;
Tags

Bunga

( 411 )

Deposito Bank Digital Menjadi Daya Tarik Masyarakat

KT1 08 May 2025 Investor Daily (H)

Kemudahan akses dan suku bunga yang kompeititf dinilai menjadi daya tarik masyarakat yang ingin berinvestasi lebih aman pada deposito bank digital. Di tengah dinamika ekonomi global saat ini, kebutuhan akan intrusmen keuangan yang stabil meningkat. Dalam hal ini, deposito yang ditawarkan oleh bank-bank digital bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin berinvestasi, karena menawarkan imbal hasil yang cenderung tinggi. Bahkan, ada bank digital yang memberikan suku bunga hingga 10% per tahun demi menggaet deposan. Meskipun demikian, masyarakat diharapkan tetap memahami risiko-risikonya. Sebab, tingkat bunga LPS untuk simpanan rupiah bank umum sebesar 4,25%.

Artinya, apabila bank menawarkan suku bunga di atas 4,25%, maka simpanan nasabah tidak dijamin oleh LPS. Perbankan pun minta untuk transparan kepada para nasabahnya mengenai hal ini. Adapun, bank digital yang menawarkan suku bunga tertinggi adalah PT Super Bank Indonesia (Superbank), yakni mencapai 10% per tahun untuk produk Celengan by Superbank. Berdasarkan laporan keuangan bank digital milik EMTK tersebut, tabungan mengalami pertumbuhan 846,14% secara yoy pada kuartal 1-2025 menjadi Rp1,38 triliun. Sementara itu deposito naik signifikan 1.482,45% (yoy) menjadi Rp 5.61 triliun dari tahun sebelumnya Rp354,3 miliar. (Yetede)

Efektivitas Transmisi Moneter Masih Dinanti

HR1 25 Apr 2025 Bisnis Indonesia (H)
Stabilitas sistem keuangan nasional hingga kuartal I/2025 dinilai tetap terjaga oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), namun dunia usaha belum sepenuhnya merasakan dampaknya. Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyatakan bahwa pelaku usaha menghadapi hambatan akses pembiayaan karena ketatnya likuiditas dan perlambatan ekspansi usaha. Ia mendorong agar kebijakan makro disertai transmisi nyata ke sektor riil, termasuk insentif dan deregulasi yang menyentuh hambatan struktural.

Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari CORE menekankan pentingnya inovasi pembiayaan alternatif serta efektivitas kebijakan fiskal dan moneter dalam mendorong investasi riil dan menjaga daya beli.

Menanggapi kondisi global yang penuh ketidakpastian, Sri Mulyani, Menteri Keuangan, menyatakan bahwa pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan dan sinergi antarlembaga untuk menjaga stabilitas, sementara Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa cadangan devisa dan transaksi berjalan yang sehat menjadi landasan kuat ketahanan ekonomi.

Sementara itu, Mahendra Siregar dari OJK memastikan industri jasa keuangan tetap solid, dan Purbaya Yudhi Sadewa dari LPS melihat tanda-tanda perbaikan likuiditas perbankan melalui penurunan suku bunga pasar. Seluruh tokoh menegaskan pentingnya kebijakan yang terkoordinasi dan responsif untuk memperkuat ekonomi domestik menghadapi tekanan global.

Upaya BI Jaga Stabilitas Rupiah

HR1 25 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Kebijakan tarif impor resiprokal oleh Amerika Serikat menimbulkan tekanan besar pada nilai tukar global, termasuk rupiah yang telah terdepresiasi sekitar 4% sepanjang 2025. Bank Indonesia (BI) berada dalam posisi dilematis: menjaga stabilitas nilai tukar sambil tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Gubernur BI, melalui Rapat Dewan Gubernur, memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dan memperkuat intervensi di pasar valuta asing internasional seperti Asia, Eropa, dan New York.

Prediksi dari MUFG Bank Ltd. dan Barclays Bank Plc. menyebut rupiah berpotensi menembus Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat, memperkuat urgensi BI dalam mengelola arus modal dan cadangan devisa, yang saat ini mencapai US$157,1 miliar. Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1% menjadi 4,7% tahun ini.

Sejalan dengan itu, pemerintah didorong untuk memperkuat koordinasi fiskal, mendorong diversifikasi ekspor, dan mengoptimalkan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Tokoh-tokoh seperti Gubernur BI dan lembaga seperti IMF menegaskan bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia sangat bergantung pada sinergi kebijakan yang kredibel dan responsif terhadap dinamika global.

BI Dinilai Tepat Tahan Suku Bunga

HR1 24 Apr 2025 Kontan
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 5,75% pada April 2025, langkah yang dinilai tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah risiko perlambatan dan inflasi terkendali. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa keputusan ini bertujuan menjaga inflasi sesuai target pemerintah serta menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat volatile akibat ketidakpastian global, terutama sentimen perang dagang dan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

BI juga melakukan intervensi aktif di pasar off-shore non-deliverable forward (NDF) dan membeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk meredam tekanan nilai tukar. Perry optimis rupiah akan stabil ke depan dengan didukung kebijakan tersebut dan prospek ekonomi Indonesia yang tetap positif.

Di sisi lain, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai BI sudah tepat mempertahankan suku bunga karena kondisi eksternal masih penuh ketidakpastian. Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menambahkan bahwa BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2025, dengan catatan kondisi eksternal membaik.

Stabilkan Rupiah, BI Jadi Garda Depan

HR1 24 Apr 2025 Bisnis Indonesia (H)
Bank Indonesia (BI) memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan potensi perlambatan ekonomi nasional akibat dampak perang dagang, khususnya kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan pentingnya menjaga stabilitas rupiah untuk menopang sistem keuangan, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% dan memperkuat kebijakan makroprudensial longgar, seperti insentif likuiditas dan fleksibilitas pendanaan perbankan ke sektor produktif.

Keputusan BI mendapat tanggapan beragam dari dunia usaha. Shinta W. Kamdani (Ketua Umum Apindo) menyebut kebijakan BI realistis meskipun tidak ideal. Eddy Widjanarko (Ketua Umum Aprisindo) menilai stabilitas suku bunga membantu menenangkan industri. Jahja Setiaatmadja (Presiden Direktur BCA) menekankan pentingnya likuiditas perbankan, dan Banjaran Surya Indrastomo (Chief Economist BSI) menyatakan BI tetap membuka ruang pelonggaran suku bunga jika tekanan global mereda. 

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Hingga Semester Dua

HR1 23 Apr 2025 Kontan
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di level 5,75% pada April 2025, seiring dengan masih tingginya gejolak pasar keuangan global dan melemahnya nilai tukar rupiah. Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyatakan bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah dan mencegah capital outflow yang bisa melemahkan daya tarik aset domestik.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah ke Rp 16.860 per dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Oleh karena itu, menjaga interest rate differential (IRD) dibanding negara lain menjadi penting agar surat berharga domestik tetap menarik, seperti disampaikan oleh Banjaran Surya Indrastomo dari Bank Syariah Indonesia.

Meski demikian, sejumlah ekonom melihat ruang penurunan BI-Rate tetap terbuka, terutama jika inflasi terjaga dan tekanan global mereda. Banjaran memproyeksikan penurunan hingga 50 basis poin pada kuartal II dan III 2025, sedangkan Hosianna Evalita Situmorang dari Bank Danamon memprediksi pelonggaran bunga 25 bps pada kuartal III. Bahkan, Myrdal Gunarto dari Maybank Indonesia melihat peluang penurunan total hingga 75 bps, sehingga BI-Rate bisa turun ke 5% pada akhir tahun.

Di sisi lain, Fakhrul Fulvian dari Trimegah Sekuritas mengingatkan bahwa perang dagang global kemungkinan bersifat jangka panjang. Oleh sebab itu, ia menilai langkah pemotongan bunga sebaiknya dimulai lebih awal, termasuk sejak April 2025, guna mengantisipasi perlambatan ekonomi domestik.

Meskipun BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat demi stabilitas nilai tukar dan menjaga arus modal, sejumlah ekonom—seperti Josua Pardede, Banjaran Surya Indrastomo, Hosianna Evalita Situmorang, Myrdal Gunarto, dan Fakhrul Fulvian—menilai bahwa ruang pelonggaran tetap tersedia dalam beberapa bulan ke depan, seiring perkembangan inflasi, arus modal, dan kebijakan The Fed.

Dampak Perang Tarif dan Ketidakpastian Ekonomi Global

KT1 22 Apr 2025 Investor Daily

Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di posisi 5,75% untuk menjaga resiliensi perekonomian domestik di tengah tekanan akibat ketidakpastian perekonomian global. Langkah ini kian diperlukan menyusul penerapan tarif resiprokal oleh perintah AS teradap sejumlah negara, termasuk Indonesia. Peneliti center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menejelaskan bahwa BI masih akan memeprtahnalan suku bunga acuan pada April 2025. Dengan harapan perekonomian nasional terjaga dan ekpektasi investor  yang menyimpan modal dalam pasar keuangan domestik tetap terjaga. Sehingga jumlah aliran modal asing tetap bertahan di pasar keuangan dalam negeri. BI akan memutuskan suku bunga acuan ini dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan berlangsung pada 22-23 April 2025.

"Ditengah ketidakpastian global yang terus meningkat, terutama akibat perang tarif  antara negara-negara besar seperti AS dan China, keputusan untuk menahan suku bunga menjadi langkah kehati-hatian yang tepat. Menjaga suku bunga tetap di level saat ini menjadi  langkah kompromi yang paling logis," jelas Yusuf kepada Investor Daily.  Bila perang tarif masih berlanjut, maka tidak hanya menekan perdagangan global, tetapi juga memicu gelombang  ketidakpastian pada arus investasi dan stabilitas pasar keuangan, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Ketegangan tersebut akan memberikan dampak pada melemahnya permintaan gloabal, yang berimbas pada ekspor Indonesia , serta memperburuk sentimen  pelaku pasar terhadap risiko negara berkembang. (Yetede)

Tertekan Volatilitas Global

KT1 11 Apr 2025 Investor Daily (H)

Ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas di pasar keuangan domestik dalam jangka pendek. Dengan ketidakpastian perekonomian dunia yang terjadi, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp16.830 sampai 16.945 per dolar AS. Adapun nilai tular rupiah pada penutupan perdagangan kamis (10/4/2025) di Jakarta, menguat sebesar 50 poin atau 0,29% menjadi Rp16.823 per dolar AS dari sebelumnya Rp16873 per dolar AS. Berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar rate (Jisdor) BI, nilai tukar rupiah adalah Rp 16.779 per dolar AS pada kamis (10/4/2025).

Angka yang sudah lebih baik dari posisi rupiah pada rabu (9/4/2025) yang senilai Rp16.943. Namun masih lebih rendah dari nilai target rupiah dalam asumsi makro APBN 2025 yang senilai Rp16.000 per dolar AS.  Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dinamika pasar keuangan global terjadi karena pengaruh dari kebijakan perang tarif yang dijalankan AS terhadap banyak negara. "Rencana AS untuk menerapkan tarif impor sebesar 104% terhadap China setelah negosiasi tarif yang gagal, meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global dan mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh federal Reserve yang lebih agresif pada tahun ini," jelas Andry. (Yetede)

Saham Bank Diprediksi Melemah Pasca Libur Panjang

HR1 08 Apr 2025 Kontan
Saham perbankan Indonesia diprediksi akan mengalami tekanan signifikan pada awal perdagangan pasca libur panjang, terutama akibat sentimen negatif dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump. Sebelum libur, saham-saham bank besar seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Central Asia (BBCA) mengalami penguatan karena sentimen pembagian dividen.

Namun, menurut Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, penguatan tersebut kemungkinan tidak akan berlanjut. Ia menilai bahwa saat ini pasar mulai dihantui oleh ketidakpastian ekonomi global, potensi inflasi, serta arah suku bunga acuan. Indy memperkirakan koreksi akan terjadi pada saham BMRI dan BBNI, meski fundamental kedua bank dinilai masih kuat.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy & Planning dari Kiwoom Sekuritas, juga mengingatkan risiko capital outflow akibat tekanan eksternal, termasuk tarif resiprokal AS sebesar 32%. Ia menilai hal ini dapat menghambat penurunan suku bunga dan berdampak pada penyaluran kredit serta pendapatan bunga bank, terutama dari potensi penghapusan piutang UMKM bermasalah.

Meski penuh tekanan, Audi tetap merekomendasikan pembelian saham BBCA dengan target harga Rp 9.250 dan BMRI di Rp 5.450, menunjukkan bahwa peluang jangka panjang masih ada bagi investor yang selektif dan berhati-hati.

Antisipasi Risiko, Perbankan Membukukan Laba Bersih Rp19,36 T

KT1 07 Apr 2025 Investor Daily (H)

Industri perbankan di awal tahun ini membukukan laba bersih Rp19,36 triliun. Nilai ini menyusut 7,28% dibandingkan dengan laba bersih periode Januari 2024 yang sebesar Rp 20,88 triliun. Apabila ditelaah dari data OJK, pendapatan bunga perbankan nasional di awal tahun mencapai Rp101,92 triliun, naik 4,88% secara yoy per Januari 2025. Sedangkan, beban bunga tumbuh lebih tinggi 6,25% yoy menjadi Rp56,03 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perbankan senilai Rp45,89% yoy. Susutnya laba bersih perbankan nasional disebabkan karena kelompok bank berdasarkan, modal inti (KBMI) 4 yang juga mengalami penurunan laba 15,33% dari 14,61 triliun pada Januari 2024 menjadi Rp12,37 triliun per Januari 2025. Tingginya suku bunga  membuat beban bunga perbankan ikut melonjak, sehingga menekan margin bunga (net interest margin/NIM) menjadi 4,5% di Januari 2025. Jika ditelaah lagi berdasarkan kepemilikannya, bank pelat merah meraup laba bersih Rp7,74 triliun, anjlok 25,79% (yoy). Sehingga, pangsa pasar dari laba bank BUMN sebesar 39,98% dari total laba industri perbankan. Kemudian, bank umum swasta nasional (BUSN) mengantongi laba Rp9,34 triliun atau tumbuh 15,74% (yoy) per Januari 2025. Ini menjadikan pangsa pasar BUSN di sisi laba bersih membalap bank BUMN menjadi  48,24% dari total laba industri perbankan. (Yetede)