;
Tags

Bunga

( 411 )

Dapen Alihkan Dana di Tengah Penurunan Bunga

HR1 01 Oct 2024 Kontan

Penurunan suku bunga acuan menekan prospek investasi deposito. Dengan kondisi ini, industri dana pensiun (dapen) mencari peluang investasi yang lebih baik dari instrumen investasi lain. Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno mengatakan penurunan suku bunga acuan akan diikuti oleh penurunan bunga deposito perbankan. Dus, instrumen ini jadi kurang menarik dibandingkan alternatif lain. Nah salah satu instrumen yang cocok untuk dijadikan tempat switching dari deposito adalah produk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia alias SRBI. Selain menawarkan imbal lebih tinggi, karakteristik SRBI juga serupa dengan deposito yang cocok untuk liabilitas jangka pendek. "Dapen BCA sendiri mengalihkan sebagian investasi deposito ke instrumen SRBI sekitar 30% mulai sejak April 2024," kata Budi. Saat ini porsi investasi Dapen BCA di deposito mencapai 13,4%. 

Senada, Direktur Utama Dana Pensiun Bank Mandiri Abdul Hadie bilang SRBI jadi instrumen yang menarik di tengah potensi layunya bunga deposito. Meski begitu, Hadie mengatakan penurunan suku bunga BI tidak akan mengubah strategi investasi Dana Pensiun Bank Mandiri secara signifikan. Industri Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) juga melihat potensi penurunan suku bunga bunga deposito berpotensi membuat porsi investasi di instrumen tersebut terkikis. Padahal, deposito kerap menjadi salah satu keranjang terbesar bagi DPLK saat menaruh dana investasi. Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK Syarif Yunus bilang pengelola DPLK harus menjaga pilihan investasi dari peserta untuk mendapatkan tingkat imbal hasil pengembangan yang layak dan optimal. Bila menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), DPLK tercatat mengoleksi surat berharga Bank Indonesia, terutama SRBI, pada Oktober 2023 senilai Rp 28,5 miliar. Namun nilainya terus naik hingga menembus Rp 4,9 triliun pada Juni 2024.

Penurunan Beban Dana Jadi Angin Segar bagi Bank

HR1 30 Sep 2024 Kontan

Era suku bunga tinggi resmi berakhir dengan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI). Hal itu diperkirakan dapat mendongkrak kinerja emiten, khususnya sektor perbankan. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji mengatakan, untuk jangka pendek saham sektor perbankan masih akan bergerak fluktuatif. Sebab terdapat sentimen yang mempengaruhi gerak pasar. Pertama, pasar menantikan pelantikan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih. Kedua, rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal III 2024 yang diperkirakan tidak setinggi pada kuartal II. Sementara untuk jangka panjang, pemangkasan suku bunga ini menjadi angin segar bagi sektor perbankan. Sebab berpotensi meningkatkan kinerja kredit perbankan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano sepakat, efek pemangkasan suku bunga tidak akan berlangsung instan. Ia memperkirakan perbaikan likuiditas yang akan mengurangi tekanan biaya dana perbankan baru akan terjadi paling cepat di kuartal I 2025. Dari sejumlah emiten bank dalam cakupannya, Victor menilai, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan mendapatkan keuntungan yang paling besar seiring dengan pemangkasan suku bunga. 

Sebab BBNI paling terdampak saat kenaikan suku bunga. Tercermin dengan penurunan net interest margin (NIM) sebesar 80 basis poin (bps) secara tahunan atay year on year (yoy) pada Juli 2024. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan menjadi yang paling sedikit diuntungkan karena NIM yang tahan banting. Berdasarkan analisis Victor, semua bank kecuali BBCA mengalami transmisi kenaikan suku bunga lebih tinggi di biaya dana mereka pada kenaikan suku bunga sebelumnya dibandingkan rata-rata historis. Secara keseluruhan, Victor mempertahankan peringat overweight untuk sektor perbankan. Adapun BBCA menjadi pilihan utamanya dan menyematkan rating buy dengan target harga yang ditingkatkan menjadi Rp 12.400 dari sebelumnya Rp 11.300. Sementara itu, analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi mempertahankan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai pilihan utamanya. Ini menyusul momentum laba per saham (EPS) yang positif. "Kami memperkirakan pertumbuhan EPS sekitar 17% pada 2025 dan 2026 setelah EPS yang datar tahun ini," sebut Harsh.

Suku Bunga Turun, Bank Optimistis Kredit Konsumer Naik

HR1 27 Sep 2024 Kontan

Penurunan suku bunga acuan bakal mendongkrak penyaluran kredit konsumer di perbankan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit konsumsi per Juli 2024 mencapai Rp 2.108,1 triliun, meningkat 10,6% secara tahunan. Penopang terbesar dari pertumbuhan kredit konsumer berasal dari kredit pemilikan rumah (KPR), yang tumbuh 14,2% per Juli 2024. Disusul kredit kendaraan bermotor tumbuh 7,9% dan kredit multiguna meningkat 8,7%. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengakui penurunan suku bunga dapat mendongkrak kredit konsumer, termasuk properti. "Dengan membaiknya suku bunga dan kebijakan pemerintah, BCA optimistis KPR sampai akhir tahun makin meningkat dibanding paruh pertama tahun ini," ungkap Executive Vice President (EVP) Consumer Loan BCA Welly Yandoko. 

Di akhir tahun, BCA optimistis kredit akan tumbuh di kisaran 8%-10%. Welly menjelaskan, bunga KPR BCA relatif tidak mengalami perubahan yang berarti sejak kenaikan BI rate. Sehingga penurunan suku bunga acuan tidak serta merta langsung mendorong penurunan suku bunga pinjaman di KPR BCA. Ramon Armando, Corporate Secretary Bank Tabungan Negara (BTN) pun mengaku, efek penurunan suku bunga belum berdampak pada bunga KPR. Ramon menjelaskan, bank baru akan menyesuaikan suku bunga kredit ketika bunga simpanan menurun. PT Bank Mandiri Tbk juga yakin pertumbuhan kredit konsumsi masih positif. Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menargetkan kredit bisa tumbuh 16%-18% secara tahunan. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengalami pertumbuhan pembiayaan konsumer 15,91% secara tahunan menjadi Rp 140 triliun. Pembiayaan konsumer ini didominasi pembiayaan BSI Griya. Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna menyebut, portofolio rumah baru mendominasi pembiayaan BSI Griya lebih dari 50%, disusul secondary market. "Kualitas pembiayaan BSI Griya terjaga dengan non performing financing 2,26%," ujar dia.

Suku Bunga Melandai Perlahan

KT1 25 Sep 2024 Investor Daily (H)

Industri perbankan mendapatkan katalis positif usai Bank Indonesia (BI)  memangkas suku bunga acuan BI7 day reserve rapo rate (BI7DRRR) 25 basis poin (bps) menjadi 6%. Selain biaya dana yang akan menurun, kualitas aset perbankan juga diperkirakan terus mengalami perbaikan apabila transisi suku bunga berjalan. Pasalnya, dengan BI menurunkan suku bunga acuannya, bank-bank besar memiliki ruang  untuk memangkas suku bunga depositonya lebih dulu dan diharapkan  pula tertransisi kepada suku bunga kredit. Dengan begitu, kapasitas debitur untuk membayar cicilan akan semakin besar karena ada penurunan bunga kredit, pada akhirnya adalah kualitas aset yang bagus tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang melandai. "Justru kalau bunga turun, NPL jadi lebih bagus, karena repayment capacity debitur juga lebih bagus dan lebih kuat. Kalau bunga turun, debitur punya nafas lebih panjang dan longgar, sehingga kualitas bisa terjaga," jelas Ekonom Senior dan Associate Faculty lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto. (Yetede)

Dilema Perbankan Menghadapi Penurunan Suku Bunga

HR1 23 Sep 2024 Kontan

Suku bunga acuan akhirnya turun. Lazimnya, perbankan akan merespons penurunan tersebut dengan menurunkan suku bunga simpanan, demi mengurangi biaya dana. Namun, saat ini perbankan masih berhadapan dengan likuiditas yang ketat. Oleh karena itu, perbankan akan hati-hati memutuskan penurunan bunga simpanan. Data BI mencatat, Dana Pihak Ketiga (DPK) per Agustus hanya tumbuh 7,1% secara tahunan atau year on year (YoY), turun dari bulan sebelumnya yng tumbuhnya 7,5%. Sementara kredit tumbuh 11,4%, walau melambat dari Juni yang tumbuhnya 12,4%. Bank bermodal besar lebih siap memangkas bunga. Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Tbk, mengatakan, pihaknya akan fokus menurunkan biaya dana pasca penurunan BI rate. "Kami lihat perkembangan. Namun, kami berharap bank secara nasional bunga DPK turun, agar biaya dana berangsur turun, sehingga bisa diikuti penurunan bunga kredit," kata Lani, Rabu (8/9). 

Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan, penurunan bunga simpanan di Bank Mandiri tetap akan memperhatikan kondisi likuiditas dan juga bunga instrumen investasi non bank. Ia bilang, bank akan susah menurunkan biaya dana jika likuiditas masih ketat. Sementara itu, meski kredit Bank Mandiri tumbuh kencang hingga 20,5% per Juni 2024, DPK bank pelat merah ini juga masih tampil apik, dengan pertumbuhan sebesar 15% secara tahunan. Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman mengatakan, penurunan bunga acuan bisa berdampak pada pengurangan biaya dana di perbankan. "Pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi efisiensi operasional," ujar Ali. Sementara bank dengan modal lebih kecil lebih hati-hati menurunkan bunga. Direktur Bisnis Bank JTrust Widjaja Hendra menyebut penurunan bunga deposito akan memperhatikan kondisi pasar. Untuk mengendalikan kenaikan biaya dana, bank milik investor Jepang ini akan berupaya memacu pertumbuhan dana murah. Salah satunya strateginya adalah dengan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjaring nasabah.

Berkah Penurunan Suku Bunga Acuan

KT1 21 Sep 2024 Tempo
RAPAT Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan ini memutuskan memangkas suku bunga acuan BI dari 6,25 persen menjadi 6 persen. Langkah tersebut disambut pelaku industri dan perbankan. Pemangkasan suku bunga BI diharapkan bakal diikuti oleh turunnya bunga kredit perbankan. Walhasil, masyarakat bisa lebih gencar memanfaatkan pinjaman perbankan untuk aktivitas mereka.  Pengumuman pemangkasan suku bunga acuan disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo pada Rabu, 18 September 2024. Perry juga menyampaikan bahwa BI menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 5,25 persen dari sebelumnya 5,5 persen, dan suku bunga lending facility menjadi 6,75 persen dari sebelumnya 7 persen. 

BI menurunkan suku bunga acuan lantaran inflasi terkendali sesuai dengan target pemerintah serta stabilitas nilai tukar rupiah. BI juga menganggap perlu upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Perry, pelonggaran terus ditempuh untuk mendorong kredit atau pembiayaan perbankan, khususnya untuk sektor-sektor prioritas pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah serta ekonomi hijau. Sebelumnya, langkah BI menaikkan suku bunga acuan sudah dimulai sejak 2022. Pada Januari hingga Juli 2022, suku bunga acuan BI berada pada level 3,50 persen. Mulai naik menjadi 3,75 persen pada Agustus dan terus meningkat hingga level 6,25 pada April 2024. (Yetede)

Bunga Acuan BI dan The Fed Dipangkas

KT3 20 Sep 2024 Kompas

BI memangkas bunga acuan 25 basis poin menjadi 6 persen. Perkembangan ekonomi global dan domestik jadi alasan penurunan bunga acuan lebih cepat dari The Fed. The Fed sendiri, Rabu (18/9/2024), akhirnya mengumumkan pemangkasan suku bunga hingga 50 basis poin ke kisaran 4,75-5 persen. Penurunan bunga The Fed yang ditunggu-tunggu ini diyakini akan berdampak positif bagi ekonomi global dan negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampak tersebut termasuk menurunnya beban utang dalam valas dan meningkatnya arus masuk modal ke negara berkembang. Penurunan suku bunga The Fed juga membawa angin segar ke pasar uang, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sempat menguat pada Kamis. Selain BI Rate, BI juga menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 5,25 persen, dan suku bunga lending facility 6,75 persen. Ini penurunan suku bunga acuan yang pertama sejak Februari 2021. Sebelumnya, selama kurun Agustus 2022-April 2024, BI telah menaikkan suku bunga secara bertahap, dari 3,50 persen menjadi 6,25 persen.

Gubernur BI menyebut lima alasan menurunkan bunga acuan mendahului The Fed. Pertama, arah penurunan suku bunga The Fed sudah lebih jelas, baik waktu maupun besarannya. BI meyakini The Fed akan menurunkan suku bunga hingga tiga kali tahun ini, yakni pada September, November, dan Desember 2024; dan empat kali pada 2025. Kedua, nilai tukar rupiah saat ini cenderung menguat dan stabil. Ketiga, inflasi rendah dan diperkirakan tetap terkendali. Inflasitercatat 2,12-3,05 persen sepanjang tahun ini(yoy), dari target 1,5-3,5 persen untuk 2024-2025. Keempat, penurunan suku bunga acuan dan kebijakan yang lebih seimbang antara stabilitas dan pertumbuhan—dari sebelumnya yang lebih pro-stabilitas—ini bisa mendukung pertumbuhan ekonomi. Kelima, penurunan bunga acuan akan mendorong penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sehingga bisa lebih mendukung kebijakan fiskal. Konsensus sebagian besar ekonom menganggap menurunkan bunga acuan BI lebih cepat dari The Fed sebagai langkah tepat, terutama setelah The Fed mengisyaratkan pihaknya segera menaikkan suku bunga. Penurunan suku bunga bahkan sudah terjadi di Eropa dan China, seiring melemahnya permintaan domestik dan meredanya inflasi.

Sejumlah ekonom bahkan melihat penurunan bunga acuan BI hal mendesak mengingat deflasi empat bulan berturut-turut (Mei-Agustus) di 2024 bisa jadi sinyal krisis ekonomi. Apa pun, penurunan suku bunga dibutuhkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat secara berkelanjutan, terlebih ditengah melesunya sektor riil dan melemahnya sendi ekonomi nasional. Penurunan bunga acuan BI diharapkan bakal mendongkrak penyaluran kredit, menggairahkan sektor riil, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Dalam jangka lebih panjang, tren penurunan bunga di negara maju ke depan menjadi kabar baik bagi Indonesia. Penurunan suku bunga di negara maju akan mendorong masuknya arus modal asing ke negara berkembang sehingga memperkuat stabilitas eksternal dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. (Yoga)

Penurunan Suku Bunga Acuan, BI-Rate, Sebesar 25 bps Berita Baik untuk Perbankan

KT1 20 Sep 2024 Investor Daily (H)
Penurunan suku bunga acuan, BI-Rate, sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6% disambut gembira oleh perbankan. Sebab berakhirnya era suku bunga tinggi akan mendongkrak kinerja sektor ini. Jahja Setiaadmandja menilai, pemangkasan BI-Rate sejalan dengan manuver bank sentral AS The Fed yang memangkas Federal Fund rate (FFR) "The Fed sudah menurunkan Fed Rate, sehingga pemangkasan BI-Rate adalah hal positif. Apalagi, kurs rupiah terhadap dolar AS, kurs rupiah terhadap dolar AS juga sudah di bawah Rp16.000. Ini juga bagus untuk SBN, karena kupon turun dan menghemat biaya pemerintah," ucap Jahja. BCA juga mencatatkan total aset naik 5,45%, menjadi Rp1.400 triliun. Laba bersih BCA tumbuh 13,5% per Agustus 2024 menjadi Rp 36 triliun dari sebelumnya Rp31,71 triliun. "Kami usahakan kredit tumbuh lebih tinggi," sambung Jahja. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI) Royke Tumilaar mengatakan, BNI memproyeksikan penurunan BI-Rate dimulai pada Oktober atau setelah hasil FOMC. Dengan demikian, penurunan satu bulan lebih cepat. (Yetede)

Margin Perusahaan Kian Menguat Setelah Tren Penurunan Suku Bunga

HR1 20 Sep 2024 Kontan

Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas bunga acuan ke level 6% akan memperbaiki margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) perbankan. Sebab, pemangkasan BI rate akan berdampak pada penurunan biaya dana perbankan. NIM perbankan tercatat telah mengalami tren penurunan di saat suku bunga tinggi. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NIM perbankan per Juli 2024 ada di level 4,59%, lebih rendah dari posisi sama tahun sebelumnya di level 4,84%. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan membenarkan, penurunan suku bunga acuan bisa memperbaiki NIM yang tertekan. Hanya saja, dia menekankan perbaikan tersebut tetap memerlukan waktu. Sebagai informasi, NIM CIMB Niaga di semester I-2024 berada di 4,21%. Posisi tersebut mengalami penurunan dari periode yang sama tahun lalu di 4,61% dan posisi akhir 2023 di 4,4%. Senada, Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah menyebut penurunan suku bunga acuan akan memperbaiki kondisi biaya dana bank. Alhasil, NIM yang diperoleh bank juga akan semakin membaik. Menurut prediksi Efdinal, perbaikan NIM perbankan, sebagai dampak pemangkasan BI rate, bisa dirasakan dengan cepat oleh bank. Ia menilai bank akan dengan cepat ikut menurunkan bunga simpanan, yang membuat biaya dana segera turun. Sedikit berbeda, Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan memberikan pandangan yang lebih diplomatis terkait perbaikan NIM pasca pemangkasan suku bunga. Menurutnya, yang paling penting adalah penurunan suku bunga bisa mempermudah nasabah memperoleh kredit dengan lebih murah.

Indeks Komposit Terus Melaju dalam Tren Positif

HR1 20 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sebesar 50 basis poin menjadi katalis utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (19/9). IHSG naik 0,97% ke level 7.905,39, didukung oleh sembilan sektor emiten yang mengalami kenaikan, terutama properti dan real estat yang naik 2,23%. Katalis positif ini sejalan dengan tren penguatan di bursa Asia, setelah The Fed menurunkan suku bunga dari 5,25%-5,5% menjadi 4,75%-5%.

Langkah The Fed juga memengaruhi Bank Indonesia, yang menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6%, yang membuat pasar modal Indonesia semakin menarik bagi investor asing. Erwan Teguh, SEVP Retail BNI Sekuritas, memandang potensi imbal hasil tinggi akan mendorong aliran modal asing ke Indonesia, meningkatkan daya tarik aset berisiko.

Para analis optimistis, termasuk dari Bank Indonesia, yang memprediksi The Fed masih akan melakukan penurunan suku bunga lagi di tahun ini. Bahkan, ada harapan bahwa suku bunga The Fed bisa dipangkas hingga empat kali sampai tahun depan, yang semakin memperkuat ekspektasi IHSG dapat menyentuh level psikologis 8.000 sebelum akhir tahun.

Dalam era suku bunga rendah ini, sektor-sektor seperti perbankan, properti, consumer goods, transportasi, dan logistik diprediksi akan sangat diuntungkan, terutama yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.