Cashless Payment
( 88 )Perbankan Bidik Transaksi Kesehatan Digital
Pandemi Covid-19 telah membawa berkah pada penyedia jasa kesehatan digital atau healthtech. Tak mau kehilangan momentum, perbankan ikut membidik transaksi kebutuhan kesehatan nasabah.
Bank Mandiri misalnya, telah curi start menjalin kerja sama dengan healthtech sejak 2019. SVP Credit Card Group Bank Mandiri Lila Noya telah melihat potensi dengan beberapa emerging category merchant seperti e-wallet, insurtech, e-groceries, termasuk healthtech.
Saat ini kami sudah memiliki partnership dengan Halodoc, Alodokter, Farmaku. Selain itu dengan perkembangan transaksi digital. Pada masa pandemi beberapa partner kami juga menambah fitur dari semula hanya toko konvensional menjadi online yang bisa di akses pada aplikasi.
Lila melihat trafik transaksi platform digital selalu bertumbuh termasuk pada kategori healthtech. Kategori ini mencatatkan pertumbuhan transaksi kartu kredit 123 persen year to date (ytd) dan merchant naik 311 persen yearon year (yoy) per Juni 2021.
ShopeePay Sasar UKM di Makassar
Layanan pembayaran digital ShopeePay bakal menghadirkan program Semangat Usaha Lokal di Makassar, pada tanggal 4 hingga 10 Juli 2021. Melalui program Semangat Usaha Lokal, ShopeePay berupaya meningkatkan visibilitas bisnis UMKM lokal agar dapat menjangkau lebih banyak konsumen dengan memaksimalkan fitur serta manfaat dari layanan pembayaran digital ShopeePay.
Head of Strategic
Merchant AcquiSition, Eka Nilam Dari menjelaskan bahwa perkembangan bisnis UKM menjadi
bisnis utama yang menjadi penggerak penggerak di masing-masing daerah. ShopeePay,
kata dia, melihat bahwa di tengah pandemi Covid-19 banyak inistatif yang bisa
dikerjakan bersama UKM. Dirinya berharap, dengan cashback yang benefit cashback
yang lebih spesial, masyarakat bisa berpartisipasi dan bertransaksi.
Banjir Trasnsaksi Bank Digital
Pengguna bank digital bakal terus bertumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan. Indonesia Fintech Society (IFSoc) mencatat agenda industri bank digital terus menggeliat dan berpotensi mengubah lanskap industri perbankan. Anggota Steering Committee IFSoc, Hendri Saparini, mengatakan karakteristik masyarakat Indonesia, yang didominasi oleh generasi muda yang digital savvy atau suka memanfaatkan teknologi, menjadi penunjang utama pertumbuhan transaksi digital.
Hendri mengatakan pertumbuhan pengguna bank digital didorong oleh berkembangnya platform dan ekosistem digital lain, seperti e-commerce, aplikasi ride hailing, agen travel online, dan online entertainment.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan transaksi digital terus bertumbuh sejalan dengan preferensi masyarakat untuk berbelanja online dan maraknya layanan digital banking. Pertumbuhan itu tecermin dari volume transaksi digital banking pada Mei lalu yang meningkat 56,49 persen secara tahunan dan nilai transaksinya tumbuh 66,41 persen menjadi Rp 3.117,4 triliun.
Wakil Direktur Utama PT Bank Jago Tbk, Arief Harris Tandjung, mengatakan bank digital bakal berumur panjang, mengingat popularitasnya yang terus menanjak. Konsep bank digital yang meminimalkan kantor cabang dan mengandalkan aplikasi untuk memberikan layanan keuangan dinilai menjadi model bisnis yang menguntungkan bagi nasabah ataupun bank.
Walau memiliki sederet keunggulan, kehadiran bank digital dinilai tidak menjadi ancaman bank konvensional. Pasalnya, bank konvensional memiliki segmen spesifik yang tidak dapat dilayani oleh bank digital, seperti segmen korporasi,komersial, usaha kecil-menengah, dan orang super-kaya atau high-net-worth individual.
OJK Ingatkan Masyarakat Soal Paylater
Saat ini belanja dengan berhutang, tidak hanya bisa dilakukan menggunakan kartu kredit. Fitur paylater di sejumlah marketplace juga menawarkan fasilitas serupa, belanja dulu bayar kemudian, dengan sistem pinjaman uang atau utang. Fitur transaksi digital paylater saat ini banyak diminati.
Saat ini, paylater difasilitasi melalui beberapa lembaga jasa keuangan seperti, bank, lembaga pembiayaan, atau Fintech Peer-to-Peer Lending. Nurdin mengingatkan masyarakat untuk selalu batasi nilai pinjaman sesuai dengan kemampuan membayar.
Di samping itu, masyarakat juga harus memahami kontrak perjanjian serta wajib melunasi dana pinjaman tepat waktu untuk menghindari denda. Jangan lupa perhatikan suku bunga. Juga mengetahui denda keterlambatan pengembalian pinjaman.
Berlomba Raup Transaksi Lebaran
Platform dompet digital dan uang elektronik beradu fitur serta layanan untuk menangkap potensi transaksi Ramadan-Idul fitri 2021. Platform GoPay menjagokan fitur transfer ke rekening bank untuk memfasilitasi tradisi bagi-bagi amplop Lebaran yang kini terhambat pembatasan mobilitas masyarakat.
Head of Corporate Affairs GoPay, Winny Triswandhani, menuturkan penggunaan fitur transfer terbukti signifikan pada Lebaran 2020. Tahun lalu, jumlah pengguna yang memanfaatkan fitur ini meningkat empat kali lipat. Khusus di hari pertama Idul Fitri, kenaikan transaksi transfer antar-pengguna naik dua kali lipat. Pada tahun ini juga diperkirakan fitur transfer masih akan menjadi andalan pengguna untuk berbagi rezeki dan membayar berbagai kebutuhan. Tak hanya transfer dana, GoPay juga mengoptimalkan layanan pembayaran digital untuk donasi, infak, sedekah, dan zakat.
Sementara itu, platform dompet digital pelat merah, LinkAja, menyiapkan kapasitas infrastruktur digital untuk mengantisipasi peningkatan transaksi dan jumlah pengguna pada masa libur Lebaran. Transaksi yang diproyeksikan meningkat adalah pembelian produk digital, seperti voucer permainan.Di tahun sebelumnya biasanya ada peningkatan angka pembelian produk digital, terutama voucer games. Tahun ini kemungkinan akan terjadi hal yang sama.
Platform DANA juga terus memperkuat fitur-fitur yang dimilikinya, baik dari aspek produk maupun teknologi, guna mengantisipasi lonjakan transaksi. Tahun ini, DANA secara khusus melakukan kampanye program bertajuk "Ramadan Praktis DANA" yang berfokus pada fitur donasi dan zakat, belanja, pembelian game, dan pengiriman uang.
Sedangkan Head of Corporate Communications OVO, Harumi Supit, menuturkan naiknya konsumsi masyarakat membuka peluang bagi optimalisasi berbagai fitur pembayaran. Pada tahun ini OVO meluncurkan program #RaihIkhlas yang menawarkan diskon untuk pembelian barang dan produk investasi atau asuransi, serta penyaluran sedekah.
Pandemi Dorong Budaya Cashless Alami Peningkatan
Pandemi covid 19 yang terjadi sejak tahun lalu mampu meningkatkan penggunaan uang secara non tunai atau cashless. Hal itu menunjukkan masyarakat sudah mulai bisa mengikuti kebiasaan baru tersebut. Budaya cashless harus semakin ditingkatkan untuk kemudahan, kecepatan, kemurahan biaya, keamanan dan kehandalan.
Bank Indonesia (BI) memiliki Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai alat pembayaran secara non tunai. Penggunaan QRIS sebagai transaksi cashless sangat bermanfaat sebagai proses transaksi keuangan dan pengembangan usaha UMKM dan di masa pandemi ini sangat cocok sehingga menghindari pegang uang tunai yang kernungkinan virus bisa berpindah.
Adopsi QRIS di Bali Melesat
Digitalisasi pembayaran berbasis QRIS di Bali per Oktober 2020 tercatat telah diadopsi oleh 149.266 pedagang (merchant). Jumlah tersebut meningkat 486% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara year on year (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali Trisno Nugroho mengatakan ekspansi jumlah merchant yang mengadopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Bali turut mendorong kenaikan transaksi digital di kalangan masyarakat. QRIS dilaku kan masyarakat di Bali dengan nilai menembus Rp11,93 miliar per akhir Agustus 2020, 70% pengguna bertransaksi untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di sisi lain, penelitian yang dilakukan Sea Insights SEA Group pada Juni 2020 menunjukkan 72% pemuda pemudi usia 16—35 tahun di kawasan Asean mampu ber tahan dan beradaptasi selama Covid-19. Selama vaksin belum di temukan, isu kesehatan akan terus mengemuka dan gaya hidup serta tatanan ekonomi akan berubah. Namun, adaptasi kebiasaan baru akan mengakibatkan pergeseran pola ekonomi yang minim pertemuan tatap muka atau less-contact economy.
Untuk itu, Trisno menyebut seluruh UMKM di semua proses bisnisnya harus mampu beradaptasi dengan cara memanfaatkan teknologi digital mulai dari proses produksi, pemasaran hingga pemanfaatan metode pembayaran digital yang bersifat contactless.
LinkAja terus Perkuat Ekosistem Digital
Pemanfaatan dan penguatan ekosistem digital menjadi strategi utama dari upaya penetrasi bisnis penyedia layanan pembayaran digital LinkAja agar bisnis usaha berkelanjutan. Chief Marketing Officer PT Fintek Karya Nusantara yang memiliki izin penerbitan uang elektronik LinkAja, Edward Kilian Suwignyo mengatakan, hingga Juni 2020 LinkAja telah mendigitalisasi pembayaran di 466 pasar tradisional di seluruh Indonesia serta memiliki lebih dari 250 pembayaran tagihan mencakup tagihan air PDAM, listrik, TV kabel, pulsa hingga voucher gim. LinkAja juga telah bekerjasama dengan 11.376 penjual luring nasional dan 1.569 penjual daring dengan platform seperti Bukalapak, Tokopedia dan Blanja.com
Sistem Pembayaran : Menanti Cerita WeChat Pay Tahun ini
Survei Bank Indonesia pada 2018 menunjukan ada sekitar 1.800 lokasi usaha di Indonesia menggunakan platform pembayaran WeChat Pay. QR code WeChat Pay cukup banyak ditemui digerai oleh-oleh di Kecamatan Tikala, Kota Manado, Sulawesi Utara dan Bali. Namun transaksi elektronik WeChat pay dalam mata uang Yuan sehingga tidak diproses di Bank Indonesia dan Indonesia tidak mendapatkan devisa dari transaksi tersebut. Pada awal 2020, penggunaan WeChat Pay sudah legal di Indonesia melalui kerjasama dengan perbankan Indonesia. PT Bank Central Asia memperoleh izin operasional dari Bank Indonesia per 1 Januari 2020.
Pembayaran Digital Makin Diminati
Penggunaan alat pembayaran digital makin masif dan diminati masyarakat. Peluang terbuka agar pembayaran digital bisa menyentuh transaksi di sektor UMKM. Hasil survei Ipsos Indonesia terkait kebiasaan masyarakat Indonesia terhadap penggunaan alat pembayaran digital menemukan 95% responden menggunakan dompet digital untuk berbagai transaksi keuangan seperti : belanja daring, bayar tagihan listrik, restoran dan hiburan.
Menurut Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos Indonesia, Masyarakat makin terbiasamenggunakan pembayaran digital maupun uang elektronik. Ada 3 motif besar penggunaan pembayaran digital yakni rasa aman dan keuangan lebih terkontrol, memperkaya hidup, serta hal baru dalam menghidupi perkembangan zaman.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









