Korporasi
( 1557 )TLKM Memangkas Target Pendapatan
Segmen telekomunikasi yang menjadi bisnis utama PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mulai melambat. Namun, emiten pelat merah itu tetap yakin membukukan pertumbuhan pendapatan dengan mengandalkan kontribusi bisnis lainnya. Di akhir September 2023, Telkom mencatatkan pendapatan Rp 111,23 triliun. Angka ini naik 2,17% secara tahunan.
Seiring dengan melambatnya bisnis utama di industri telekomunikasi, TLKM memperkirakan pendapatan menjadi
low to mid single digit
di tahun 2023. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TLKM Heri Supriadi menuturkan, bisnis telekomunikasi atau
legacy
TLKM turun sejalan dengan pergeseran konsumsi dan teknologi. Lihat saja, per kuartal III-2023, pendapatan seluler TLKM mencapai Rp 66,59 triliun. Dari angka ini, bisnis
legacy
turun 26,5% dan bisnis digital naik 7% secara tahunan.
Di tengah penurunan pendapatan telekomunikasi, TLKM pun mengoptimalkan pendapatan dari bisnis lainnya. Direktur
Strategic Portfolio
TLKM Budi Setyawan Wijaya mengatakan, masih ada beberapa aksi korporasi yang akan dilakoni TLKM setahun ke depan.
Ekspansi TLKM di bisnis menara cukup agresif. Kemarin, anak usaha TLKM, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel juga mengumumkan mengakuisisi 803 menara milik PT Gametraco Tunggal senilai Rp 1,75 triliun.
Equity Research Analyst
Samuel Sekuritas Jonathan Guyadi melihat prospek TLKM masih cerah. Dia menyarankan
buy
TLKM dengan target Rp 4.500.
Tarif Cukai Menahan Laju GGRM
Produsen rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) masih harus menghadapi berbagai tantangan pada tahun depan. Salah satunya adalah kenaikan tarif cukai rokok yang akan memicu peralihan ke rokok murah masih berlanjut.
Pada sembilan bulan pertama tahun ini, pendapatan GGRM turun 13% secara tahunan alias
year on year
(yoy) menjadi Rp 81,7 triliun. Analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari mengatakan, hal ini terutama akibat penurunan penjualan segmen sigaret kretek mesin (SKM) yang mencapai 14,1% yoy. Kontribusi segmen ini terhadap total penjualan pun menurun menjadi 90,4%, dari 91,6% pada sembilan bulan pertama 2022.
Sementara itu, kontribusi penjualan segmen sigaret kretek tangan (SKT) sedikit naik menjadi 8,4%, dari sebelumnya 7%. Tren pertumbuhan penjualan segmen SKT sejalan dengan pertumbuhan pesaing utama GGRM, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).
Kendati begitu, Analis MNC Sekuritas Raka Junico W dalam riset 15 November 2023, Raka mengatakan, di tengah kenaikan tarif cukai rata-rata 10% pada 2024, GGRM akan melakukan penyesuaian harga secara perlahan demi mempertahankan pangsa pasar.
Pada semester kedua 2024, Raka memperkirakan harga ritel untuk produk andalan GGRM seperti Gudang Garam International 12 menjadi Rp 27.100–Rp 27.900 per bungkus, sedangkan Surya 16 seharga Rp 36.200–Rp 37.300 per bungkus. Angka-angka ini mewakili kenaikan 7%-10% dibandingkan harga eceran pada Oktober 2023.
Head of Research
Mega Capital Sekuritas (Investasiku) Cheril Tanuwijaya menambahkan, tekanan lainnya berasal dari kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2024 relatif kecil. Sehingga, konsumsi masyarakat menengah bawah bakal semakin tertekan.
Di tengah penurunan volume penjualan GGRM, Raka memangkas proyeksi kinerja GGRM. Proyeksi pendapatan setahun penuh 2023 diturunkan sebesar 15,1% menjadi Rp 110,8 triliun dari Rp 130,44 triliun. Lalu target laba bersih diturunkan 4,8% menjadi Rp 6 triliun dari prediksi awal di Rp 6,31 triliun.
PGAS Ingin Lebih Ngegas di 2024
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menargetkan volume penjualan gas bumi tahun depan meningkat 4%. Target ini seiring naiknya pasokan dari sejumlah blok seperti Jambi Merang, Jambaran Tiung Biru (JTB), Pangkah, dan Muriah.
Per kuartal III-2023, emiten berkode saham PGAS ini mencatatkan kenaikan volume niaga gas 5% dari semula 894
billion british thermal unit per day
(BBTUD) menjadi 935 BBTUD. Peningkatan volume niaga gas secara
year on year
(yoy) didorong volume pemakaian gas pelanggan industri, komersial dan rumah tangga.
Adapun konsumsi PGAS berdasarkan segmentasi pelanggan masih didominasi pembangkit listrik yakni 33%. Lantas disusul industri kimia 13%, serta industri makanan, pupuk, dan keramik masing-masing 8%.
PGAS juga aktif mencari pelanggan baru hingga pengembangan jaringan gas rumah tangga. PGAS menargetkan menambah 100.000 sambungan rumah tangga (SR) gas tahun depan. Sampai saat ini, PGAS telah mengelola sekitar 835.000 sambungan rumah tangga.
Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGAS Harry Budi Sidharta mengatakan, PGAS berupaya mencari peluang pasar di wilayah yang layak secara keekonomian dan punya daya beli yang sesuai.
Di sisi lain, Direktur Sales dan Operasi PGAS, Ratih Esti Prihatini berharap, pemerintah mengevaluasi skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Sebab, hingga saat ini, PGAS belum menerima kompensasi atas penerapan HGBT dari pemerintah.
Misal, PGAS sudah melakukan amended and restated contract terhadap pelaksanaan kontrak pembelian LNG dengan Petronas LNG Ltd. Kontrak ini memiliki jangka waktu 2024-2025.
Analis DBS Group William Simadiputra mempertahankan rekomendasi
hold
saham PGAS dengan target harga lebih rendah, yakni Rp 1.050 dari Rp 1.400.
Mesin Baru AKRA di Kawasan Industri
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) merancang kawasan industri dan pelabuhan sebagai motor penggerak laba yang berkelanjutan. AKRA siap menggenjot tiga sumber pendapatan dari Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE).
Direktur & Sekretaris Perusahaan AKR Corporindo, Suresh Vembu membeberkan tiga sumber pendapatan dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang berlokasi di Gresik ini. Pertama, penjualan lahan dengan memonetisasi 850 hektare (ha). Total nilai indikatif mencapai Rp 19 triliun-Rp 20 triliun.
Kedua,
utilities income
atau pendapatan dari penyediaan kebutuhan listrik, air dan gas. AKRA berpotensi memonetisasi kebutuhan 1,1 gigawatt (GW)-1,3 GW listrik, 800 liter per detik (lps)-850 lps air, dan 65 juta kaki kubik per hari (mmcfd)-75 mmcfd gas saat semua tenant memanfaatkan fasilitas.
Ketiga, AKRA akan meraup pendapatan dari pelabuhan
(port income)
dengan kapasitas 10 juta ton kargo curah. Bisnis kawasan industri dan pelabuhan ini akan menunjang pendapatan berulang
(recurring income)
AKRA.
Sumbangan dari kawasan industri & pelabuhan akan menanjak. Sebagai estimasi, kontribusinya ditaksir 22% terhadap laba kotor AKRA tahun 2024, dan bakal mencapai jadi 32% pada tahun 2030.
Selain itu, Presiden Direktur AKR Corporindo, Haryanto Adikoesoemo meyakini prospek kinerja di segmen bahan kimia dan BBM akan tumbuh. Arus investasi yang meningkat, ikut mengangkat permintaan dari industri. Apalagi dengan semakin banyaknya smelter yang beroperasi.
Suresh menambahkan, AKRA juga menjalankan ekspansi infrastruktur dan penambahan kapal untuk meningkatkan kekuatan logistik. Secara bersamaan, AKRA menjajaki pengembangan bisnis di segmen bahan bakar aviasi, pelumas dan metanol.
Research Analyst
Reliance Sekuritas Ayu Dian menilai saham AKRA layak koleksi dengan strategi
trading buy.
Cermati
support resistance
saham AKRA di level Rp 1.400-Rp 1.555.
Jasa Marga Siapkan Capex Jumbo Rp 10 Triliun
ADU SIASAT EMITEN BUMN
Akhir tahun ini menjadi momentum bagi korporasi untuk mempertajam strategi dalam mengarungi 2024. Tak terkecuali, sederet emiten pelat merah yang membidik pertumbuhan kinerja dan cuan yang lebih tebal di tengah prospek akselerasi ekonomi dan tahun politik. Racikan strategi telah dimatangkan oleh emiten BUMN dari berbagai sektor mulai dari perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga konstruksi. Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) optimistis dapat melanjutkan kinerja positif di tengah tren tingginya suku bunga dan risiko pengetatan likuiditas. Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan bank pelat merah itu akan mempertahankan current account saving account (CASA) di level yang tinggi. Dengan biaya dana yang rendah, lanjutnya, BMRI dapat meningkatkan laba. Terkait dengan kualitas kredit, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin menyebut BMRI memitigasi ketidakpastian eksternal dengan melakukan analisis sensitivitas dampak gejolak harga komoditas, dinamika pasar ekspor, hingga imbas konflik geopolitik terhadap debitur. BNI juga berambisi untuk meningkatkan profitabilitas yang lebih optimal. Hal itu tecermin pada target BNI untuk meningkatkan rasio return on equity (ROE) dari 15,5% per September 2023 menjadi 18% pada 2025. Untuk menggapai target tersebut, Direktur Human Capital & Compliance BNI Mucharom mengatakan BNI merancang empat langkah strategis. Langkah tersebut ialah mengoptimalkan jaringan kantor luar negeri, mendiversifikasi kredit, perbaikan struktur dana pihak ketiga (DPK), dan mengelola manajemen risiko yang prudent.
Optimisme menatap 2024 juga disampaikan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI). Direktur Keuangan Jasa Marga Pramitha Wulanjani menyebut emiten BUMN jalan tol itu menargetkan kenaikan pendapatan sekitar 8%—10% pada 2024. Pramitha menambahkan mobilitas masyarakat yang meningkat, penyesuaian tarif tol, dan operasional jalan tol baru menjadi faktor pendorong kinerja top line JSMR. Meski demikian, target kenaikan pendapatan jalan tol JSMR itu tak setinggi estimasi pertumbuhan lebih dari 10% pada tahun ini. Sementara itu, dua emiten BUMN karya punya pandangan berbeda terkait dengan prospek kinerja pada 2024. ADHI masih percaya diri dapat meraih kenaikan nilai kontrak baru (NKB) sejalan dengan realisasi per Oktober 2023 yang mencapai Rp30,3 triliun atau melampaui target tahun ini Rp27 triliun. “Kami menganggarkan pertumbuhan 5%—10% dengan komposisi utamanya proyek-proyek besar, termasuk berasal dari Badan Usaha Jalan Tol , atau dari pengelolaan air,” kata Direktur Utama Adhi Karya Entus Asnawi Mukhson. Entus mengakui bahwa tahun politik atau periode pemilihan umum (Pemilu) 2024 dapat berimbas kepada penurunan omzet kontrak baru. Di sisi lain, kenaikan anggaran infrastruktur dalam APBN 2024 masih memberikan optimisme kepada ADHI. Seirama, Sekretaris Perusahaan WIKA Mahendra Vijaya mengatakan perusahaan konstruksi biasanya menghadapi siklus perlambatan pada tahun politik. Sejalan dengan itu, emiten BUMN yang tengah mengupayakan restrukturisasi utang bank senilai Rp13 triliun itu memperkirakan NKB pada 2024 tidak jauh berbeda dengan tahun ini. Beranjak ke sektor pertambangan, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) mengindikasikan peningkatan produksi pada 2024 seiring dengan pertumbuhan kapasitas angkutan kereta batu bara hingga 52 juta ton. Dihubungi terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai prospek indeks saham BUMN pada tahun depan masih akan ditopang oleh sektor finansial ataupun infrastruktur yang memiliki performa baik. Ke depan, IDX BUMN 20 mendapat sentimen positif dari aksi window dressing pada akhir 2023, serta stabilitas ekonomi dan euforia pemilihan presiden 2024. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memandang sejumlah saham BUMN yang menarik untuk dicermati pada 2024 ialah BBNI dengan target harga Rp5.850, BBRI yang disematkan target Rp5.575, saham BMRI Rp6.600, dan TLKM ditargetkan menembus level Rp4.140 per saham. CEO Edvisor.id Praska Putrantyo memandang emiten BUMN yang akan memiliki prospek cerah pada 2024 ialah sektor telekomunikasi infrastruktur.
Direstrukturisasi Tapi Masih Merugi
Segala upaya berupa restrukturisasi utang hingga suntikan dana dari pemerintah untuk sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampaknya masih belum membuahkan hasil. Sejumlah emiten itu masih rugi seusai menuntaskan restrukturisasi. Misalnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 7,5 triliun pada akhir tahun lalu melalui skema rights issue. Namun suntikan itu belum mampu mendongkrak kinerja GIAA. Kondisi serupa juga terjadi di PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).
Kemudian ada PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang harus rela mengembalikan PMN tahun anggaran 2022 senilai Rp 3 triliun kepada pemerintah. Dana tersebut dialihkan kepada PT Hutama Karya untuk menyelesaikan beberapa proyek strategis milik WSKT.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger MM menjelaskan, masalah dari beberapa emiten pelat merah seperti GIAA hingga WSKT disebabkan oleh utang yang menumpuk tinggi.
Pengamat Pasar Modal dan Direktur Avere Investama Teguh Hidayat melihat masalah restrukturisasi BUMN terletak pada manajemen atau sumber daya manusia (SDM) di emiten pelat merah itu sendiri.
Menurut Teguh, Kementerian BUMN perlu mengambil peran lebih besar dari sisi internal emiten pelat merah. Dia menandaskan, pemerintah sebaiknya tak hanya memberikan suntikan dana, melainkan juga membenahi jajaran direksi dari BUMN sakit.
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai isu soal restrukturisasi emiten BUMN sudah menjadi bahasan lama di pasar modal sehingga dampaknya minim ke saham BUMN yang bersangkutan.
Meski sejumlah emiten BUMN tengah menghadapi masalah, namun Arjun menyebut masih ada BUMN non perbankan dari sektor lain yang menarik. Misalnya saja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
Teguh juga menilai Telkom masih menarik untuk dicermati. Bisnis Telkom masih akan tetap bertumbuh karena berkaitan dengan teknologi dan internet yang memang punya prospek positif. Selain itu BUMN di sektor energi baru terbarukan juga menarik untuk dicermati, yakni PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO).
Bola Salju Utang Waskita Karya
MIND ID Harus Jadi Operator Tambang Grasberg Pasca 2041
Utang Waskita Menjalar Kemana-mana
Pilihan Editor
-
Kluster Industri Fintech Kian Luas
22 Nov 2019 -
Hyundai Teken Investasi US$ 1 Miliar
14 Nov 2019 -
Dark Skies Ahead for Jokowi's economy : Experts
21 Oct 2019 -
Menteri Ekonomi Harus Benahi Iklim Usaha
21 Oct 2019









