;
Tags

Bursa

( 810 )

Produk yang Masih Laris Meski Daya Beli Melemah

HR1 18 Mar 2025 Kontan
PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) diperkirakan mengalami pertumbuhan yang lebih konservatif pada 2025, di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan rencana kenaikan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada Juni 2025.

Namun, Analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari, menilai bahwa strategi pemasaran dan distribusi yang efektif masih dapat mendukung kinerja CMRY. Ia mencatat bahwa pendapatan CMRY pada kuartal IV-2024 mencapai Rp 2,4 triliun, tumbuh 7,6% secara kuartalan (qoq) dan 17,6% secara tahunan (yoy). Segmen makanan tetap menjadi andalan, sementara segmen susu juga menunjukkan pemulihan kuat, terutama dari penjualan yogurt.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis, menambahkan bahwa meskipun daya beli masyarakat melemah, segmen makanan CMRY masih bisa tumbuh karena menyasar konsumen kelas menengah ke atas, yang konsumsi produknya lebih stabil. Selain itu, inovasi produk juga menjadi pendorong pertumbuhan ke depan.

Keunggulan utama CMRY adalah distribusi yang kuat, terutama melalui program Miss Cimory, yang tumbuh 63% yoy dan memungkinkan agen menjual produk langsung ke konsumen. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai strategi ini meningkatkan efisiensi dengan mengurangi biaya logistik.

Meskipun prospeknya masih positif, Vita mengingatkan bahwa CMRY harus menghadapi risiko depresiasi rupiah karena ketergantungannya pada bahan baku impor, serta potensi kenaikan harga ayam pedaging menjelang Idulfitri. CMRY menargetkan pertumbuhan pendapatan 10%-15% yoy di 2025.

Terkait rekomendasi saham, Vita merekomendasikan "add" dengan target harga Rp 5.100, sementara Arinda dan Azis merekomendasikan "buy" dengan target harga masing-masing Rp 5.800 dan Rp 5.050.

Pasar Saham Berharap Pemangkasan Suku Bunga

HR1 17 Mar 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia diperkirakan akan lebih fluktuatif pada pekan ketiga Maret 2025, terutama menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) pada 19 Maret dan Federal Reserve (The Fed) pada 20 Maret. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa keputusan kedua bank sentral ini akan menjadi faktor penentu bagi pasar.

Menurut Rully, jika BI menurunkan suku bunga, ada risiko pelemahan rupiah, tetapi di sisi lain bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar saham dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, jika BI mempertahankan suku bunga, dampak jangka panjangnya bisa lebih kompleks karena tingkat optimisme terhadap ekonomi Indonesia masih rendah.

VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menambahkan bahwa konsensus memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga karena ekonomi AS masih kuat. Jika suku bunga turun, akan ada peralihan dana ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk saham. Audi mencontohkan bahwa saat BI menurunkan suku bunga dari 6,5% ke 4,75% pada 2016-2017, IHSG menguat hingga 15,32% pada 2016 dan 19,9% pada 2017.

Dari sisi teknikal, IHSG saat ini bergerak dinamis setelah menembus level support 6.500-6.600, yang bertahan sejak 2022. Rully memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.350-6.720 selama pekan ini. Ekonom Panin Sekuritas, Felix Darmawan, menambahkan bahwa tanpa sentimen global positif dan masuknya dana asing, IHSG kemungkinan akan sideways atau mengalami koreksi dengan batas bawah di sekitar 6.500.

Investor Asing Masih Lanjutkan Aksi Jual Saham Bank

HR1 17 Mar 2025 Kontan
Jelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bank-bank pelat merah, aksi jual investor asing masih tinggi, dengan nilai mencapai Rp 1,8 triliun dalam sepekan. Namun, beberapa broker asing seperti JP Morgan Sekuritas dan UBS Sekuritas Indonesia mulai melakukan aksi beli di saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan nilai beli bersih masing-masing Rp 1,39 triliun dan Rp 208,64 miliar.

Menurut VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, minat asing terhadap saham perbankan masih ada karena valuasi yang murah, ditambah dengan rencana pembagian dividen dan buyback saham. Namun, ia menyebut faktor global, seperti kebijakan tarif AS dan kinerja yang di bawah ekspektasi, masih membatasi arus masuk asing.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa sentimen negatif juga datang dari kebijakan pemerintah baru, seperti penghapusan kredit UMKM yang memicu spekulasi perlambatan pertumbuhan kredit. Selain itu, kehadiran Badan Pengelola Investasi Dana Anagata Nusantara (BP Danantara) juga menjadi sumber kekhawatiran bagi investor asing.

Di sisi lain, Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, menilai saham perbankan masih menarik, meskipun aksi jual asing masih terjadi akibat kondisi pasar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed.

Analis JP Morgan, Harsh Wardhan, dalam risetnya menyebut bahwa saham bank masih menarik secara teknikal, tetapi menghadapi tantangan jangka menengah terkait likuiditas perbankan. Karena itu, JP Morgan memangkas rekomendasi saham BBNI dan BBRI dari overweight menjadi netral, serta BMRI dari netral menjadi underweight.

Di Tengah Gejolak Pasar, Perusahaan Besar Tetap Optimistis Melakukan IPO

KT3 15 Mar 2025 Kompas

Pelemahan pasar saham saat ini memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham perdana atau IPO di 2025. Meskipun kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO, sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di bursa. Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.

Pengamat pasar modal Alfred Nainggolan, Jumat (14/3) di Jakarta, menilai, terjadi tren penurunan jumlah korporasi yang melakukan IPO. Jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana Rp 12,4 triliun. Saat ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham tengah berada di tren penurunan atau bearish. Namun, kondisi ini tidak mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana di pasar modal.

Data BEI per akhir Februari menunjukkan, ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar. Alfred menilai, IPO saat ini tidak terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka. ”Selain itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO tidak terlalu mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam penyerapannya,” kata Alfred. (Yoga)

Di Tengah Gejolak Pasar, Perusahaan Besar Tetap Optimistis Melakukan IPO

KT3 15 Mar 2025 Kompas

Pelemahan pasar saham saat ini memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham perdana atau IPO di 2025. Meskipun kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO, sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di bursa. Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.

Pengamat pasar modal Alfred Nainggolan, Jumat (14/3) di Jakarta, menilai, terjadi tren penurunan jumlah korporasi yang melakukan IPO. Jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana Rp 12,4 triliun. Saat ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham tengah berada di tren penurunan atau bearish. Namun, kondisi ini tidak mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana di pasar modal.

Data BEI per akhir Februari menunjukkan, ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar. Alfred menilai, IPO saat ini tidak terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka. ”Selain itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO tidak terlalu mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam penyerapannya,” kata Alfred. (Yoga)

Ekonomi Sulit, Emas Kian Dilirik Investor

HR1 15 Mar 2025 Kontan (H)
Harga emas spot menembus US$ 3.000 per ons troi untuk pertama kalinya dalam sejarah, mencapai US$ 3.007,5 per ons troi pada 14 Maret 2025. Kenaikan ini didorong oleh aksi beli besar-besaran bank sentral dunia, ketidakpastian ekonomi global, dan kebijakan perdagangan agresif Presiden AS Donald Trump, yang mengenakan tarif pada Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan Tiongkok.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam juga mencetak rekor, naik 1,63% menjadi Rp 1,742 juta per gram. Analis Finex Solusi Future, Brahmantya Himawan, memperkirakan harga emas spot masih bisa naik ke US$ 3.200 per ons troi pada semester I-2025, sementara harga emas Antam berpotensi mencapai Rp 1,8 juta hingga Rp 1,85 juta per gram.

Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 3.100–US$ 3.500 dalam jangka menengah, bahkan berpotensi menembus US$ 4.000–US$ 5.000 per ons troi dalam tren bullish jangka panjang. Namun, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengingatkan bahwa aksi profit-taking bisa terjadi dalam jangka pendek, dengan level koreksi di sekitar US$ 2.880 per ons troi.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, meyakini tren kenaikan emas masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Ia menyarankan investasi jangka panjang dalam emas fisik, ETF emas, reksa dana, atau saham perusahaan pertambangan emas. Sutopo memperkirakan harga emas akan berada di kisaran US$ 3.004–US$ 3.265 per ons troi di akhir 2025.

Harga emas masih berpotensi naik lebih tinggi karena ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan Trump, dan ekspektasi pemangkasan suku bunga AS. Namun, investor disarankan tetap berhati-hati terhadap kemungkinan koreksi jangka pendek.

Potensi Cuan dari Jasa Nikel

HR1 15 Mar 2025 Kontan
PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) optimistis terhadap prospek industri nikel yang terus berkembang, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Untuk menangkap peluang ini, Direktur Utama MINE, Ivo Wangarry, menyatakan bahwa perusahaan akan menggenjot ekspansi setelah sukses melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Maret 2025 melalui IPO.

MINE merupakan perusahaan jasa penunjang pertambangan nikel yang telah beroperasi sejak 2004. Dana hasil IPO yang mencapai Rp 132,33 miliar akan digunakan untuk pembelian alat berat (48%), pembelian aset tetap (11%), dan modal kerja. Penambahan alat berat ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi nikel MINE, yang saat ini tengah menggarap proyek di Halmahera dan Morowali, Sulawesi Tengah.

Dengan cadangan nikel Indonesia yang mencapai 20% dari total cadangan dunia, permintaan nikel diproyeksikan terus meningkat, terutama sebagai bahan baku baterai EV. Pada 2023, produksi nikel Indonesia mencapai 1,8 juta metrik ton, dan volume ini diperkirakan terus bertambah.

MINE mencatat pertumbuhan kinerja yang positif. Hingga 31 Agustus 2024, pendapatan MINE naik 40,8% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 1,36 triliun, sementara laba mencapai Rp 225,18 miliar. Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas penambangan, dengan total material movement naik 47% dari 6,7 juta bcm menjadi 9,8 juta bcm.

Dengan dana ekspansi dari IPO, MINE menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20% pada 2025. Program hilirisasi industri nikel di Indonesia serta meningkatnya permintaan global terhadap nikel menjadi faktor utama yang mendukung optimisme perusahaan.

Prediksi 2025: Kinerja Ekonomi Cenderung Landai

HR1 14 Mar 2025 Kontan
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menghadapi tantangan besar pada 2025, terutama akibat melemahnya daya beli masyarakat dan likuiditas ketat di sektor perbankan, meskipun tetap didukung oleh kebijakan fiskal pemerintah. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat prospek BSDE masih menarik, terutama jika Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan, yang akan mendorong pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Namun, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai likuiditas ketat di sektor perbankan bisa menjadi hambatan bagi pendanaan proyek dan daya beli konsumen. Meski demikian, BSDE masih memiliki strategi inovatif, seperti pengembangan properti yang lebih variatif, diversifikasi produk, serta pemanfaatan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga akhir 2025.

BSDE menargetkan prapenjualan sebesar Rp 10 triliun pada 2025, naik 7,8% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh proyek-proyek seperti Grand Wisata, Apartemen Southgate, dan Aerium, serta kontribusi dari township baru hasil akuisisi PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM). Analis BRI Danareksa Sekuritas, Ismail Fakhri Suweleh, mencatat BSDE mencetak prapenjualan Rp 9,72 triliun pada 2024, tumbuh 2% YoY, yang menunjukkan ketahanan di tengah tantangan pasar.

Di sisi lain, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, memperingatkan bahwa pengetatan likuiditas di sektor perbankan dapat menghambat pertumbuhan prapenjualan BSDE. Ia memperkirakan pendapatan BSDE akan turun dari Rp 12,88 triliun di 2024 menjadi Rp 11,38 triliun di 2025, dengan laba bersih turun sekitar 5% akibat penurunan penjualan properti. Kevin juga memprediksi prapenjualan BSDE akan turun 6,5% jika penjualan lahan ke joint venture (JV) dikecualikan.

Meskipun ada tantangan, Arinda dan Kevin tetap memberikan rekomendasi "buy" untuk saham BSDE, dengan target harga masing-masing Rp 1.300 dan Rp 1.200 per saham, mengingat potensi pertumbuhan jangka panjang dari township baru dan strategi diversifikasi yang dijalankan perusahaan.

Nasabah Kurang Aktif, Bank Berburu Investor

HR1 14 Mar 2025 Kontan
Likuiditas yang semakin ketat membuat perbankan mencari alternatif pendanaan di luar Dana Pihak Ketiga (DPK) untuk ekspansi kredit. Hal ini terjadi karena pertumbuhan DPK per Januari 2025 hanya 5,3% YoY, sementara pertumbuhan kredit lebih tinggi, mencapai 9,6% YoY.

Salah satu strategi yang diambil adalah penerbitan obligasi. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), misalnya, berencana menerbitkan Social Global Bond senilai US$ 400 juta. Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menyebut obligasi ini akan digunakan untuk mendanai proyek rumah hijau dan rumah subsidi. Ia juga mengklaim bahwa investor besar seperti BlackRock dan Fidelity tertarik untuk berpartisipasi dalam obligasi ini.

PT Bank Mandiri Tbk juga akan menerbitkan Obligasi Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 dengan target dana Rp 5 triliun. Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo, menegaskan bahwa meskipun DPK Bank Mandiri telah tumbuh signifikan sebesar 44,4% YoY menjadi Rp 1.394,40 triliun, bank tetap menyiapkan opsi pendanaan lain seperti obligasi dan transaksi bilateral.

Menurut Analis Pefindo, Danan Dito, minat bank dalam menerbitkan obligasi memang meningkat, tetapi nilainya masih kecil, hanya Rp 95,31 miliar hingga akhir Februari 2025. Ia memperkirakan pendekatan bank masih konservatif dalam menerbitkan obligasi, dengan total mandat penerbitan saat ini sekitar Rp 17,3 triliun dari enam bank.

Meskipun perbankan menghadapi tantangan likuiditas yang ketat, penerbitan obligasi menjadi strategi utama untuk tetap mendukung ekspansi kredit, terutama dalam proyek berkelanjutan dan infrastruktur perumahan.

Emas Masih Jadi Andalan Kinerja Emiten

HR1 13 Mar 2025 Kontan
Prospek kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) diprediksi tetap positif pada 2025, meskipun sahamnya masih mengalami tekanan. Ahmad Iqbal Suyudi, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, menyatakan bahwa likuiditas perbankan yang ketat tidak menghalangi prospek positif BRIS, terutama karena potensi penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dan peran BRIS sebagai bullion bank atau bank emas pertama di Indonesia.

BRIS mencatat pertumbuhan pembiayaan 17% year-on-year (yoy) di Januari 2025, melebihi rata-rata industri yang tumbuh 10,2% yoy. Faiq Asad, analis Maybank Sekuritas, menyoroti bahwa pembiayaan payroll dan pembiayaan emas menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, terutama dengan ekspansi BRIS dalam ekosistem bisnis emas, termasuk trading emas dan deposito emas.

Pada Januari 2025, laba bersih BRIS tumbuh 15% yoy menjadi Rp 590 miliar, didukung oleh pembiayaan dan pendapatan berbasis komisi, sementara net interest margin (NIM) stabil di 5,1%. James Stanley Widjaja, analis Buana Capital, menyebut BRIS menargetkan pertumbuhan pembiayaan emas mendekati 100% pada 2025, yang akan mendorong NIM dan cost of credit (CoC) ke arah positif. Ia memperkirakan laba bersih BRIS pada 2025 bisa mencapai Rp 8,26 triliun, naik 18% dari tahun sebelumnya.

Namun, saham BRIS masih tertekan, dengan harga di Rp 2.540 per saham pada 12 Maret 2025. Dalam sebulan terakhir, harga BRIS turun 15,33%, akibat sentimen global terhadap Indonesia yang penuh ketidakpastian, menyebabkan keluarnya aliran dana asing, menurut Faiq.

Meskipun demikian, prospek jangka panjang BRIS tetap cerah dengan pertumbuhan bisnis emas, perkembangan industri syariah, serta daya saing yang semakin setara dengan bank konvensional. Faiq mempertahankan rating "buy" untuk BRIS dengan target harga Rp 3.600, sementara James dan Ahmad merekomendasikan target harga masing-masing Rp 3.500 dan Rp 3.200 per saham.