Internasional
( 1352 )Yuan Melawan Tekanan Dollar Amerika Serikat
People's Bank of China (PBOC) terus berjuang menjaga nilai tukar yuan terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kemarin, bank sentral China ini mematok kurs tengah yuan sebesar 7,2054 yuan per dollar AS.
Angka tersebut lebih besar dari posisi sehari sebelumnya, yakni 7,2098 yuan per dollar AS. Pekan ini, PBOC terus mematok kurs tengah lebih tinggi ketimbang eksepektasi pasar di setiap sesi perdagangan valuta asing.
Kebijakan bank sentral China ini memberi keyakinan kepada pelaku pasar bahwa negara tembok besar China ini tidak akan menoleransi penurunan nilai tukar lebih jauh terhadap dollar AS. Kendati begitu, yuan tetap tidak bisa naik tinggi karena investor mewaspadai potensi penerbitan stimulus moneter.
Sebelum ini, nilai tukar yuan terhadap dollar AS terjun bebas menuju level terendah 14 tahun terakhir. Jumat (30/6) lalu, kurs spot yuan sempat jatuh ke 7,2537 yuan per dollar AS. Namun, pada pukul 17.06 WIB kemarin, kurs spot yuan sudah kembali naik ke 7,2362 yuan per dollar AS.
Lead Strategist
makro Asia Societe Generale Kiyong Seong memprediksi, sampai pengumuman stimulus, yuan akan bergerak stabil di kisaran 7,2-7,3 per dollar AS. Alasannya, PBOC diyakini akan terus menetapkan kurs tengah lebih tinggi.
Terasing Akibat Energi Kotor
Nihilnya nama bank asal Indonesia dalam daftar keanggotaan aliansi perbankan emisi karbon netral alias Net Zero Banking Alliance (NZBA) dianggap sebagai indikasi lemahnya komitmen transisi energi di negeri ini. Ketidakaktifan perbankan Indonesia dalam kampanye kelompok bank pendukung energi bersih itu pun menuai kritik dari ekonom dan pegiat lingkungan. Menurut mereka, pelaku keuangan dunia akan melihat Indonesia ragu-ragu membatasi pembiayaan untuk energi berbasis fosil. Beranggotakan 132 bank dari 41 negara, NZBA bergerak di bawah bendera Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ), yang merupakan kumpulan institusi keuangan global yang berkomitmen menyokong target emisi netral pada 2050. Mudahnya, NZBA merupakan GFANZ untuk kategori perbankan yang total asetnya tercatat mencapai US$ 74 triliun atau mewakili 41 persen dari total aset perbankan sejagat.
Aliansi bank yang terbentuk pada April 2021 ini digerakkan oleh Inisiatif Keuangan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau The United Nations Environment Programme Finance Initiative (UNEPFI), serta diakreditasi oleh Race to Zero, kampanye PBB untuk pemulihan karbon. Para anggota NZBA umumnya sudah menetapkan target kerja jangka menengah, maksimal hingga 2030, untuk meniadakan pinjaman dan investasi ke sektor energi yang bertentangan dengan hasil Kesepakatan Iklim Paris pada 2016. Peneliti dari Senik Centre Asia, Andri Prasetiyo, mengatakan tenggat pemutusan dana ke sektor energi kotor itulah yang menghalangi masuknya bank-bank Tanah Air ke NZBA. Sampai saat ini, kata dia, belum ada perbankan nasional yang secara tegas merencanakan penghentian kredit usaha ataupun investasi ke sektor batu bara sebagai komoditas fosil utama. (Yetede)
RI Ajak ASEAN Bersinergi Wujudkan Ekonomi Biru
JAKARTA,ID-Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak negara-negara Asean bersinergi menjaga kesehatan laut melalui pengelolaan dan implementasi berbasis ekonomi baru (blue economy). KKP telah merancang program ekonomi biru yang siap diimplementasikan pada sektor KP nasional, yang diharapkan dapat menjadi referensi bagi negara-negara Asean. Indonesia tidak akan bisa menjaga lautan kita sendiri. Kami percaya Forum Ekonomi Biru Asean menjadi momentum memperkenalkan upaya-upaya nyata yang telah dilakukan Indonesia di forum regional Asean," ujar Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Viktor Gustaaf Manoppo, mewakili Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono, saat forum Ekonomi Biru Asean, pada 3 Juli 2023, di Belitung. Program prioritas berbasis ekonomi biru meliputi perluasan konversi laut, penangkapan ikan, terukur berbasis kouta, pembangunan budi daya laut, peisisr, dan darat yang berkelanjutan, pengawasan dan pengendalian kawasan pesisir dan pulau-pulai kecil, serta pembersihan sampah plastik melalui gerakan partisi nelayan (bulan cinta laut). (Yetede)
Restriksi Ekspor G20 Marak
Restriksi ekspor yang dilakukan oleh negara-negara anggota G20 semakin marak, mencakup pula komoditas pangan, pupuk, dan bahan baku kritis. Situasi tersebut bakal mengganggu rantai pasok global, memicu kenaikan harga komoditas, bahkan menyebabkan krisis pangan di sejumlah negara pengimpor. Laju pertumbuhan perdagangan global juga bakal melambat. Pertumbuhan volume perdagangan barang dunia diperkirakan melambat dari 2,7 % pada 2022 menjadi 1,7 % pada 2023. Pada 2024, pertumbuhannya diperkirakan meningkat menjadi 3,2 %. Namun, jika ketidakpastian global dan pembatasan ekspor menguat, volume perdagangan global bisa tumbuh minus 2,8 %. Hal itu mengemuka dalam Laporan Pemantauan Perdagangan di Negara-negara G20 yang dirilis Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Selasa (4/7) di Geneva, Swiss.
Laporan itu merujuk pada tindakan fasilitasi dan pembatasan perdagangan barang yang tidak terkait pandemi Covid-19 pada periode pertengahan Oktober 2022 hingga pertengahan Mei 2023. Dalam periode itu, terdapat 77 tindakan fasilitasi perdagangan dan 41 tindakan pembatasan perdagangan barang yang dilakukan negara-negara G20. Fasilitasi dan pembatasan perdagangan itu masing-masing senilai 629 miliar USD dan 88 miliar USD. Tindakan itu dilakukan oleh Rusia, Uni Eropa (UE), Argentina, Brasil, AS, China, India, dan Indonesia. Meski mulai sedikit melonggar, Rusia masih tercatat sebagai negara yang membatasi ekspor pangan dan pupuk. India membatasi ekspor gandum dan beras. Indonesia pun terbukukan sebagai negara yang membatasi ekspor minyak sawit dan nikel. Indonesia juga menerapkan tindakan pengamanan perdagangan terhadap sejumlah komoditas impor, antara lain, keramik, besi dan baja, benang, serta penyejuk ruangan. (Yoga)
Perkembangan Didorong Persaingan dan Investasi
Microsoft dan Google baru-baru ini menanamkan investasi besar di dua perusahaan terbesar dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). OpenAI, yang mengembangkan ChatGPT, menerima investasi masif sebesar US$ 10 miliar (Rp 149,4 triliun) dari Microsoft. Sedangkan Google menginvestasikan US$ 300 juta (Rp 4,4 triliun) pada Anthropic. Dukungan finansial dari para raksasa teknologi itu terhadap AI telah membuat persaingan ketat mereka semakin tersorot publik. Perjuangan Google untuk berebut dominasi dengan Microsoft makin menguat dan menjadi topik utama dalam diskusi tentang kesuksesan AI pada masa depan. Google telah memberikan kontribusi yang sangat besar di bidang pengembangan AI, termasuk penemuan transformer, suatu bentuk pembelajaran mesin (machine learning) dengan algoritma yang terus berkembang dalam menjalankan fungsi-fungsi tertentu seiring "dilatih" dengan data, kemajuan beragam teknik untuk mengotomatiskan terjemahan bahasa dan akuisisi perusahaan AI DeepMind.
Meskipun Google secara konsisten memposisikan diri di garis depan pengembangan AI, hadirnya ChatGPT menjadi sebuah tonggak sejarah yang signifikan. Perusahaan OpenAI, yang berbasis di California, AS, merilis ChatGPT pada November 2022 dan versi yang lebih canggih, GPT-4, diluncurkan pada Februari 2023. Kehadiran ChatGPT memicu diskusi luas tentang kecerdasan umum buatan (artificial general intelligence atau AGI) yakni ketika mesin melampaui kecerdasan manusia. Ini menjadi fokus peringatan Geoffrey Hinton, tokoh yang berpengaruh di bidang AI, yang dalam beberapa wawancara menguraikan kekhawatirannya tentang teknologi tersebut setelah mengundurkan diri dari Google tahun ini. Akibatnya, jumlah penelitian yang berfokus pada model bahasa besar (large language models atau LLM), jenis teknologi AI yang mendasari ChatGPT, melonjak. Topik penelitian lainnya soal AI, seperti sistem dialog dan pencarian informasi, berpotensi kalah populer. Di tengah gangguan teknologi yang cepat ini, tampaknya Google takut kehilangan keunggulan teknologinya dan dominasi pasar. (Yetede)
Perang Dagang Kembali Memanas
Perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Terbaru, Beijing melarang perusahaan AS Micron Technology Inc menjual cip memori ke pengelola infrastruktur informasi utama.
Hal ini merupakan langkah balasan terhadap sanksi AS pada China yang mempengaruhi sejumlah perusahaan teknologi Beijing.
Dilansir
Reuters, Senin (22/5), regulator dunia maya China mengatakan bahwa Micron telah gagal dalam tinjauan keamanan jaringannya. Adapun pengelola infrastruktur informasi utama yang dilarang membeli cip Micron mencakup berbagai sektor, termasuk telekomunikasi, transportasi dan keuangan.
"Dari tinjauan, produk-produk Micron memiliki risiko keamanan siber yang serius, menimbulkan risiko keamanan besar bagi rantai pasokan infrastruktur informasi utama dan memengaruhi keamanan nasional," kata
Cyberspace Administration of China
(CAC).
Analis di Jefferies melihat dampak larangan itu pada Micron tidak signifikan karena sebagian besar pelanggan utamanya di China merupakan pemain elektronik konsumen. Namun, analis juga memperingatkan bahwa beberapa perusahaan bisa menghentikan rantai pasokan produk Micron mereka karena risiko politik.
Juru bicara Departemen Perdagangan AS menentang keras keputusan China tersebut. "Ini sebenarnya tidak memiliki dasar," ujarnya.
Reorganisasi Rantai Pasok Global
Fenomena friend-shoring, reorganisasi rantai pasok global berdasarkan aliansi politik tengah berlangsung. Reorganisasi ini mengubah wajah peta perdagangan global dan berpotensi membalikkan semua kemajuan dalam integrasi ekonomi dunia beberapa dekade terakhir. Istilah friend-shoring diperkenalkan Menkeu AS Janet Yellen pada April 2022, mengacu pada reorganisasi perdagangan dengan mengutamakan perdagangan dengan mitra-mitra dagang yang satu haluan politik. Yellen mengungkapkan, friend-shoring menjadi pendekatan baru pemerintahan Biden menghadapi ekonomi dunia yang more contentious. Hal itu juga ditujukan untuk mencegah negara-negara yang memiliki posisi kuat dalam penguasaan bahan mentah, teknologi, atau produk penting lain untuk mengacaukan ekonomi AS atau menggunakan pengaruh geopolitik mereka untuk hal tak diinginkan.
Perang dagang AS-China, yang diikuti disrupsi rantai pasok global akibat pandemi Covid-19, dan kian diperburuk perang Rusia-Ukraina yang membuat Barat menjatuhkan sanksi dan kontrol ekspor terhadap Rusia, adalah faktor pemicu terjadinya pengalihan perdagangan dan rantai pasok global ini. China dan Rusia yang berada di bawah tekanan Barat berusaha membangun aliansi sendiri untuk menyaingi Barat. Meski mungkin menguntungkan Indonesia sebagai negara yang netral di tengah friksi geopolitik global, fenomena regionalisasi berdasarkan aliansi politik bisa merugikan perekonomian dunia secara keseluruhan. Sebuah kajian mengalkulasi, kerugian ekonomi akibat friend-shoring yang harus ditanggung sejumlah negara mencapai 4,7 % PDB. (Yoga)
Arus Alih Mitra Dagang Meningkat
Dunia tengah bergerak dalam arus friend-shoring atau alih mitra perdagangan antarnegara atas pertimbangan kesamaan kepentingan politik dan ekonomi. Hal itu berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengganggu rantai pasok. Perlambatan ekonomi dunia bakal berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Namun, Indonesia yang berada dalam posisi netral berpeluang memetik keuntungan atas situasi itu. Lembaga Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) melihat, sejak akhir 2022, arus friend-shoring perdagangan semakin menguat. Perdagangan sesuai kedekatan pertemanan atau aliansi itu ditandai reorientasi perdagangan bilateral yang memprioritaskan negara-negara dengan kesamaan pandangan politik.
Diversifikasi mitra dagang telah terjadi dan terkonsentrasi pada aliansi dan blok tertentu. Perang Rusia-Ukraina, perang dagang AS-China, dan konsekuensi keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) berperan penting membentuk tren friend-shoring. Hal itu mengemuka dalam Global Trade Update yang dirilis UNCTAD pada 21 Juni 2023. Laporan ini juga menunjukkan pergeseran ketergantungan perdagangan negara pada periode triwulan II-2022 hingga triwulan I-2023 dibandingkan triwulan II-2021 hingga triwulan I-2022. Ketergantungan perdagangan China dengan AS, turun 0,9 %. Ketergantungan AS terhadap China turun 2 %. Begitu pula ketergantungan perdagangan Rusia dengan UE, turun 5,6 %. Di sisi lain, ketergantungan Rusia dengan China dan Ukraina terhadap UE masing-masing meningkat 3,7 % dan 20,5 %. (Yoga)
Batas Kritis 96 Jam Sudah Lewat
ST JOHN,ID-Pencarian kapal selam wisata yang hilang dalam sebuah ekspedisi untuk melihat bangkai kapal Titanic melewati batas kritis 96 jam pada Kamis (22/06/2023) pagi waktu setempat, ketika suplai udara didalam kapal untuk bernafas bisa saja telah habis. Hal ini menjadi momen yang suram dalam upaya intens untuk menyelamatkan lima orang di dalamnya. Persedian oksigen di kapal selam Titan yang hilang didekat bangkai kapal Titanic diprediksi telah menipis. Dan tersisa hanya untuk beberapa jam lagi pada Kamis waktu setempat. Sementara itu, proses pencarian kapal selam yang hilang kontak beserta lima orang di dalamnya dilakukan secara besar-besaran oleh tim SAR multinasional. Yang telah melewati hari kelima di wilayah seluas ribuan kilometer persegi di Atlantik Utara yang terpencil. "Sebuah kendaraan yang dioperasikan dalam jarak jauh oleh kapal Kanada telah mencapai dasar laut dan mulai mencari keberadaan kapal selam Titan di sana," demikian pernyataan Penjaga Pantai AS pada Kamis di Twitter, yang dilansir Reuters. Tim penyelamat dari berbagai negara dan kerabat, serta teman-teman dari lima penumpang Titan sempat memilki harapan besar ketika Penjaga Pantai AS mengatakan pada Rabu (21/06/2023), bahwa pesawat pencari Kanada telah merekam suara-suara di bawah air dengan menggunakan pelampung sonar pada Selasa (20/06/2023). (Yetede)
Kremlin Siapkan Sarmat, Barat ”Cairkan” Aset Rusia
Rusia siap mengerahkan rudal balistik antar benua Sarmat generasi baru yang mampu membawa 10 atau lebih hulu ledak nuklir. Mobilisasinya dilakukan berkaitan dengan perang di Ukraina. ”Peluncur Sarmat pertama akan menjalani tugas tempur dalam waktu dekat,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidatonya untuk lulusan baru akademi militer Rusia di Aula St George Kremlin, Moskwa, Rabu (21/6). Rudal RS-28 Sarmat berbahan bakar cair sepanjang 35 meter itu dirancang menjangkau sasaran hingga 18.000 kilometer. Rusia mengeklaim, AS dan Eropa bisa dijangkau dengan mudah.
Negara-negara Barat menggelar Konferensi Internasional Pemulihan Ukraina 2023 di London, Inggris, 21-22 Juni, untuk kedua kalinya sejak Rusia menginvasi Ukraina, Februari 2022. Dalam pertemuan di Lugano, Swiss, Juli 2022, negara-negara Barat berkomitmen mendukung Ukraina memulihkan diri pascaperang. Mereka menyadari tahap pemulihan ini akan berbiaya tinggi dan memakan waktu puluhan tahun. Bank Dunia awalnya membuat perkiraan perlunya anggaran darurat senilai 14 miliar USD untuk memperbaiki segala kerusakan akibat invasi Rusia ke Ukraina. Namun, studi terbaru Bank Dunia, PBB, Uni Eropa (UE), dan Pemerintah Ukraina menyebutkan, pemulihan ekonomi dan perbaikan segala kerusakan akan menelan biaya sedikitnya 441 miliar USD.
Negara-negara Barat sepakat membuat Rusia menanggung segala kerusakan di Ukraina. Sejak akhir 2022 UE bahkan akan mewujudkan usulan menggunakan aset-aset Rusia yang sudah disita untuk membiayai rekonstruksi Ukraina. Skemanya, aset-aset Rusia tersebut diinvestasikan. Hasilnya diberikan kepada Ukraina. Menurut UE, ada 215,5 miliar USD dan 20 miliar euro aset terpisah yang dimiliki bank sentral Rusia dan individu swasta Rusia yang dibekukan otoritas Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina sebagai sanksi sepihak kepada Rusia. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Industri Penerbangan Berpotensi Cerah
27 Jan 2020 -
Migrasi Media
27 Jan 2020 -
Limbah Medis Bikin Resah
27 Jan 2020 -
Ampas Pahit Pasar Susu
27 Jan 2020









