Bursa
( 805 )Market Cap MBM Rp 95 Triliun Tertinggi di Sektor Nikel
JAKARTA, ID – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) atau MBM resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/4/2023), setelah sukses menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan harga pelaksanaan Rp 795 per saham. Analis menilai, valuasi saham MBMA premium dan melampaui rata-rata industri. Dalam debutnya, harga saham MBMA ditutup pada level Rp 885 atau naik 11,32%. Market cap perusahaan ini mencapai Rp 95,58 triliun, tertinggi di sektor nikel lantaran melampaui duapemain lama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masing-masing Rp 50,4 triliun dan Rp 65,5 triliun. Jumlah itu juga melewati sang pendatang baru PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel Rp 91 triliun. Berdasarkan riset Samuel Sekuritas, belum lama ini, dengan harga pelaksanaan IPO Rp 795, PER saham MBMA premium, yakni 186,8 kali. Ini dengan asumsi laba bersih per September 2022 sebesar US$ 23 juta disetahunkan. Sementara itu, PER saham ANTM, INCO, dan NCKL mencapai 13,2 kali, 21 kali, dan16,5 kali, merujuk data RTI. “Namun, menurut kami, valuasi tersebut cukup beralasan, mengingat perusahaan ini masih dalam tahap awal dan sebagian besar proyeknya belum mulai beroperasi,” tulis broker itu, dikutip Selasa (25/4/2023). (Yetede)
Fokus Lagi ke Bursa Saham Usai Libur Lebaran
Langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai libur Lebaran mungkin masih akan berat. Jika dilihat beberapa tahun ke belakang, biasanya transaksi di pasar masih cenderung sepi di pekan pertama setelah libur panjang hari raya.
Apalagi, usai libur Lebaran tahun ini, ada sejumlah data dan agenda penting yang bakal membuat investor mengambil sikap hati-hati. Salah satunya adalah agenda pertemuan
Federal Open Market Committee
(FOMC) pada awal Mei mendatang, yang akan memutuskan soal arah suku bunga The Fed.
Sejumlah analis yang dihubungi KONTAN memperkirakan, sentimen rapat FOMC masih akan menahan laju kenaikan IHSG. Pelaku pasar juga masih akan merespons keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 18 April lalu, yang menahan BI 7 day reverse repo rate (BI 7
-day-
RR) di level 5,75%.
Hans Kwee, Direktur Ekuator Swarna Investama, mengatakan, kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan lagi sekitar 25 basis poin. "Jadi, dampaknya ke pasar saham kemungkinan akan membuat cenderung tertekan," ujarnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, aksi korporasi pembagian dividen emiten juga akan menjadi katalis penggerak IHSG. Untuk pekan pendek kali ini, Nafan memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif dalam
minor sideways
di rentang 6.744-6.869.
Menelaah Tawaran 10 Waran Terstruktur Baru dari RHB
PT RHB Sekuritas kembali akan menawarkan produk waran terstruktur. Tak tanggung-tanggung, pada penawaran kedelapan ini, RHB akan merilis 10 waran terstruktur baru.
Dari 10 seri baru tersebut, tiga di antaranya merupakan produk yang sama sekali baru. Sementara tujuh sisanya bisa dibilang muka lama.
Kesepuluh produk baru yang akan RHB tawarkan antara lain ANTMDRCX3 dengan
underlying asset
alias aset dasar saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam, BBRIDRCX3A dengan aset dasar saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) alias Bank BRI, dan BMRIDRCX3A dengan aset dasar saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Kemudian HRUMDRCX3A dengan aset dasar saham PT Harum Energy Tbk (HRUM), INCODRXC3A dengan aset dasar saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO), MDKADRCX3A dengan aset dasar saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan UNVRDRCX3A dengan aset dasar saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Tiga seri baru lainnya adalah CPINDRCX3A dengan aset dasar saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PTBADRCX3A dengan aset dasar saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan UNTRDRCX3A dengan aset dasar saham PT United Tractors Tbk (UNTR).
Penambahan tiga seri waran terstruktur dengan aset dasar yang baru ini tak lepas dari rencana RHB Sekuritas untuk menyediakan produk waran terstruktur dengan aset dasar seluruh penghuni indeks IDX30.
Steinly Atmanagara,
Head, Sales & Marketing Equity Derivative
RHB Sekuritas, mengatakan, RHB Sekuritas ke depan akan menyediakan waran terstruktur pada seluruh emiten penghuni IDX30.
Kesepuluh produk baru waran terstruktur RHB tersebut akan ditawarkan mulai 28 April hingga 4 Mei 2023 mendatang. Penjatahan dan penetapan harga dijadwalkan pada 5 Mei 2023. Distribusi waran pada 8 Mei 2023 sementara pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan digelar pada 9 Mei 2023.
INDEKS ACUAN : Angin Segar Bisnis-27
Perombakan konstituen indeks Bisnis-27 periode Mei—Oktober 2023 diproyeksi memberikan angin segar dan membuka peluang penguatan kinerja dalam jangka panjang. Berdasarkan pengumuman Bursa Efek Indonesia, tujuh saham masuk dan keluar dari indeks Bisnis-27 untuk periode Mei—Oktober 2023. Tujuh saham yang baru masuk yakni PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP). Selanjutnya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), PT Jasa Marga Tbk. (JSMR), PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL). Sementara itu, tujuh saham yang keluar dari indeks Bisnis-27 yaitu emiten berkode saham CPIN, CTRA, ESSA, EXCL, INDF, PTBA, dan TOWR. Di lantai bursa, indeks Bisnis-27 menguat 2,15% sepanjang tahun berjalan 2023. Kinerja itu outperform dibandingkan dengan IHSG yang melemah 0,42% year-to-date.Senior Investment Information Mirae Asset Nafan Aji Gusta mengatakan perombakan tujuh konstituen tersebut akan menopang gerak indeks hasil kerja sama dengan Bisnis Indonesia Group menjadi semakin likuid dan memiliki performa yang positif secara jangka panjang.
Sementara itu, Direktur Investasi Bahana TWC Investment Management Doni Firdaus mengatakan reksa dana berbasis indeks Bisnis-27, Bahana ETF Bisnis-27 cukup diminati oleh investor. Hal ini terlihat dari pertumbuhan AUM yang sangat baik.
Emiten Nikel dan Smelter Sukses IPO Rp 10,55 Triliun
Selama Januari hingga 14 April 2023, perusahaan yang mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 31 emiten dan meraih dana segar Rp 22,69 triliun. Dari jumlah itu, initial public offering (IPO) dua emiten yang bergerak di bidang produksi nikel dan smelter nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk dan PT Hillcon Tbk, masing-masing senilai Rp 10 triliun dan Rp 0,55 triliun. Nilai emisi kedua emiten ini Rp 10,55 triliun atau 46,48% dari total IPO. Hingga akhir April 2023 akan masuk sembilan emiten baru sektor bahan baku, teknologi, perindustrian, barang konsumsi nonprimer, serta transportasi dan logistik dengan target nilai IPO di atas Rp 9,84 triliun. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dari sector bahan baku nikel dijadwalkan listing di BEI pada 18 April 2023.
Harga saham IPO mencapai Rp 795 dan saham ditawarkan 110.000.000 lot, sehingga akan meraih dana Rp 8,74 triliun. Perusahaan menargetkan menjadi salah satu pemain global terdepan yang terintegrasi secara vertikal dalam rantai nilai bahan baku strategis untuk baterai kendaraan listrik. Sedangkan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) merupakan emiten pertambangan dan hilirisasi nikel terintegrasi yang sudah listing di BEI pada 12 April 2023, dengan harga saham IPO Rp 1.250. Pada perdagangan Jumat minggu lalu (14/04) harga saham perusahaan dari Harita Group milik Lim Hariyanto Wijaya Sarwono ini berada di level Rp 1.375 ata u naik 10,0% dibanding harga IPO. Perusahaan sudah memiliki dua smelter dan satu refinary, yang akan ditingkatkan kapasitasnya. (Yetede)
Ada Peluang Menanti Usai Libur Lebaran
Rabu lusa (19/4), libur Lebaran tahun 2023 tiba. Tahun ini, pemerintah menetapkan jadwal libur Lebaran dan cuti bersama Lebaran jatuh pada 19 April hingga 25 April 2023.
Secara historis, masa libur Lebaran bakal mempengaruhi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Paling tidak, hal ini bisa dilihat dari tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai libur Lebaran.
Dalam catatan Kontan, dalam dua tahun terakhir, laju IHSG pasca libur Lebaran merosot. Pada 2022, misalnya. Usai libur Lebaran, laju IHSG pada hari pertama perdagangan bursa ditutup melemah 4,42% atau 319,16 ke 6909,75.
Potensi serupa diproyeksi bakal terjadi usai libur Lebaran tahun ini. Senior Research Analyst Reliance Sekuritas Lukman Hakim menilai, selama libur Lebaran, pelaku pasar akan mewaspadai pergerakan harga komoditas, terutama emas dan minyak yang harganya sedang terapresiasi.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani sepakat. Dia memperkirakan, pergerakan IHSG pasca libur Lebaran tahun ini akan ditopang beberapa sentimen eksternal. Pasalnya, menjelang Lebaran, ada beberapa data ekonomi yang dirilis.
Genjot Kinerja, TPIA Siapkan Ekspansi Baru
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) optimistis bisa memperbaiki kinerja pada tahun ini. Untuk itu, anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini siap menggeber ekspansi bisnis.
Terbaru, TPIA telah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Indonesia Investment Authority (INA) untuk membangun pabrik chlor-alkali. Lewat sinergi ini, TPIA akan mengundang investor internasional untuk berinvestasi di pabrik ini.
Suryandi,
Director of HR & Corporate Affairs
Chandra Asri, menjelaskan, pabrik chlor-alkali direncanakan bakal memproduksi lebih dari 400.000 metrik ton per tahun
caustic soda
dan 500.000 metrik ton per tahun
ethylene dichloride
(EDC).
Setelah itu, pada kuartal pertama atau kedua tahun 2024, pabrik tersebut akan memulai konstruksi. "Jadi, kira-kira perlu tiga tahun. Harapan kami, pada tahun 2026 sudah
on stream," ungkap Suryandi di sela acara buka bersama, Jumat (14/4).
CEO Edvisor.id Praska Putrantyo menilai, pengembangan pabrik chlor-alkali berskala dunia dan sejumlah ekspansi bakal menambah diversifikasi sumber pendapatan TPIA. Dengan begitu, TPIA berpeluang memperbaiki kinerja keuangannya di masa depan. Ini sekaligus untuk mengantisipasi penurunan sumber pendapatan yang dikontribusi dari penjualan ke luar negeri.
Masih Ada THR Rp 37 Triliun dari Bursa
Kalau Anda masih mengincar THR dari bursa, tidak perlu bingung. Masih banyak emiten yang bakal membagikan dividen. Dari emiten yang sudah mengumumkan rencana membagi dividen, berdasarkan hitungan KONTAN, setidaknya akan ada dana Rp 37,04 triliun yang bakal masuk pasar.
Di antara emiten yang sudah mengumumkan detail jadwal pembagian dividen, 11 di antaranya masih bisa diburu dividennya karena belum
cum date. Hari ini, ada dua emiten yang mencapai
cum date, yaitu PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dan PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA).
Nilai dividen kedua emiten ini juga lumayan menggiurkan. ROTI membagi dividen sebesar Rp 106,55 per saham. Bila dihitung menggunakan harga penutupan ROTI kemarin di Rp 1.600,
yield
dividen produsen Sari Roti ini 6,66%.
CEO Edvisor.id Praska Putrantyo menuturkan, emiten dengan
yield
dividen 5% ke atas bisa dipertimbangkan untuk diburu. Ia menilai
yield
dividen JPFA berpotensi mencapai 5%.
IHSG Bisa Tembus Level 7.000 di Q2
Menutup kuartal pertama tahun ini, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali tersungkur di zona merah. Jumat pekan lalu (31/3), IHSG bertengger di 6.805,27, turun 0,66% sejak awal tahun 2023 berjalan.
Head of Research
Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya mencermati, jelang tahun 2023, optimisme pasar sempat melambung. Ini dipicu sejumlah pembukaan ekonomi China pasca pandemi dan sentimen Amerika Serikat (AS).
Di dalam negeri, pencabutan PPKM membuat aktivitas ekonomi dan masyarakat kembali normal. Kondisi ini mengangkat ekspektasi pasar terhadap IHSG untuk kembali ke level psikologis 7.000 pada kuartal pertama.
Kekhawatiran investor bertambah sejak muncul kasus kolaps perbankan di AS dan Eropa. "Ini sempat membuat pasar panik dan menekan IHSG ke 6.550, kian jauh dari level psikologis 7.000," kata Cheril, Minggu (2/4).
Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto, menimpali, secara teknikal peluang IHSG naik ke level 7.000 terbuka. Apalagi sejak 21 Maret pasar kembali bullish. Saat ini tersisa dua
resistance
IHSG yakni di 6.856 dan 6.950, dengan support IHSG di area 6.668.
UNTUNG RUGI NORMALISASI BURSA
Bursa Efek Indonesia mengambil jalan tengah dalam memutuskan untuk mengembalikan aktivitas transaksi di pasar saham seperti kondisi sebelum pandemi. Meski mayoritas ketentuan pasar modal bakal kembali normal pada pekan depan, kebijakan auto rejection ditunda normalisasinya. Keputusan ini tentu beralasan. Selama pandemi, BEI mengatur sistem auto rejection asimetris. Untuk hal ini, harga saham diizinkan untuk naik 20%—35% dalam sehari, tetapi hanya boleh turun maksimal 7%. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap gejolak hebat yang terjadi di pasar saham saat awal pandemi 2020. Tujuannya untuk meredam penurunan tajam di pasar saham, yang terbukti cukup berhasil. BEI berhati-hati untuk mengembalikan kebijakan auto rejection ke posisi simetris mengingat kondisi pasar belum sepenuhnya stabil. Efek berantai dari pandemi masih terasa saat ini, terlihat dari gejolak di pasar keuangan global dengan gagalnya sejumlah bank papan atas. “Penyesuaian batasan persentase Auto Rejection Bawah (ARB) dilakukan secara bertahap dengan implementasi yang memperhatikan kondisi pasar ke depan,” ungkap Sekretaris Perusahaan BEI, Yulianto Aji Sadono, Kamis (30/3). penurunan agresivitas transaksi ketika auto rejection kembali simetris. Sebab, investor bakal lebih hati-hati demi menghindari risiko penurunan harga yang lebih tajam. “Investor perlu kembali menyesuaikan profil risiko, khususnya para trader yang memanfaatkan volatilitas pasar untuk menghindari kerugian yang signifikan,” kata Alrich. Dia mengatakan auto rejection asimetris membuat investor merasa lebih tenang dalam melakukan transaksi karena tingkat kerugian maksimal adalah 7%.
Pilihan Editor
-
Bantuan Donatur Diduga Disalahgunakan
18 Feb 2021 -
Cerutu Jatim Kian Diminati Pasar Luar Negeri
17 Feb 2021 -
Ciputra Ekspansi di Puncak Tidar Malang
16 Feb 2021









