;
Tags

Bursa

( 810 )

PELUNCURAN BURSA CPO : HARGA REFERENSI DITARGET TERBENTUK AWAL 2024

HR1 14 Oct 2023 Bisnis Indonesia

Harga referensi minyak sawit atau CPO di Indonesia ditargetkan sudah terbentuk pada kuartal I/2024 menyusul peluncuran bursa CPO kemarin. Dengan harga referensi itu, Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia diharapkan tidak akan bergantung lagi pada pembentukan harga di bursa luar negeri. Setelah diluncurkan pada Jumat (13/10), bursa CPO yang diselenggarakan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (ICDX) itu ditargetkan berjalan penuh atau live mulai 23 Oktober. Artinya, sejak itu, bursa CPO bisa membentuk price discovery atau penentuan harga perdagangan fisik antara penjual dan pembeli. Price discovery selanjutnya diharapkan menjadi harga referensi, baik harga patokan ekspor CPO Indonesia maupun barometer harga dunia. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko mengatakan Indonesia selama ini tidak memiliki harga acuan sendiri meskipun negara ini berkontribusi lebih dari 50% terhadap kebutuhan CPO dunia. Harga patokan ekspor dihitung berdasarkan harga di bursa Rotterdam, Malaysia, dan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesa (ICDX). Selain itu, penentuan harga patokan dalam negeri dianggap belum transparan oleh beberapa pelaku usaha, terutama petani sawit. Sejauh ini, 18 pelaku usaha CPO siap bergabung dan berdagang dalam bursa ini. Mereka meliputi PT Bakrie Sumatera Plantation, PT Budi Nabati Perkasa, PT Eagle High Plantation Tbk., PT Duta Palma Nusantara, PT Graha Inti Mas, PT Sampoerna Agro, PT Salim Ivomas Pratama, PT Sari Dumai Sejati, PT SMART Tbk. Berikutnya, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Energi Unggul Persada, PT Jatim Jaya Perkasa, PT Medcopapua Hijau Selaras, TH Indo Platations, PT Citra Riau Sarana, PT Tebo Indah, PT Henson Inti Persada, dan PT Mitra Austral Sejahtera. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan tidak ada paksaan bagi para pengusaha untuk bergabung ke bursa CPO. ICDX menargetkan 50 anggota bursa pada pengujung tahun ini. Direktur ICDX Yugieandy Tirta Saputra mengatakan, untuk menjadi referensi harga, bursa CPO harus kredibel dengan banyak pembeli dan penjual yang terlibat di dalamnya. Dengan bursa yang ramai, harga yang terbentuk akan dapat dipertanggungjawabkan. Merespons peluncuran bursa CPO, saham emiten sawit ditutup beragam pada perdagangan kemarin. Saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) ditutup sama dengan hari sebelumnya di Rp7.250. PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) ditutup naik 0,5% ke posisi Rp980. Sebaliknya, saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) turun 0,2% menjadi Rp4.310.

BURSA KARBON DI INDONESIA : ENERGI BARU BAGI KORPORASI

HR1 12 Oct 2023 Bisnis Indonesia
Pembiayaan investasi dengan skala besar dan memenuhi komitmen terhadap isu perubahan iklim, kebutuhan pendanaannya dapat dipenuhi melalui hadirnya bursa karbon di Indonesia. Korporasi pun melihat peluang itu sebagai alternatif penggalangan modal, termasuk memenuhi sasaran pengurangan emisi karbon ke depan. “Coba bayangkan, geotermal itu butuh investasi besar, risikonya juga besar, tapi jualannya listrik yang notabene sangat ketat diatur regulasi. Artinya, kalau transaksi karbon kredit di sini berkembang, harga bagus, bisa menghasilkan tambahan penghasilan bagi kami, tentu jadi sangat menarik mempercepat ekspansi,” ujar Presiden Direktur & CEO PT Supreme Energy, Nisriyanto. Supreme Energy merupakan pemain pembangkit swasta, Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP). Perusahaan itu tengah menggarap perluasan beberapa proyek geotermal yang berada di kawasan Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat, serta di kawasan Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat, dan Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatra Selatan. Nisriyanto bercerita, selama ini proyek energi baru terbarukan (EBT), memiliki banyak calon pembeli karbon kredit. Hanya saja, harga yang ditawarkan tidak cocok dengan investasi yang sudah dikeluarkan. Senada, emiten energi dan tambang PT Indika Energy Tbk. (INDY) pun melihat keberadaan bursa karbon sebagai pelecut investasi ke sektor EBT. Ke depan, INDY berencana masuk bisnis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui Empat Mitra Indika Tenaga Surya. Wakil Direktur Utama dan CEO Grup INDY Azis Armand menuturkan hadirnya bursa karbon sebagai sinyal Indonesia menghargai setiap kegiatan penanggulangan iklim dari berbagai pihak, termasuk dari pelaku usaha. Pemain bisnis sektor transportasi seperti PT Blue Bird Tbk juga melihat kehadiran bursa karbon sebagai energi dalam menjalankan bisnis berkelanjutan. Menurut Direktur Utama Blue Bird Adrianto Djokosoetono, munculnya bursa karbon sebagai bentuk dukungan terhadap kualitas lingkungan. Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Arthur Simatupang melihat bursa karbon sebagai cerminan pemerintah telah mengambil jalan yang tepat untuk mendukung transisi energi. Sementara bagi pemain IPP yang telah atau tengah mengembangkan EBT, hadirnya bursa karbon menjadi semacam insentif dan pemberi semangat baru untuk terus memperbesar investasi ke sektor EBT. Sementara itu, Ketua Asosia­si Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Zulfan Hilal melihat bursa karbon akan membawa efek berganda dari sisi semakin masifnya pembangunan pembangkit listrik hydro power. Direktur Investasi CarbonX Dessi Yuliana menjelaskan proyek karbon terdekat yang dikembangkan perusahaan berada di Kalimantan Barat sekitar 20.000 hektare, terbagi 10.000 hektare untuk kegiatan restorasi dan 10.000 hektare untuk kegiatan konservasi.

BREN Rajai Sektor Energi Terbarukan di Bursa Saham

KT3 10 Oct 2023 Kompas

PT Barito Renewables Energy Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten BREN, Senin (9/10). Perusahaan yang memproduksi listrik dari tenaga panas bumi ini mengalami kelebihan penawaran setelah mencetak kapitalisasi terbesar di bursa untuk sektor energi terbarukan saat penawaran saham perdana. Barito Renewables merupakan perusahaan induk energy dari Grup Barito Pacific yang didirikan Prajogo Pangestu, orang terkaya ketujuh di RI versi Forbes. Pada perdagangan  perdana saham BREN pagi ini, harga satuan saham melonjak 25 % ke level Rp 975 per saham dari harga penawaran awal Rp 780 per saham.

Dirut Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan, dalam acara peluncuran saham di BEI, Jakarta, menyampaikan, penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) ini merupakan komitmen mereka untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan tranisi energi yang berkelanjutan. ”IPO ini tidak hanya terbatas pada industri tenaga panas bumi, tetapi juga menuju ke teknologi terbarukan lainnya, dengan didukung oleh keunggulan operasional yang kuat,” kata Hendra. Dana IPO ini akan mereka gunakan untuk mengonsolidasikan Star Energy Geothermal Group, yang sahamnya dipegang BREN, dengan teknologi canggih dan tenaga ahli yang berpengalaman. (Yoga)

DAYA LETUP BURSA KARBON

HR1 09 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)
Upaya Indonesia untuk mencapai target zero emisi kian serius dengan hadirnya Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) yang aktivitas perdagangannya telah dimulai pada pengujung September lalu. Kendati aktivitas perdagangannya masih sepi, hadirnya bursa karbon itu memupuk keyakinan terhadap upaya menghadirkan alternatif pendanaan untuk proyek-proyek ramah lingkungan yang selama ini butuh investasi besar. Banyak pekerjaan yang perlu dibereskan, baik dari aspek edukasi, regulasi, dan kebijakan terkait lainnya untuk menarik minat lebih banyak korporasi berkontribusi menggairahkan lantai bursa.

PERDAGANGAN BURSA KARBON : ASA SELEPAS PASAR PERDANA

HR1 09 Oct 2023 Bisnis Indonesia

Indonesia memasuki babak baru dalam era perdagangan karbon seiring dengan hadirnya Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon yang dikembangkan PT Bursa Efek Indonesia. Peluncuran Bursa Karbon berlangsung pada Selasa (26/9). Perdagangan bursa karbon melalui IDXCarbon sudah berjalan hingga hari kesembilan pada, Senin (9/10). Sebagai ‘pemain’ baru, aktivitas perdagangan bursa karbon memang masih sepi. Pemain yang terlibat dalam aktivitas jual beli pun belum beranjak. Sejak pertama kali diperdagangkan, praktis baru Pertamina New and Renewable Energy yang menyediakan unit karbon dari Proyek Lahendong Unit 5 dan Unit 6 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. Dalam IDXCarbon, unit karbon yang diperdagangkan oleh Pertamina New and Renewable Energy itu terdaftar dalam Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK). Sejauh ini, proyek Pertamina NRE itu satu-satunya yang tercatat di IDXCarbon. Proyek Lahendong Unit 5 dan Unit 6 PT Pertamina Geothermal Energy sudah teregistrasi dalam data aksi perubahan iklim Sistem Registrasi Nasional Perubahan Iklim (SRN PPI) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sementara itu, melihat proyek yang teregistrasi di SRN PPI, prospek perdagangan karbon di Indonesia punya peluang menjanjikan. Data Sistem Registri Nasional Perubahan Iklim mencatat sampai dengan 2021, terdapat 3.102 penanggung jawab dengan jumlah kegiatan aksi perubahan iklim sebanyak 9.317. Dari sisi kegiatan yang teregister tercatat 239 kegiatan, salah satunya yang dilakukan oleh Pertamina NRE. Kalkulasi kasar dari pemerintah, potensi nilai perdagangan bursa karbon di Indonesia diperkirakan hingga Rp3.000 triliun.

Direktur Utama Pertamina NRE Dannif Danusaputro mengatakan bahwa bahwa perdagangan perdana di IDXCarbon, Pertamina NRE berhasil memperdagangkan kredit karbon dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong Unit 5 dan 6 dengan volume sekitar 864.000 ton CO2e yang dihasilkan selama periode 2016—2020. Dannif menuturkan sebelum melakukan perdagangan di IDXCarbon, perusahaan yang akan melakukan aktivitas jual beli karbon wajib memiliki akun dan ketersediaan kredit karbon di Sistem Registri Nasio­nal (SRN) milik KLHK. Dari sisi sasaran yang hendak dituju dengan perdagangan karbon, Dannif menjelaskan terdapat dua hal yang ingin digapai. Pertama, perdagangan karbon merupakan satu prioritas Pertamina NRE dalam mendukung aspirasi net zero emission Pertamina serta aspirasi keberlanjutan dan transisi energi Indonesia. Kedua, Pertamina NRE ingin menjadi pelopor dalam pengembangan ekonomi karbon melalui partisipasi dalam perdagangan di IDXCarbon. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menuturkan pihaknya tidak terlalu khawatir dengan perkembangan perdagangan bursa karbon yang belum se­atraktif bursa saham. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menuturkan pihaknya tidak terlalu khawatir dengan perkembangan perdagangan bursa karbon yang belum se­atraktif bursa saham. Advisory Partner Grant Thornton Indonesia Ciwi Paino mengapresiasi langkah pemerintah dalam pembentukan bursa perdagangan karbon. Menurutnya kehadiran bursa karbon melengkapi instrumen-instrumen pengurangan emisi yang telah diatur oleh pemerintah sebelumnya. Menurut Ketua Tim Kampanye Hutan Greepeace Indonesia Arie Rompas, skema carbon offset dan trading menjadi satu bentuk izin untuk terus melakukan polusi, dan mengalihkan perhatian dari upaya nyata mengurangi emisi.

Sisi Lain Carbon Trading

HR1 09 Oct 2023 Bisnis Indonesia
Bursa Karbon yang diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo, Indonesia Carbon Xchange (IDX Carbon), pada 26 September 2023 sejatinya adalah langkah nyata Pemerintah untuk untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan emisi karbon sekaligus mewujudkan net zero emission pada 2060. Selain itu peluncuran tersebut juga sebagai implementasi atas isi perjanjian untuk menekan karbon dengan 195 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2016 yang dikenal dengan Paris Agreement. Bursa Karbon sendiri merupakan implementasi dari POJK No. 14/2023 tentang Perdagangan Karbon melalui Bursa Karbon yaitu sebuah perdagangan unit karbon antarpengguna industri yang menghasilkan karbon dioksida, teknisnya industri dengan tingkat emisi tinggi membeli unit karbon industri dengan emisi rendah. Langkah ini merupakan langkah strategis di tengah meningkatnya efek GRK yang mencapai 413,2 bagian per juta pada 2020. Peningkatan tersebut lebih tinggi daripada rata-rata tahunan selama dekade terakhir meski ada penurunan 5,6% dalam emisi karbondioksida dari bahan bakar fosil karena pembatasan mobilitas manusia sepanjang pandemi Covid-19. Data dari kantor iklim PBB disebutkan bahwa emisi global pada 2030 diproyeksikan menjadi 16% lebih tinggi dari 2022. Namun, untuk menuju net zero emission tidak bisa hanya mengandalkan perdagangan karbon saja. Karena penyebab GRK bukan hanya Karbon Dioksida (CO2), tetapi juga ada gas-gas lain yang turut berkontribusi, seperti; Belerang Dioksida (SO2) yaitu gas beracun dari gunung berapi, Nitrogen Monoksida (NO), Nitrogen Dioksida (NO2) seperti seperti asap rokok, atau polutan dari kendaraan, kemudian ada juga Gas Metana (CH4). Dalam hal ini, Masyarakat secara umum juga perlu diajak berpartisipasi untuk menjaga lingkungan hijau yang bebas emisi. Karena tidak hanya industri saja yang berperan strategis dalam penanganan lingkungan hijau. Data dari Kementrian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa penyebab GRK adalah efek rumah kaca yang terdiri dari gas-gas, seperti: Uap Air (H20) 36%—70%, Karbon Dioksida (CO2) 9%—26%, Metana (CH4) 3%—7%. Pemerintah daerah pun juga sudah membuat perda-perda tentang Lingkungan Hijau. Di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) misalnya, melalui Perda No. 13/2019 yang di dalamnya terdapat aturan teknis tentang pengelolaan sampah, bahkan sampai ada ketentuan pelarangan membuang sampah sembarangan, membakar sampah, dengan disertai sanksi dan pelanggaran pidana denda sampai Rp50 juta.

Ada 70 Perusahaan Baru Melantai di Bursa Tahun Ini

HR1 09 Oct 2023 Kontan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memecahkan rekor baru dalam pencatatan saham perdana alias listing yakni 68 perusahaan dengan nilai  total Rp 49,60 triliun sepanjang tahun ini. Rekor inipun makin tejaga setelah Senin ini (9/10), masih akan ada dua yang akan mencatatkan sahamnya yakni PT Pulau Subur Tbk (PTPS) serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Dus, dengan begitu, jumlah perusahaan atau emiten anyar yang tercatat BEI di 2023 akan mencapai 70 emiten. Ini mengalahkan rekor sebelumnya pada tahun 1990 dengan 66 pencatatan saham perdana. Artinya, BEI berhasil rekor Initial Public Offering (IPO) selama 33 tahun terakhir. Perinciannya, sebanyak  27 perusahaan atau sekitar 39,7% merupakan perusahaan dengan aset skala besar. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki total aset di atas Rp 250 miliar. Kemudian, ada 31 emiten atau sekitar 45,6% masuk dalam perusahaan dengan  aset skala menengah. Sisanya, sebanyak 10 perusahaan atau sekitar 14,7% termasuk dalam perusahaan dengan aset skala kecil. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan seiringan dengan itu, BEI juga kedatangan empat perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 3 triliun serta memiliki free float di atas 15%. Tiga tahun terakhir, nilai pencatatan terbesar di BEI masih dipegang  PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) senilai Rp 21,9 triliun. Lalu diikuti oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dengan perolehan dana IPO sebesar Rp 18,8 triliun. Catatan BEI, masih ada 28 perusahaan dalam jalur pencatatan saham di BEI. Rinciannya, dua perusahan dengan aset di bawah Rp 50 miliar. Kemudian  15 perusahaan aset skala menengah dengan aset di antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Lalu sebanyak 10 merupakan perusahaan aset skala besar. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat di tahun politik akan ada beberapa perusahaan yang memilih  akan menahan diri untuk IPO menunggu kebijakan pemerintah. 

Dua Perusahaan Teknologi dan Konstruksi Masuk Bursa

KT3 07 Oct 2023 Kompas
Perusahaan teknologi PT Sumber Sinergi Makmur Tbk dan perusahaan konstruksi PT Kokoh Exa Nusantara Tbk, Jumat (6/10/2023), resmi terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejauh ini, sudah ada 68 emiten yang terdaftar atau melampaui rekor di 1990 di mana ada 66 emiten baru yang terdaftar. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, secara jumlah korporasi baru yang melantai di bursa memang membuat rekor. Namun, tidak dari segi dana yang dihimpun. Pada 2021 lalu, emiten Bukalapak berhasil menghimpun dana Rp 21,9 triliun. (Yoga)

TANTANGAN BURSA USAI PECAH REKOR

HR1 07 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Tercapainya rekor jumlah emiten baru sepanjang tahun ini sebanyak 68 perusahaan dengan masuknya PT Kokoh Exa Nusantara Tbk. (KOCI) dan PT Sumber Sinergi Makmur Tbk. (IOTF) menyisakan sejumlah tantangan yang harus dituntaskan oleh otoritas bursa dari kualitas emiten hingga perlindungan investor. Dari capaian di atas, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) boleh bangga atas upaya menggaet emiten baru yang melampaui rekor pada 1990 dengan 66 perusahaan, di tengah lesunya kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang belum mampu melampaui level 7.000. Sayangnya, nilai realisasi penggalangan dana melalui penawaran saham perdana kepada publik (initial public offering/IPO) ternyata masih lebih rendah, atau hanya Rp49,6 triliun dibandingkan dengan realisasi pada 2021 sebesar Rp62,61 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan meskipun total dana saat ini masih lebih rendah dari 2 tahun lalu, rata-rata penggalangan dana meraup modal lebih dari Rp500 miliar. “Sebetulnya apa yang kami peroleh pada saat ini sudah menunjukkan peningkatan proceed,” katanya, Jumat (6/10). Nyoman mengatakan capaian 2023 lebih rendah karena pada 2021, IPO PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) meraih dana Rp21,9 triliun dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) sebesar Rp18,8 triliun. Kedua emiten ini menyumbang hampir 50% terhadap total penggalangan dana. Pada tahun ini, penggalangan dana tebal berasal dari emiten seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) yang mengumpulkan dana Rp9,05 triliun, PT Merdeka Battery Material Tbk. (MBMA) dengan dana Rp9,2 triliun, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) dengan dana Rp9,9 triliun. Jumlah penggalangan dana tahun ini akan bertambah seiring dengan masuknya saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang resmi tercatat di BEI pada Senin (9/10) dengan target penggalangan dana Rp3,13 triliun. BREN merupakan satu dari antrean 26 emiten anyar yang akan masuk Bursa tahun ini.

Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan bursa perlu memperhatikan perlindungan investor ritel dibandingkan dengan kuantitas emiten IPO. Menurut data Bloomberg, dari 68 emiten baru yang masuk bursa pada 2023, sebanyak 28 emiten di antaranya mengalami koreksi harga saham pada rentang yang cukup dalam sejak IPO yaitu berkisar -6,82% hingga -79%. Adapun, harga terendah mencapai Rp21 per saham. Otoritas bursa juga menyediakan platform informasi tentang emiten baru bagi investor yakni IDX New Listing Information, sehingga keputusan investasi bisa dibuat berdasarkan data dan analisis. Sementara itu, semarak IPO tahun ini berimbas pada aktivitas bisnis sekuritas. Samuel Sekuritas misalnya mengalihkan perhatian sepanjang tahun ini. Perusahaan fokus membawa perusahaan melakukan IPO saham, dibandingkan dengan langkah untuk menerbitkan surat utang. Lionel Priyadi, Macro Strategist Samuel Sekuritas, menyampaikan bahwa sejalan dengan semaraknya IPO, pihaknya belum akan menjadi penjamin emisi obligasi korporasi hingga pengujung tahun ini. “Jadi project kami hampir semuanya terkait saham,” ujarnya.   Dihubungi terpisah, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan mahalnya suku bunga menjadi pendorong bagi calon emiten mencapai Bursa.

Transaksi Bursa Karbon Masih Minim

HR1 05 Oct 2023 Kontan
Bursa Karbon Indonesia alias IDXCarbon kembali terlihat ada transaksi. Sebelumnya, dalam empat hari terakhir perdagangan, bursa karbon sepi peminat. Sejak 27 September hingga 3 Agustus 2023, IDXCarbon tidak mencatatkan transaksi sama sekali alias nihil. Padahal Bursa Karbon Indonesia sudah resmi meluncur pada 26 September 2023. Merujuk data IDXCarbon, volume transaksi karbon mencapai 14 tCO2 pada Rabu (4/10). Sepanjang hari nilai transaksi itu mencapai sekitar Rp 974.400. Transaksi itu terjadi di pasar reguler. Hanya saja, harga unit karbon IDTBS mengalami penurunan dari Rp 77.000 per tCO2 menjadi Rp 69.600 per tCO2 di akhir perdagangan. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik menuturkan bahwa pada dasarnya likuiditas bursa karbon tidak sama dengan bursa saham. "Dan karena ini masih dalam tahap awal, jumlah pengguna jasa juga belum cukup banyak," jelas dia, Rabu (4/10). Untuk menggenjot likuiditas, BEI selaku penyelenggara Bursa Karbon akan gencar sosialisasi dan pertemuan denga perusahaan yang potensial. "Dengan begitu, harapannya jumlah penawaran dan permintaan cukup banyak sehingga bursa karbon akan lebih likuid," kata Jeffrey.