;
Tags

Bunga

( 411 )

BI Pertahankan Bunga Acuan

KT3 18 Jul 2024 Kompas

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) didampingi jajarannya saat hendak memberikan keterangan kepada wartawan terkait hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (17/7/2024). Dimana BI tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 6,25 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (Yoga)

KAPAN SUKU BUNGA TURUN?

HR1 18 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia masih bergeming soal kebijakan suku bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 16-17 Juli, memutuskan BI Rate tetap 6,25%. BI baru membuka peluang penurunan BI Rate pada kuartal IV/2024. Sontak, dunia usaha pun bereaksi. Mereka berharap BI menurunkan BI Rate lebih cepat setelah selama dua tahun suku bunga acuan berada dalam tren kenaikan. Pasalnya, penurunan suku bunga akan membuat biaya dana alias cost of fund berkurang, yang pada gilirannya turut menurunkan suku bunga kredit penunjang ekspansi bisnis. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai keputusan BI yang kembali menahan BI Rate di level itu masih tidak ideal. “Kebijakan suku bunga acuan yang dipertahankan pada level 6,25% ini masih tidak ideal karena kurang affordabledari sisi financing cost usaha dan kurang kompetitif juga di Asean,” kata Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani, Rabu (17/7). Adapun, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan dunia usaha hanya dapat menyusun langkah antisipatif atas suku bunga acuan yang masih tinggi, di antaranya dengan menghitung ulang biaya operasional untuk mengurangi beban usaha. Selain itu, siasat lainnya yang dilakukan pelaku usaha kala suku bunga masih tinggi adalah dengan melakukan penundaan ekspansi atau investasi hingga mencari bahan baku alternatif lainnya untuk mengurangi ketergantungan. 

Setali tiga uang, kalangan bankir turut menyerukan agar BI menurunkan suku bunga. Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan mengharapkan suku bunga acuan dapat turun untuk menekan biaya dana dan menaikkan animo permintaan pinjaman. Berdasarkan presentasi perusahaan, cost of fund deposit CIMB Niaga berada di level 3,41% pada Maret 2024, naik 62 basis poin dari periode yang sama tahun lalu 2,79%. Sementara secara kuartalan, biaya dana naik 24 basis poin. Hal ini pun diamini oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu yang juga berharap biaya dana bisa turun. Nixon mengatakan BTN memilih tidak menetapkan target penyaluran kredit yang setara atau lebih tinggi dari pencapaian kuartal I/2024. Bank pelat merah ini menurunkan pertumbuhan target kredit ke level 10%-11% hingga akhir tahun karena likuiditas yang cukup mahal. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan waktu yang tepat untuk menurunkan BI Rate bergantung pada kondisi infl asi dan stabilitas rupiah. Namun, dia melihat BI kemungkinan akan tetap konservatif mengingat masih tingginya risiko capital outfl ow, selain masih minimnya katalis dalam negeri, termasuk ekspor komoditas yang cenderung stagnan.

Waspada Beban Bunga Utang Masih berat

HR1 18 Jul 2024 Kontan

Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6,25% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi Juli 2024, kemarin. Namun bank sentral melihat adanya peluang pemangkasan BI Rate di kuartal IV-2024 jika terjadi penurunan Fed Funds Rate   yang lebih cepat. Namun BI membuka peluang memangkas BI Rate pada kuartal IV-2024. Hal ini sejalan dengan inflasi yang masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Inflasi pada Juni 2024 turun menjadi 2,51% secara tahunan. "Kami masih melihat ruang arah suku bunga BI Rate akan turun, kemungkinan pada kuartal empat," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, Rabu (17/7). 

Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi menilai keputusan BI menahan bunga acuan masih wajar. Kendati begitu, dia berharap bunga acuan bisa turun hingga di bawah level 5%. Hal ini demi mengurangi beban dunia usaha. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mewanti-wanti dampak peningkatan BI Rate di level 6,25% terhadap kinerja fiskal. Khususnya berkaitan dengan imbal hasil (yield) surat utang yang harus dibayarkan pemerintah. Head of Macroeconomic & Financial Market Research, Bank Permata Faisal Rachman mengatakan, pemicu naiknya beban pembayaran bunga utang pada tahun ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah berada di atas Rp 16.000 per dolar AS. Ini sudah di atas asumsi makro APBN 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS. Sementara itu, Faisal memperkirakan pembayaran beban bunga utang tahun depan atau 2025 masih akan cukup tinggi. Ini imbas masih ada dampak dari penerbitan SBN yang tinggi dalam rangka penanganan pandemi Covid-19. Sementara, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita juga memperkirakan beban bunga utang pada tahun depan akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini.

Risiko Tinggi Bunga Bank Digital

KT1 04 Jul 2024 Tempo
Belakangan ini, banyak bank digital di Tanah Air berlomba-lomba menawarkan suku bunga deposito setinggi langit. Beberapa bank dengan berani menawarkan suku bunga deposito hingga 10 persen. Padahal tingkat suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) “hanya” 4,25 persen untuk bank umum. 

Berdasarkan pantauan data per awal Juli 2024, ada beberapa bank digital yang menawarkan suku bunga deposito tinggi. Bank Jago, misalnya, menawarkan suku bunga deposito 5,25 persen untuk simpanan di atas Rp 100 juta. Allo Bank sebesar 6 persen untuk simpanan di atas Rp 1 miliar. Lalu ada Bank Raya Indonesia sebesar 4-6 persen, Seabank 5-6 persen untuk simpanan minimal Rp 1 juta, serta Bank Jasa Jakarta (Bank Saqu) sebesar 10 persen untuk simpanan minimal Rp 1 juta. 

Selanjutnya ada Bank Neo Commerce yang menawarkan bunga 5,50-8 persen untuk simpanan minimal Rp 100 ribu. Krom Bank hingga 8,75 persen. Bank Amar hingga 9 persen untuk simpanan minimal Rp 100 ribu. Sedangkan Bank Digital BCA sebesar 4,75 persen untuk simpanan minimal Rp 1 juta. Tingginya suku bunga itu sebetulnya menyimpan risiko. (Yetede)

Suku Bunga Kredit Masih Stabil Demi Jaga Kualitas

KT1 03 Jul 2024 Investor Daily (H)

Perbankan nasional masih mempertahankan suku bunga kredit di tengah suku bunga tinggi dalam waktu yang lama atau higher for longer. Strategi ini dilakukan perbankan untuk menjaga kualitas kredit tetap terkendali  dengan non performing loan (NPL) di level yang rendah. Berdasarkan data BI, pada Mei 2024 rata-rata pertimbangan suku bunga kredit relatif stabil sebesar 9,26%, naik 1 poin (bps) dibandingkan dengan bulan sebelumnya 9,25%. Suku bunga perbankan tetap terjaga, dipengaruhi oleh likuiditas perbankan yang memadai sejalan dengan bauran kebijakan BI serta dampak kebijakan transparansi suku bunga kredit yang membuat efisiensi suku bunga perbakan terjaga. (Yetede)

PERTARUHAN BANK SENTRAL

HR1 21 Jun 2024 Bisnis Indonesia (H)

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan BI Rate di level 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin, Kamis (20/6), bukanlah pilihan mudah. Ada konsekuensi besar yang bakal dihadapi bank sentral ketika suku bunga acuan tak beranjak di tengah pelemahan rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Implikasinya, otoritas moneter harus berjuang sekuat tenaga untuk menarik modal asing lebih deras melalui berbagai instrumen operasi moneter yang tersedia. Alhasil, BI perlu memberikan imbal hasil yang jauh lebih menarik sehingga mampu menjadi pemanis investor, baik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Tak ayal, neraca keuangan bank sentral pun bukan tidak mungkin bakal kedodoran lantaran harus membayar bunga lebih tinggi. Apalagi, Gubernur BI Perry Warjiyo, menjanjikan imbal hasil yang jauh lebih menarik untuk instrumen tersebut. Persoalannya, pada saat bersamaan pemerintah juga masih terus menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dalam rangka menambah energi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Memang, tidak berubahnya BI Rate memberikan kelegaan di sebagian kalangan terutama perbankan dan dunia usaha karena mendapatkan napas tambahan untuk penyaluran kredit dan ekspansi bisnis. Namun yang perlu diingat, level 6,25% masih relatif tinggi sehingga ruang gerak kredit investasi dan konsumsi pun terbatas. Sementara itu, menurunkan BI Rate bukanlah pilihan bijak di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Aksi BI menjadikan SRBI sebagai tumpuan penarik modal asing cukup beralasan. Sebab per 14 Juni 2024 instrumen tersebut berhasil menyerap dana senilai Rp666,53 triliun. Dari jumlah itu, kepemilikan asing mencapai Rp179,86 triliun atau 26,98%. Selain itu, prospek ekonomi nasional masih cukup positif dengan estimasi pertumbuhan 4,7%—5,5% dan infl asi 2,5% plus minus 1%. "Kami selalu berada di pasar untuk menstabilkan rupiah dengan intervensi cadangan devisa. 

"Gonjang-ganjing rupiah memang patut dicemaskan. Apalagi pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (20/6), rupiah melemah ke Rp16.430 per dolar AS. Menteri Keuangan yang juga Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan tersebut serta mitigasinya terhadap stabilitas pasar keuangan dan fiskal. Sebab kenaikan dolar AS akan berimbas pada membengkaknya pembayaran imbal hasil SBN serta bunga utang. Dia pun tak memungkiri adanya sorotan kuat pelaku pasar terhadap performa fiskal. Sementara itu, kalangan pengusaha menyarankan pemerintah untuk menggunakan opsi nonmoneter. Di antaranya penempatan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri serta local currency transaction (LCT). Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Yukki Nugrahawan Hanafi , mengatakan LCT dapat menjadi alternatif untuk memperkuat rupiah sekaligus menjaga ketahanan pasar keuangan domestik. Pemerintah pun perlu memberikan kemudahan serta memperluas negara mitra.

Adu Kuat Sentimen Bunga & Pajak

HR1 19 Jun 2024 Kontan

Emiten saham properti Grup Sinarmas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), mencetak kinerja positif di kuartal I-2024. Tren positif ini diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun. BSDE mencatatkan pendapatan Rp 3,77 triliun atau tumbuh 31,25% secara tahunan atau year on year (yoy). Laba bersihnya tercatat  sebesar Rp 1,44 triliun atau melesat 62,55% yoy. BSDE juga mencetak pertumbuhan marketing sales sebesar 3% yoy menjadi Rp 2,22 triliun. Analis Maybank Sekuritas Indonesia William Jefferson mengatakan, kinerja di kuartal I tahun ini merupakan pendapatan kuartalan tertinggi kedua yang pernah dicapai BSDE. Hasil tersebut didorong pendapatan bisnis pengembang sebesar Rp 3,35 triliun, tumbuh 36,17% yoy. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta bilang, BSDE menargetkan marketing sales 2024 sebesar Rp 9,5 triliun. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP)  akan menjadi pendorong.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melonggarkan kebijakan moneter, sejalan dengan rencana pemangkasan suku bunga the Fed sebesar 25 basis poin (bps). William sepakat insentif PPN DTP mendorong marketing sales Grand Wisata dan Kota Wisata, yang memiliki basis konsumen yang sesuai dengan insentif PPN. Hasilnya, kedua kota mandiri itu menyumbang 20% dari prapenjualan kuartal I-2024 atau sebesar Rp 444 miliar. Analis KB Valbury Sekuritas Benyamin Mikael mengatakan, KB Valbury mengantisipasi pertumbuhan laba BSDE sebesar 37,8% menjadi Rp 2,7 triliun di 2024. Ini disebabkan peningkatan marjin penjualan kavling tanah joint venture  serta berkurangnya kerugian selisih kurs pada tahun 2023 setelah refinancing. Di sisi lain, Benyamin menilai depresiasi rupiah seharusnya tidak terlalu berdampak pada BSDE. Sebab, pinjaman dalam mata uang USD saat ini hanya sebesar US$ 88,9 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun, atau setara dengan 3,7% terhadap ekuitas. KB Valbury melihat  ada prospek pertumbuhan CAGR marketing sales BSDE yang kuat sebesar 6,8% dalam lima tahun ke depan, juga valuasi yang tidak terlalu tinggi, dan pengembangan yang berkelanjutan di BSD City. Itu menjadi sentimen positif bagi BSDE menurut KB Valbury.

Suku Bunga Tinggi Masih Membayangi Pasar Saham

HR1 14 Jun 2024 Kontan (H)

Kegalauan pasar tentang arah suku bunga kini terjawab dalam hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Kamis (13/6). Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve kembali menahan tingkat suku bunga acuan di kisaran 5,25%-5,5%. Fed juga menegaskan sinyal suku bunga hanya akan dipangkas sekali pada tahun ini. Padahal sebelumnya, pelaku pasar memprediksikan ada tiga kali penurunan suku bunga tahun ini. Di awal perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di jalur hijau. IHSG baru berbalik arah ke zona merah sesaat sebelum tutup pasar, dengan koreksi 0,27% atau turun 18,53 poin ke level 6.831,56. Retail Analyst Maybank Sekuritas, Adi Wicaksono mengatakan, pasar nampaknya tak terlalu antusias merespons sikap The Fed karena sasaran inflasi di level 2% belum tercapai. Kepala Ekonom Bank Central Asia Tbk. (BCA) David Sumual menilai, arah kebijakan The Fed semakin jelas. Ini akan membawa sentimen positif terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Setali tiga uang, Kepala Ekonom Bank Mandiri , Andry Asmoro juga melihat potensi aliran masuk dana asing. Hal ini tentu akan memperkuat otot rupiah.

Bahkan, tak menutup kemungkinan rupiah menguat dan kembali ke bawah Rp 16.000, atau di kisaran Rp 15.813 per dolar AS pada akhir tahun ini. Lalu, imbal hasil surat berharga negara (SBN) diperkirakan berada di kisaran 6,82%. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, sentimen global masih mendukung penguatan IHSG. Menurutnya, IHSG bisa berada di 7.350-7.460 pada akhir 2024. Target ini telah memperhitungkan penurunan suku bunga Fed sebanyak satu sampai dua kali. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan suku bunga acuan The Fed diperkirakan terlaksana paling cepat pada September 2024, seiringan dengan membaiknya data CPI AS. Pengamat Pasar Modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai, ada potensi angin segar yang berhembus ke pasar obligasi. Hanya saja untuk pasar saham, dana asing kemungkinan baru masuk di bulan depan.

Pragmatisme antara Target dan Realitas

KT3 28 May 2024 Kompas (H)

Tugas bank sentral diantaranya mengendalikan inflasi. Untuk bank sentral AS (The Fed), target inflasi adalah 2 %. Kompleksitasnya, selain dari sisi permintaan, sumber tekanan inflasi juga bersumber dari fragmentasi globalisasi akibat ketegangan geopolitik. Apakah target inflasi The Fed masih realistis? Sebab, fungsi reaksi atau ekspektasi dari para pelaku ekonomi sangat mungkin sudah berubah sesuai perkembangan dunia saat ini. The Fed berhasil menurunkan inflasi dari tingkatnya yang tertinggi di 9,1 % per Juni 2022 ke 3,4 % per April 2024, melalui 11 kali kenaikan suku bunga sejak Maret 2022, dimulai dari 0,5 % sampai 5,25 % saat ini. Tapi, inflasi tidak kunjung turun sampai kisaran 2 % hingga suku bunga acuan tetap dipertahankan tinggi. Inflasi AS sempat turun mencapai 3,1 % pada Januari 2024, tetapi naik lagi mencapai 3,5 % pada Maret 2024, baru turun kembali ke 3,4 % pada April 2024.

Ini menimbulkan wacana bahwa The Fed perlu lebih pragmatis mengingat target 2 % mungkin tidak lagi sesuai dengan kondisi perekonomian. Dari tren 5 tahunan, keseimbangan baru inflasi tampaknya terjadi di kisaran 3 % sejak Juni 2023. Pada saat yang sama, pertumbuhan AS triwulan I-2024 turun drastis ke 1,6 %, dari 3,4 % pada triwulan sebelumnya. Situasi ini, oleh sebagian ekonom, juga diterjemahkan sebagai tanda-tanda stagflasi, situasi terburuk untuk perekonomian di mana inflasi dibarengi oleh kontraksi pertumbuhan. Timbul wacana agar The Fed lebih pragmatis, merevisi target ”inflasi ideal” ke kisaran 3 % sampai 3,5 %. Permasalahannya, guna menjaga kredibilitas dan reputasinya, The Fed harus konservatif, menunggu data inflasi, pertumbuhan, dan pengangguran yang akan datang.

Dengan kata lain, perancangan kebijakan bergeser ke ex-post information dibandingkan dengan melihat ke depan (ahead of the curve). Persistensi inflasi di AS terjadi dewasa ini bersumber pada ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di sektor perumahan. Imbas dari dollar yang terlalu kuat terlihat pada pergeseran konsumsi masyarakat AS, dari berwisata di dalam negeri ke luar negeri, yang berdampak pada penurunan pertumbuhan. Ini justru merupakan berkah bagi sektor jasa negara-negara lain seperti zona euro. Kombinasi dari berbagai hal di atas menimbulkan ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada triwulan III-2024 (Goodkind, Mei 2024). Ini untuk mencegah agar trade-off antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi tidak menjadi semakin buruk di mana inflasi tetap tinggi, tetapi pertumbuhan ekonomi semakin rendah. (Yoga)


BI Diperkirakan Turunkan Suku Bunga Acuan di Akhir Tahun 2024

KT1 27 May 2024 Investor Daily
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan dua kali di tahun 2024 ini. Langkah tersebut dilakukan untuk melonggarkan likuiditas agar biaya kredit dan investasi semakin murah sehingga memberikan dorongan positif kepada pertumbuhan dan menekan angka pengangguran. "Suku bunga sampai akhir tahun berpeluang turun sampai ke level 5,75 dengan inflasi year on year  sekitar 4%. Asumsi saya The Fed berpeluang turunkan suku bunga acuan level 4,75-5% di tahun ini," ucap Analis Senior Indonesia Startegic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita. Sebelumnya BI memutuskan  untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 6,25%. Sedangkan suku bunga deposit facility sebesar 5,5%, dan suku bunga lending facility sebesar 7% dalam Rapat Dewan Gubernur  BI pada 21-22 Mei 2024. (Yetede)