Tiongkok
( 205 )RI Genjot Ekspor via RCEP
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China sepanjang 2023 lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kawasan Asia Timur dan Pasifik selain China akan tumbuh melambat. Indonesia dapat mengoptimalkan peluang dengan memanfaatkan perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau RCEP untuk mendongkrak ekspor. Laporan Bank Dunia berjudul World Bank East Asia and The Pacific Economic Update April 2023-Reviving Growth, yang dipublikasikan Jumat (31/3) menunjukkan, pertumbuhan PDB China diproyeksikan meningkat dari 3 % pada 2022 menjadi 5,1 % di 2023. Adapun rata-rata pertumbuhan PDB negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik, selain China, diperkirakan melambat dari 5,8 % menjadi 4,9 %.
Kepala Ekonom Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia Aaditya Mattoo mengatakan, proyeksi pemulihan ekonomi China tersebut terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. ”Sepanjang 2022, kinerja ekonomi negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik umumnya menunjukkan pemulihan yang kuat dari dampak pandemi di 2021. Kini, permintaan domestik dan global tengah melemah. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global berdampak pada ekspor, sedangkan fluktuasi harga komoditas berpengaruh pada konsumsi,” ujarnya dalam konferensi pers secara daring, Jumat (31/3). China, lanjutnya, pulih pada 2023 karena terpukul setelah penyebaran varian Omicron Covid-19 yang lebih menular pada 2022. Dia optimistis terhadap proyeksi pertumbuhan China yang diharapkan berkualitas. Artinya, pertumbuhan ekonomi terdistribusi merata. Dia juga menggarisbawahi RCEP sebagai pembangunan positif yang mengintegrasikan sejumlah negara di kawasan, termasuk China. (Yoga)
Tiongkok Berusaha Menarik Investor Asing
BOAO, ID- Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Li Qiang menyampaikan komitmennya untuk membuka diri, dan melakukan reformasi di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Langkah itu diambil sebagai upaya menarik para investor asing, terlepas ketegangan perdagangan dan geopolitik dengan Barat semakin meningkat. Pidato utama Li, yang disampaikan dalam acara pertemuan bisnis dan politik di provinsi Pulau Hainan, itu berselang seminggu setelah Pemerintah RRT melancarkan sanjungan, juga menunjukkan keramahan terhadap perusahaan-perusahaan luar negeri guna berusaha menopang ekonomi yang dilanda pembatasan pandemi selama bertahun-tahun. "Tidak perduli perubahan apapun yang terjadi di dunia, kami akan selalu berpegang pada reformasi dan keterbukaan. Kami akan memperkenalkan serangkaian langkah-langkah baru dalam memperluas akses pasar dan mengoptimalkan lingkungan bisnis. Tiongkok yang percaya diri, terbuka, dan mau berbagi harus menjadi kekuatan besar bagi kemakmuran dan stabilitas dunia, ujar Li dihadapan peserta panel Forum Boao, Kamis (30/03/2023), yang dikutip Reuters. (Yetede)
RRT Sudah Gelontorkan US$ 240 M untuk Talangi Negara Berkambang
JOHANNESBURG, ID- Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah menggelontorkan US$ 240 miliar untuk menalangi 22 negara berkembang antara 2008 dan 2021. Menurut hasil studi yang diterbitkan pada Selasa (28/03.2023), jumlah dana talangan itu melonjak dalam beberapa tahun terakhir, karena makin banyak yang berusaha mengembalikan pinjaman yang dipakai membangun infrastruktur dalam inisiatif Belt and Road. Sebagai informasi, Belt and Road Initiative (BRI) merupakan salah satu kebijakan ekonomi ambisius yang dikeluarkan Presiden Xi Jinpin. Menurut laporan yang dirilis para peneliti dari bank Dunia, Harvard Kennedy School, AidData dan Kiel Institute for The World Economy, terdapat hampir 80% dari pinjaman yang dilakukan antara 2016 dan 2021, terutama ke negara-negara berpenghasilan menengah termasuk Argentina, Mongol, dan Pakistan." Beijing pada akhirnya mencoba untuk menyelamatkan bank-banknya sendiri. Itu sebabnya Beijing masuk kedalam bisnis-bisnis berisiko pinjaman bailout internasional," ujar Carmen Reinhart, mantan kepala ekonom Bank Dunia dan salah satu penulis studi tersebut, yang dikutip Reuters. (Yetede)
Kerja sama Budaya Perkuat Kerja Sama Ekonomi RI-RRT
Peningkatan kerjasama di bidang kebudayaan antara Indonesia dan Tiongkok (RRT) bakal memperkuat kerja sama di bidang ekonomi. Jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia dan AS mengenal penduduk yang mendiami wilayah nusantara, berbagai etnis di Indonesia sudah menjalin kerjasama dengan Tiongkok. Hubungan antar manusia akan mempermudah kerja sama di bidang ekonomi. Demikian pandangan Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) Garibaldi (Boy) Thohir, Menteri BUMN Eric Thohir, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Maritim, Investasi dan Hubungan Luar Negeri Shinta Kamdani pada acara peresmian Kantor KIKT di Gedung Agung Sedayu, Pantai Indah Kapuk, Jakbar, Senin (27/3)
Erick yakin dengan saling mengenal lebih dalam melalui jalur kebudayaan, hubungan RI - Tiongkok akan menghasilkan manfaat ekonomi yang seimbang. Bahlil lahadalia menjelaskan, disaat ekonomi global tidak menentu, kita dituntut bersilaturahmi dan dan berbagi informasi. Kementerian Investasi sudah membuka kantor perwakilan di Beijing untuk memfasilitasi investor Tiongkok. "Jadi setengah nyawa pemerintah sudah ada di KIKT, kedua, ini tahun berat karena target investasi Rp 1.400 triliun sehingga kita perlu saling support, sekalipun pemilu 2024 masih membingungkan kondisi ke depan. Tetapi ekonomi harus tumbuh baik sehingga stabilitas harus kita jaga bersama, " Kata Bahlil (Yoga)
Pameran Produk China
Pameran produk China, ”China Homelife Indonesia”, dilangsungkan Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/3). Pameran yang diikuti oleh sekitar 700 pemasok asal China ini menampilkan produk-produk garmen, tekstil, peralatan rumah tangga, pertukangan, makanan, alat kecantikan, dan peralatan elektronik. Pameran akan berlangsung hingga Sabtu (18/3) mendatang. (Yoga)
China Perkuat Pengawasan Keuangan
Pengawasan sektor keuangan dan pemantauan gaya hidup para eksekutifnya menjadi salah satu tema pertemuan ke-20 Komite Sentral Partai Komunis China (PKC). Ini penting dan sangat mengena bagi China yang semakin kaya, dengan industri keuangan beraset 60 triliun USD yang harus stabil. PDB China sebesar 17,73 triliun USD, dan nomor dua di dunia tetapi nomor satu berdasarkan purchasing power parity, setiap saat menjadi buah bibir dunia. Bersama India, perekonomian China menjadi sumber utama pertumbuhan global. Kestabilan perekonomian China menjadi hal penting bagi dunia. Adalah kekacauan sektor keuangan yang menjadi penyebab perekonomian AS terjerembap ke dalam resesi parah pada 2008. Gubernur Bank Sentral AS saat itu, Ben Bernanke, menyebut lembaga keuangan AS, seperti AIG, terjebak dalam aktivitas ilegal dengan memanfaatkan celah peraturan sektor keuangan.
China tidak luput dari aksi-aksi penipuan serupa. China Securities Regulatory Commission (CSRC), seperti dituliskan China Daily, 6 Januari 2014, tidak mampu mengatasi tipu muslihat investor besar di bursa saham China. Korbannya adalah investor saham kelas teri berjumlah besar. Kemudian kasus spekulasi di sektor perumahan seperti terlihat dari kebangkrutan Evergrande dengan bosnya, Xu Jiayin, yang bergaya hidup mewah. PKC dalam pertemuan Minggu, 26 Februari 2023, di bawah arahan Presiden Xi Jinping, mencanangkan pengawasan saksama sektor keuangan, baik milik negara maupun swasta, dari tingkat pusat sampai lokal. Penghidupan kembali dan penguatan kekuasaan CSRC menjadi salah satu tujuan utama. Lembaga keuangan dan para eksekutifnya harus hidup sesuai dengan moto ”kemakmuran bersama”. (Yoga)
Menakar Efek ”Tumpahan” China
Setelah mengalami tekanan kuat akibat pandemi dan kebijakan nihil Covid-19 yang ketat, China bersiap bangkit dengan berhati-hati. Dalam pembukaan siding pleno Kongres Rakyat Nasional, Minggu (5/3) China mengumumkan target pertumbuhan ekonomi yang moderat, 5 % di tengah masih banyaknya tantangan struktural yang perlu dijawab, walau di bawah target pertumbuhan ekonomi China 2022, yakni 5,5 %, tetapi tetap menunjukkan peningkatan. Saat menyampaikan laporannya di Aula Besar Rakyat, Lapangan Tiananmen, Beijing, Minggu, PM China Li Keqiang mengatakan, ekonomi China ada di jalur pemulihan yang stabil setelah tiga tahun terakhir terpukul oleh pandemi serta dampak kebijakan nihil Covid-19. Akhir tahun lalu, restriksi ketat itu dicabut, membuat China jadi negara dengan ekonomi be sar terakhir yang memutuskan hidup damai dengan Covid-19.
China mengandalkan permintaan dalam negeri sebagai motor pertumbuhan ekonomi tahun ini di tengah melemahnya permintaan ekspor global. Li mengatakan, dorongan memperkuat konsumsi domestik dan investasi jadi prioritas utama China tahun ini, sementara ekspor dan impor ditargetkan tumbuh lebih moderat. Pemerintah China disebut akan mendukung ekspansi korporasi swasta dan UMKM, sambil tetap mendorong reformasi sektor publik atau usaha milik negara. Peneliti Lembaga PenyelidikanEkonomi dan Masyarakat UI, Teuku Riefky, menilai, jika pertumbuhan ekonomi China selaku mitra dagang utama Indonesia tahun ini mencapai target, Indonesia akan kebagian untung, khususnya di jalur perdagangan, akan terjadi peningkatan permintaan atas produk RI yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, produksi yang meningkat di China mendorong turunnya harga bahan baku danpenolong bagi industri RI, membuat biaya impor lebih murah dan meringankan beban pelaku industri dalam negeri. (Yoga)
China Beri Sinyal Kerek Anggaran Militer
China memberi sinyal bakal menaikkan alokasi anggaran pertahanannya untuk mengantisipasi tantangan keamanan global yang semakin kompleks. Di tengah persaingan geopolitik dengan AS, China menjamin modernisasi kekuatan militernya itu tidak akan mengancam kedaulatan negara mana pun. Keputusan untuk memperkuat kapasitas militerChina itu, menurut rencana, akan diumumkan saat pembukaan sidang parlemen tahunan Kongres Rakyat Nasional atau National People’s Congress (NPC) ke-14, Minggu (5/3), yang akan menetapkan perencanaan anggaran China setahun ke depan serta berbagai isu penting penentu arah masa depan China.
Dalam konferensi pers di gedung Balai Agung Rakyat, Lapangan Tiananmen, Beijing, China, Sabtu (4/3), Jubir NPC Wang Chao mengatakan, meningkatnya alokasi anggaran militer China selama ini adalah keputusan yang tepat dan masuk akal. ”Itu langkah yang memang harus diambil untuk menjawab tantangan keamanan global yang kompleks dan untuk mendukung China menjalankan tanggung jawabnya sebagai negara besar,” kata Wang menanggapi pertanyaan tentang gambaran rencana belanja militer China tahun ini. Pada tahun 2022, anggaran pertahanan China1,45 triliun yuan (230 miliar USD atau Rp 4.236 triliun) atau 1,7 % dari PDB. Pada 2022, anggaran pertahanan China naik 7,1 % dari tahun sebelumnya. Pada 2021, kenaikan belanja militer China tercatat 6,8 %, pada 2020 naik 6,6 %. (Yoga)
Tiongkok Kejar Target Pertumbuhan 6%
BEIJING, ID – Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dilaporkan makin ambisius mengejar target pertumbuhan 2023, yang berpotensi mencapai 6%. Pemerintah Tiongkok berupaya meningkatkan kepercayaan investor dan konsumen serta membangun pemulihan yang menjanjikan pascapandemi. Menurut empat sumber yang mengetahui rencana ambisius dalam diskusi tertutup bahwa Pemerintah Tiongkok kemungkinan menargetkan tingkat pertumbuhan hingga 6%. Sementara itu, tiga sumber lain menyebutkan jika Tiongkok menargetkan pertumbuhan antara 5%-5,5%. Apabila dilihat secara keseluruhan, angka-angka tersebut menunjukkan peningkatan optimistis di dalam lingkaran kebijakan Negeri Tirai Bambu dibandingkan November tahun lalu. Yakni di saat para penasihat pemerintah merekomendasikan target-target yang lebih lemah yakni di kisaran 4,5% sampai 5,5%. Rekomendasi itu sendiri dibuat beberapa minggu sebelum otoritas Tiongkok mencabut pembatasan Covid-19 paling tegas di dunia. Data terbaru juga menunjukkan, ekonomi pulih dari guncangan pandemi dengan kecepatan yang lebih baik dari perkiraan. (Yetede)
Ekonomi China Melejit
Perekonomian China tampaknya tumbuh melejit tertinggi dalam satu decade terakhir. Akan tetapi, situasi lesu terjadi di negara-negara Asia lainnya sebagai efek kenaikan suku bunga global. Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, Rabu (1/3) melejitnya perekonomian China terlihat dari kenaikan Purchasing Managers Index (PMI) pada Februari 2023 ke level 52,6 dari 50,1 pada Januari. Indeks di atas angka 50 pertanda perekonomian tumbuh dan itu terjadi pertama kali dalam tujuh bulan terakhir. Yang lebih menarik, indeks PMI China yang diumumkan Biro Statistik Nasional (NBS) itu adalah yang tertinggi sejak April 2012. Kenaikan indeks PMI China itu sekaligus mengakhiri kemerosotan ekonomi terburuk yang terjadi pada 2022 akibat penguncian wilayah yang meluas saat pandemi Covid-19.
”Kami memang sudah menduga akan terjadi pemulihan,” kata Julian Evans-Pritchard, Kepala Capital Economics, biro China. Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan 5,5 % pada 2023. Namun, Pemerintah China tetap perlu meluncurkan kebijakan pendukung. ”PMI yang bagus itu merupakan sinyal positif. Kami berharap pemerintah meluncurkan kebijakan untuk memperkuat pemulihan,” kata Zhou Hao, ekonom dari Guotai Junan International. Akan tetapi, kenaikan PMI China itu juga sangat dimungkinkan karena perekonomian bangkit dari titik terlemah. ”Kemungkinan PMI akan melambat lagi seiring dengan berlanjutnya pemulihan pasca-Covid,” kata Pritchard. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









