Tiongkok
( 205 )China-AS Tingkatkan Ekonomi lewat Pariwisata
Memasuki hari ketiga kunjungan Mendag AS Gina Raimondo ke China, kedua negara berkomitmen meningkatkan hubungan ekonomi. Sektor pariwisata menjadi pintu masuk penjajakan kembali dua kubu yang tengah renggang akibat persaingan geopolitik. Raimondo memberi sambutan di Aula Besar Rakyat, Beijing, Rabu (29/8). Ia berada di China sejak Minggu (27/8). Raimondo bertemu PM China Li Qiang, Mendag Wang Wentao, serta Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Hu Heping. Ia juga bertemu dengan berbagai perwakilan perusahaan China. Ia menutup kunjungannya dengan mendatangi Disneyland Shanghai, kerja sama perusahaan AS dan Grup Shendai China. ”Hubungan perekonomian dan neraca perdagangan yang sehat tidak hanya menguntungkan bagi Beijing dan Washington, tetapi juga seluruh dunia,” kata PM Li. China mengeluhkan berbagai kebijakan AS yang dianggap menyudutkan dan mengisolasi China dari perekonomian global.
Kedua negara ini awalnya mitra dagang terbesar untuk masing-masing pihak. Sekarang, AS lebih banyak berdagang dengan Kanada dan Meksiko. Adapun China lebih banyak ke Asia Tenggara. Menurut Wang, kebijakan AS yang paling merugikan China ialah tarif atas 301 komoditas ekspor, pembatasan semikonduktor, pembatasan investasi dua arah, diskriminasi dalam pemberian subsidi, dan sanksi Pemerintah AS terhadap perusahaan-perusahaan China. ”Melanggar aturan perdagangan bebas dan perdagangan yang adil merugikan semua,” ujarnya. Bersama Hu, Raimondo membahas peningkatan kerja sama pariwisata kedua negara. Target awal ialah mengembalikan arus wisatawan seperti tahun 2019. Ketika itu, jumlah pelancong China yang berlibur ke AS menyumbang pemasukan 30 miliarUSD dan menyediakan lapangan kerja untuk 50.000 orang. Oleh karena itu, kedua negara ingin meningkatkan penerbangan mereka hingga dua kali lipat. Raimondo dan Hu sepakat mengadakan KTT Ke-14 Kepemimpinan Pariwisata AS-China pada 2024 di China. KTT terakhir kali diadakan pada 2019, di Seattle, Negara Bagian Washington, AS. (Yoga)
Tiongkok Keluarkan Pedoman Untuk Pacu Investasi Asing
BeIJING,ID-Dewan Negara Tiongkok pada Minggu (13/08/2023) mengeluarkan pedoman untuk lebih mengoptimalkan iklim investasi asing dan menarik lebih banyak investasi asing. Dewan Negara mengatakan dalam dokumen yang berisi 24 pedoman itu bahwa pihak berwenang harus meningkatkan perlindungan hak dan kepentingan investor asing. Termasuk memperkuat penegakan atas hak kekayaan intelektual. Dokumen tersebut juga mengumumkan pedoman untuk meningkatkan dukungan fiskal dan insentif pajak bagi perusahaan-perusahaan investasi asing. Misalnya, pembebasan sementara pemotongan pajak penghasil untuk investasi keuntungan investor asing ke Tiongkok. Selain itu, Dewan Negara menyatakan akan mengeksplorasi mekanisme manajemen yang nyaman dan aman untuk aliran data lintas batas. Pedoman ini keluar ditengah ketegangan antara otoritas dan perusahaan-perusahaan internasional, termasuk firma akutansi global, atas keamanan data. Tiongkok telah berupaya menarik modal aisng karena pemulihan ekonominya pasca pandemi melambat. Yang disebabkan kemerosotan permintaan ekspor dan gejolak di pasar properti dalam negeri. (Yetede)
Rakyat Enggan Berbelanja, China Deflasi
China mengalami deflasi atau penurunan nilai barang dan jasa akibat minimnya perputaran uang di pasaran. ”Mental pandemi Covid-19 masih sangat kental di China sehingga masyarakat tidak mau berbelanja di luar kebutuhan pokok. Hal ini bisa mematikan perekonomian,” kata Richard Koo, ekonom utama firma Nomura di Jepang, kepada Bloomberg edisi Rabu (9/8/2023). (Yoga)
Kemerosotan Dagang Mengancam Prospek Pemulihan Tiongkok
BEIJING-ID-Laju perdagangan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), baik impor dan ekspor, pada Juli 2023 merosot sangat tajam lebih dari perkiraan sebelumnya. Eskpor merosot karena perlambatan ekonomi global, sedangkan impor anjlok karena lesunya permintaan di dalam negeri. Situasi ini mengancam prospek pemulihan ekonomi Tiongkok pasca-pandemi dan makin menekan pemerintah untuk mau menggelontorkan stimulus baru supaya pertumbuhan ekonomi stabil. Angka-angka dalam data perdagangan yang suram itu makin memperkuat ekspektasi bahwa aktivasi ekonomi dapat melambat lebih lanjut di kuartal ketiga. Di mana aktivitas konstruksi, manufaktur dan jasa, investasi asing langsung, dan keuntungan industri melemah. Data Bea Cukai yang dirilis pada Selasa (08/08/2023) menunjukkan impor turun 12,4% pada juli year on year (yoy), atau melesat dari perkiraan penurunan 5% dalam jajak pendapat Reuters dan dari penurunan 6,8% pada Juni. Sementara itu, ekspor mengalami kontraksi 14,5%, lebih curam dari pada proyeksi penurunan 12,4% di bulan sebelumnya. (Yetede)
”Linglinghou” Tantangan bagi China
Angkatan kerja China usia 16-24 tahun, bagian generasi linglinghou, pesimistis akan pekerjaan bagus. Jiulinghou kelahiran 1990-an juga cerewet soal lingkungan kerja. Sekitar enam juta linglinghou (generasi Z) atau 20,8 % dari angkatan kerja berusia 16-24 tahun masih mencari pekerjaan. Hal itu disampaikan juru bicara Biro Nasional Statistik, Fu Linghui, 15 Juni 2023. Anjuran pemerintah agar kelompok kerja ini memasuki pekerjaan di desa-desa atau rela bekerja dengan gaji rendah relatif tidak mempan. Linglinghou telah berlelah-lelah melewati gaokao, ujian standar nasional yang ketat, melakoni pendidikan berbiaya mahal dan pantauan ketat orangtua. Mereka tak sudi mundur dengan mencari pekerjaan di perdesaan.
”Generasi kelahiran 2000-an ini tipe merasa berhak beropini, individualistis, dan memilih pekerjaan,” kata Zac Wang, Direktur Randstad, perusahaan konsultan sumber daya manusia untuk wilayah China selatan (The South China Morning Post, 17 Mei 2023). Lalu bagaimana mencari penghidupan? ”Saya suka memasak, ... mulai hari Senin sampai Jumat,” tulis seorang perempuan belia di situs media sosial Douban. ”Orangtua menggajiku tanpa mencampuri hidupku. Saya sangat bahagia setiap hari,” katanya. Opini yang muncul bernada kegelisahan soal pekerjaan. Menambah persoalan adalah munculnya sarjana lulusan baru sebanyak 11,6 juta jiwa. Persoalan lain adalah keberadaan generasi jiulinghoi yang menderita penghasilan tidak stabil. ”Masalahnya bukannya saya tidak bekerja keras, tetapi kerja, kerja, tidak juga menghasilkan upah baik,” kata seseorang seperti dikutip situs Asia Times, 13 Juli 2023. banyak juga yang tidak mau bekerja keras. (Yoga)
Pilihan ”Anak Purnawaktu” di China
Lelah dengan pekerjaannya sebagai fotografer, Litsky Li (21) memutuskan berhenti bekerja, lalu pulang ke rumah orangtua dan ”bekerja” menjadi ”full-time children” atau ”anak purnawaktu”. Banyak anak muda di China yang menggeluti ”pekerjaan” ini. Bukan hanya karena ketidakpuasan pada pekerjaan atau kehidupan mereka, melainkan semata-mata karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Nancy Chen (24), bekerja kepada orangtuanya setelah lamarannya ke instansi pemerintah provinsi tak juga tembus. Maklum, ia harus bersaing dengan 30.000 pelamar untuk tiga lowongan pekerjaan saja. Jika Li dan Chen bekerja dan dibayar orangtua mereka, Julie (29) justru tak mau dibayar. Ini jenis anak muda zaman sekarang yang berbeda lagi. Ia mau bekerja sebagai anak purnawaktu setelah merasa capek bekerja 16 jam setiap hari sebagai pengembang gim. Dengan pekerjaan sebelumnya itu, ia merasa hidupnya seperti zombi. Ia ingin istirahat sejenak dan hidup nyaman bersama orangtua.
Anak purnawaktu menjadi tren pekerjaan baru di kalangan anak muda China yang menganggur. Anak-anak berusia dewasa dipekerjakan orangtua mereka untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, merawat keluarga, atau menemani orangtua melakukan apa saja secara purnawaktu (full-time). Li kini menghabiskan hari-harinya dengan berbelanja bahan makanan untuk keluarganya di kota Luoyang, Provinsi Henan, China tengah, dan merawat neneknya yang menderita demensia. Orangtua Li memberinya gaji 6.000 yuan (atau Rp 12,6 juta) per bulan, yang sudah masuk upah kelas menengah yang lumayan besar di daerahnya. ”Saya pilih bekerja di rumah karena tidak tahan dengan tekanan harus sekolah atau kerja. Saya tidak mau bersaing terus dengan orang lain.
Lebih baik hidup lebih santai (tangping atau lying flat) saja. Toh, saya tidak butuh pekerjaan dengan gaji tinggi atau kehidupan yang lebih baik,” kata Li, lulusan SMA, seperti dilaporkan CNN, Rabu (26/7). Tangping atau lying flat adalah frasa populer yang mengacu pada hidup lebih santai, simpel, dan tanpa harapan muluk-muluk. Fenomena ini muncul pertama kali di platform media sosial popular di China, Douban, pada akhir tahun lalu. Sebagian besar dari puluhan ribu anak muda di medsos itu mengaku tinggal kembali bersama orangtua karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Di Douban, sekitar 4.000 orang mendiskusikan topik berkaitan dengan ”pekerjaan” sehari-hari sebagai ”anak purnawaktu”. Tren ini menyebar ke platform medsos lain, seperti Xiaohongshu, platform berbagi gaya hidup paling populer di kalangan anak muda China. Hingga kini ada 40.000 unggahan bertagar #FullTime-Children. (Yoga)
Di China, RI Undang Investor Kendaraan Listrik
Presiden Jokowi menggelar rangkaian pertemuan bisnis bersama Kadin di China serta sejumlah pengusaha China. Indonesia menyatakan komitmennya menjaga investasi tetap stabil dan berjalan baik. Presiden mendorong prioritas investasi di berbagai bidang, terutama ekosistem kendaraan listrik, energi baru terbarukan, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara. ”Saya lihat beberapa dari sini juga sudah masuk untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang ingin kita bangun ke depan,” ucap Presiden Jokowi di Shangri- La Hotel, Chengdu, China, Jumat (28/7) dalam siaran pers.
Menurut Presiden, diperkirakan akan ada 1 juta mobil listrik yang diproduksi di Indonesia pada 2035. Adapun untuk sepeda motor listrik akan ada 2,4 juta unit pada tahun yang sama. Dalam hal energi baru terbarukan (EBT), Presiden menyampaikan, Indonesia ingin mendorong para investor dari China untuk turut serta menanamkan investasinya. Potensi EBT di Indonesia adalah 434.000 megawatt. Jumlah ini tergolong sangat besar, meliputi tenaga air, surya, gelombang laut, angin, dan geotermal. ”Saya kira ini sebuah kesempatan yang sangat baik untuk ke depan energinya hijau, nanti produknya hijau (ramah ling kungan), jualan produknya bisa berada di posisi premium,” ujar Presiden Jokowi. (Yoga)
Kehebatan Ekonomi AS Mendekati Mitos
Kunjungan Menkeu AS Janet Yellen ke China sejak Kamis (6/7) bertujuan sangat bagus, baik bagi AS maupun China dan dunia. Upaya Yellen mirip mencegah pemudaran ekonomi AS tanpa saling mencederai. Ini langkah pas di tengah ekonomi AS yang memudar. PM China Li Qiang juga menyambut dengan kalimat puitis. ”Kemarin, pas momen Anda tiba di bandara dan turun dari pesawat, kami melihat sebuah pelangi,” kata Li saat bertemu Yellen di Beijing, China, Jumat (7/7). ”Saya kira, hal ini berlaku juga bagi relasi AS-China. Setelah melewati gelombang-gelombang angin dan hujan, akhirnya kami bisa melihat sebuah pelangi.” Fobia China yang disuarakan ekonom Peter Navarro, penasihat dagang AS pada era Presiden Donald Trump, telah melahirkan serentetan pengenaan tarif terhadap produk impor asal China.
Pemblokiran teknologi AS terhadap Huawei berefek pada penjualan produk Huawei di dunia. Balasan China, dengan mengurangi impor produk pertanian AS, juga telah mencederai kepentingan ekonomi petani AS. Tarif yang dikenakan AS terhadap produk China turut membebani konsumen AS. Ada banyak retaliasi dagang, investasi yang berlanjut di antara dua negara itu. Kabinet Presiden Joe Biden menyadari efek retalisasi dagang, jika berhadapan dengan China yang tidak mau tunduk seperti Jepang. Mendag AS Gina Raimondo pernah mengusulkan pengurangan tarif impor asal China karena membebani konsumen AS. Namun, ide ini langsung mendapat kritik tajam dari para hawkish. Adalah Yellen yang terus menyuarakan pentingnya perbaikan relasi ekonomi AS- China. Di tengah langkah AS yang masih kukuh untuk menutup akses cip tercanggih ke China, ia terus menyuarakan pentingnya perbaikan relasi.
Yellen mendengar jeritan pebisnis AS yang menghadapi hambatan di China sebagai balasan atas perang ekonomi AS. ”Saya mendengar keluhan dari pebisnis AS akan senjata non-ekonomi dari China, juga hambatan bagi perusahaan asing (AS) di pasar China,” kata Yellen pada pertemuan di Beijing yang digelar Kamar Dagang dan Industri AS di China (The New York Times, 7/7/2023). Di hadapan PM Li, Yellen menyatakan seharusnya alasan keamanan AS tidak menjadi halangan bagi kelangsungan relasi ekonomi AS- China. Ia tegaskan, tidak mungkin dua perekonomian ini terpecah. Atas dasar itulah, Yellen tetap bersedia berkunjung ke China untuk memperbaiki relasi ekonomi. Dari produk manufaktur hingga pesawat terbang, bahkan pesawat tempur sekalipun, China telah mampu membuatnya dan bahkan menyaingi teknologi AS. Ke depan kejayaan ekonomi AS berpotensi tinggal mitos. Pemerintah China telah memprogramkan pembangunan ekonomi dengan moto ”jalan sendiri”. Programnya meluas, ”Mulai dari telepon pintar hingga ke mesin pesawat” sejak 2015. ” (Yoga)
Potong Gaji Sasar Sektor Keuangan di China
Pekerja di sektor keuangan China menjadi target pemotongan gaji dan tunjangan. Perusahaan CITIC Securities, misalnya, awal Juni ini memotong gaji pokok karyawan hingga 15 persen. Langkah ini menyusul kebijakan Presiden China Xi Jinping untuk mengurangi ketimpangan. Pekerja di sektor keuangan merupakan salah satu kelompok pekerja dengan bayaran tertinggi di China. (Yoga)
Pebisnis Utama AS Terus Datangi China
Bill Gates menyusul para pebisnis utama AS yang lebih dulu mendatangi China. Mantan pemimpin Microsoft itu datang kala China terus kesulitan bangkit dari dampak pandemi Covid-19. Gates mendarat di Beijing pada Rabu (14/6) untuk menemui mitra Gates Foundation. Dalam laporan pada Kamis (15/6), Reuters menyebut Gates akan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing, Jumat ini. Xi dan Gates terakhir kali bertemu pada 2015 di Hainan. Pada awal pandemi Covid-19, Xi mengirimkan surat untuk menyampaikan terima kasih kepada Gates yang menjanjikan bantuan 5 juta USD untuk penanggulangan pandemi. Selama 15 tahun terakhir, Gates Foundation bekerja sama dengan sejumlah mitra di China. Sebelum Gates, Xi telah menjamu Presiden Honduras Iris Xiomara Castro Sarmiento dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Gates tiba beberapa hari sebelum Menlu AS Antony Blinken melawat ke Beijing. Blinken rencananya akan tiba pada 18 Juni 2023. Blinken mendadak membatalkan rencana lawatan ke China Februari lalu. Insiden balon menjadi penyebab pembatalan itu. Kini belum ada pembatalan meski pekan lalu meruak kabar soal stasiun mata-mata China di Kuba. Gates mendatangi China beberapa pekan selepas sejumlah pebisnis dan pemimpin bisnis utama AS-Eropa Barat berkunjung ke China. Pemimpin Tesla-Twitter Elon Musk mendatangi China pada akhir Mei 2023. Ia, antara lain, meninjau pabrik mobil dan baterai Tesla di Shanghai. Ia juga bertemu sejumlah menteri dan petinggi China. Analis senior pada lembaga investasi Kraneshares, Anthony Sassine, menyebut Musk dan China sama-sama diuntungkan dari lawatan itu. Hingga 50 % penjualan Tesla dicatatkan di China. Pabrik di China menghasilkan 20 % dari seluruh produksi Tesla. ”Kunjungan ini untuk memastikan Tesla dan kebijakan China selalu sejalan,” katanya kepada CNBC. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









