;
Tags

Korporasi

( 1557 )

Lunasi Surat Utang, Emiten Siapkan Dana

HR1 31 Jul 2024 Kontan

Bersamaan musim rilis laporan keuangan semester I-2024, sejumlah emiten beramai-ramai melunasi obligasi. Sederet emiten juga menghadapi masa jatuh tempo dan telah menyiapkan dana untuk membayar pokok dan bunga surat utang. Emiten yang baru-baru ini melunasi obligasi ialah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). INKP melunasi pokok Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I-2023 Seri A sebesar Rp 333,55 miliar. Sedangkan TBIG melunasi Obligasi Berkelanjutan VI Tahap I -2023 Seri A dengan nilai pokok Rp 1 triliun. Sebelumnya, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) pada 16 Juli telah melunasi Obligasi Berkelanjutan I Tahap I-2023 Seri A Rp 100 miliar. Di sisi lain, sejumlah emiten telah menyampaikan kesiapan dana untuk melunasi obligasi yang segera jatuh tempo.

Seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang telah menyiapkan dana pembayaran pokok Obligasi Berkelanjutan II Tahap III-2017 Seri C senilai Rp 2,51 triliun. Obligasi ini akan jatuh tempo pada 24 Agustus 2024. Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menilai, pelunasan obligasi cenderung membawa sinyal positif terhadap pasar. Dengan aksi ini, emiten menunjukkan ketersediaan dana yang memadai serta komitmen untuk menunaikan kewajibannya. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Agus Pramono mengatakan, pembayaran melalui kas internal akan menjadi opsi pertama bagi emiten yang punya fundamental keuangan solid. Namun, emiten juga umumnya melakukan refinancing melalui penerbitan obigasi tahap selanjutnya maupun pinjaman bank. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menimpali, ramainya penerbitan dan pelunasan obligasi terjadi dalam kondisi ekonomi yang berada pada masa ekspansi. Posisi utang berkelanjutan juga masih aman selama

Laba Emiten Sawit Menghijau, Sahamnya Berkilau

KT1 26 Jul 2024 Investor Daily (H)
Kinerja menggembirakan ditunjukkan beberapa emiten sawit yang telah merilis laporan keuangan semester I-2024, dengan pertumbuhan laba bersih hingga 107%. Tak heran, saham-saham emiten sawit dalam beberapa waktu terakhir telah menunjukkan  penguatan, dan diyakini masih akan tetap kokoh ke depannya. Berdasarkan data RTI, saham emiten sawit seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang pada perdagangan Kamis (25/7/2024) menguat 5,93% ke posisi Rp 625, telah naik 7,76% dalam satu pekan ini, dan melesat 11,61% selama satu bulan terakhir. Saham PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) yang merilis laporan keuangan kemarin juga menghijau dengan kenaikan 16,85% ke level Rp 2.150. Saham emiten Group Wilmar tersebut telah meningkat 17,49% selama satu pekan terakhir. (Yetede)

Kenaikan Konsumsi Jadi Kunci

HR1 26 Jul 2024 Kontan

Prospek kinerja PT Mayora Indah Tbk (MYOR) tampaknya bakal tetap terjaga. Ini didukung oleh penjualan domestik dan global yang cukup kuat. Analis Mirae Asset Sekuritas Abyan Yuntoharjo memproyeksi hasil kinerja produsen permen Kopiko ini pada kuartal kedua sebagian besar sejalan dengan perkiraannya. Namun ini tidak memperhitungkan dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun demikian, Abyan mengekspektasi MYOR bakal memperoleh manfaat dari eksposur ekspor, yang lebih tinggi daripada perkiraan. Ini didorong depresiasi rupiah dan ekspor yang terjadi pada kuartal pertama. Data keuangan emiten konsumer di pertengahan tahun ini menunjukkan pertumbuhan sektor yang moderat, berada pada kisaran pertumbuhan satu digit. Tekanan ekonomi telah mengurangi belanja konsumen, hingga membatasi kinerja sektor secara keseluruhan.

Mirae Asset Sekuritas mengantisipasi penurunan margin pada kuartal kedua dan kemungkinan pada separuh pertama tahun ini, karena fluktuasi harga bahan baku kakao, kopi, dan gandum. Analis Phintraco Sekuritas Muhammad Heru Mustofa mengatakan, saat ini produk MYOR telah diekspor ke lebih dari 100 negara, antara lain Asia Tenggara, Tiongkok, India, Timur Tengah, AS, Afrika, dan Eropa. Namun Heru melihat, tantangan bagi MYOR adalah harga bahan baku yang menanjak di tahun ini. Meskipun beberapa bahan baku utama yang dibutuhkan untuk produksi seperti kakao dan kopi sebagian besar diperoleh di dalam negeri. Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty Hafiya melihat MYOR salah satu emiten di sektor konsumer non cyclicals yang cukup defensif. Untuk kinerja 2024, Arinda memproyeksi pendapatan MYOR akan mencapai Rp 33,95 triliun dan laba bersih sebesar Rp 3,69 triliun. Alhasil, Arinda merekomendasikan beli saham MYOR dengan target harga Rp 2.980 per saham.

AKRA Mengejar Target di Semester Dua

HR1 26 Jul 2024 Kontan

Kinerja keuangan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melandai pada separuh pertama tahun ini. AKRA mengantongi laba bersih Rp 1 triliun, menyusut 2,71% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sebagai pembanding, laba bersih AKRA semester I-2023 sebesar Rp 1,03 triliun. Penurunan laba ini sejalan dengan pendapatan yang masih tertekan. AKRA mengantongi total pendapatan Rp 18,65 triliun pada semester I-2024, terkoreksi 5,43% secara tahunan atau year on year (yoy). Presiden Direktur AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo menjelaskan, turunnya pendapatan ini disebabkan perlambatan ekonomi, seperti normalisasi harga jual rata-rata dan kondisi cuaca yang memengaruhi operasional konsumen. Normalisasi harga juga terjadi pada segmen bahan kimia secara umum. Manajemen AKRA berekspektasi kondisi ini akan membaik pada semester II-2024. AKRA dapat meneruskan perubahan harga yang terjadi di pasar kepada konsumen, sehingga dapat mengelola risiko harga dan biaya. Haryanto secara khusus menyoroti segmen kawasan industri yang menghasilkan pendapatan dari penjualan lahan sebesar Rp 509 miliar atau naik 5,6% yoy. Pendapatan dari utilitas turut meningkat menjadi Rp 75 Miliar atau sebesar 92% yoy.

Sedangkan pendapatan dari kawasan pelabuhan JIIPE sebesar Rp 174 miliar dan menghasilkan kontribusi bagi laba AKRA sebesar Rp 31 miliar. Direktur dan Sekretaris Perusahaan AKRA Suresh Vembu memperkirakan, ada sejumlah pendorong kinerja AKRA pada semester kedua mendatang. Salah satunya adalah kondisi cuaca yang lebih baik, meningkatnya aktivitas pertambangan serta perkiraan kondisi perekonomian yang lebih kuat dan dapat mendorong permintaan bahan kimia dan BBM. Guna mencapai target kinerjanya, AKRA mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 600 miliar hingga Rp 700 miliar. Capex ini akan dipakai untuk petroleum storage, terminal kimia di Sulawesi dan di pelabuhan JIIPE. Capex tersebut juga dialokasikan untuk memperluas jaringan Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) BP-AKR dengan target penambahan sekitar 30 hingga 35 outlet sepanjang tahun 2024. Research Analyst Reliance Sekuritas Ayu Dian melihat kinerja AKRA di semester I-2024 masih sesuai perkiraan. Ayu menyoroti penjualan dari kawasan industri yang mengalami pertumbuhan dan berkontribusi cukup besar pada laba AKRA.

Aksi Boikot Bikin Laba UNVR Melorot

HR1 25 Jul 2024 Kontan

Sejumlah emiten indeks LQ45 telah merilis laporan keuangan semester I-2024. Salah satunya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Di semester I-2024, pendapatan dan laba bersih UNVR kompak merosot. Merujuk pada laporan keuangan UNVR, Rabu (24/7), emiten ini mencatat pendapatan Rp 19,04 triliun pada 30 Juni 2024. Realisasi pendapatan UNVR itu jeblok 6,16% secara tahunan dari Rp 20,29 triliun di semester I-2023. Alhasil, laba bersih UNVR merosot 10,54% secara tahunan menjadi Rp 2,46 triliun dari Rp 2,75 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Merosotnya pendapatan UNVR di enam bulan pertama tahun ini, antara lain, dipicu turunnya penjualan perseroan dari segmen home and personal care sebesar 7,3% secara tahunan menjadi Rp 12,28 triliun dari Rp 13,25 triliun di semester I-2023. Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap mengatakan, pada separuh pertama tahun 2024, UNVR harus memperbaiki beberapa tantangan. Di antaranya, memperkuat fundamental, meningkatkan daya saing brand, serta mendorong efisiensi biaya untuk mendongkrak profitabilitas. 

Benjie menambahkan, hingga saat ini aksi boikot terhadap UNVR, masih memengaruhi kinerja UNVR. Sejak awal tahun ini UNVR fokus menangani sentimen negatif berupa aksi boikot produk yang terafiliasi dengan Israel. Saat ini, ungkap Benjie, UNVR juga menjalankan program transformasi untuk mempertajam fokus dan mendorong pertumbuhan melalui organisasi yang lebih ramping dan akuntabel. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta berpendapat, meski mengalami penurunan, pendapatan UNVR masih relatif bagus di sepanjang enam bulan tahun ini. Nafan juga melihat masih ada harapan untuk UNVR bisa tumbuh. Cuma, Nafan tidak menampik, salah satu sentimen negatif pemberat kinerja UNVR adalah adanya aksi boikot yang mempengaruhi kinerja UNVR. Dia bilang, produk emiten ini diduga memiliki keterkaitan dengan Israel. Dengan sentimen yang ada, Nafan menyematkan rekomendasi hold saham UNVR dengan target harga Rp 2.750.

EKSPLORASI TAMBANG : IDENBURG JATUH KE PELUKAN AUSTRALIA

HR1 22 Jul 2024 Bisnis Indonesia

Sejumlah aset tambang mineral di Papua milik PT Iriana Mutiara Idenburg segera menjadi milik korporasi asal Australia Far East Gold Limited, setelah keduanya menjalin kesepakatan pada pekan lalu. Hal ini menandai babak baru eksplorasi mineral di Bumi Cendrawasih. Blok Idenburg di Pulau Papua bukanlah aset mineral baru. Area prospek di wilayah ini dinaungi oleh Kontrak Karya generasi ke-6 dengan luasan mencapai 95.280 hektare (ha). Data Minerba One Map Indonesia (MOMI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa aset ini masuk dalam wilayah Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang berada di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Pegunungan. Tahapan kegiatan pada blok ini adalah eksplorasi untuk komoditas mineral logam emas. Dalam perjalanannya, aset eksplorasi ini sudah pernah dilakukan pengeboran oleh Barrick Gold Corporation pada 1994-1997, Newmont Corporation dan Newcrest Mining pada 1998, Placer Dome pada 2001-2002, dan Avocet Mining pada 2004-2009. Akan tetapi, dari 14 area prospek yang dimiliki, baru 5 area saja yang telah dilakukan pengeboran. Artinya, baru sekitar 30% saja. Aksi akuisisi secara bertahap pun dilakukan mulai pekan lalu, setelah keduanya melakukan Binding Term Sheet (BTS). Pada penandatanganan BTS, Far East Gold telah menggelontorkan 150.000 dolar Australia, dengan hak eksklusif selama 3 bulan untuk menyelesaikan tawaran perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales and purchase agreement/CSPA) yang dapat diperpanjang tiga kali dengan perjanjian saling menguntungkan dengan durasi masing-masing 30 hari dan pembayaran sebesar 50.000 dolar Australia setiap periode 30 hari. Fase selanjutnya adalah menuju kepemilikan 51%. Pada fase ini Far East Gold mesti menggelontorkan 250.000 dolar Australia saat penandatangan CSPA, guna menggenggam 2,5 juta lembar saham pada harga 0,1 dolar Australia per lembarnya. 

Managing Director Far East Gold Shane Menere mengatakan bahwa penandatangan BTS untuk proyek emas Idenburg sangat prospektif. “Jarang sekali kita menemukan proyek kaliber seperti itu dengan database historis yang substansial tentang pekerjaan yang diselesaikan oleh banyak penambang emas besar dunia,” katanya dalam keterangan resmi Far East Gold, pekan lalu. “Mengingat besarnya minat berbagai pihak terhadap Proyek Idenburg, maka diberikannya kesempatan kepada Far East Gold untuk mengembangkan lebih lanjut proyek ini merupakan suatu bentuk dukungan terhadap kerja yang telah dilakukan oleh tim Far East Gold yang sangat berpengalaman selama ini, termasuk menjadi perusahaan pertama dalam sejarah Kontrak Karya Woyla yang berhasil mengebor proyek tersebut,” jelasnya. Dia menambahkan, pihaknya amat gembira dengan database historis yang luas mengenai pekerjaan eksplorasi dan banyak pengeboran bermutu tinggi yang menunjukkan potensi besar dari Idenburg.

ASDP Optimistis Cetak Laba 733 Miliar

KT1 19 Jul 2024 Investor Daily

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat kenaikan dalam layanan penumpang dan kendaraan pada semester pertama tahun 2024. Dalam periode ini, ASDP melayani 5,89 juta penumpang dan 11,42 juta kendaraan di seluruh Indonesia, menandai peningkatan dalam industri penyebrangan. Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menyatakan optimisme manajemen terhadap pertumbuhan bisnis penyebrangan yang diperkirakan  akan terus berlanjut hingga akhir tahun. "Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan prima, terutama bagi sektor logistik yang menjadi pilar kinerja perusahaan," kata Shelvy. Menurut kinerja ASDP pada semester I-2024 menunukkan pertumbuhan dengan total pendapatan dengan konsolidasi mencapai Rp 2,560 triliun, meningkat 9% dibandingkan periode  yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, ASDP mencatat laba sebesar Rp356 miliar. (Yetede)

Pelindo Hingga MIND ID Bersiap IPO

KT1 18 Jul 2024 Investor Daily (H)
Holding BUMN beraset ratusan triliun rupiah akan meramaikan BEI lewat penawaran umum perdana (IPO) saham. IPO dinilai menjadi solusi untuk membenahi amburadulnya tata kelola dan lemahnya manajemen risiko di perusahaan-perusahaan BUMN. Beberapa holding yang disebut bersiap IPO yaitu PT Pelabuhan Indonesia alias Pelindo, kemudian PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), dan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney). Merujuk pada laporan konsolidasi tahun buku 2023, serta ketiga holding BUMN ini total mencapai Rp 476,82 triliun. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menekankan, holding atau perusahaan induk harus melakukan tata kelola keuangan secara terintergrasi termasuk kepada perusahaan-perusahaan anak. "Ini dulu tidak terjadi, sehingga banyak terjadi kecuraangan (fraud) di level anak usaha. Sekarang, kami lakukan secara menyeluruh," ujar pria yang dekat disapa Tiko itu baru-baru ini.

Investor Siap Melego Saham Emiten Tekno

HR1 18 Jul 2024 Kontan

Emiten teknologi di Tanah Air masih dihantui sentimen negatif. Terbaru, sejumlah emiten teknologi harus menghadapi rencana hengkangnya investor kakap pemilik sebagian saham perusahaan. Kabar tak sedap ini melanda dua emiten teknologi, yakni PT Bukalapak Tbk (BUKA) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Sumber KONTAN, menyebutkan, perusahaan pengelola dana kekayaan alias sovereign wealth fund (SWF) asal Singapura yakni Government of Singapore Investment Corporation (GIC) sedang mempertimbangkan untuk menjual kepemilikannya di BUKA dan EMTK. Jejak investasi GIC di pasar modal Indonesia dilakukan secara langsung lewat melalui entitas anak usahanya, yaitu Archipelago Investment Pte Ltd dan Salween Investment. Terlebih, GIC bukan lembaga SWF kacangan. Jejaring portofolio investasi SWF milik pemerintah Singapura ini tersebar di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk di emiten Indonesia. 

Dikutip dari data Global SWF, saat ini total assets under management (AUM) atau dana yang dikelola GIC mencapai US$ 769 miliar atau setara Rp 12.380 triliun. Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee melihat, langkah melego saham emiten teknologi dari private equity dipicu sejumlah faktor. Terutama, investor tidak melihat prospek emiten di masa depan.   Di tengah perjuangan berat memperbaiki kinerja, emiten teknologi dituntut untuk terus menggelar program promo agar bisa berkompetisi. "Emiten masih harus bakar uang untuk menjaga pertumbuhan dan pangsa pasar. Ini yang membuat investor cabut dari emiten itu," ujarnya, kemarin. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, jika investor kakap pergi, berarti mereka telah mencapai target investasi. Atau justru rugi dan beralih ke sektor lebih menguntungkan. Jadi ini bagian dari strategi investasi. Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mencermati, peralihan investasi dari dan ke sektor teknologi dipengaruhi term of investment investor yang sudah berakhir. Dus, emiten harus bisa mencari sumber dana lain untuk menjaga pertumbuhan dan ekspansi bisnis.

Penetrasi Pasar Bikin Kinerja Sehat

HR1 18 Jul 2024 Kontan

Kinerja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berpeluang lebih sehat di tahun ini. Sejumlah agenda ekspansi KLBF untuk memperluas pasar bisa berbuah manis dalam jangka panjang. Salah satu ekspansi KLBF baru-baru ini adalah mengakuisisi saham Alliance Pharma Co Ltd, perusahaan farmasi asal Thailand. Akuisisi sebanyak 49% saham itu dilakukan melalui Kalbe International Pte Ltd. KLBF akan mengklasifikasikan investasinya di Alliance sebagai investasi pada entitas asosiasi. Karena kepemilikannya kurang dari 50%, pendapatannya tidak akan dikonsolidasikan ke KLBF. Tapi, analis Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih menilai akuisisi ini bisa mendorong pendapatan ekspor KLBF yang menurun pada tiga bulan pertama tahun lalu. Pendapatan ekspor KLBF biasanya berkontribusi sekitar 6% dari total pendapatan. Namun, pada tiga bulan pertama tahun lalu, kontribusinya turun menjadi 4,5% di karena nilai penjualan yang melorot 22,7% year on year (yoy) menjadi Rp 382 miliar.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo juga sepakat, kinerja keuangan KLBF berpotensi tumbuh positif. Pendorongnya bukan cuma dari ekspansi perusahaan, tapi juga permintaan produk kesehatan yang masih tinggi. KLBF pun membidik pertumbuhan laba bersih 15% pada tahun ini. Andreas menambahkan, kinerja KLBF di kuartal pertama lalu masih solid. Pendapatan KLBF tumbuh 6,3% yoy dan 6% quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 8,36 triliun. Pendapatan KLBF didorong oleh pertumbuhan volume di pasar lokal dan penyesuaian rata-rata harga jual (ASP) tahunan sebesar 3%-5% untuk produk-produk tertentu. Sedangkan laba bersih KLBF tumbuh 11,9% yoy dan 36,4% qoq menjadi Rp 958 miliar. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, pangsa pasar KLBF masih kuat. Hanya saja, ada sejumlah tekanan yang bisa menjadi risiko untuk KLBF. Karena itu, Nico memperkirakan pertumbuhan laba bersih KLBF tahun ini hanya berkisar 7%-9% secara tahunan, lebih rendah dari target yang dipasang perusahaan. Sedangkan Andreas memperkirakan, pendapatan KLBF akan menyentuh Rp 33,1 triliun dengan laba bersih Rp 3,15 triliun pada akhir 2024 ini.