Bursa
( 805 )Penyelenggara Bursa Karbon Dinanti
Pembahasan bursa karbon masih terus berjalan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih meracik aturan terkait bursa karbon yang ditargetkan mulai berjalan pada September 2023.
Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi mengatakan, saat ini belum ada pihak yang ditunjuk sebagai penyelenggara bursa karbon karena masih menunggu aturan terkait. Tapi, OJK membuka bagi para perusahaan untuk mendaftarkan diri menjadi penyelenggara bursa karbon.
Syaratnya, harus merupakan perseroan terbatas yang memiliki izin usaha sebagai penyelenggara bursa karbon dari OJK. Selain itu, penyelenggara bursa karbon harus berkedudukan hukum di Indonesia. Lalu, memiliki modal disetor paling sedikit Rp 100 miliar.
Penyelenggara bursa karbon ini akan memfasilitasi perdagangan karbon dalam negeri dan atau luar negeri, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Unit karbon yang diperdagangan meliputi, Persetujuan Teknis Batas Atas Emisi Pelaku Usaha (PTBAE-PU), Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) dan unit karbon lain yang ditetapkan oleh menteri terkait.
"Untuk bursa karbon kami tunda karena waktunya sudah tidak memungkinan. Namun OJK sudah meminta untuk sesegera mungkin dibahas lagi," ujar Anggota Komisi XI Mukhamad Misbakhun
Kontribusi Telkomsel Bakal Lebih Tebal
Progres penggabungan IndiHome ke tubuh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) memasuki babak final. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan Telkomsel resmi melakukan penandatangan akta pemisahan pada Selasa (27/6).
Penggabungan ini menjadi penanda TLKM mulai terjun di layanan Fixed Mobile Convergence(FMC). "Per 1 Juli 2023 secara legal pengelolaan IndiHome akan pindah ke Telkomsel," ujar Direktur Utama TLKM, Ririek Adriansyah , Selasa (27/6).
Direktur Keuangan TLKM, Heri Supriadi mengatakan, kehadiran FMC akan memperkuat posisi Telkomsel sebagai kontributor terbesar di Grup Telkom hingga 80% di tahun ini.
Selain mendorong pendapatan, penggabungan IndiHome ke Telkomsel ini juga dapat membantu TLKM menekan beban biaya. "Selain itu, proses investasi yang dilakukan Grup Telkom bisa lebih terintegrasi dan efisien," ujar Heri.
Sinergi FMC ini diperkirakan bisa meningkatkan EBITDA sebesar Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun per tahun mulai dari 2027. TLKM juga dapat menghemat belanja modal sekitar Rp 300 miliarRp 400 miliar.
Equity Research Analyst
Ciptadana Sekuritas Asia Gani mencermati penggabungan FMC merupakan jalan bagi TLKM untuk melakukan
cross selling
dan akuisisi pelanggan eksisting Telkomsel ke layanan IndiHome.
SUNTIKAN TENAGA DI LANTAI BURSA
Keputusan Pemerintah untuk membuka kembali keran ekspor produk turunan kelapa sawit menjadi suntikan tenaga yang mendorong laju saham-saham produsen crude palm oil (CPO) di lantai bursa. Ke depan, prospeknya masih dibayangi harga CPO yang bertahan di level tinggi, aturan kewajiban pasok domestik, dan potensi pertumbuhan permintaan pasar luar negeri. Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan ekspor produk minyak sawit akan kembali dibuka mulai Senin (23/5), mayoritas saham emiten-emiten perkebunan mendarat di zona hijau pada perdagangan akhir pekan lalu. Penguatan dipimpin oleh saham PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) yang menguat 8,33%, disusul saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) yang naik 7,14%, dan saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) tumbuh 5,94% pada Jumat (20/5). Tak hanya kinerja harian yang menghijau, mayoritas saham di sektor ini juga membukukan return positif secara year-to-date (YtD). Saham PT Sumber Tani Agung Resources Tbk. (STAA) menjadi top gainers dengan penguatan 71,66% YtD ke level Rp1.030. Selain STAA, lonjakan harga juga dialami oleh saham PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) dan AALI yang masing-masing tumbuh 47% dan 36,05% sepanjang tahun berjalan 2022. Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny berpendapat larangan ekspor CPO sudah diprediksi akan berlangsung singkat sekitar 1 bulan. Langkah itu merupakan upaya Pemerintah memastikan pasokan bahan baku minyak goreng dan menurunkan harga minyak goreng curah menuju Rp14.000 per liter. Di sektor perkebunan kelapa sawit, analis Henan Putihrai Sekuritas Robertus Hardy dan Alroy Soeparto menyoroti tiga emiten, yakni STAA, DSNG, dan PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG). Menurut Robertus dan Alroy, prospek STAA didorong oleh kenaikan produksi dan yield sawit. Selain itu, STAA juga sedang merampungkan refinery terintegrasi, tangki penyimpanan, dan pelabuhan di Lubuk Gaung. “Kami juga menyukai STAA karena memiliki EBITDA per total area tertanam yang superior sebesar Rp39,1 juta. Posisi itu lebih tinggi dari AALI Rp15 juta dan LSIP Rp14,2 juta,” paparnya dalam riset.
Banyak Saham Berisiko Amblas ke Harga Rp 1
Sejumlah saham yang lama tertidur di level gocap atau Rp 50 mulai bergerak setelah hadirnya papan pemantauan khusus. Namun, usai dua pekan diluncurkan, saham-saham ini cenderung bergerak turun.
Investor tampak melakukan aksi jual di saham-saham ini. Setidaknya, ada 12 saham yang harganya kini sudah berada di bawah gocap.
Saham-saham itu mendapat kriteria 1, atau harga rata-rata saham selama 6 bulan terakhir di pasar reguler dan/atau pasar reguler
periodic call auction
kurang dari Rp 51. Seluruh saham tersebut juga masuk dalam kriteria 7. Artinya, nilai transaksi rata-rata harian saham kurang dari Rp 5 juta dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10.000 saham selama 6 bulan terakhir.
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, dilihat dari pergerakan harganya, saham-saham ini memang terus menyentuh
auto reject
bawah (ARB) dari posisi Rp 50. Investor yang memiliki saham-saham ini punya risiko likuiditas pasar di tengah permintaan jual yang tinggi. Alhasil, ada potensi harga saham-saham ini menuju ke Rp 1 per saham.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan harga saham ini disebabkan sentimen negatif yang menyelimuti fundamental perusahaan. Walhasil, memang tak mudah untuk membangkitkan harga saham-saham ini.
Pengamat Pasar Modal dan
Founder
WH Project William Hartanto mengatakan, ketika ada saham yang turun ke harga Rp 1 akan ada banyak spekulan yang mencoba untuk beli. "Ini karena persentase kenaikan setelah harga Rp 1 tinggi," ujar William
Indeks52 untuk Investor Pemula
Tempo.co dan IDNFinancials.com meluncurkan indeks saham berisi 52 emiten dengan kinerja keuangan paling mumpuni di Bursa Efek Indonesia (BEI). Daftar perusahaan bernama Indeks Tempo-IDNFinancials52—atau disingkat Indeks52—ini bisa menjadi acuan bagi investor muda yang mulai terjun di pasar modal. Direktur Utama Tempo Media Group, Arief Zulkifli, menuturkan pembentukan Indeks52 terinspirasi oleh kemunculan pemain-pemain baru di bursa. Merujuk pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia, investor di pasar modal hingga Mei 2023 mencapai 11,06 juta dengan mayoritas atau 57,81 persen di antaranya berusia di bawah 30 tahun. Total aset investor muda ini sebesar Rp 49,22 triliun. Menurut Arief, tren tersebut merupakan fenomena menarik. "Ini membuat kita semua yakin bahwa transaksi di bursa dipenuhi khalayak yang punya kesadaran baru, yaitu tidak sekadar menabung, tapi juga berinvestasi," tuturnya saat peluncuran Indeks52 di Fairmont Hotel, Jakarta, kemarin.
Dengan indeks ini, dia berharap potensi investasi di pasar modal yang kian menggiurkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para investor. Sebagai catatan, kapitalisasi pasar di BEI saat ini mencapai kisaran Rp 9.500 triliun. Hingga 20 Juni 2023, total penghimpunan dana dari bursa sudah menyentuh angka Rp 107,89 triliun. Chief Partnership Officer Tempo Digital, Tomi Aryanto, menyatakan Indeks52 bisa menjadi rujukan lantaran disusun berdasarkan sejumlah kriteria, di antaranya kapitalisasi pasar, frekuensi, dan volume saham yang diperdagangkan per hari. Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah besaran free float serta jumlah shareholder saham tersebut. "Selain itu, indeks hanya mencakup emiten yang sudah listing maksimal pada 2018," ujarnya.
Pesta Laba, Emiten Konsumer Sebar Dividen
Menjelang tutup semester pertama tahun 2023, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih getol menyebar dividen dari keuntungan kinerjanya. Tak terkecuali emiten di sektor barang konsumsi.
Salah satunya PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Emiten grup Salim ini akan membagikan dividen tunai dengan total nilai Rp 2,25 triliun dari laba bersih tahun buku 2022 sebesar Rp 6,35 triliun. Keputusan itu ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar, Jumat (23/6).
Jika dihitung, dividen tunai INDF tahun buku 2022 mencerminkan besaran
dividend payout ratio
sebesar 35,49%. Berdasarkan jumlah saham beredar sebanyak 8,78 miliar,
dividend per share
INDF mencapai Rp 257 per saham. Nilai ini lebih rendah dibanding dividen INDF tiga tahun terakhir, yakni Rp 278 per saham.
Tak mau kalah dengan sang induk, anak usaha INDF, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga siap menebar dividen. Emiten ini akan membagikan dividen tunai Rp 2,19 triliun dari laba bersih tahun 2022 sebesar Rp 4,58 triliun.
Selain membagikan dividen, laba bersih ICBP tahun 2022 sebesar Rp 5 miliar dialokasikan sabagai dana cadangan. Sisanya menjadi laba ditahan. Laba bersih ICBP tahun 2022 turun 28,31% dibandingkan 2021 senilai Rp 6,39 triliun.
Di luar emiten grup Salim, emiten barang konsumsi yang juga siap bagi-bagi dividen adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) itu akan membagikan dividen final sebesar Rp 71 per saham atau senilai Rp 2,7 triliun dari laba tahun 2022.
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Ira Noviarti, menuturkan, RUPST menyepakati penggunaan laba bersih tahun buku 2022. "Dividen final sebesar Rp 71 per saham. Total dividen untuk seluruh tahun buku 2022 mencapai Rp 140 per saham," beber Ira, dalam paparan publik, Kamis (22/6).
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menilai, emiten barang konsumsi terbilang rajin membagikan dividen. Wajar, jika aksi korporasi ini jadi sentimen positif laju harga saham emiten.
Efek Pemilu Mulai Goyang Pergerakan Bursa
Menjelang akhir semester pertama 2023, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak bak roll coaster. Sempat melemah 0,29% pada penutupan perdagangan Rabu (14/6), kemarin (15/6) IHSG kembali menguat 0,21% ke level 6.713,79.
Meski begitu, jika diakumulasi sejak awal tahun berjalan ini, IHSG masih terkoreksi 2%. Sejumlah indikator ekonomi domestik yang mulai menunjukkan tren positif, belum mampu mendorong IHSG bisa bergerak lebih lincah.
Ambil contoh risiko investasi Indonesia yang mulai melandai. Hal ini bisa dilihat dari premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun turun ke sebesar 81,73 basis poin (bps) per 8 Juni 2023 dari 83,38 bps pada 2 Juni 2023.
Rizki Jauhari,
Chartered Financial Analyst Head of Research & Fund Manager
Syailendra Capital, menilai, risiko berinvestasi di Indonesia seharusnya menurun. "Ini terefleksi dari data-data makro yang relatif stabil dibandingkan negara-negara peers," ungkap Rizki, Kamis (15/6).
Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo menambahkan, tahun politik turut jadi pertimbangan bagi investor. Suhu politik yang mulai memanas menjelang Pemilu dan Pilpres 2024, membuat investor memilih wait and see. Apalagi, secara historis, jelang Pemilu bergulir, laju IHSG memang melandai. Menurut Sutopo, ada kekhawatiran investor di tahun politik ini akan menggeser landscape investasi di Indonesia. "Pergantian kepemimpinan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan investor," ujar Sutopo.
Catatan lain, neraca perdagangan menyusut tajam, Badan Pusat Statistik mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2023 surplus US$ 440 juta. Angka ini anjlok dari surplus April sebesar US$ 3,94 miliar atau US$ 2,9 miliar pada Mei 2022. Surplus neraca dagang Mei 2023 juga terendah sejak Mei 2020.
Manajer Investasi Didorong Terbitkan ”Exchange Traded Fund”
Manajer investasi belum banyak menerbitkan Exchange Traded Fund (ETF). Padahal, diversifikasi produk diperlukan oleh para investor agar dapat memiliki banyak pilihan investasi. ”Dari 49 produk ETF, baru ada 22 manajer investasi yang menerbitkan dari 95 manajer investasi yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan,” kata Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik di Gedung BEI Jakarta, Kamis (15/6/2023). (Yoga)
Melindungi Investor di Lantai Bursa
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan papan pemantauan khusus di lantai bursa mulai kemarin. Tujuan dari kebijakan tersebut untuk memberikan perlindungan investor, baik ritel ataupun institusi, serta menambah likuiditas perdagangan. Papan pemantauan khusus merupakan pengembangan dari daftar efek pemantauan khusus yang diimplementasikan 19 Juli 2021 dengan mengacu Peraturan No. II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus. Sejalan dengan itu, BEI memberlakukan Peraturan Nomor I-X tentang Penempatan Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas pada Papan Pemantauan Khusus pada 9 Juni 2023 dan Peraturan Nomor II-X tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas pada Papan Pemantauan Khusus pada 12 Juni 2023. Beberapa kriteria emiten yang masuk pada papan pemantauan khusus, yaitu harga rata-rata saham selama 6 bulan terakhir di pasar reguler atau periodic call auction kurang dari Rp51. Selain itu, laporan keuangan audit terakhir emiten mendapatkan opini disclaimer. Emiten tidak membukukan pendapatan atau tidak ada perubahan pada laporan keuangan audit atau interim terakhir, dibandingkan dengan laporan keuangan yang disampaikan sebelumnya. Selain itu, perusahaan yang dalam kondisi dimohonkan PKPU, pailit, atau pembatalan perdamaian masuk dalam pemantauan khusus. Total ada 11 kriteria bagi emiten yang masuk dalam daftar khusus. Emiten yang berasal dari papan pengembangan menjadi yang paling banyak menghuni papan pemantauan khusus, yakni mencapai145 efek. Emiten kategori ini memiliki kriteria harga saham bertengger di bawah Rp51 dalam 6 bulan terakhir.
Kontraktor Swasta Masih Berjaya
Di tengah sentimen negatif akibat beratnya beban pemerintah yang membayangi emiten konstruksi pelat merah, emiten saham konstruksi swasta memiliki prospek yang lebih baik. Saat ini kepercayaan investor tengah menurun lantaran kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya dibayangi isu utang dan likuiditas.
Analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei mengatakan, sejumlah emiten saham konstruksi swasta masih mencetak pertumbuhan kinerja. Meskipun, tak semua kontraktor swasta tersebut berhasil mengantongi kenaikan laba.
Salah satu kontraktor swasta yang cukup unggul ketimbang kompetitornya adalah PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). "NRCA masih mampu menghasilkan laba bersih positif sepanjang tahun 2022," ujar Jono kepada KONTAN, kemarin.
Sedangkan PT Acset Indonusa Tbk (ACST) mencetak pertumbuhan pendapatan sebesar 24,21% menjadi Rp 360,35 miliar pada kuartal I 2023. Sayang, ACST masih rugi Rp 29,86 miliar.
Sementara itu, PT Total Bangun Persada (TOTL) masih optimistis bisa mengantongi pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar Rp 2,3 triliun dan Rp 95 miliar pada tahun 2023.
Jika dibandingkan BUMN Karya, kinerja kontraktor swasta masih lebih baik. Sebab, kata Jono, perusahaan konstruksi swasta lebih biasanya lebih memperhitungkan margin dan risiko.
Analis Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora, mengatakan, pembangunan Ibu Kota Nusantara yang sudah berjalan bisa menjadi sentimen positif untuk emiten konstruksi swasta. Sebab, hal ini bisa mendorong perolehan kontrak para kontraktor swasta, meskipun tak akan sebesar BUMN Karya.
Pilihan Editor
-
Ekspor Perikanan Ditarget Naik 15,31 persen
24 Mar 2021 -
Kirim 20 Ribu Liter Reduktan ke Malaysia
19 Mar 2021 -
RI akan Produksi Pupuk di Nigeria
19 Mar 2021 -
Pemerintah Teken Kontrak Jargas Rp 604,92 Milyar
18 Mar 2021









