;
Tags

Bunga

( 411 )

Lima Tahun Berlalu, India Baru Pangkas Suku Bunga

KT1 08 Feb 2025 Investor Daily (H)
Reserve Bank of India (RBI) memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam hampir lima tahun terakhir pada Jumat (07/02/2025). Bank sentral India tersebut berupaya mendorong perekonomian yang lesu, dan turunnya laju inflasi menuju target 4%. Monetary Policy Committee (MPC) atau Komite Kebijakan Moneter, yang terdiri atas tiga anggota RBI dan tiga anggota eksternal, memangkas suku bunga repo (repo rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25% setelah bertahan selama sebelas pertemuan kebijakan berturut-turut. Keputusan tersebut sejalan dengan jajak pendapat Reuters, dimana lebih dari 70% ekonom memperkirakan penurunan seperempat poin, sekaligus menandai penurunan suku bunga acuan India pertama sejak 20 Mei 2020. Sementara keenam anggota MPC memilih menurunkan suku bunga dan mempertahankan sikap netral atas kebijakan moneter. Dalam catatan MPC, meskipun diperkirakan pulih, pertumbuhan ekonomi India masih jauh dari rendah daripada 8,2% yang dicapai di periode 2023-2024. Selain itu, dinamika inflasi telah membuka ruang untuk pelonggaran suku bunga. Demikian diungkapkan Gubernur RBI Sanjay Malhota. (Yetede)

Lima Tahun Berlalu, India Baru Pangkas Suku Bunga

KT1 08 Feb 2025 Investor Daily (H)
Reserve Bank of India (RBI) memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam hampir lima tahun terakhir pada Jumat (07/02/2025). Bank sentral India tersebut berupaya mendorong perekonomian yang lesu, dan turunnya laju inflasi menuju target 4%. Monetary Policy Committee (MPC) atau Komite Kebijakan Moneter, yang terdiri atas tiga anggota RBI dan tiga anggota eksternal, memangkas suku bunga repo (repo rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25% setelah bertahan selama sebelas pertemuan kebijakan berturut-turut. Keputusan tersebut sejalan dengan jajak pendapat Reuters, dimana lebih dari 70% ekonom memperkirakan penurunan seperempat poin, sekaligus menandai penurunan suku bunga acuan India pertama sejak 20 Mei 2020. Sementara keenam anggota MPC memilih menurunkan suku bunga dan mempertahankan sikap netral atas kebijakan moneter. Dalam catatan MPC, meskipun diperkirakan pulih, pertumbuhan ekonomi India masih jauh dari rendah daripada 8,2% yang dicapai di periode 2023-2024. Selain itu, dinamika inflasi telah membuka ruang untuk pelonggaran suku bunga. Demikian diungkapkan Gubernur RBI Sanjay Malhota. (Yetede)

BI Memastikan Stabilitas Rupiah Terjaga Di Tengah Tekanan Global

KT1 08 Feb 2025 Investor Daily (H)
BI memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah tekanan perekonomian global. Adapun nilai tukar rupiah menguat seiring respons positif investor pascadata cadangan devisa (cadev) Indonesia yang kembali naik. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (07/02/2025), menguat hingga 58 poin atau 0,36 menjadi Rp 16.283 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.341 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI turut menguatkan ke level Rp16.325 per dolar AS dari sebelumnuya sebesar Rp16.330 per dolar AS. Sementara itu, BI mencatatkan cadev pada Januari 2025 mencapai US$ 155,7 miliar. "Rupiah juga mengalami tekanan, tetapi kami melihat stabilitasnya masih bisa terjaga. Saat ini arus modal mengarah ke AS, sehingga dolar menguat secara merata di hampir seluruh negara," kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya. Dia menjelaskan, stabilitas nilai tukar rupiah sejalan dengan kebijakan stabilitas BI serta didukung oleh aliran modal asing yang masih berlanjut, imbal hasil intrusmen keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik. (Yetede)

Dilema Suku Bunga: Antara Stimulus dan Stabilitas

HR1 04 Feb 2025 Bisnis Indonesia (H)

Tren inflasi yang rendah memberikan peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga, BI menghadapi dilema karena faktor-faktor eksternal, terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipengaruhi oleh ketegangan perang dagang global. Meskipun Indonesia mencatatkan deflasi 0,76% pada Januari 2025, yang sebagian besar dipengaruhi oleh diskon tarif listrik, kondisi global yang tidak stabil membuat BI sulit untuk segera menurunkan suku bunga.

Ekonom seperti Hosianna Evalita Situmorang dan Josua Pardede memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan 5,75% untuk saat ini, dengan fokus pada perbaikan nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi. Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menyatakan bahwa meskipun ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka, keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada dinamika ekonomi global dan nasional.

Selain itu, kalangan pengusaha seperti Shinta Widjaja Kamdani dari Apindo menganggap deflasi pada Januari sebagai fenomena sementara yang disebabkan oleh intervensi pemerintah, dan memperkirakan inflasi akan kembali naik ke level target pemerintah 1,5%-3,5% pada Februari dan bulan-bulan berikutnya, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.

Turunnya Bunga Acuan Membawa Harapan Baru Kredit

HR1 23 Jan 2025 Kontan
Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) sebesar 25 basis poin ke 5,75% memunculkan optimisme pada sektor perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit di 2025. Sigit Prastowo, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri, menyebut penurunan suku bunga memberikan peluang bagi pertumbuhan kredit, terutama di sektor farmasi, kesehatan, dan makanan-minuman yang dianggap lebih tangguh. Kredit Bank Mandiri per November 2024 telah tumbuh 22,69% secara tahunan menjadi Rp 1.283,44 triliun.

Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, optimistis bahwa penurunan bunga dapat menekan biaya dana dan mendorong pertumbuhan kredit di segmen UMKM, kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kartu kredit. Bank CIMB Niaga menargetkan pertumbuhan double-digit untuk KKB dan 10% untuk kredit UMKM, dengan kredit keseluruhan tumbuh 4,65% per November 2024.

Novita Widya Anggraini, Direktur Finance BNI, menargetkan pertumbuhan kredit 8%-10% di tahun 2025, dengan fokus pada segmen korporasi di sektor komunikasi, infrastruktur, dan perindustrian, serta segmen konsumer seperti payroll dan mortgage joint financing. Kredit BNI per Desember 2024 tumbuh 11,62% secara tahunan menjadi Rp 775,87 triliun.

Arianto Muditomo, pengamat perbankan, menilai penurunan BI rate berpotensi menarik minat nasabah untuk mengambil kredit dan menurunkan biaya pinjaman bagi debitur. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan ini bergantung pada respons pasar. Jika sentimen konsumen dan bisnis masih terpengaruh ketidakpastian global, dampaknya pada pertumbuhan kredit mungkin terbatas.

Sektor perbankan optimis menghadapi 2025 dengan dukungan kebijakan penurunan suku bunga, meski tetap perlu waspada terhadap tantangan global.

Dampak Suku Bunga pada Pertumbuhan Ekonomi

HR1 20 Jan 2025 Kontan
Pemangkasan suku bunga acuan di 2025 dinilai menjadi katalis positif bagi kinerja emiten sektor konsumer siklikal, terutama yang berbasis otomotif dan ritel. Andhika Audrey, analis Panin Sekuritas, menyatakan bahwa biaya dana yang lebih rendah meningkatkan arus kas dan profitabilitas emiten, dengan sektor otomotif diproyeksikan paling diuntungkan karena mayoritas pembelian kendaraan dilakukan melalui kredit. Momentum Idul Fitri juga diyakini akan meningkatkan penjualan mobil.

Sektor ritel, terutama emiten dengan target pasar menengah atas seperti Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), diprediksi tetap tangguh meskipun tantangan dari pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya tenaga kerja tetap ada. Natalia Sutanto, analis BRI Danareksa Sekuritas, menekankan bahwa biaya tenaga kerja yang mencapai 10%-17% dari pendapatan bisa menekan profitabilitas, sehingga efisiensi dan peningkatan produktivitas menjadi strategi utama.

Optimisme juga didukung oleh peningkatan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang mencapai 127,7 dan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1% oleh Bank Dunia. Nafan Aji Gusta, analis Mirae Asset Sekuritas, mencatat bahwa kondisi konsumsi domestik masih bisa tumbuh positif, terutama dengan potensi pemangkasan suku bunga lebih lanjut ke level 5,5%.

Analis lain seperti Rifdah Fatin Hasanah dari Ina Sekuritas merekomendasikan buy untuk Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), yang berpotensi meningkatkan margin meski menghadapi tantangan seperti larangan penjualan iPhone. Berbagai emiten berbasis ritel, seperti ACES, MAPI, dan Alfamart Tbk (AMRT), juga direkomendasikan untuk pembelian oleh para analis dengan target harga yang beragam, menunjukkan prospek yang tetap menjanjikan meskipun ada hambatan.

Pasar Saham Bangkit

KT1 16 Jan 2025 Investor Daily (H)
Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75% berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RGD) pada Rabu (15/01/2025) disambut positif kalangan perbankan juga pelaku pasar. IHSG ditutup dengan menguat signifikan 1,77% ke level 7.079. Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar menilai langkah itu bakal berdampak positif pada perbankan. "Itu berarti sinyal banyak hal lah. Impactnya positif," kata Royke. Meski menyambut baik atas putusan itu, Royke belum dapat berkomentar lebih perihal penurunan suku bunga kredit di BNI. Dia menyebut untuk memutus hal itu dia harus melihat terlebih dahulu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). "Ya belum, kan itu referensinya BI. Nantinya lihat dari SRBI lagi ya mudah-mudahan. Tapi sih saya berharap SRBI turun, kalau turunkan jumlah uang yang ke BI kan turun dan yang beredar banyak spending pemerintah kan tinggi di awal tahun. Di awal ini SRBI bisa dikecilin dikit bunganya diturunin dikit, itu akan banyak," jelasnya. (Yetede)

BI Memutuskan untuk Memangkas Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen

KT3 16 Jan 2025 Kompas
Bank Indonesia memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan tersebut mempertimbangkan tingkat inflasi mendatang yang diperkirakan tetap terjaga rendah dan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal itu disampaikan Guber- nur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu (15/1/2025). RDG yang berlangsung selama 14-1 Januari 2025 ini juga memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin (bps) sehingga masing-masing menjadi 5 persen dan 6,5 persen. ”Rapat Dewan Gubernur BI pada 14-15 Januari 2025 memutuskan untuk menurunkan BI Rate (suku bunga acuan BI) menjadi 5,57 persen,” kata Perry. Perry menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi pada 2025 dan 2026 yang terkendali dalam sasaran 1,5-3,5 persen dan terjaganya nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental.

Di sisi lain, BI memandang perlunya upaya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Selanjutnya, BI turut menempuh kebijakan makroprudensial longgar guna meningkatkan kredit perbankan kesektor-sektor prioritas pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ekonomi hijau. Kemudian, kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan. ”Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengarahkan kebijakanmoneter untukmenjaga inflasi dalam sasarannya dan nilai tukar yang sesuai dengan fundamental, dengan tetap mencermati ruang untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan nasional,” tutur Perry. Pada Desember 2024, inflasi tercatat sebesar 1,57 persen secara tahunan atau berada dalam kisaran target BI.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang terkendali pada level 2,26 persen secara tahunan, sejalan dengan konsistensi suku bunga kebijakan BI untuk mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya. Sementara itu, inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) tercatat sebesar 0,12 persen secara tahunan didukung oleh peningkatan pasokan pangan seiring berlanjutnya musim panen, serta eratnya sinergi pengendalian inflasi oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Perry menambahkan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga 14 Januari 2025 hanya melemah 1 persen dibandingkan nilai tukar akhir 2024. Perkembangan tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India yang melemah 1,2 persen, peso Filipina sebesar 1,33 persen, dan baht Thailand sebesar 1,92 persen. Dinamika global Sementara itu, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, berpendapat, perkembangan dinamika global membuat BI tidak memiliki banyak fleksibilitas untuk memangkas suku bunga acuannya dalam jangka pendek. (Yoga)

Perlu Waktu, Dampak Suku Bunga The Fed

KT3 23 Dec 2024 Kompas

Penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat alias The Fed diperkirakan baru berdampak positif bagi negara berkembang, seperti Indonesia, dalam jangka menengah hingga panjang. Stabilitas domestik turut menentukan arah perkembangan makroekonomi di tengah ketidakpastian global. Mengakhiri tahun 2024, The Fed memangkas suku bunga acuannya 25 basis poin (bps) menjadi 4,25-4,5 persen sesuai dengan ekspektasi. Di sisi lain, arus modal portofolio investor asing keluar dari pasar ke-uangan Indonesia sehingga nilai tukar rupiah dan pasar saham dalam negeri melemah. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) MRizal Taufikurahman hari Sabtu (21/12/2024) di Jakarta menyampaikan, pemangkasan suku bunga The Fed umumnya akan memberikan peluang positif bagi negara berkembang, seperti Indonesia. Arus modal juga akan masuk ke pasar keuangan domestik karena para investor mencari imbal hasil lebih tinggi dibandingkan dengan aset di negara maju.

Di sisi lain, terbuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyesuaikan kebijakan moneternya, seperti menurunkan suku bunga acuan, demi mendorong pertumbuhan ekonomi. ”Kebijakan The Fed seharusnya dapat memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan daya tarik investasi. Namun, realitasnya menunjukkan dinamika yang lebih kompleks.Meski The Fed telah menurunkan suku bunga, nilai tukar rupiah tetap melemah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan,” katanya. Berdasarkan data transaksi 16-19 Desember 2024, arus modal investor asing tercatat keluar Rp 8,81 triliun dari pasar keuangan domestik. Alhasil, nilai tukar rupiah pada perdagangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Jumat (20/12), ditutup pada level Rp 16.270 per dollar AS. Meski sedikit menguat sebesar 0,04 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya, rupiah terdepresiasi 2,61 persen dibandingkan akhir November 2024. Sementara itu, pada periode yang sama, IHSG menguat tipis 0,09 persen ke level 6.983,86 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kendati demikian, IHSG masih mencatatkan pelemahan 4,65 persen dalam sepekan terakhir dan 11,66 persen dalam tiga bulan terakhir.

Menurut Rizal, dampak dari kebijakan moneter, baik ditingkat global maupun domestik, biasanya tidak langsung terasa karena pasar membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan membangun kepercayaan. Investor juga cenderung menunggu stabilitas dan kejelasan prospek ekonomi sebelum mengalokasikan dana secara riil. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, berpendapat, penurunan suku bunga The Fed pada Desember 2024 telah diperkirakan oleh pasar sehingga terefleksi pada kurs dollar AS. Namun, The Fed justru memberikan sinyal penurunan suku bunga pada 2025 akan lebih sedikit dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. ”Ini di luar ekspektasi pasar dan membuat dollar AS melejit terhadap hampir seluruh mata uang di dunia, termasuk rupiah,” kata Wijayanto. Pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen domestik. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah mengambil kebijakan, seperti kenaikan upah minimum provinsi (UMP), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta outlook fiskal yang kurang menjanjikan. Dihubungi terpisah, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menyampaikan, para pelaku usaha, khususnya industri manufaktur, tengah menghadapi tantangan bertubi-tubi. Tantangan itu mulai dari kenaikan UMP dan PPN, hingga harga bahan baku dan energi yang masih tinggi. Hal itu menyulitkan pelaku industri dalam membuat perencanaan (AGP). (Yoga)

Ujian !100 Hari Pertama Pemerintah Prabowo

KT1 20 Dec 2024 Investor Daily (H)
Langkah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6% belum mampu menahan pelemahan rupiah. Kemarin, rupiah melorot 1,3% ke level Rp16.300 per dolar AS, sedangkan sepanjang tahun mencapai 5,9%. Itu sebabnya, sejumlah kalangan meminta pemerintah membantu menjaga rupiah. Peran pemerintah adalah memperkuat fundamental rupiah agar lebih tahan guncangan eksternal, yang selama ini menjadi penyebab utama depresiasi. Analis menilai depresiasi ujian pertama pemerintahan Prabowo Subianto yang terjadi dalam 100 hari pertama. Publik akan melihat, apakah Prabowo mendapatkan rapor merah atau lapor biru dalam mengatasi masalah ini. (Yetede)