;
Tags

Bursa

( 805 )

Buyback Saham, Harapan Baru Investor

HR1 20 Mar 2025 Kontan
Pelonggaran aturan buyback oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memungkinkan bank untuk melakukan pembelian kembali saham tanpa menunggu persetujuan RUPS. Kebijakan ini disambut positif oleh perbankan, termasuk Bank Negara Indonesia (BBNI) yang siap segera mengeksekusi buyback senilai Rp 1,5 triliun, menurut Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI. Bank Mandiri, melalui Sekretaris Perusahaan M. Ashidiq Iswara, juga tengah memfinalisasi rencana buyback sebesar Rp 1,17 triliun sebelum RUPS.

Kebijakan ini dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar saham, terutama saham sektor perbankan yang belakangan tertekan. Achmad Yaki dari BCA Sekuritas menyatakan kebijakan serupa pernah berhasil mendorong penguatan IHSG saat pandemi 2020. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas juga menilai kebijakan ini dapat menjadi katalis positif karena valuasi saham bank besar kini sudah murah dibandingkan nilai wajarnya. Kedua analis sepakat bahwa aksi buyback dapat mendukung pemulihan IHSG dan meningkatkan likuiditas pasar modal.

Ekonomi Terancam Stagnasi akibat Merosotnya Kepercayaan Pasar

KT3 19 Mar 2025 Kompas (H)

Pasar menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah masih belum jelas, sedang koordinasi antar sektor dinilai kurang sinkron selama triwulan I-2025. Akibatnya, kepercayaan pasar terus melemah seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan sempat menyebabkan penundaan perdagangan pada sesi pembukaan pertama, Selasa (18/3) jadi salah satu refleksi kondisi tersebut. Di sisi lain, berbagai indikator menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi yang berisiko membuat pertumbuhan stagnan di kisaran 5 %, atau mengalami stagnasi. Pada penutupan pasar, IHSG berada di level 6.223,39 atau melemah 3,84 % dibanding penutupan hari sebelumnya, sekaligus mencatatkan kinerja terburuk sejak 2021.

Bahkan, IHSG sempat jatuh hingga ke level 6.011,84 pada penutupan sesi pertama perdagangan atau anjlok 6 %. Untuk meredam pelemahan lebih dalam, BEI bahkan sempat menghentikan perdagangan saham selama 30 menit pada pukul 11.19 WIB. Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri yang justru positif. Kondisi ini menandakan faktor utama kejatuhan bursa saham berasal dari domestik. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, kondisi ekonomi domestik yang sedang bermasalah dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia tumbuh rendah. Bahkan, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 hanya 4,9 %. (Yoga)

Ekonomi Terancam Stagnasi akibat Merosotnya Kepercayaan Pasar

KT3 19 Mar 2025 Kompas (H)

Pasar menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah masih belum jelas, sedang koordinasi antar sektor dinilai kurang sinkron selama triwulan I-2025. Akibatnya, kepercayaan pasar terus melemah seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan sempat menyebabkan penundaan perdagangan pada sesi pembukaan pertama, Selasa (18/3) jadi salah satu refleksi kondisi tersebut. Di sisi lain, berbagai indikator menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi yang berisiko membuat pertumbuhan stagnan di kisaran 5 %, atau mengalami stagnasi. Pada penutupan pasar, IHSG berada di level 6.223,39 atau melemah 3,84 % dibanding penutupan hari sebelumnya, sekaligus mencatatkan kinerja terburuk sejak 2021.

Bahkan, IHSG sempat jatuh hingga ke level 6.011,84 pada penutupan sesi pertama perdagangan atau anjlok 6 %. Untuk meredam pelemahan lebih dalam, BEI bahkan sempat menghentikan perdagangan saham selama 30 menit pada pukul 11.19 WIB. Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri yang justru positif. Kondisi ini menandakan faktor utama kejatuhan bursa saham berasal dari domestik. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, kondisi ekonomi domestik yang sedang bermasalah dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia tumbuh rendah. Bahkan, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 hanya 4,9 %. (Yoga)

Pasar Lesu, Imbal Hasil Investasi Dana Pensiun Menurun

HR1 19 Mar 2025 Kontan
Lesunya pasar modal di awal 2025 berdampak pada penurunan kinerja investasi industri dana pensiun (dapen). Data OJK mencatat return on investment (ROI) dapen turun menjadi 0,52% pada Januari 2025, dari 0,61% di tahun sebelumnya. Kondisi ini diperburuk oleh pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah turun 12,1% sejak awal tahun.

Direktur Utama Dana Pensiun BCA, Budi Sutrisno, mengakui bahwa return investasi dapen ikut terkoreksi, hanya mencapai 0,48% hingga Februari 2025 akibat tekanan di pasar saham dan obligasi. Namun, ia menegaskan bahwa alokasi investasi yang berimbang pada instrumen rendah risiko, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan deposito, tetap menjaga stabilitas kinerja.

Meski pasar masih dipenuhi sentimen negatif, Budi menilai prospek investasi dapen tetap positif dengan harapan adanya penurunan suku bunga lanjutan dan meredanya ketidakstabilan geopolitik. Dana Pensiun BCA berencana memanfaatkan momentum pasar dengan menambah porsi investasi pada instrumen undervalued, seperti SBN tenor panjang, guna mengoptimalkan potensi kenaikan harga obligasi. Dengan strategi ini, Dana Pensiun BCA tetap menargetkan return sebesar 6%-8% pada akhir 2025.

Sementara itu, Direktur Utama Dana Pensiun Bank Mandiri, Abdul Hadie, juga optimis mencapai target imbal hasil 7,19% sepanjang 2025, meskipun hingga Februari baru mencatat return 0,40% (naik dari 0,38% pada Februari 2024). Dapen Bank Mandiri masih fokus pada investasi di SBN, obligasi korporasi, dan instrumen lain dengan risiko terukur, guna mempertahankan stabilitas investasi di tengah ketidakpastian pasar.

Kenaikan Harga CPO Jadi Momentum bagi Industri

HR1 19 Mar 2025 Kontan
Kinerja PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) diprediksi akan terdorong oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) global, yang bisa mencapai RM 4.350 per metrik ton akibat pasokan yang terbatas. Analis Trimegah Sekuritas, Kharel Devin Fielim, menilai selain harga CPO yang lebih tinggi, DSNG juga diuntungkan oleh produktivitas tandan buah segar (TBS) yang meningkat serta biaya produksi yang stabil.

Kharel memperkirakan bahwa produksi CPO Indonesia dan Malaysia pada 2025 akan tumbuh moderat masing-masing sebesar 1,7% dan 1,1% yoy, terutama karena banyaknya pohon kelapa sawit yang menua. Permintaan CPO juga meningkat berkat program Biodiesel B40 yang mulai berjalan pada Januari 2025, dengan potensi konsumsi minyak sawit domestik mencapai 22 juta ton tahun ini.

Analis Ciptadana Sekuritas, Yasmin Soulisa, memperkirakan bahwa harga CPO global akan terus naik, mencapai rata-rata RM 4.500 per ton pada 2025. Kenaikan ini didorong oleh persediaan CPO Malaysia yang semakin ketat, turun 21,8% yoy menjadi 1,58 juta ton pada Januari 2025. Selain itu, curah hujan yang tinggi di awal tahun bisa mengganggu penyerbukan kelapa sawit, yang berpotensi menekan produksi.

Namun, Ciptadana Sekuritas merevisi estimasi pendapatan DSNG ke bawah untuk periode 2025-2026 karena potensi lemahnya produksi. Di sisi lain, DSNG berhasil mengamankan pengadaan pupuk dengan kenaikan harga hanya 5%, yang dapat membantu menekan biaya operasional.

Meski begitu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, masih bersikap wait and see terhadap DSNG karena kenaikan permintaan sawit domestik belum signifikan, sementara pasar saham sedang tertekan akibat turunnya IHSG. Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada, menegaskan bahwa keberhasilan DSNG tergantung pada kemampuannya memanfaatkan momentum kenaikan harga CPO untuk memperluas pangsa pasar.

Dari sisi investasi, para analis tetap optimistis. Reza menyarankan buy DSNG dengan target harga Rp 850, Kharel merekomendasikan Rp 1.020, dan Yasmin menargetkan Rp 960 per saham, meskipun direvisi lebih rendah dari sebelumnya.

Stimulus Dibutuhkan untuk Menjaga Stabilitas Pasar Saham

HR1 19 Mar 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan berat dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 5%, memicu trading halt untuk pertama kalinya sejak krisis pandemi Covid-19. Pada perdagangan Selasa (18/3), IHSG sempat jatuh 7% ke level 6.084, sebelum akhirnya ditutup di 6.223,38 dengan penurunan 3,84%, yang merupakan level terendah sepanjang tahun.

Berbeda dari krisis sebelumnya, kejatuhan IHSG kali ini terjadi di tengah penguatan bursa regional dan global, menandakan bahwa faktor domestik menjadi penyebab utama. Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, menyebut bahwa rendahnya optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia menjadi pemicu aksi jual besar-besaran. Selain itu, kebijakan pemerintah seperti pemangkasan anggaran, pembentukan Danantara, serta Koperasi Merah Putih menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Rumor pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani, meskipun telah dibantah, semakin memperburuk sentimen pasar. Untuk menenangkan kondisi, DPR melalui Ketua Komisi XI, Misbakhun, mendatangi BEI untuk memberikan dukungan, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjanji mengeluarkan stimulus guna meredam volatilitas perdagangan saham.

Menurut Felix Darmawan, ekonom Panin Sekuritas, kondisi pasar semakin diperburuk oleh defisit anggaran, turunnya Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), serta pemangkasan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh OECD dari 5,2% menjadi 4,9%. Hal ini membuat institusi asing seperti Goldman Sachs, JP Morgan, dan Morgan Stanley menurunkan peringkat saham Indonesia.

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menyoroti bahwa pemerintah Indonesia perlu belajar dari China, yang telah mengeluarkan paket stimulus untuk menopang pasar saham. Sementara itu, Erwin Supandi, Head of Equities Retail Henan Putihrai Sekuritas, menilai kondisi saat ini bisa lebih buruk dibandingkan saat pandemi Covid-19.

Secara teknikal, support IHSG berada di level 5.880 hingga 6.000, dan jika level ini ditembus, tekanan terhadap IHSG berpotensi semakin kuat. Untuk mengatasi situasi ini, dibutuhkan langkah konkret dari regulator dan pemerintah agar pasar saham Indonesia lebih stabil dan kondusif.

Produk yang Masih Laris Meski Daya Beli Melemah

HR1 18 Mar 2025 Kontan
PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) diperkirakan mengalami pertumbuhan yang lebih konservatif pada 2025, di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan rencana kenaikan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada Juni 2025.

Namun, Analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari, menilai bahwa strategi pemasaran dan distribusi yang efektif masih dapat mendukung kinerja CMRY. Ia mencatat bahwa pendapatan CMRY pada kuartal IV-2024 mencapai Rp 2,4 triliun, tumbuh 7,6% secara kuartalan (qoq) dan 17,6% secara tahunan (yoy). Segmen makanan tetap menjadi andalan, sementara segmen susu juga menunjukkan pemulihan kuat, terutama dari penjualan yogurt.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis, menambahkan bahwa meskipun daya beli masyarakat melemah, segmen makanan CMRY masih bisa tumbuh karena menyasar konsumen kelas menengah ke atas, yang konsumsi produknya lebih stabil. Selain itu, inovasi produk juga menjadi pendorong pertumbuhan ke depan.

Keunggulan utama CMRY adalah distribusi yang kuat, terutama melalui program Miss Cimory, yang tumbuh 63% yoy dan memungkinkan agen menjual produk langsung ke konsumen. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai strategi ini meningkatkan efisiensi dengan mengurangi biaya logistik.

Meskipun prospeknya masih positif, Vita mengingatkan bahwa CMRY harus menghadapi risiko depresiasi rupiah karena ketergantungannya pada bahan baku impor, serta potensi kenaikan harga ayam pedaging menjelang Idulfitri. CMRY menargetkan pertumbuhan pendapatan 10%-15% yoy di 2025.

Terkait rekomendasi saham, Vita merekomendasikan "add" dengan target harga Rp 5.100, sementara Arinda dan Azis merekomendasikan "buy" dengan target harga masing-masing Rp 5.800 dan Rp 5.050.

Pasar Saham Berharap Pemangkasan Suku Bunga

HR1 17 Mar 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia diperkirakan akan lebih fluktuatif pada pekan ketiga Maret 2025, terutama menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) pada 19 Maret dan Federal Reserve (The Fed) pada 20 Maret. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa keputusan kedua bank sentral ini akan menjadi faktor penentu bagi pasar.

Menurut Rully, jika BI menurunkan suku bunga, ada risiko pelemahan rupiah, tetapi di sisi lain bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar saham dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, jika BI mempertahankan suku bunga, dampak jangka panjangnya bisa lebih kompleks karena tingkat optimisme terhadap ekonomi Indonesia masih rendah.

VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menambahkan bahwa konsensus memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga karena ekonomi AS masih kuat. Jika suku bunga turun, akan ada peralihan dana ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk saham. Audi mencontohkan bahwa saat BI menurunkan suku bunga dari 6,5% ke 4,75% pada 2016-2017, IHSG menguat hingga 15,32% pada 2016 dan 19,9% pada 2017.

Dari sisi teknikal, IHSG saat ini bergerak dinamis setelah menembus level support 6.500-6.600, yang bertahan sejak 2022. Rully memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.350-6.720 selama pekan ini. Ekonom Panin Sekuritas, Felix Darmawan, menambahkan bahwa tanpa sentimen global positif dan masuknya dana asing, IHSG kemungkinan akan sideways atau mengalami koreksi dengan batas bawah di sekitar 6.500.

Investor Asing Masih Lanjutkan Aksi Jual Saham Bank

HR1 17 Mar 2025 Kontan
Jelang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bank-bank pelat merah, aksi jual investor asing masih tinggi, dengan nilai mencapai Rp 1,8 triliun dalam sepekan. Namun, beberapa broker asing seperti JP Morgan Sekuritas dan UBS Sekuritas Indonesia mulai melakukan aksi beli di saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan nilai beli bersih masing-masing Rp 1,39 triliun dan Rp 208,64 miliar.

Menurut VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, minat asing terhadap saham perbankan masih ada karena valuasi yang murah, ditambah dengan rencana pembagian dividen dan buyback saham. Namun, ia menyebut faktor global, seperti kebijakan tarif AS dan kinerja yang di bawah ekspektasi, masih membatasi arus masuk asing.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa sentimen negatif juga datang dari kebijakan pemerintah baru, seperti penghapusan kredit UMKM yang memicu spekulasi perlambatan pertumbuhan kredit. Selain itu, kehadiran Badan Pengelola Investasi Dana Anagata Nusantara (BP Danantara) juga menjadi sumber kekhawatiran bagi investor asing.

Di sisi lain, Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, menilai saham perbankan masih menarik, meskipun aksi jual asing masih terjadi akibat kondisi pasar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed.

Analis JP Morgan, Harsh Wardhan, dalam risetnya menyebut bahwa saham bank masih menarik secara teknikal, tetapi menghadapi tantangan jangka menengah terkait likuiditas perbankan. Karena itu, JP Morgan memangkas rekomendasi saham BBNI dan BBRI dari overweight menjadi netral, serta BMRI dari netral menjadi underweight.

Di Tengah Gejolak Pasar, Perusahaan Besar Tetap Optimistis Melakukan IPO

KT3 15 Mar 2025 Kompas

Pelemahan pasar saham saat ini memberikan tantangan bagi saham-saham yang baru melakukan penawaran saham perdana atau IPO di 2025. Meskipun kondisi pasar melemahkan aktivitas IPO, sejumlah perusahaan beraset besar tetap percaya diri mencari pendanaan di bursa. Sebanyak 10 emiten baru mewarnai pasar modal Indonesia sejak awal tahun sampai 15 Maret 2025. Sepuluh perusahaan itu mampu menghimpun dana dari IPO sebesar Rp 3,88 triliun. Di antara mereka, ada dua perusahaan yang mampu menggalang dana jumbo, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), masing-masing Rp 0,62 triliun dan Rp 2,3 triliun.

Pengamat pasar modal Alfred Nainggolan, Jumat (14/3) di Jakarta, menilai, terjadi tren penurunan jumlah korporasi yang melakukan IPO. Jumlah pencatatan saham baru dan penghimpunan dana IPO jauh lebih besar pada periode sama di 2024 dengan 19 perusahaan yang mampu menghimpun dana hingga Rp 3,4 triliun. Bahkan, pada 2023 lebih banyak lagi, dengan 27 perusahaan yang mampu menggalang dana Rp 12,4 triliun. Saat ini, menurut dia, memang bukan momentum positif untuk IPO karena pasar saham tengah berada di tren penurunan atau bearish. Namun, kondisi ini tidak mengurungkan niat perusahaan beraset besar untuk melanjutkan penawaran saham perdana di pasar modal.

Data BEI per akhir Februari menunjukkan, ada 24 perusahaan yang mengantre untuk melantai di bursa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 perusahaan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar. Alfred menilai, IPO saat ini tidak terlalu menantang bagi perusahaan beraset besar karena mereka punya kemampuan lebih besar untuk mengapitalisasi pasar dan memperoleh dana. Hal ini akan sejalan dengan valuasi dan tingginya harga IPO mereka. ”Selain itu, perusahaan yang sudah memiliki anchor investor saat IPO tidak terlalu mempertimbangkan kondisi pasar mengingat sudah ada kesepakatan dalam penyerapannya,” kata Alfred. (Yoga)