;
Tags

Bunga

( 411 )

Bank Kesulitan Menurunkan Suku Bunga KPR

HR1 16 Nov 2024 Kontan
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan, penyesuaian bunga floating Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di perbankan belum signifikan. Suku bunga dasar kredit (SBDK) untuk segmen KPR masih berkisar 9%-12% di bank-bank besar KBMI 4, mencerminkan likuiditas yang ketat dan komponen biaya yang tinggi.

BNI menawarkan SBDK KPR terendah sebesar 9,13% dengan margin keuntungan 1,96%, tetapi overhead cost-nya cukup tinggi, mencapai 4%. Direktur Retail Banking BNI, Corina Leyla Karnalies, menyatakan bahwa penyesuaian bunga masih dalam kajian, mengingat likuiditas pasar yang ketat. Meskipun demikian, permintaan KPR di BNI tetap tumbuh, dengan peningkatan jumlah nasabah sebesar 6% secara tahunan, mayoritas berasal dari pembelian properti baru.

Di sisi lain, BCA memiliki SBDK KPR sebesar 9,45% dengan margin keuntungan tertinggi di antara bank KBMI 4, yaitu 4,65%. Menurut Welly Yandoko, Executive Vice President Consumer Loan BCA, bunga floating KPR BCA stabil di level 11% selama lebih dari 10 tahun, meskipun BI rate mengalami fluktuasi signifikan. Hingga kuartal III-2024, BCA telah menyalurkan KPR sebesar Rp 130,4 triliun, naik 10,7% secara tahunan, dengan pengalihan KPR ke bank lain hanya di kisaran 2%-3%.

Sementara itu, BRI dan Bank Mandiri menawarkan SBDK KPR masing-masing 10% dan 12,5%, dengan margin keuntungan 2,85% dan 2,57%.

Bank masih mempertahankan bunga KPR yang relatif tinggi meskipun BI rate turun, akibat faktor likuiditas, biaya overhead, dan risiko kredit. Namun, permintaan KPR tetap meningkat, terutama di BNI dan BCA, yang mencerminkan daya tarik pricing dan layanan mereka bagi nasabah.

Perbankan Was-was, Likuiditas Domestik dan Global Kemungkinan Akan Menghadapi Tekanan

KT1 15 Nov 2024 Investor Daily (H)

Ekspektasi pemangkasan suku bunga moneter tahun depan dinilai tidak akan signifikan seperti proyeksi sebelumnya. Hal ini akan mempengaruhi biaya dana (cost of fund) perbankan yang masih mahal dan berimplikasikan pada likuiditas. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, likuiditas domestik dan global kemungkinan akan menghadapi tekanan. Dia menegaskan bahwa didepan tidak akan mudah bagi industri perbankan, terlebih dengan kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) tentu kebijakannya akan mendorong inflasi AS naik seperti kebijakan tarif impor dan penurunan pajak. Hal tersebut dinilai akan sulit bagi The Fed untuk memangkas suku bunga Fed Fund Rate secara agresif kedepannya. "Sehingga tekanan likuiditas ini akan menjadi beban signifikan bagi perbankan kedepan untuk ekspansi di 2025," ucap Royke. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menahan yield Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap tinggi, juga memengaruhi himpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Lantaran yield SRBI lebih menarik dibandingkan bunga deposito perbankan, sehingga pemilik dana akan menempatkan dana di SRBI. "Ini memengaruhi DPK kita keluar dari sistem dan masuk ke pemerintah, tekanan likuiditas tinggi di rupiah. (Yetede)

Laju Bursa Dipengaruhi Arah Kebijakan Suku Bunga

HR1 11 Nov 2024 Kontan
Pemangkasan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 bps ke level 4,5%-4,75% pada pertemuan FOMC 6-7 November 2024 memberikan sentimen positif bagi pasar saham Indonesia. IHSG berhasil rebound sebesar 0,60% ke level 7.287,19 pada Jumat (8/11). Namun, tekanan jual asing yang menghasilkan net sell sebesar Rp 4,50 triliun sepanjang pekan lalu tetap menjadi pemberat, menyebabkan IHSG mencatat penurunan mingguan 2,91%.

Menurut Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas, pemangkasan FFR membuka peluang arus dana asing kembali ke pasar saham Indonesia. Ia juga memproyeksikan kemungkinan The Fed memangkas FFR lebih lanjut sebesar 25-50 bps pada akhir 2024. Namun, ketidakpastian ekonomi global, terutama setelah kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS, dapat menahan FFR di level tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar.

Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, menilai pelemahan IHSG pekan lalu merupakan yang terdalam di Asia Tenggara, meski masih unggul dari PSEi Filipina. Ia memprediksi IHSG akan bergerak dalam rentang support 7.150 dan resistance 7.370 pada pekan ini.

William Hartanto, Praktisi Pasar Modal, memperkirakan IHSG akan bergerak mixed dengan potensi pelemahan terbatas. Ia mematok support pada 7.195 dan resistance di 7.400. Menurutnya, efek kemenangan Trump terhadap IHSG diperkirakan minimal, karena saat kepemimpinan Trump sebelumnya, pasar saham hanya terdampak secara signifikan akibat pandemi Covid-19.

Audi menambahkan bahwa fluktuasi harga komoditas, terutama minyak dan permintaan dari China, akan menjadi faktor kunci pergerakan IHSG. Ia merekomendasikan saham big bank yang masih undervalued sebagai pilihan menarik bagi investor.

Trump dan Dampak Inflasi Global pada Suku Bunga BI

HR1 07 Nov 2024 Kontan
Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebagai langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa kebijakan moneter akan tetap seimbang, dengan fokus pada stabilitas ekonomi dan pertumbuhan hingga 2025. Perry juga mengungkapkan adanya ruang untuk penurunan suku bunga, meskipun belum ada waktu pasti kapan langkah ini akan diambil.

Perry menjelaskan bahwa BI akan memperkuat stabilitas ekonomi dengan memperdalam pasar uang dan mengintervensi pasar valuta asing (valas). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari pembaruan blueprint kebijakan moneter hingga 2030.

BI juga berkolaborasi dengan pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung sektor riil, menciptakan lapangan kerja, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Fikri C Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, menyebutkan bahwa penurunan suku bunga masih memungkinkan, didukung inflasi domestik yang terkendali dan tingginya cost of fund di Indonesia. Penurunan ini dapat membantu pemulihan ekonomi.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), menambahkan bahwa stabilitas harga bahan pangan dan produk impor memberikan ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga. Namun, faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan Donald Trump dan ketegangan geopolitik global perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi ekspor dan impor Indonesia.

David menyoroti risiko dari kebijakan perdagangan Donald Trump yang dapat meningkatkan ketegangan global dan berdampak pada ekonomi domestik. Ketidakpastian geopolitik juga menjadi faktor yang memengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia.

Penurunan suku bunga BI Rate menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Dukungan kebijakan ini dipengaruhi oleh faktor domestik seperti inflasi yang terkendali, serta tantangan eksternal seperti kebijakan perdagangan global dan ketidakstabilan geopolitik. Perry Warjiyo, Fikri C Permana, dan David Sumual menekankan pentingnya stabilitas dan sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk mencapai tujuan ekonomi nasional.

Bank Sentral di Tengah Dilema Ekonomi

HR1 04 Nov 2024 Kontan (H)
Pelaku pasar global saat ini fokus pada kebijakan The Federal Reserve (Fed) AS yang diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin. Langkah ini kemungkinan akan diikuti oleh bank sentral Inggris dan Swedia. Situasi ini menempatkan Bank Indonesia (BI) dalam posisi sulit, yakni apakah ikut memangkas suku bunga untuk mendukung ekonomi domestik atau mempertahankannya guna melindungi stabilitas rupiah dan mencegah arus keluar dana asing.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, memperkirakan bahwa Fed mungkin tidak akan terlalu agresif dalam melonggarkan kebijakan moneternya karena ekonomi AS masih cukup kuat. Dia menekankan pentingnya BI menjaga keseimbangan, terutama untuk mempertahankan daya tarik rupiah.

Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, menyarankan BI berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, karena hal itu bisa menekan nilai tukar rupiah. Menurutnya, stabilitas rupiah saat ini masih rentan dan sebagian besar didukung oleh masuknya dana asing ke dalam instrumen seperti SBN. Stabilitas rupiah juga penting untuk menjaga kepercayaan investor menjelang kebutuhan refinancing utang pemerintah pada tahun 2024.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, melihat BI memiliki ruang untuk memangkas suku bunga, mengingat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang masih cukup menarik dibandingkan US Treasury. Menurutnya, investor tetap tertarik dengan SBN karena yield spread yang lebar.

Awalil Rizky dari Bright Institute memprediksi BI Rate masih bisa turun 50 basis poin hingga akhir tahun ini melalui dua kali pemangkasan. Penurunan suku bunga ini, menurutnya, akan membantu menjaga daya beli meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kemungkinan masih terbatas, terutama di tengah ancaman PHK.

Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Suku Bunga Acuan Ditahan Tetap 6 Persen

KT3 17 Oct 2024 Kompas

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di angka 6 persen. Langkah ini diambil guna mengantisipasi potensi risiko dari ketidakpastian pasar keuangan global akibat konflik geopolitik, memperkuat stabilitas nilai tukar, dan menjaga inflasi dalam sasaran yang telah ditetapkan. Keputusan tersebut diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo pada Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (16/10/2024). BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility 5,25 persen dan lending facility di 6,75 persen. Perry menjelaskan, kebijakan ini konsisten dengan tujuan menjaga inflasi dalam kisaran 1,5-3,5 persen pada 2024 dan 2025 serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Perry menambahkan, kebijakan makroprudensial longgar tetap diterapkan untuk mendorong penyaluran kredit di sektor-sektor prioritas demi mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Sistem pembayaran pun diarahkan untuk mempercepat digitalisasi dan memperluas akseptasi di berbagai lapisan masyarakat.

”Fokus kebijakan moneter jangka pendek adalah stabilitas nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global,” ujar Perry. Ia menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menambah ketidakpastian, sementara pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat pada 2024 dengan proyeksi 3,2 persen. Meski demikian, tren penurunan inflasi global telah memicu konvergensi pelonggaran kebijakan moneter di negara maju. Penurunan suku bunga negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (AS), diperkirakan terus berlanjut meskipun ketegang geopolitik perlu terus diwaspadai. Dalam merespons dinamika global ini, Perry menekankan pentingnya kebijakan yang berhati-hati untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan aliran modal asing guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Di dalam negeri, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2024 tercatat 1,84 persen secara tahunan dengan inflasi inti mencapai 2,09 persen. Inflasi harga bergejolak berada pada 1,43 persen. Semua masih dalam rentang sasaran BI sebesar 1,5-3,5 persen.

Nilai tukar rupiah pada 15 Oktober 2024 mencapai Rp 15.555 per dollar AS, terdepresiasi 2,82 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian global akibat ketegangan di Timur Tengah. Jika dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2023, depresiasi rupiah 1,17 persen.  BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 berada di kisaran 4,7-5,5 persen dengan proyeksi peningkatan pada 2025. Untuk mencapai target tersebut diperlukan berbagai langkah strategis, salah satunya dengan memperkuat bauran kebijakan moneter ”BI akan terus mencermati potensi penurunan suku bunga dengan tetap memperhatikan prospek inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi,” kata Perry. Kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran juga terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan. Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesi (LPEM FEB UI), Teuku Riefki berpendapat, stabilitas nilai tukar yang memberikan sinyal positif terhadap kebijakan moneter. Menurut dia, BI bisa saja memangkas suku bunga acuan di akhir tahun guna mendorong permintaan di sektor riil, terutama jika tren deflasi berlanjut. (Yoga)

Suku Bunga Deposito Mulai Melandai

HR1 08 Oct 2024 Kontan (H)

Perbankan mulai merespons penurunan suku bunga acuan demi mengurangi beban bunga dan menaikkan margin. Berdasarkan penelusuran KONTAN, beberapa bank yang telah memangkas bunga deposito di awal bulan ini. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang memangkas bunga deposito sebesar 25 basis poin (bps) untuk deposito tenor tiga bulan. Bunga dipangkas dari 3,25% menjadi 3% per 1 Oktober. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas, situasi pasar, serta suku bunga acuan Bank Indonesia. Suku bunga deposito rupiah BCA saat ini bervariasi. Bunga deposito di bank milik Grup Djarum ini paling tinggi mencapai 3,25% per tahun, sedangkan bunga terendah sebesar 2% per tahun. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga telah menyesuaikan bunga yang diberikan ke deposan dengan besaran antara 25-50 bps, tergantung nilai dana yang disimpan dan tenor yang dipilih. "Di awal Oktober 2024 ini, bunga deposito di Bank BJB mulai dari 3,5% hingga 5%," kata Yuddy Renaldi, Direktur Utama BJB. Di sisi lain, BJBR menjaga agar DPK tumbuh pada level yang optimal, sehingga tidak meningkatkan biaya dana. "Strategi dalam mengoptimalkan DPK dengan menjaga loan to deposit ratio (LDR), mengelola ekosistem keuangan, menjaga manajemen aset dan liabilitas," papar Yuddy.

"Selain mempertimbangkan tren penurunan bunga, Bank Mandiri juga mengamati perkembangan suku bunga, kondisi likuiditas perbankan dalam penentuan suku bunga yang akan ditawarkan, dan strategi biaya dana," ujar Evi Dempowati, SVP Retail Deposit Product and Solution Bank Mandiri. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga tak mau ketinggalan. Direktur SME & Retail Funding BTN Muhammad Iqbal menuturkan, BTN mengikuti perkembangan suku bunga acuan. Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai, penurunan bunga akan membuat nasabah mempertimbangkan instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Menurut dia, deposito masih akan menarik bagi nasabah yang mencari keamanan dan stabilitas. Sekadar info, perbankan masih tampak mengerek bunga simpanan hingga Agustus 2024. Berdasarkan data Bank Indonesia, suku bunga simpanan pada Juli 2024 pada tenor satu bulan, tiga bulan, enam bulan dan 12 bulan, masing-masing berada di 4,75%, 5,41%, 5,44% dan 5,87%.

Suku Bunga Turun, Ruang Pemangkasan Semakin Lebar

HR1 03 Oct 2024 Kontan

Bank Indonesia (BI) masih membuka ruang penurunan suku bunga acuan atau BI-Rate pada akhir tahun ini. Terakhir, BI menurunkan bunga acuannya pada September lalu sebesar 25 basis poin (bps) ke level 6%. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung menyampaikan, ruang penurunan suku bunga tersebut sejalan dengan kondisi inflasi yang masih rendah dan nilai tukar rupiah yang stabil. Pertimbang lain, adanya kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi. Inflasi pada September 2024 tercatat 1,84% year on year (yoy), lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,12% yoy. Inflasi ini juga berada dalam target sasaran BI yang berada di rentang 1,5% hingga 3,5%. Sementara itu, dari sisi nilai tukar rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) kemarin berada di level Rp 15.247 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah dibanding hari sebelumnya Rp 15.204 per dolar AS. Namun posisi ini masih lebih kuat dibanding awal September yang masih berada di level Rp 15.536 per dolar AS. Dari sisi perekonomian, sejumlah indikator menunjukkan adanya pelemahan. Sebut saja Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada di zona kontraksi selama tiga bulan berturut-turut, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) terus bertambah, dan optimisme konsumen serta pebisnis yang melemah. 

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalia Situmorang memperkirakan, seiring dengan terus meredanya inflasi domestik, BI berpeluang menurunkan suku bunga acuannya pada Desember 2024 sebanyak 25 bps. Hal ini sejalan dengan peluang lanjutan pemangkasan bunga The Fed. Bahkan, Myrdal Gunarto, Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Maybank Indonesia memprediksi, BI masih akan menurunkan suku bunganya pada Oktober, November dan Desember. Masing-masing besaranya diperkirakan 25 bps. Sehingga pada akhir 2024 nanti, BI-Rate diperkirakan di level 5,25%. Sebelumnya, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro meramal, BI akan memangkas suku bunga acuan lagi sebesar 25 bps pada Oktober 2024. Ia juga mengatakan, pemangkasan BI-Rate akan sejalan dengan arah penurunan suku bunga The Fed, yang juga diperkirakan turun lagi masing-masing 25 bps di November dan Desember berdasarkan konsensus pasar.

Emiten Bergembira di Tengah Suku Bunga Rendah

HR1 03 Oct 2024 Kontan

Pasca Bank Indonesia (BI) dan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menurunkan suku bunga acuan pada September lalu, euforia pasar belum usai. Sebab, BI dan The Fed diproyeksi bakal kembali memangkas bunganya di akhir tahun ini. Pasar memprediksi, BI akan menggunting lagi suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) di rapat dewan gubernur (RDG) Oktober ini. Pemangkasan BI-rate ini sejalan dengan arah penurunan suku bunga The Fed, yang juga diperkirakan kembali turun. Sebelumnya, dalam pertemuan FOMC 18 September 2024, The Fed memangkas suku bunga 50 bps jadi 4,8%. Di waktu bersamaan, dalam RDG 17-18 September 2024, BI juga menurunkan BI Rate 25 bps dari 6,25% menjadi 6%. Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat, dengan suku bunga rendah, biaya pinjaman menjadi lebih terjangkau, mendorong peningkatan konsumsi dan investasi. Sejalan dengan itu, efek pemangkasan suku bunga menjadi sentimen positif bagi prospek sektor emiten tertentu. Di sektor perbankan, misalnya, biaya pinjaman yang lebih rendah akan mendorong pertumbuhan kredit. 

Bank menawarkan pinjaman dengan suku bunga menarik. Hendra juga melihat, sektor properti diuntungkan tren suku bunga rendah. Pembiayaan properti jadi lebih terjangkau bagi konsumen. Sektor ritel juga diuntungkan dari meningkatnya daya beli masyarakat. Ini memacu pertumbuhan penjualan emiten ritel. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer bilang, penurunan suku bunga The Fed bisa menarik aliran modal asing, memperkuat nilai tukar rupiah, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, emiten yang akan merasakan dampak penurunan suku bunga, antara lain, perbankan, properti, dan otomotif. Ini tercermin dari harga saham emiten yang diapresiasi pasar.

LPS Mempertahankan TBP di Bank Umum

KT1 01 Oct 2024 Investor Daily (H)
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk mempertahankan Tingkat Bunga Penjamin (TBP)  simpanan rupiah di bank umum dan bank perekonomian rakyat (BPR) serta simpanan valas di bank umum. Namun, ke depan LPS tidak menutup kemungkinan menurunkan  TBP apabila diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS telah melakukan evaluasi dan menetapkan TBP bagi simpanan dalam rupiah di bank umum dan BPR, serta simpanan dalam bentuk valuta asing di bank umum. Saat ini TBP simpanan rupiah pada bank umum adalah 4,25% dan TBP simpanan rupiah pada BPR 6,75%. Sedangkan untuk TBP simpanan valas pada bank umum adalah sebesar 2,25%. Penetapan tersebut salah satunya didasari untuk memberikan ruang lanjutan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas dan suku bunga. TBP tersebut akan berlaku untuk periode 1 Oktober 2024 hingga 31 Januari 2025. (Yetede)