grab Rail Express juga dapat membantu bisnis kecil dan kominitas social seller di Tanah Air. Mereka pun diharapkan akan semakin sukses dalam menjalankan bisnisnya sejalan dengan komitmen Grab for Good lewat pemberdayaan wirausahawan mikro dan bisnis berskala kecil.
Perusahaan Teknologi Fnansial, Ramai-Ramai Tanam Duit di Tekfin
Investasi bank besar ke industri perusahaan finansial berbasis teknologi (tekfin) semakin tebal. Adapun, penyaluran dana, khususnya perusahaan peer to peer lending terus meningkat, dan mendekati target pada tahun ini.
Setidaknya sepanjang tahun ini hingga 3 tahun ke depan, lebih dari Rp1 triliun dana segar dari bank umum kelompok usaha (BUKU) IV beredar di ekosistem tekfin.
Bank bermodal inti lebih dari Rp30 triliun tersebut masuk ke bisnis tekfin melalui entitas anak, yakni perusahaan modal ventura (PMV).
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. saat ini telah berinvestasi di 12 perusahaan tekfin rintisan melalui PT Mandiri Capital Indonesia.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. saat ini masih berupaya membentuk PMV.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, pada tahun lalu resmi menggenggam 97,61% saham BRI Ventura Investama yang sebelumnya dimiliki oleh PT Bahana Artha Ventura. PT Bank CIMB Niaga Tbk. memilih menggandeng perusahaan modal ventura asal Singapura, Genesis Alternatives Ventures. Tidak hanya bank, PT Pegadaian (Persero) juga tertarik untuk bisnis di tekfin. Perseroan menyiapkan dana Rp500 miliar untuk masuk ke bisnis tekfin.
Teknologi Pembayaran, LinkAja Dorong Ekosistem Transaksi Nontunai
Partisipasi layanan pembayaran LinkAja dalam gelaran festival kuliner dinilai mendorong kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi nontunai. Pengunjung gelaran tersebut dapat dimanjakan dengan adanya layanan LinkAja melalui transaksi nontunai yang lebih cepat.Partisipasi dalam berbagai gelaran festival kuliner merupakan upaya LinkAja dalam memperkaya use case di seluruh sendi kehidupan. Hal tersebut dinilai dapat membuat layanan pembayaran pelat merah itu makin banyak digunakan masyarakat. Kemudahan transaksi dengan berbagai promo menarik, dapat menjadi insentif adopsi bagi masyarakat untuk meningkatkan kebiasaan bertransaksi nontunai.
Pilihan Editor
-
Bank Sentral Waspadai Kepanikan di Pasar Uang
09 Mar 2020







