Bunga Acuan BI dan The Fed Dipangkas
BI memangkas bunga acuan 25 basis poin menjadi 6 persen. Perkembangan ekonomi global dan domestik jadi alasan penurunan bunga acuan lebih cepat dari The Fed. The Fed sendiri, Rabu (18/9/2024), akhirnya mengumumkan pemangkasan suku bunga hingga 50 basis poin ke kisaran 4,75-5 persen. Penurunan bunga The Fed yang ditunggu-tunggu ini diyakini akan berdampak positif bagi ekonomi global dan negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampak tersebut termasuk menurunnya beban utang dalam valas dan meningkatnya arus masuk modal ke negara berkembang. Penurunan suku bunga The Fed juga membawa angin segar ke pasar uang, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sempat menguat pada Kamis. Selain BI Rate, BI juga menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 5,25 persen, dan suku bunga lending facility 6,75 persen. Ini penurunan suku bunga acuan yang pertama sejak Februari 2021. Sebelumnya, selama kurun Agustus 2022-April 2024, BI telah menaikkan suku bunga secara bertahap, dari 3,50 persen menjadi 6,25 persen.
Gubernur BI menyebut lima alasan menurunkan bunga acuan mendahului The Fed. Pertama, arah penurunan suku bunga The Fed sudah lebih jelas, baik waktu maupun besarannya. BI meyakini The Fed akan menurunkan suku bunga hingga tiga kali tahun ini, yakni pada September, November, dan Desember 2024; dan empat kali pada 2025. Kedua, nilai tukar rupiah saat ini cenderung menguat dan stabil. Ketiga, inflasi rendah dan diperkirakan tetap terkendali. Inflasitercatat 2,12-3,05 persen sepanjang tahun ini(yoy), dari target 1,5-3,5 persen untuk 2024-2025. Keempat, penurunan suku bunga acuan dan kebijakan yang lebih seimbang antara stabilitas dan pertumbuhan—dari sebelumnya yang lebih pro-stabilitas—ini bisa mendukung pertumbuhan ekonomi. Kelima, penurunan bunga acuan akan mendorong penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sehingga bisa lebih mendukung kebijakan fiskal. Konsensus sebagian besar ekonom menganggap menurunkan bunga acuan BI lebih cepat dari The Fed sebagai langkah tepat, terutama setelah The Fed mengisyaratkan pihaknya segera menaikkan suku bunga. Penurunan suku bunga bahkan sudah terjadi di Eropa dan China, seiring melemahnya permintaan domestik dan meredanya inflasi.
Sejumlah ekonom bahkan melihat penurunan bunga acuan BI hal mendesak mengingat deflasi empat bulan berturut-turut (Mei-Agustus) di 2024 bisa jadi sinyal krisis ekonomi. Apa pun, penurunan suku bunga dibutuhkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat secara berkelanjutan, terlebih ditengah melesunya sektor riil dan melemahnya sendi ekonomi nasional. Penurunan bunga acuan BI diharapkan bakal mendongkrak penyaluran kredit, menggairahkan sektor riil, dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Dalam jangka lebih panjang, tren penurunan bunga di negara maju ke depan menjadi kabar baik bagi Indonesia. Penurunan suku bunga di negara maju akan mendorong masuknya arus modal asing ke negara berkembang sehingga memperkuat stabilitas eksternal dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. (Yoga)
Tags :
#BungaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023