Korporasi
( 1557 )Efek Insentif dan Suku Bunga
Pundi-pundi laba PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) masih akan padat berisi di sisa tahun ini. Kinerja emiten properti Grup Sinar Mas itu disokong sejumlah sentimen positif, seperti prospek suku bunga yang lebih rendah dan berlanjutnya insentif sektor properti. Di separuh pertama tahun ini, kinerja BSDE lumayan moncer. Pendapatan usaha BSDE naik 46,99% menjadi Rp 7,34 triliun. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa mengatakan, solidnya kinerja BSDE akibat penjualan properti yang lebih tinggi dan margin yang lebih baik. Sebagian besar pertumbuhan segmen properti berasal dari proyek perumahan yang tumbuh 84,8% year on year (yoy) menjadi Rp 3,12 triliun. Yasmin juga menyoroti, margin laba kotor dan laba bersih BSDE semakin membaik. Dengan margin yang lebih tinggi dan kerugian valuta asing (valas) yang lebih rendah, BSDE pun bisa mengantongi laba bersih yang tinggi, 94,3% yoy. Angka ini melampaui ekspektasi Ciptadana Sekuritas dan konsensus. Analis Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda menambahkan, solidnya kinerja keuangan BSDE juga terlihat dari capaian prapenjualan alias marketing sales. Hingga akhir Juni 2024 lalu, BSDE mencetak marketing sales sebesar Rp 4,84 triliun, setara 51% dari target tahun 2024 yakni Rp 9,5 triliun. Vicky memprediksi, kinerja BSDE hingga akhir tahun ini masih akan melanjutkan tren pertumbuhan.
Optimisme itu seiring adanya potensi pemangkasan suku bunga acuan yang dapat mengurangi beban penjualan properti, serta menjadi daya tarik bagi sektor properti.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahnaf Yassar juga menilai, pemotongan suku bunga memungkinkan peningkatan laba yang cukup besar dan meningkatkan sentimen harga saham BSDE. Suku bunga rendah akan membantu mengurangi beban bunga BSDE yang sebesar 23% dari laba sebelum pajak di semester I-2024.
Yasmin menambahkan, BSDE juga akan mendapat cuan dari layanan operasi jalan tol yang makin ramai. Yasmin pun merevisi naik perkiraan pendapatan dan laba bersih BSDE menjadi Rp 14.77 triliun dan Rp 4.04 triliun di akhir tahun ini.
Namun, Vicky menyarankan
wait and see
dahulu karena harga BSDE sudah cukup tinggi. Jika menembus
resistance
, maka dapat
trading buy
Laba Emiten Rokok Menguap
Kenaikan tarif cukai jadi bandul pemberat kinerja keuangan emiten rokok. Di semester pertama tahun ini, seluruh emiten rokok membukukan rapor merah. Terbaru, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melaporkan pendapatan yang terkoreksi 10,45% secara tahunan menjadi Rp 50,01 triliun di semester I-2024. Padahal, di periode yang sama tahun 2023, GGRM masih mencatat penjualan dan pendapatan Rp 55,85 triliun. Alhasil, laba bersih GGRM di enam bulan pertama tahun ini tergerus 71,8% menjadi Rp 925,51 miliar dari Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman menyampaikan, penurunan kinerja keuangan perseroan dipicu turunnya volume penjualan. Ini imbas dari kenaikan tarif cukai. Pada 2024, pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 10%. Dus, kebijakan itu mengerek harga jual rokok. Heru bilang, hingga akhir Juni 2024, volume penjualan rokok GGRM mencapai 27,8 miliar batang. Turun 14,4% dari periode sama tahun lalu sebanyak 32,5 miliar batang. Biaya pokok pendapatan GGRM mencapai Rp 44,95 triliun pada semester I-2024, turun 6,2% dari sebelumnya Rp 47,91 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penyebabnya, kenaikan biaya cukai 3,1% dan penurunan volume penjualan. Penurunan laba juga dialami PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Di semester I-2024, HMSP mencetak laba bersih Rp 3,31 triliun, turun 11,55% secara tahunan dari Rp 3,75 triliun per Juni 2023.
Penurunan laba HMSP terjadi ketika penjualan bersih emiten ini naik 2,96% secara tahunan menjadi Rp 57,81 triliun.
Senasib, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat penurunan laba dan pendapatan di semester I-2024. Di periode ini, WIIM meraup laba bersih Rp 147,24 miliar, anjlok 40,35% secara tahunan. Penurunan laba WIIM seiring merosotnya penjualan sebesar 6,68% secara tahunan jadi Rp 2,22 triliun.
Direktur PT Rumah Para Pedagang Kiswoyo Adi memproyeksi, prospek kinerja emiten rokok hingga akhir tahun ini masih berat. Salah satu sentimen, kenaikan tarif cukai progresif dan pembatasan iklan rokok untuk masyarakat. "Sudah iklan dibatasi, kenaikan cukai juga progresif," kata Kiswoyo.
Sedangkan Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo merekomendasi
buy on weakness
HMSP dan GGRM dengan target harga masing-masing hingga akhir tahun Rp 950 dan Rp 19.500 per saham.
Harga Batubara Turun, ADRO Meredup
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengejar target produksi dan penjualan batubara pada semester II-2024. ADRO menempuh strategi ini usai mengalami penurunan kinerja pada periode paruh pertama. Pendapatan usaha ADRO tergerus 14,40% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 3,47 miliar menjadi US$ 2,97 miliar. Sedangkan laba bersih ADRO menyusut 10,87% secara tahunan dari US$ 873,83 juta menjadi US$ 778,77 juta hingga Juni 2024. Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi "Boy" Thohir mengklaim, kinerja ADRO menunjukkan daya tahan di tengah tantangan kondisi harga batubara termal maupun metalurgi. "Grup Adaro mampu menunjukkan resiliensi kinerja keuangan berkat keunggulan operasional dan efisiensi," katanya dalam keterbukaan informasi, Selasa (27/8). Pasar dalam negeri mendominasi penjualan ADRO dengan porsi 26%. Sedangkan pasar ekspor ke Asia Timur Laut (24%), Asia Tenggara (18%), China (18%), India (11%) dan lainnya (3%). Meski secara volume menanjak, namun terjadi koreksi pada harga jual rata-rata sekitar 19%.
Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia, Febriati Nadira optimistis, prospek pertumbuhan ADRO masih cerah di sisa tahun ini. Terutama didukung kenaikan permintaan di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, serta Asia Selatan. "Sebagian pelanggan kami memiliki kontrak jangka panjang dan kami fokus untuk memenuhi permintaan pelanggan," kata Nadira, ke KONTAN, Rabu (28/8). Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani melihat, laba bersih ADRO melampaui ekspektasi. Sedangkan pendapatan sejalan dengan perkiraan. Hendriko mengamati, margin laba kotor lebih tinggi seiring penurunan biaya royalti, biaya pemrosesan batubara serta hilangnya biaya mining service. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai, prospek emiten batubara masih menarik di tengah fluktuasi harga komoditas. Secara valuasi, Hendra menilai, ADRO masih relatif murah. Dia merekomendasi trading buy ADRO di target harga di Rp 3.990 per saham. Sedangkan Founder WH Project, William Hartanto merekomendasi beli ADRO dengan target harga Rp 3.700–Rp 3.900 per saham.
BBCA Berupaya Pertahankan Kualitas Aset
Pertumbuhan dua digit laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun 2024 ini. Kinerja emiten bank swasta terbesar di Indonesia tersebut didukung penyaluran pinjaman yang solid dan kualitas aset yang sehat. Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya menilai, hasil kinerja BBCA pada kuartal kedua 2024 sudah sesuai dengan ekspektasi. BBCA memiliki keunggulan pada kualitas peminjam yang solid. Bank terafiliasi Grup Djarum ini memiliki kemampuan menaikkan kembali suku bunga pinjaman sambil menjaga kualitas aset tetap utuh. Return on equity (ROE) BBCA pada semester pertama tahun ini berada di 24,8% dibandingkan 23,5% pada 2023. Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) alias rasio kecukupan modal Bank BCA masih solid di 27,8% pada kuartal kedua, dibandingkan 26,3% pada akhir kuartal pertama 2024. Net interest margin (NIM) BBCA berkembang sekitar 20 basis poin (bps) secara kuartalan seiring inisiatif memangkas suku bunga deposito berjangka sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih Bank BCA semakin didorong oleh biaya kredit konsolidasi yang lebih rendah. Andrey menuturkan, pertumbuhan pinjaman BBCA secara kumulatif selama Januari-Juni 2024 sebesar Rp 849,694 triliun atau bertumbuh sekitar 15,5% yoy. Hasil ini melampaui panduan perusahaan di kisaran 8%-10% dengan pendorongnya dari segmen konsumen, UKM, serta korporasi.
Analis Binaartha Sekuritas, Achmadi Hangradhika mengatakan, dari sisi kualitas aset BBCA sebenarnya menurun, namun masih pada tingkat yang sehat. Misalnya pada rasio kredit bermasalah (NPL) BBCA naik 30 bps secara tahunan mencapai 2,20%. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan NPL di segmen komersial, UKM, dan konsumen.
Tren pertumbuhan laba bersih mencapai dua digit BBCA juga diproyeksi masih terus berlanjut. Rasio NIM 5,80% per akhir kuartal kedua 2024. Proyeksinya, rasio NIM BBCA akan menjadi 6,20% hingga akhir tahun.
Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menyebutkan, katalis positif bagi BBCA adalah performa operasional yang optimal dan efisien. Ini didukung oleh pertumbuhan penyaluran kredit, performa kualitas aset portofolio yang semakin sehat. Dengan demikian, maka mengarah pada NIM yang lebih ekspansif.
Ekspansi ke Pasar Ekspor
Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terus melebarkan sayap ke pasar ekspor. Kali ini, KLBF tengah menyasar Afrika dan Timur Tengah, sembari tetap memperkuat kehadirannya di pasar Asia Tenggara. Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy mengatakan, sebagai langkah awal, KLBF perlu mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di masing-masing negara. KLBF juga gencar memperkuat posisi di Asia Tenggara. Khususnya di Filipina, Myanmar dan Malaysia. Ketiga negara ini memberikan pertumbuhan yang baik terhadap penjualan KLBF di kawasan ASEAN. Untuk pasar ASEAN, KLBF mulai memperkuat posisi di Thailand. Pada pertengahan 2024, KLBF melalui anak usahanya Kalbe International Pt Ltd. telah mengakuisisi 49% saham Alliance Pharma Co Ltd.
Dengan aksi korporasi itu, peluang melakukan penetrasi pasar di Negeri Gajah Putih telah terbuka lebar. Kartika mengatakan, pasar Thailand khususnya obat resep sangat positif, khususnya obat-obatan khusus, onkologi dan kanker.
Demi menjaga margin, KLBF juga berupaya melepas ketergantungan dari bahan baku impor yang rentan dipengaruhi fluktuasi rupiah. KLBF pun berupaya meningkatkan kemampuan untuk memproduksi bahan baku obat sendiri. Terbaru, KLBF telah menjalin kerja sama dengan Livzon Pharmaceutical Group Inc dengan mendirikan perusahaan patungan untuk memproduksi bahan baku obat yang akan dimanfaatkan untuk pasar dalam dan luar negeri.
Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, segmen obat
speciality
KLBF seperti onkologi dan biosimilar akan meningkat secara bertahap di masa mendatang. Natalia mempertahankan rekomendasi beli KLBF dengan target harga di Rp 1.800 per saham.
Harapan Terus Terang pada Harga Emas
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) diperkirakan melanjutkan laju pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun ini. Harga emas dunia yang menanjak mendorong prospek perseroan ini. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji mengatakan, harga emas di pasar dunia yang menguat mendorong kinerja perseroan ini sepanjang semester I-2024. Hal ini berkaca dari rata-rata harga jual (ASP) semester I-2024 yang naik 15% year-on-year ( yoy ) menjadi US$ 2.209 per ons troi. Sepanjang semester I-2024, emiten Grup Bakrie tersebut mencatatkan pendapatan sebesar US$ 15,8 juta atau melesat 287% yoy. Sementara laba bersih tumbuh 67% yoy menjadi Rp 9,4 juta. Permintaan akan emas juga diproyeksi meningkat, terlebih dengan status emas sebagai safe haven . Menurut Nafan, ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah akan turut mendorong permintaan akan emas. Sebagai pengingat, opex BRMS melonjak 437,3% yoy menjadi US$ 10,5 juta di kuartal II-2024. Peningkatan opex terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya gaji, upah, dan tunjangan lainnya karena pemanfaatan optimal dari Kilang 2 dan persiapan Kilang 3. Kemudian peningkatan pajak dan biaya perizinan, iuran tetap (PNBP), serta pajak bumi dan bangunan.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menyebutkan, jika menilik capaian di semester I-2024, kenaikan kinerja BRMS didorong oleh kenaikan produksi emas dan kenaikan rata-rata harga jual emas.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty melanjutkan, secara jangka panjang potensi komoditas emas masih cukup baik. Selain itu, kondisi ketidakstabilan perekonomian dan geopolitik yang masih berlanjut, maka pelaku pasar cenderung lebih memilih aset yang bersifat safe haven seperti emas.
Di sisi lain, dengan potensi pemangkasan suku bunga maka dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi turun. Arinda berpandangan bahwa penurunan dolar AS akan berpengaruh pada laba BRMS, mengingat emiten ini juga melakukan ekspor.
Arinda memperkirakan BRMS mampu mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 20% pada akhir tahun nanti. Dengan demikian, ia merekomendasikan
buy
BRMS dengan target harga Rp 230 per saham.
Telkom Tetapkan Target Kinerja Konservatif
Emiten saham telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), membidik target kinerja konservatif. TLKM berharap dapat mencetak pertumbuhan pendapatan low single digit di akhir tahun 2024. Meski begitu, profitabilitas masih tetap terjaga. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TLKM Heru Supriadi mengatakan, sejatinya, tanpa memperhitungkan unrealized loss investasi di PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), laba bersih TLKM masih tumbuh 4,2% secara tahunan pada semester I-2024. Namun akibat kerugian yang belum terealisasi dan kenaikan beban, laba bersih TLKM di akhir Juni 2024 hanya Rp 11,76 triliun, turun 7,80% secara tahunan year on year (yoy). Sedangkan pendapatan TLKM tumbuh tipis 2,47% menjadi Rp 75,29 triliun pada semester I-2024. Salah satu yang menjadi penggerus margin TLKM adalah adanya kenaikan pos beban karyawan TLKM yang meningkat dari Rp 7,84 triliun menjadi Rp 9,48 triliun. Ini akibat realisasi program pensiun dini yang merupakan strategi TLKM dalam pengendalian kompetensi. Untuk mendorong pertumbuhan kinerja, TLKM akan mempercepat transformasi bisnis. Melalui Telkomsel, TLKM menggeber fixed mobile convergence (FMC) untuk mempercepat efisiensi operasional.
Niko Margaronis,
Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, pendapatan TLKM bisa tumbuh di kisaran 2,7% yoy tahun ini. Target ini memperhitungkan adanya pemulihan Telkomsel secara bertahap di tengah pendapatan konsumen yang melemah.
Pada semester kedua tahun ini, Nico menyebut kinerja emiten telekomunikasi termasuk TLKM akan mendapatkan katalis positif dari momentum libur Natal dan tahun baru. Biasanya, momentum ini akan mendorong peningkatan trafik dan penggunaan data telekomunikasi.
BRI Danareksa Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga di Rp 4.250 per saham. Niko menilai, saham TLKM masih menarik, dengan rasio EV/EBITDA sebesar 4 kali.
Saham BREN Bergerak Positif
Emiten Raup Kontrak Baru di IKN
Emiten BUMN Karya meraup nilai kontrak jumbo dari pengerjaan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Contoh PT Adhi Karya Tbk (ADHI), yang memperoleh nilai kontrak proyek IKN sebesar Rp 11 triliun sejak awal pembangunan hingga kini.
Di IKN, ADHI mengerjakan total 22 proyek di IKN. "Proyek yang sudah selesai dibangun antara lain Hunian Pekerja Tahap I pada Mei 2023 dan Proyek Land Development 1B per Desember 2023," ujar Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Rozi Sparta kepada KONTAN, Jumat (23/8).
Sementara itu, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) telah mengelola 12 proyek IKN dengan nilai kontrak Rp 7,7 triliun sejak awal pembangunan. Di antara emiten BUMN, WSKT dapat porsi kontrak paling kecil di proyek IKN.
Adapun, PT PP Tbk (PTPP) menjadi jawara yang meraup nilai kontrak terbesar dari proyek pembangunan IKN (lihat tabel). Ada 13 proyek yang masih on going.
SVP Head of Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo mengatakan, PTPP berhasil menyelesaikan empat proyek di IKN, yaitu proyek Sumbu Kebangsaan Sisi Barat Tahap 1,
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menilai, meski berhasil meraih nilai kontrak jumbo dari proyek IKN, kondisi ini tak mencerminkan kinerja fundamental saham emiten BUMN Karya. Fundamental, kinerja emiten BUMN Karya masih kurang bagus.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas sepakat, dampak proyek di IKN ke kinerja semester I-2024 belum terlihat terhadap kinerja emiten BUMN Karya.
Harga Tender Offer IBST
Pilihan Editor
-
Ekspor Perikanan Ditarget Naik 15,31 persen
24 Mar 2021 -
Kirim 20 Ribu Liter Reduktan ke Malaysia
19 Mar 2021 -
RI akan Produksi Pupuk di Nigeria
19 Mar 2021 -
Pemerintah Teken Kontrak Jargas Rp 604,92 Milyar
18 Mar 2021









