;
Tags

Bunga

( 411 )

Sentimen Positif Perdagangan Saham Akibat Penurunan Suku Bunga

KT3 15 Aug 2024 Kompas

Saham beberapa sektor industri di pasar modal diyakini akan tumbuh positif di semester II-2024. Pelaku pasar percaya diri, sentimen penurunan suku bunga akan memperbaiki kinerja keuangan perusahaan tercatat di bursa. Senior Portofolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma dalam webinar, Rabu (14/8) membaca ada tiga sektor saham yang akan memiliki kinerja lebih positif di paruh kedua tahun ini dibanding sebelumnya. Sektor itu adalah telekomunikasi, keuangan, dan konsumer. Hal ini dimungkinkan jika prediksi penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve, terjadi sesuai ekspektasi di September 2024.

Suku bunga acuan AS sejak Juli 2023 hingga Agustus 2024 bertengger di level 5,5 %. Kebijakan di AS akan menjadi katalis seiring tren normalisasi inflasi dan penurunan suku bunga di banyak negara pascapandemi. ”Sektor telekomunikasi cukup stabil secara pendapatan. Kalau suku bunga turun, saham-saham ini akan mengalami apresiasi. Kedua, sektor keuangan yang likuiditasnya akan terbantu penurunan suku bunga. Sektor konsumer juga karena perusahaan yang mengalami tekanan nilai tukar rupiah akan membaik,” katanya. Penurunan suku bunga AS menjadi salah satu faktor yang menguatkan nilai tukar rupiah terhadap USD.

Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Rabu, rupiah menguat 2,6 % ke Rp 15.691 per USD dari Rp 16.100 pada pekan sebelumnya. Ekspektasi pelonggaran moneter AS juga membuat investor asing kembali ke Indonesia setelah melakukan penjualan 2 miliar USD di semester I-2024. Per Juli, investasi 400 juta USD telah kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Per 14 Agustus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melejit ke level 7.400, tertinggi selama tiga bulan terakhir. MAMI, kata Samuel, memproyeksikan IHSG akan tumbuh hingga 7.800 di akhir tahun. (Yoga)


Penguatan Tajam Rupiah

KT1 15 Aug 2024 Investor Daily (H)
Pasar finansial domestik menggeliat memasuki Agustus 2024,  ditopang penguatan tajam rupiah, seiring makin dekatnya eksekusi penurunan suku bunga acuan global. Hingga akhir tahun ini rupiah bisa bertengger di level Rp 15.000 per dolar AS. Kemarin, nilai tukar rupiah menguat 0,98% menjadi Rp 15.675 per dolar AS, meneruskan tren dalam tiga bulan terakhir. Rupiah telah menguat 2,2% selama sepekan, lalu 2,62% dalam sebulan, dan 2,19% dalam tiga bulan terakhir. Sepanjang 2024, rupiah memang masih melemah 0,28% terhadap dolar AS. Tetapi, level ini jauh lebih  rendah dari sebelumnya yang sempat menyentuh 6%, keadaan yang membuat BI menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6,25% pada April. Sementara itu, pasar saham bergairah, terlihat pada indeks harga saham gabungan (IHSG)  Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mampu menembus 7.400 atau tepatnya  7.436, kemarin, naik, 1.08% dari sehari sebelumnya. (Yetede)

Era Pertumbuhan Tinggi Laba Bank Berakhir

KT1 14 Aug 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan nasional tahun ini memperkirakan laba bersihnya tidak akan tumbuh lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Hal ini akibat suku bunga global  yang masih tinggi, sedangkan perbankan tidak serta merta  mengerek bunga pinjaman. Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, pertumbuhan laba bersih perbankan  nasional pasca Covid-19 meleset, setelah pada 2020 ketika Covid-19 melanda, laba bank ambles hingga 33,08% secara yoy menjadi Rp 104,74 triliun per Desember 2020. Setelah itu, laba perbankan mencatatkan pertumbuhan yang tinggi, lantaran basis laba sangat rendah. Sehingga, pada akhir 2021, laba melesat 33,89% yoy dari Rp104,72 triliun pada 2020 menjadi Rp 140,21 triliun. Peningkatan terus terjadi di 2022, dengan pertumbuhan laba mencapai 43,94% yoy, mencapai Rp201,82 triliun, sejalan dengan perbaikan kinerja perbankan. (Yetede)

Perbankan Khawatirkan Penurunan Profitabilitas

HR1 14 Aug 2024 Bisnis Indonesia (H)

Iklim bunga tinggi dan berbagai tantangan ekonomi, baik global maupun domestik, membuat pelaku industri perbankan lebih moderat dalam mematok target kinerja keuangan di sisa tahun ini. Sebagian bank enggan menetapkan target laba yang terlalu tinggi, sementara sebagian lainnya lebih memilih fokus menjaga kualitas kredit dan menyiasati biaya dana atau cost of fund yang masih tinggi. Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., Nixon L.P. Napitupulu, mengatakan bahwa perseroan memutuskan untuk lebih realistis dalam menetapkan target pertumbuhan laba tahun ini.

Industri perbankan Indonesia saat ini menghadapi tantangan berat akibat suku bunga tinggi dan kondisi ekonomi yang menantang, baik secara global maupun domestik. Beberapa bank, seperti PT Bank Tabungan Negara (BTN) yang dipimpin oleh Nixon L.P. Napitupulu, memilih untuk lebih realistis dalam menetapkan target laba, menurunkan ekspektasi pertumbuhan laba untuk tahun ini. Bank-bank lain juga mengadopsi strategi moderat, dengan fokus pada menjaga kualitas kredit dan mengoptimalkan pengelolaan dana. Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mencatat bahwa meskipun pertumbuhan kinerja perbankan diharapkan tetap positif, namun tidak akan setinggi tahun lalu, seiring dengan tekanan pada profitabilitas yang sudah terlihat pada paruh pertama tahun ini.


Berkah Global dari Senin Kelabu

KT3 13 Aug 2024 Kompas

Perhatian pelaku ekonomi global tertuju pada pertemuan bank sentral AS (The Fed) yang terkini pada 30-31 Juli 2024. Kali ini The Fed memberi kisi-kisi bahwa penurunan suku bunga akan terjadi September-Desember 2024. Bagi pasar keuangan dunia, ini tetap saja merupakan permainan tebak-menebak arah kebijakan The Fed untuk pertemuan mendatang pada 19-20 September 2024, yang meningkatkan ketidakpastian sehingga sebagai instrumen yang dianggap aman, yaitu indeks USD meningkat dari 103,7 pada 17 Juli ke 104,6 pada 29 Juli akibat substitusi aset. Namun, setelah pertemuan The Fed, risiko berbalik arah sehingga indeks USD merosot ke 103,1 pada 3 Agustus.

Dampak langsungnya adalah substitusi dari saham ke aset finansial lain yang dianggap lebih aman, seperti obligasi Pemerintah AS. Harga saham di AS berguguran pada Senin, 5 Agustus 2024, yang terburuk sejak 2022, mirip kejadian 19 Oktober 1987 yang disebut Senin Hitam atau ”Black Monday”. Indeks DOW anjlok 1.000 poin atau 2,6 %. Sementara S&P 500 dan Nasdaq turun 3 % dan 3,4 %. Situasi tenang kembali di pasar saham setelah dua hari kepanikan. Terutama karena fakta pertumbuhan AS di triwulan II-2024 sebesar 2,6 % yang di atas triwulan sebelumnya 1,4 %. Otoritas moneter seluruh dunia memberi respon sesuai kondisi masing-masing.

Bank sentral Inggris (BOE) memilih tidak mengikuti The Fed, tapi lebih hati-hati dengan indikator Sahm Rule, menurunkan suku bunga pada 1 Agustus karena inflasi tahunan sejak Juni sudah turun ke 2,6 %, untuk mempertahankan momentum perekonomian yang sejak Mei indeks PMI manufakturnya mengalami ekspansi. BI pada 16-17 Juli memilih tetap mempertahankan suku bunga acuan karena ketidakpastian masih tinggi. Kurs rupiah melemah dari Rp 16.171 per USD (17 Juli) ke Rp 16.330 per USD (24 Juli). Dampak Senin kelabu di AS dalam jangka pendek adalah indeks USD yang melemah signifikan dari 104,6 pada 30 Juli ke 102,9 pada 5 Agustus atau 1,65 %.

Akibatnya, mata uang yen Jepang menguat paling tajam, dari 161,6 ke 144,7 atau 10,5 %. Won Korea menguat dari 1.384,7 ke 1.358,3 atau 1,9 %. Sementara rupiah menguat dari Rp 16.339 per 30 Juli ke Rp 15.940 per USD per 9 Agustus atau 2,4 %. Tren penguatan rupiah sejak minggu ke-4 Juni membuat ekspektasi inflasi menurun, terlihat dari inflasi tahunan yang menurun dari 2,84 dan 2,51 % pada Mei dan Juni ke 2,23 % di Juli. Bagi Indonesia, ini bukan saatnya berpangku tangan menunggu peruntungan. Walau Senin kelabu AS memberi ruang bagi rupiah menguat, ini menjadi pembelajaran bahwa kebijakan ekonomi harus konsisten dengan data ekonomi. (Yoga)

 


Perbankan Makin Tergerus

KT1 06 Aug 2024 Investor Daily (H)

Pada paruh pertama tahun ini, industri perbankan mengalami penyusutan di sisi profitabilitas. Hal ini sejalan dengan tren suku bunga tinggi namun tidak diimbangi dengan kenaikan suku bunga kredit. Merujuk data OJK, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan nasional per Juni 2024 berada di level 4,57%, angka ini menyusut dibandingkan  posisi Juni 2024 2023 yang sebesar 4,8%. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan bahwa secara umum rerata tertimbang suku bunga  dana pihak ketiga (DPK) dalam tren meningkat sejalan dengan naiknya suku bunga acuan selama setahun terakhir. "Di sisi lain, pergerakan rerata secara suku  bunga kredit cenderung flat, dengan suku bunga kredit modal kerja (KMK) dan kredit konsumtif (KK) menurun dibandingkan tahun lalu. Hal ini disebabkan prioritas bank untuk tetap menjaga kualitas kreditnya meskinpun NIM menjadi turun," ujar Dian. (Yetede)

Menanti The Fed Memangkas Suku Bunga

KT1 25 Jul 2024 Investor Daily (H)
Berdasarkam inflasi yang menurun dan meningkatnya pengangguran di Amerika Serikat, Investor bertaruh bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunganya. Bagaimana peluangnya?. Pada saat tulisan ini ditulis, harga pasar menyiratkan peluang kurang dari 2%. The Fed tidak akan menurunkan suku bunga pada pertemuan penetapan kebijakannya pada September tahun ini, serta menunjukkan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada bulan ini.  Argumen untuk menurunkan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada bulan ini. Argumen untuk menurunkan suku bunga sangatlah jelas. Diukur dengan indeks harga konsumen (CPI), AS tidak mengalami inflasi pada Mei 2024. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran  cenderung meningkat sejak musim panas lalu. Pada tingkat 4,1%, ini adalah 70 basis poin diatas level terendah pascapandemi. (Yetede)

Cuan Menarik Dari Bunga Simpanan Bank Digital

HR1 25 Jul 2024 Kontan (H)

Persaingan bunga simpanan tinggi kembali terjadi pada industri bank digital. Bagi Anda para pemilik dana, ini mungkin menjadi kesempatan menarik untuk menangguk cuan dari produk simpanan bank digital. PT Super Bank Indonesia menjadi bank digital yang cukup getol menawarkan bunga simpanan tinggi. Baru-baru ini, bank milik grup PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) ini meluncurkan produk deposito dengan tawaran bunga 7,5% per tahun, dan setoran minimal Rp 500.000. Sebelumnya, Superbank meluncurkan produk tabungan Celengan by Superbank dengan tawaran bunga tinggi, mencapai 10% per tahun. "Kami optimistis dapat mendukung pengelolaan finansial nasabah secara aman serta membantu menikmati keuntungan simpanan secara optimal," kata Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan, beberapa waktu lalu. Imbal hasil jumbo simpanan juga ditawarkan oleh bank digital lain. Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Indra Utoyo menyebut juga sedang mempertimbangkan meningkatkan suku bunga deposito. Perencana keuangan menilai, penawaran bunga tinggi ini menarik. Pasalnya instrumen deposito dan tabungan lebih terukur risikonya ketimbang investasi di saham. Lihat saja, indeks LQ45 justru turun 4,7% selama setahun terakhir. 

Bahkan jika dibandingkan saving bond retail (SBR) 13 tenor 2 tahun yang menawarkan bunga 6,45%, sejumlah tabungan digital tetap lebih menguntungkan. Sebab, setelah dipotong pajak, bunga bersih SBR013 tenor 2 tahun ada di 5,8%. Direktur Bisnis PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) Aditya Windarwo menyebut, pihaknya menawarkan deposito dengan bunga 5,5% hingga 8% per tahun untuk memikat nasabah baru. Namun, tidak semua nasabah bisa mendapat bunga tinggi. Tapi Senior Vice President Research LPPI Trioksa Siahaan mengingatkan, tawaran bunga tinggi juga memiliki risiko yang tinggi. Nasabah tidak bisa mendapat bunga tinggi dengan mudah. Biasanya, ada syarat dan ketentuan tertentu. Produk deposito bank digital memberi imbal hasil tinggi tapi risikonya relatif rendah. Mike menyarankan, pemodal bisa menyimpan dana di bank digital dengan jangka waktu di bawah satu tahun. Deposito memang lebih dipilih karena jangka waktu pendek, berbeda dengan obligasi pemerintah, terutama SBR, yang lebih menarik jika dipegang hingga jatuh tempo. Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo juga mengingatkan risiko bunga yang dijamin LPS juga ikut diukur. "Jangan hanya tergiur imbal hasil tinggi," tegas dia. Sebab, bukan tidak mungkin, bila bank gagal bayar, maka dana yang disimpan dalam deposito tidak terjamin dan hilang.

Kurangi SRBI Hadapi Pemangkasan Bunga

HR1 24 Jul 2024 Kontan

Suku bunga yang lebih menarik yang Bank Indonesia (BI) tawarkan dalam menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membuat instrumen moneter ini lebih investor lirik dibandingkan dengan instrumen penempatan dana lainnya. Baik itu obligasi yang pemerintah terbitkan berupa surat berharga negara (SBN) maupun obligasi yang korporasi rilis. Menurut data yang KONTAN himpun dari situs resmi, total penerbitan SRBI mencapai Rp 918,48 triliun, sejak bank sentral terbitkan pada 15 September 2023 hingga 19 Juli 2024. Kepala Grup Departemen Pengelolaan moneter dan Aset Sekuritas BI Ramdan Denny Prakoso menyebutkan, penerbitan SRBI per 19 Juli 2024 senilai Rp 796 triliun, dengan 29% di antaranya dimiliki asing. SRBI menawarkan imbal hasil yang menarik, di atas 7%. Pada lelang 19 Juli 2024 lalu, bunga SRBI tenor enam bulan tercatat sebesar 7,23%, tenor sembilan bulan 7,31%, dan tenor 12 bulan 7,36%. 

Walaupun, level ini lebih rendah dibanding lelang akhir Mei lalu untuk tenor enam, sembilan, dan 12 bulan masing-masing sebesar 7,32%, 7,43%, dan 7,53%. Menurut Denny, SRBI merupakan instrumen yang lebih likuid dibanding RR SBN, sehingga memudahkan perbankan mengelola likuiditasnya saat permintaan kredit melemah. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa perbankan lebih tertarik menempatkan dananya pada SRBI. Dukungan BI tersebut, pertama, rutin menjadi peserta lelang di pasar primer Surat Utang Negara (SUN) maupun surat berharga syariah negara (SBSN) tenor pendek. Kedua, BI memastikan untuk masuk ke pasar sekunder SBN saat imbal hasil obligasi ini bergerak naik signifikan. Ketiga, bank sentral mengupayakan jatuh tempo dana-dana pada instrumen moneter pada hari Kamis, sesuai dengan jadwal settlement lelang SBN oleh Kementerian Keuangan (Kemkeu) yang jatuh pada hari itu. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencatat, kepemilikan perbankan pada SBN sejak awal tahun hingga Juli 2024 turun menjadi Rp 262 triliun. Di saat yang sama, ekses likuiditas perbankan yang lembaga keuangan ini tempatkan pada SRBI cenderung meningkat jadi Rp 520,5 triliun sejak awal tahun hingga 18 Juli 2024.

Resesi Selektif AS dan Nilai Tukar

KT3 23 Jul 2024 Kompas (H)

Angka inflasi AS bulan Juni 2024 turun dari 3,1 % di bulan Mei ke 3 %, yang terbantu deflasi makanan, barang-barang elektronik, dan perjalanan. Ini memperkuat ekspektasi di pasar obligasi dan saham bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menurunkan suku bunganya pada September atau bahkan lebih awal, disebabkan pernyataan The Fed yang lebih menginginkan pendaratan mulus (soft landing) bagi perekonomian AS daripada hard landing. Soft landing di sini adalah inflasi turun dibarengi perlambatan pertumbuhan PDB AS, di bawah 1 % atau bahkan mendekati nol, tapi tidak sampai memasuki zona kontraksi atau pertumbuhan negatif. Berbagai kemungkinan dapat terjadi karena pada triwulan I-2024, setelah mengalami koreksi ke bawah tiga kali, pertumbuhan AS tercatat 1,4 %, yang terendah sejak pertengahan 2022 ketika pertumbuhannya negatif.

Per definisi resesi AS terjadi jika dua triwulan berturut-turut pertumbuhan PDB mengalami kontraksi. Ada istilah baru ’resesi selektif’ yang terjadi pada kelas menengah bawah AS. Survei JP Morgan menemukan 70 % dari kelompok ini merasakan kesulitan mencukup kebutuhan pokok (Sor, Business Insider, Juni 2024). Sekitar 67 % dari sampel mengatakan perekonomian AS sudah mengalami resesi. Pertumbuhan konsumsi masyarakat turun ke 1,5 % pada triwulan I-2024 dari 3,3 % pada triwulan sebelumnya, karena pertumbuhan konsumsi barang yang minus 2,3 %. Tingkat pengangguran bulan Juni 4,1 %, melebihi angka ’normal’ 4 %, tertinggi sejak November 2021. Situasi ini menambah tekanan pada The Fed untuk segera menurunkan suku bunga.

Perkembangan terbaru ini berdampak langsung pada pelemahan indeks dollar AS, karena pemodal portepel global mulai mendiversifikasikan penempatan asetnya,tak lagi menganggap dollar AS sebagai satu-satunya instrumen investasi yang dianggap safe heaven. Indeks dollar melemah signifikan dari 106 pada 26 Juni ke 103,8 pada 19 Juli atau 2,1 %. Nilai tukar berbagai mata uang dunia, seperti yen dan won, mengalami imbas positif setelah melemah signifikan Juni lalu. Sampai 19 Juli, yen menguat 2,6 % dari 161,57 pada 10 Juli ke 157,4. Won menguat dari 1.391 pada 27 Juni ke 1.380 atau 0,8 %. Sementara rupiah menguat dari 16.499 pada 20 Juni ke 16.177 atau 2 %. (Yoga)