;
Tags

Bunga

( 411 )

Dilema Kebijakan Suku Bunga

HR1 19 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)
Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 6%, seperti yang diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar global. Langkah ini diambil di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp16.100 per dolar AS akibat ketegangan geopolitik dan rencana kebijakan proteksionis Donald Trump.

Namun, keputusan ini menuai kritik dari pelaku usaha. Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyatakan bahwa suku bunga tinggi tidak cukup membantu mendorong pertumbuhan sektor riil dan bisa membatasi akses pembiayaan murah. Ia berharap BI mampu menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dengan peningkatan daya saing ekonomi dalam negeri.

Dari sisi perbankan, Efdinal Alamsyah, Direktur PT Bank Oke Indonesia Tbk., menilai suku bunga tinggi membatasi minat korporasi untuk mengambil kredit baru, terutama untuk proyek dengan margin tipis. Namun, ia mengakui bahwa suku bunga bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi penyerapan kredit.

Sementara itu, menurut Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI, sektor multifinance relatif tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan BI-Rate karena kompetisi bunga pembiayaan di industri ini sudah sangat ketat.

Langkah BI mempertahankan suku bunga 6% dinilai strategis untuk menjaga stabilitas rupiah, tetapi menghadapi tantangan dalam mendukung pertumbuhan sektor riil dan penyaluran kredit. Kolaborasi kebijakan moneter dan fiskal yang lebih terarah diperlukan untuk mendorong sektor usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dilema Kebijakan Suku Bunga

HR1 19 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)
Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 6%, seperti yang diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar global. Langkah ini diambil di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp16.100 per dolar AS akibat ketegangan geopolitik dan rencana kebijakan proteksionis Donald Trump.

Namun, keputusan ini menuai kritik dari pelaku usaha. Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyatakan bahwa suku bunga tinggi tidak cukup membantu mendorong pertumbuhan sektor riil dan bisa membatasi akses pembiayaan murah. Ia berharap BI mampu menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dengan peningkatan daya saing ekonomi dalam negeri.

Dari sisi perbankan, Efdinal Alamsyah, Direktur PT Bank Oke Indonesia Tbk., menilai suku bunga tinggi membatasi minat korporasi untuk mengambil kredit baru, terutama untuk proyek dengan margin tipis. Namun, ia mengakui bahwa suku bunga bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi penyerapan kredit.

Sementara itu, menurut Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI, sektor multifinance relatif tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan BI-Rate karena kompetisi bunga pembiayaan di industri ini sudah sangat ketat.

Langkah BI mempertahankan suku bunga 6% dinilai strategis untuk menjaga stabilitas rupiah, tetapi menghadapi tantangan dalam mendukung pertumbuhan sektor riil dan penyaluran kredit. Kolaborasi kebijakan moneter dan fiskal yang lebih terarah diperlukan untuk mendorong sektor usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kebijakan Pasar Saham untuk Daya Saing

HR1 18 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)
Investor pasar saham saat ini menantikan kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia (BI) dan The Fed, yang menjadi sentimen utama akhir 2024. Bank Indonesia diproyeksikan mempertahankan suku bunga BI Rate di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), sementara The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,25%-4,50%.

Menurut Martha Christina dari Mirae Asset Sekuritas, keputusan BI Rate akan berdampak pada stabilitas rupiah, yang saat ini melemah hingga Rp16.101 per dolar AS. Sementara itu, keputusan The Fed dinilai lebih signifikan memengaruhi pasar saham dibandingkan BI Rate.

Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas menjelaskan bahwa penurunan BI Rate akan memberikan sentimen positif bagi sektor properti, perbankan, dan barang konsumsi, karena biaya pinjaman yang lebih rendah. Sebaliknya, kenaikan suku bunga akan berdampak negatif, terutama pada saham yang berorientasi pada utang tinggi.

Menurut Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas, jika BI Rate tetap, pasar akan merespons sesuai ekspektasi, tetapi kenaikan suku bunga dapat memicu penurunan penyaluran kredit dan konsumsi meskipun rupiah menguat. Arfan F. Karniody dari KISI Asset Management memperkirakan bahwa BI Rate pada 2025 akan turun ke 5%, dengan IHSG bergerak bullish hingga level 8.000.

Di sisi lain, Ike Widiawati dari Sinarmas Sekuritas menyarankan aksi "buy on weakness" pada saham-saham potensial seperti BBRI, ASII, dan GOTO di tengah tren pelemahan IHSG. Adapun skenario optimis 2025 adalah IHSG mencapai 8.185, didorong oleh stabilitas kebijakan dan sentimen positif dari The Fed.

Arah Suku Bunga Global di Tahun Depan

HR1 16 Dec 2024 Kontan
Pekan ini menjadi momentum penting bagi arah kebijakan moneter global, dengan 22 bank sentral dari berbagai negara menggelar pertemuan, termasuk The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang menjadi perhatian utama. The Fed diprediksi memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), meski ancaman inflasi akibat kebijakan tarif pemerintahan Presiden Donald Trump dapat membatasi penurunan lebih lanjut. David Wilcox, Direktur Penelitian Ekonomi AS di Bloomberg Economics, menyebut kebijakan Trump menambah tantangan bagi The Fed dalam menentukan langkah ke depan.

Setelah The Fed, Bank of Japan (BOJ) dan Bank of England (BOE) diperkirakan akan menahan suku bunga, dengan negara-negara Eropa lainnya juga cenderung mempertahankan kebijakan moneter mereka. Namun, Riksbank Swedia kemungkinan akan memangkas suku bunga untuk kelima kalinya tahun ini.

Di Asia Tenggara, Bank Indonesia dan bank sentral Filipina diproyeksikan menurunkan suku bunga sebesar 25 bps, sementara Bank of Thailand diperkirakan menahan suku bunga di level 2,25%. Sementara itu, People's Bank of China (PBOC) berencana melonggarkan kebijakan moneter tahun depan dengan memotong suku bunga dan menurunkan giro wajib minimum. Wang Xin, Direktur Biro Penelitian PBOC, menyatakan langkah ini bertujuan mendorong pembiayaan untuk sektor ekonomi riil yang saat ini melambat.

Bank Sentral Sepakat Pangkas Suku Bunga

HR1 14 Dec 2024 Kontan
Akhir tahun ini, sejumlah bank sentral dunia mulai memangkas suku bunga acuan sebagai respons terhadap ketidakstabilan ekonomi dan ancaman inflasi.

European Central Bank (ECB) baru saja memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3%, menjadikannya pemangkasan keempat tahun ini. Kepala Bank of France, Francois Villeroy de Galhau, menyebutkan bahwa pemotongan suku bunga akan terus dilakukan pada tahun depan untuk menghadapi ancaman perang dagang dan ketidakstabilan ekonomi di zona Euro.

Swiss National Bank (SNB) menurunkan suku bunganya sebesar 50 bps menjadi 0,5%, level terendah sejak November 2022. Penurunan ini dipicu inflasi rendah di Swiss (0,7%) dan penguatan franc Swiss yang membebani eksportir.

Bank of Canada juga memangkas suku bunga sebesar 50 bps menjadi 3,25% dalam pemangkasan terbesar pertama sejak pandemi Covid-19. Langkah ini diambil untuk mengatasi inflasi yang meningkat hingga 2% dan pelemahan ekonomi.

Di sisi lain, Reserve Bank of Australia (RBA) memilih menahan suku bunga tahun ini, tetapi memprediksi pemangkasan dapat dilakukan tahun depan jika inflasi tetap tinggi. Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga hingga awal 2025 karena masih menganalisis risiko global dan kenaikan upah.

Dalam pertemuan mendatang pada 17-18 Desember, Federal Reserve (The Fed) diproyeksikan akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps. The Fed juga diperkirakan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada tahun 2025-2026 akibat tingginya inflasi dan pasar tenaga kerja yang masih kuat.

Tren pelonggaran moneter ini menunjukkan respons global terhadap kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

Biaya Operasional yang Tinggi Membatasi Profitabilitas

HR1 12 Dec 2024 Kontan
Tingginya suku bunga acuan di level 6% menyebabkan cost of fund (CoF) perbankan meningkat, sehingga menekan profitabilitas hingga akhir tahun 2024. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2024, bank KBMI 4 mencatat kenaikan CoF tertinggi sebesar 39,8% secara tahunan, diikuti KBMI 2 (25%), KBMI 3 (23,7%), dan KBMI 1 (9,3%).

Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi, menyatakan bahwa permintaan special rate dari nasabah korporasi untuk dana besar menjadi salah satu penyebab kenaikan CoF. Yuddy optimistis profitabilitas BJB dapat dijaga dengan mendorong pertumbuhan dana murah (CASA) dan memacu pendapatan berbasis komisi.

Antonius Kunto Widyatmaka, SVP Strategy & Performance Management Bank Mandiri, juga mengakui tingginya CoF akibat likuiditas yang ketat di pasar. Namun, ia optimistis Bank Mandiri dapat menjaga profitabilitas dengan fokus pada aset produktif yang memiliki margin tinggi dan meningkatkan pendapatan non-bunga.

Di sisi lain, Jasmin, Direktur Distribution and Funding Bank BTN, menyebutkan bahwa produk deposito yang sensitif terhadap bunga menjadi penyumbang utama tingginya CoF. Sementara itu, Direktur Bisnis Bank J Trust Indonesia, Widjaja Hendra, mengungkapkan bahwa banknya menjaga laba dengan menyalurkan kredit ke segmen potensial dan tepat sasaran.

Secara keseluruhan, meskipun beban bunga yang tinggi menjadi tantangan besar, bank-bank besar berupaya menjaga profitabilitas melalui strategi efisiensi, diversifikasi pendapatan, dan pengelolaan aset berkualitas.

SBDK Perbankan Mengalami Peningkatan Dibandingkan Bulan Sebelumnya

KT1 22 Nov 2024 Investor Daily (H)
Pada posisi September 2024, suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Meningkatkan SBDK disebabkan bank mempertahankan kinerja profitabilitasnya. Bank Indonesia (BI) mencatat, SBDK September 2024 mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumya dan dikontribusikan kelompok bank BUMN. SBDK September 2024 di level 9,13%, atau naik 34 basis point (bps) dibandingkan bulan sebelumnya 8,79%. peningkatan SBDK didorong oleh kelompok bank BUMN, sebagaimana tercermin dari kenaikan SBDK sebesar 77 bps sejak Agustus 2023, setelah relatif stabil di level 8,75% selama dua bulan sebslumnya. Adapun SBDK pada kelompok bank lainnya bergerak lebih beragam, dimana kelompok Bank Pembangunan daerah (BPD) dan bank umum swasta nasional (BUSN) masih melanjutkan tren penurunan SBDK dalam tiga bulan terakhir, sementara kelompok kantor cabang bank asing  relatif mempertahankan SBDK-nya. (Yetede)

Ruang BI Pangkas Suku Bunga Acuan Menyempit Akibat Perkembangan Geopolitik dan Ekonomi Global

KT3 21 Nov 2024 Kompas

Di tengah terjaganya laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi domestik, ruang BI memangkas suku bunga acuan justru kian menyempit akibat perkembangan geopolitik dan ekonomi global yang dinamis. Kebijakan ini berpotensi membuat beban kredit masyarakat, seperti kredit kendaraan, tidak berubah. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, dinamika global berubah cepat seiring hasil pemilu AS, fragmentasi perdagangan, dan perkembangan geopolitik. Perkembangan politik AS diperkirakan menuju ke arah strategi ekonomi berorientasi domestik dan kebijakan fiskal ekspansif. Kondisi tersebut berpotensi mengakibatkan penurunan laju inflasi AS makin sulit, ditambah indeks USD terhadap seluruh mata uang menguat seiring meningkatnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS akibat kebutuhan pembiayaan defisit fiscal yang lebih besar.

Sementara, fundamental ekonomi domestik masih terjaga, tecermin dari inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2024 yang tercatat 1,71 % secara tahunan atau berada dalam kisaran target 1,5-3,5 %. Di sisi lain, ekonomi nasional pada triwulan III-2024 tumbuh 4,95 % secara tahunan dan diperkirakan tumbuh 4,7-5,5 % pada 2024. ”Jadi, masih terbuka (ruang penurunan suku bunga), tetapi tentu saja akan sangat bergantung pada situasi tadi (perkembangan ekonomi global dan domestik). Ruangnya (penurunan) yang dulu agak lebar sekarang lebih terbatas,” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI November 2024, di Jakarta, Rabu (20/11). Karena itu, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6 %, sebagai langkah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari rambatan dampak ketidakpastian geopolitik dan perekonomian global. (Yoga)


Suku Bunga BI Jadi Penentu Arah Bursa Saham

HR1 20 Nov 2024 Kontan
Pekan ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yang diperkirakan akan tetap dipertahankan di level 6%. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan BI mengenai prospek ekonomi dan strategi menghadapi risiko global yang dapat mempengaruhi arus modal asing. Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai jika BI menurunkan suku bunga, pasar dapat merespons dengan dua skenario: bullish, jika penurunan dianggap mendorong pertumbuhan kredit, atau bearish, jika dikhawatirkan melemahkan nilai tukar rupiah.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, setuju bahwa pelemahan rupiah akan mendorong BI untuk menahan suku bunga guna menjaga stabilitas pasar. Sektor yang diperkirakan menarik jika suku bunga ditahan adalah finansial, konsumer non-cyclical, dan konsumer cyclical. Namun, jika terjadi pemangkasan suku bunga mendadak, sektor finansial, properti, dan otomotif akan lebih cenderung bergerak.

Pandhu Dewanto, analis Investindo Nusantara Sekuritas, mengingatkan potensi window dressing menjelang akhir tahun. Meredanya tekanan jual akibat capital outflow dapat mendorong arus beli, memberikan peluang bagi saham big caps yang telah terkoreksi untuk mencatatkan kenaikan. Secara keseluruhan, meskipun prospek jangka pendek lebih menarik, pelaku pasar cenderung berhati-hati menunggu keputusan BI terkait suku bunga.

Stabilitas Pasar Meski Ada Peluang Penurunan

HR1 19 Nov 2024 Kontan
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya (BI-Rate) di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan November ini. Banjaran Surya Indrastowo, Chief Economist Bank Syariah Indonesia, menjelaskan bahwa BI-Rate kemungkinan tetap karena adanya capital outflow yang masih berlangsung dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Hal ini sesuai dengan kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Namun, Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, sepakat bahwa meski BI kemungkinan menahan suku bunga pada bulan ini, ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka pada bulan Desember 2024. Proyeksi keduanya adalah pemangkasan 25 basis poin pada akhir tahun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, Hosianna Evalia Situmorang, Ekonom Bank Danamon, berpendapat bahwa BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan November untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat posisi cadangan devisa yang cukup stabil dan potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, BI harus berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan moneter. Meski demikian, langkah penurunan suku bunga di bulan Desember masih dipandang sebagai pilihan yang mungkin untuk mendorong perekonomian lebih lanjut.