Stabilkan Rupiah, BI Jadi Garda Depan
Bank Indonesia (BI) memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan potensi perlambatan ekonomi nasional akibat dampak perang dagang, khususnya kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan pentingnya menjaga stabilitas rupiah untuk menopang sistem keuangan, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% dan memperkuat kebijakan makroprudensial longgar, seperti insentif likuiditas dan fleksibilitas pendanaan perbankan ke sektor produktif.
Keputusan BI mendapat tanggapan beragam dari dunia usaha. Shinta W. Kamdani (Ketua Umum Apindo) menyebut kebijakan BI realistis meskipun tidak ideal. Eddy Widjanarko (Ketua Umum Aprisindo) menilai stabilitas suku bunga membantu menenangkan industri. Jahja Setiaatmadja (Presiden Direktur BCA) menekankan pentingnya likuiditas perbankan, dan Banjaran Surya Indrastomo (Chief Economist BSI) menyatakan BI tetap membuka ruang pelonggaran suku bunga jika tekanan global mereda.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023