Bursa
( 805 )Merdeka Battery Incar Rp 9,6 Triliun dari Bursa
PT Merdeka Battery Materials Tbk akan menawarkan sebanyak 11 miliar saham baru kepada publik (IPO). Jumlah ini setara dengan 10,24 % dari total saham. Harga saham yang ditawarkan Rp 780-Rp 795 per saham. Dengan demikian, dana yang dapat dihimpun dari publik sebesar Rp 9,62 triliun. Hasil dari pelepasan saham ini sebagian akan digunakan untuk membayar utang bank dan utang kepada induk usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk. ”Melalui IPO ini Merdeka Battery akan memiliki dukungan lebih kuat untuk mengeksekusi rencana strategis ke depan,” kata Presdir Merdeka Battery Devin Ridwan, di Jakarta, Kamis (30/3). (Yoga)
Sinyal Time to Buy Mulai Menyala di Bursa Saham
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tersendat. IHSG kembali terperosok di awal pekan ini, Senin (27/3).
IHSG merosot 0,79% ke level 6.708,93, mengakumulasi pelemahan 2,07% secara
year to date. Posisi ini membawa valuasi IHSG semakin murah dibandingkan bursa saham lain di kawasan Asia, serta menyalakan sinyal
time to buy
untuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Equity Research Analyst
Kiwoom Sekuritas Indonesia Rizky Khaerunnisa mengatakan, valuasi IHSG masih tergolong murah jika dibandingkan rata-rata bursa saham Asia. Hitungan dia, PER IHSG saat ini sebesar 14,34 kali.
Secara eksternal, belakangan ini pasar saham juga terpapar oleh kekhawatiran makro ekonomi global dan sentimen suku bunga tinggi. "Investor juga masih khawatir terhadap krisis perbankan," kata Rizky, Senin (27/3).
Head of Research
Syailendra Capital Rizki Jauhari menyatakan, ketidakpastian yang ada di pasar sebagian telah terefleksi ke dalam volatilitas IHSG. Hitungan dia, rata-rata PER IHSG saat ini ada di kisaran 13 kali. Posisi ini berada di bawah rata-rata PER IHSG sejak tahun 2010, yaitu di kisaran 16 hingga 17 kali.
Rizki menerangkan, pergerakan naik-turun valuasi akan turut ditentukan oleh ekspektasi investor pada laju pertumbuhan laba emiten ke depannya. Menurut hitungan dia, saat ini ada penurunan ekspektasi terhadap laju pertumbuhan laba dari 30%-35% pada tahun 2022 menjadi hanya sebesar 5% di 2023.
Gelar IPO, Menn Teknologi Bidik Dana Rp 34,4 Miliar
Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal kedatangan emiten baru. PT Menn Teknologi Indonesia bersiap menggelar penawaran umum perdana saham atau
initial public offering
(IPO).
Menn Teknologi merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi digital penyedia sistem informasi berbasis internet of things (IoT) untuk pengembangan smart transportasi dan logistik.
Mengutip prospektus perusahaan di laman e-IPO, Senin (27/3), calon emiten yang akan menggunakan kode saham MENN ini akan melepas sebanyaknya 430,20 juta saham biasa, dengan nominal Rp 10 setiap saham. Jumlah saham ini mewakili sebanyaknya 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Kemarin, Menn Teknologi mulai menggelar penawaran awal (bookbuilding). Dalam masa
bookbuilding
yang akan berakhir pada 31 Maret nanti, Menn Teknologi membanderol harga IPO antara Rp 75-Rp 80 per saham. Dus, dari IPO, MENN berpotensi meraup dana maksimal Rp 34,42 miliar.
Kinerja Emiten Tekstil Membaik
Di tengah ketidakpastian global, dua emiten tekstil di BEI masih membukukan kinerja bagus sepanjang tahun 2022. PT Trisula Textile Industries Tbk dan PT Trisula International Tbk mencatatkan kenaikan penjualan. Sementara emiten lainnya, PT Sri Rejeki Isman Tbk, tengah berbenah agar terlepas dari utang. PT Trisula Textile Industries membukukan penjualan Rp 461,85 miliar sepanjang tahun 2022. Capaian tersebut naik 8 % dari penjualan tahun 2021. ”Peningkatan penjualan pada tahun 2022 ini diikuti dengan peningkatan laba bersih sebesar 9 % dari Rp 2,45 miliar menjadi Rp 2,66 miliar pada tahun 2022,” kata Dirut Trisula Textile Karsono Wongso Djaja, Jumat (24/3).
Penjualan Trisula Textile banyak diserap oleh pasar domestik. Nilainya mencapai Rp 443,89 miliar atau naik 9 % dari tahun 2021. Penjualan di pasar domestik ini menempati 96 % total penjualan Trisula Textile. Adapun penjualan ke luar negeri hanya Rp 17,96 miliar atau setara 4 % total penjualan. Trisula Textile juga menambah toko ritelnya untuk memperkuat platform digital. Sementara perusahaan tekstil lainnya, PT Trisula International Tbk, menyatakan optimistis dengan kebutuhan garmen yang masih tinggi. Tingginya permintaan ini terjadi baik di luar maupun di dalam negeri, kata Dirut Trisula International Widjaja Djohan dalam keterangannya. (Yoga)
Strategi Emiten Teknologi Kejar Profitabilitas
Emiten teknologi dan
e-commerce
masih tertekan kenaikan suku bunga. Karena itu, emiten sektor ini semakin fokus pada efisiensi bisnis dan memperkuat kas untuk mengejar profitabilitas.
PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli misalnya, berencana memperkokoh strategi
omnichannel
untuk mengejar profitabilitas. Sehingga, emiten berkode BELI ini dapat memangkas beban yang dikeluarkan.
Vice President Public Relations
BELI Yolanda Nainggolan mengatakan, strategi
omnichannel
Blibli dengan kehadiran toko fisik, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atas produk ekosistem Blibli.
Yolanda mengatakan, sinergi dari ekosistem BELI, yakni Tiket.com, Blibli dan Ranch Market, juga dapat memenuhi hampir 90% kebutuhan konsumen. Ini dapat memangkas biaya BELI dalam melakukan akuisisi pelanggan. "Strategi ini mampu menciptakan retensi pelanggan yang lebih tinggi dan pada akhirnya mengurangi biaya akuisisi pelanggan," jelas Yolanda.
Strategi lain yang dilakukan BELI untuk mengejar profitabilitas adalah memperkuat infrastruktur, inovasi layanan serta model bisnis yang terus menyesuaikan perubahan. Sebagai gambaran, entitas Grup Djarum ini mencatatkan
total processing value
(TPV) sebesar Rp 40,6 triliun hingga akhir kuartal III-2022. Capaian tersebut lebih tinggi 105% dibandingkan Rp 19,8 triliun setahun sebelumnya.
Direktur Keuangan Grup GOTO Jacky Lo meyakini GOTO dapat mencapai arus kas operasional positif. Per akhir kuartal IV-2022, posisi kas GOTO mencapai Rp 29 triliun. GOTO juga memiliki fasilitas kredit sebesar Rp 4,65 triliun, dan baru digunakan Rp 1,5 triliun.
33 Perusahaan Antre Pencatatan di BEI
Pada 2023, hingga 17 Maret, terdapat 27 perusahaan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah 33 perusahaan masuk daftar antrean pencatatan. Terbanyak di antaranya, delapan perusahaan, bergerak di sektor konsumer siklikal. Dikatakan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Senin (20/3/2023), ada pula perusahaan teknologi, transportasi, finansial, dan properti. (Yoga)
Transaksi Lebih Sepi Saat Ramadan
Bursa saham Tanah Air bakal lebih sepi pada bulan Ramadan nanti. Secara historis, rata-rata nilai dan volume transaksi selama bulan puasa cenderung menurun karena adanya kebutuhan dana investor untuk persiapan Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, investor kini juga bakal berhati-hati karena ada sejumlah sentimen negatif dari bursa global.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pelaku pasar masih akan mencermati ancaman krisis likuditas perbankan di Amerika Serikat (AS) dan menunggu arah kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan juga menilai, pelaku pasar kemungkinan masih akan
wait and see
dalam sebulan ke depan, terlebih pada pekan pertama bulan Mei karena menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2023.
Valdy memperkirakan, dalam sebulan ke depan, IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.500-6.585. Sementara
resistance
ada di level 6.740-6.800.
Sedangkan menurut Herditya, saat ini level
support
IHSG yang harus diperhatikan adalah 6.542 dan 6.509.
Keputusan The Fed Jadi Sentimen IHSG
Pasar saham dalam negeri terus terombang-ambing sentimen eksternal. Sejumlah analis meramal, fluktuasi pasar saham masih akan berlanjut pada pekan ini.
Volatilitas pasar saham ini merespons kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Pada Selasa dan Rabu pekan ini, The Fed akan menggelar rapat
Federal Open Market Committe
(FOMC).
Financial Expert
Ajaib Sekuritas Asia Chisty Maryani memproyeksi, The Fed akan mengerek bunga acuan 25 basis points (bps) ke 4,75%-5%.
CEO Edvisor.id Praska Putrantyo sepakat, The Fed akan mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 bps. Sejumlah kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam bakal menjadi pertimbangan The Fed.
Investment Specialist
Syailendra Capital Gelbi Amoretta mengestimasi, The Fed akan mengatrol bunga acuannya 25 bps ke level 5% pada 2023.Gelbi menilai, kebijakan The Fed akan jadi katalis yang diperhatikan pelaku pasar.
Siap-Siap Kinerja 2023 Merayap
Sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis kinerja keuangan tahun 2022. Dari sekitar 823 emiten yang tercatat di BEI, hingga pekan lalu (17/3), sekitar 144 emiten sudah merilis laporan kinerja keuangan tahun 2022.
Dari jumlah itu, lima emiten membukukan nilai pendapatan di atas Rp 100 triliun. Salah satunya PT Astra International Tbk (ASII) yang meraup pendapatan sebesar Rp 301,38 triliun, naik 29,1% secara tahunan.
Di bawah ASII, ada dua emiten bank yang memiliki pendapatan di atas Rp 100 triliun. Yakni, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Tahun lalu, BBRI berhasil meraup pendapatan Rp 151,87 triliun, naik 5,82% secara tahunan. Sedangkan BMRI mencetak pendapatan Rp 112,38 triliun atau melonjak 14,97% secara tahunan.
Head of Business Development
FAC Sekuritas Indonesia Kenji Putera Tjahaja menyebut, kinerja keuangan emiten-emiten tersebut masih akan ciamik tahun ini, terutama emiten perbankan. Menurut Kenji, sentimen negatif kolapsnya tiga bank di Amerika Serikat (AS) hanya bersifat sementara.
Cuma, kinerja ASII tahun ini diproyeksi tidak akan sedahsyat tahun lalu. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Yanuar Hardy memproyeksi pertumbuhan penjualan ASII tahun ini hanya 3%-4% secara tahunan.
BEI dan Anggota Bursa Dorong Penetrasi Waran Terstruktur
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus mendorong penetrasi pasar waran terstruktur. Wisnu Aditya,
Senior VP Business Innovation
Mirae Asset Sekuritas, mengatakan, ada kemungkinan BEI akan mengembangkan indeks waran terstruktur.
"Coming soon, kemungkinan ke depannya akan ada indeks untuk
structured warrant," ujarnya, Kamis (9/3).
BEI akan terus melakukan sosialisasi kepada anggota bursa (AB) non-penerbit dan investor untuk meningkatkan aktivitas perdagangan waran terstruktur. Seperti yang diketahui, BEI baru punya dua penerbit waran terstruktur, yakni RHB Sekuritas dan Maybank Sekuritas. Saat ini masih belum ada lagi AB yang bersiap menjadi penerbit waran tersetruktur.
BEI sendiri menargetkan akan ada satu hingga dua penerbit baru dengan tambahan 15 seri baru waran terstruktur sepanjang tahun ini. Per Minggu (12/3), ada 25 seri waran terstruktur.
Pilihan Editor
-
Transaksi BUMN via PaDi Capai Rp 11,4 Triliun
16 Feb 2021 -
Rasio Utang Luar Negeri RI Nyaris 40% dari PDB
16 Feb 2021 -
Tersangka Baru Kasus Asabri Bertambah Lagi
17 Feb 2021 -
UMKM di Pare-Pare Dapat Bantuan Rp 4 Miliar
15 Feb 2021 -
Sejak Pandemi Fokus Pasar Lokal
15 Feb 2021









